Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Kontrak Dengan Sang Iblis (bagian akhir)
Kembali pada gadis malang yang telah tiba di sebuah desa sunyi. Nafasnya naik turun, kadang dia menahan nafasnya ketika terdengar langkah misterius yang seolah mengintainya.
Setiap kali ia menoleh, jalanan di belakangnya kosong. Hanya ada deretan rumah kayu yang tertutup rapat dan lampion-lampion kusam yang bergoyang di tiup angin. Tak satupun ada tanda-tanda keberadaan manusia di desa ini.
"Di mana ini?, apa aku tersesat?" ucapnya lirih seraya memegangi kepalanya yang terasa berat. Ia berhenti sejenak, membiarkan tubuhnya yang lemas bersandar pada tumpukan jerami kering.
Gadis itu berusaha mengingat kembali jalan yang dia lalui sebelum terjebak di tengah hutan dan di kejar oleh para bandit yang berniat jahat padanya. sebelumnya, dia berniat hendak mengunjungi makam neneknya yang terletak tak jauh dari rumahnya. Namun, sebuah malapetaka terjadi. Seharusnya hanya menjadi perjalanan singkat, berubah menjadi aksi kejar-kejaran di tengah hutan dan berakhir di tempat yang sama sekali tak di kenalnya. Ia memandang ke semua arah jalan, tapi semua terasa asing dan mengancam.
Tiba-tiba, pandangannya teralih. tak jauh dari tempatnya bersandar, tampak sebuah benda berbentuk cermin yang terletak ganjil, sama sekali tak selaras dengan benda-benda kusam di sekelilingnya. Ia pun perlahan berdiri untuk memeriksanya.
"Cermin?" ucapnya tertegun. Kalimatnya terputus saat ia mendekat. Benda itu adalah cermin dengan kaca yang di lapisi bingkai hitam penuh ukiran aneh. Namun anehnya, permukaan kaca yang bening itu sama sekali tidak memantulkan bayangan dirinya.
Ia hendak berbalik lagi mencari jalan untuk keluar dari desa itu, namun, tanpa dia sadari bagian ujung gaunnya sedikit berkibar dan menyentuh permukaan cermin yang dingin.
Seketika, permukaan cermin yang keras berubah menjadi pusaran air dan menarik dirinya masuk ke dalam cermin itu dengan cepat, tanpa sempat dia melakukan apa-apa untuk membebaskan diri.
Dan dalam sekejap dia telah berada di tempat yang berbeda. Di tempat awal di mana dia seharusnya berada.
"Aku telah kembali?, apa aku bermimpi?," ucapnya dengan suara bergetar, hampir tak percaya. Ia mengusap wajahnya yang pucat, mencoba meyakinkan diri bahwa kengerian yang terjadi sebelumnya hanya sebuah mimpi akibat kelelahan yang luar biasa.
Namun, cermin misterius yang berdiri tegak di samping nisan itu membuyarkan harapannya. benda itu menyadarkannya bahwa apa yang dia alami bukanlah bunga tidur, melainkan peristiwa nyata dari dunia berbeda yang sekarang mengikutinya sampai ke sini.
Di tempat lain, para bandit yang akhirnya di lepaskan oleh Zhao Yun, mengalami nasib serupa dengan yang di alami gadis itu sebelumnya.
Mereka masih tersesat di desa sunyi yang sama, berputar-putar dalam kebingungan mencari jalan keluar. Seolah-olah, mereka terkurung dalam sebuah labirin teka-teki yang mustahil untuk di pecahkan. Setiap jalan yang mereka ambil selalu membawa mereka kembali ke titik awal.
"Mo Gui, sepertinya kita tersesat. Aku sama sekali tidak mengenali jalanan ini." ucap salah satu bandit dengan suara gemetar kepada rekannya, Seorang pria dengan goresan luka mendalam yang melintang dari wajahnya.
Mo Gui tidak menjawab. matanya yang tajam menyisir deretan rumah kayu yang tampak mati di sekeliling mereka. Di lihat dari sikap dan tampilannya dia merupakan orang yang paling berpengaruh di antara rekannya.
Di tengah kebingungan para bandit yang berputar-putar mencari jalan keluar, mereka tidak menyadari bahwa setiap langkah mereka di awasi oleh Zhao Yun dan Mo Yan yang diam-diam mengikuti mereka.
"Sepertinya orang-orang ini tidak berasal dari sini." ucap Zhao Yun sambil memperhatikan gerak-gerik mereka yang kikuk.
"Benar, sepertinya ada yang sengaja mengarahkan mereka ke sini." jawab Mo Yan pelan. "tapi, kemana gadis itu?, dia seperti hilang tanpa jejak." lanjutnya dengan nada sangsi.
Zhao Yun melirik Mo Yan dengan raut wajah serius, "Aku tidak merasakan adanya hawa manusia dalam radius sepuluh mil, mana mungkin dia bisa berlari sejauh itu dalam beberapa saat?."
Mo Yan terdiam, ia mencoba menemukan keberadaan gadis itu dengan menggunakan telepatinya. Namun, sekuat tenaga dia berusaha untuk melacak keberadaan gadis itu, hasilnya tetap nihil.
"Tuan," bisik Mo Yan. "Bagaimana jika dia tidak lari secara fisik?, melainkan di selamatkan oleh orang lain?."
Zhao Yun tidak menjawab. tubuhnya mengambang dan perlahan turun dari atap rumah. menghampiri sebuah benda yang menarik perhatiannya. Sebuah cermin yang sangat mencolok dari pada benda-benda kusam di sekitarnya.
"Cermin ini..." gumam Zhao Yun pelan.suaranya rendah, namun penuh kecurigaan. ia mengamati cermin itu beberapa saat, memperhatikan setiap pahatan ukiran bersisik di bingkai cermin itu.
Kemudian ia tersenyum puas, sebuah senyuman tipis yang menjawab rasa penasarannya. Ia berbalik menatap Mo Yan yang masih berdiri waspada di sampingnya. "sepertinya, aku tahu bagaimana gadis itu bisa pergi."
"Maksud anda, tuan?" Mo Yan mendekat. Memperhatikan sebuah cermin di hadapannya dan tiba-tiba matanya terbelalak "bu-bu-bukankah ini?..." suaranya tertahan di kerongkongan, seolah-olah menyebut nama benda itu adalah sebuah kutukan.
"Benar, cermin ini milik Mahadewi Xuan Nu yang di hukum oleh kaisar langit menjalani siksaan neraka." ucap Zhao Yun melanjutkan kalimat Mo Yan yang terputus.
"Tapi, bagaimana cermin ini bisa sampai ke sini?," tanya Mo Yan penasaran.
"Entahlah, aku tidak begitu tahu tentang kejadian masa lampau itu." jawab Zhou Yun. ia terdiam sesaat, jemarinya mengusap bingkai cermin yang dingin, sebelum melanjutkan kalimatnya. "namun, satu hal yang pasti, cermin ini mungkin ada hubungannya dengan gadis itu."
...****************...