Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Batas Terlarang dan Cemburu yang Membakar
"Lo bener-bener mau bikin gue gila ya, Sienna Rose?"
Suara bariton Declan terdengar begitu parau dan dingin begitu daun pintu kayu jati kamar mereka tertutup rapat. Belum sempat Sienna mencerna arti kalimat itu, terdengar bunyi klik yang nyaring saat Declan memutar kunci pintu dari dalam, mengunci mereka berdua dalam keheningan kamar yang remang-remang.
Sienna berbalik, berniat membalas dengan omelan cegil andalannya. "Heh, Kanebo kaku! Maksud lo apa ngomong kayak—"
Sret.
Kalimat Sienna terputus di udara. Tanpa aba-aba, Declan melangkah maju dengan kilat mata yang dipenuhi emosi membara yang sejak sore tadi dia tahan. Tangan kekarnya bergerak secepat kilat menyusup ke belakang kepala Sienna, mencengkeram tengkuk cewek itu dengan kuat namun penuh kehati-hatian, lalu menariknya dalam satu sentakan dominan.
Detik berikutnya, bibir Declan sudah menempel sempurna di atas bibir Sienna.
Sienna membelalak syok, napasnya tertahan di tenggorokan. Ini bukan ciuman manis atau sekadar akting di depan kamera seperti yang biasa mereka lakukan. Ciuman kali ini terasa begitu penuh tuntutan, kasar, dan dipenuhi oleh rasa cemburu yang teramat pekat—seolah-olah Declan sedang meluapkan seluruh amarah dan ketakutannya yang terpendam sejak melihat Edrick mendekati Sienna di pinggir kolam tadi.
Declan melumat bibir ranum Sienna tanpa ampun, memperdalam pagutan mereka hingga tubuh mungil Sienna terdesak mundur dan terhimpit di antara dada bidang Declan dan daun pintu yang dingin. Embusan napas Declan yang memburu terasa hangat di wajah Sienna, mengirimkan gelombang sengatan asing yang membuat seluruh persendian cewek itu mendadak lemas bagai jeli.
"Mmph... Dec..." Sienna melenguh di sela-sela ciuman, mencoba memprotes, namun Declan justru semakin mempererat cengkeramannya di tengkuk Sienna, menuntut kepasrahan total dari cewek di depannya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti satu keabadian yang intens, Declan perlahan menjauhkan bibirnya hanya beberapa milimeter, menyisakan jarak yang sangat tipis hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Napas keduanya memburu, saling berkejaran di udara kamar yang sunyi.
"Gue udah bilang kan sama lo?" bisik Declan, suaranya terdengar sangat rendah, bergetar karena emosi yang meluap-luap. Tatapan matanya yang tajam mengunci sepasang mata kucing Sienna yang kini tampak sayu dan basah. "Jangan pernah terpengaruh sama bajingan itu. Jangan pernah lo berani-berani natap mata dia kayak tadi siang, Sienna."
Sienna mencengkeram kerah kemeja Declan yang masih agak lembap, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat terbang entah ke mana. "D-Declan... lo... lo kenapa sih? Kenapa lo se-emosi ini? Itu kan cuma—"
"Cuma apa?! Cuma masa lalu?!" potong Declan cepat, rahangnya mengeras dengan urat-urat leher yang menegang. "Lo gak tahu apa-apa tentang apa yang udah dia rebut dari gue, Rose. Edrick... bajingan itu selalu ngambil semua wanita yang berharga di hidup gue. Selalu."
Sienna tertegun, rasa marahnya mendadak surut digantikan oleh rasa penasaran dan kebingungan yang mendalam melihat sisi rapuh Declan yang tertutup amarah. "Maksud lo... apa?"
Declan memejamkan matanya sesaat, mengembuskan napas panjang yang terasa menyakitkan sebelum kembali menatap Sienna dengan tatapan posesif yang mutlak. "Dulu... dia ngerebut nyokap gue dengan uang keluarganya. Dan sekarang, setelah gue berhasil dapetin lo di samping gue... gue gak bakal biarkan dia menyentuh atau ngambil lo lagi dari hidup gue. Gak akan pernah, Sienna. Lo milik gue."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan penuh luka dari bibir pria kaku ini, jantung Sienna berdegup dua kali lebih cepat hingga rasanya mau copot. "Dec... lo..."
Sebelum Sienna sempat menyelesaikan kalimatnya atau mencerna arti kata 'berharga' dari ucapan Declan, pria itu sudah kembali menundukkan kepalanya. Kali ini, ciumannya jauh lebih brutal, menuntut, dan penuh rasa kepemilikan yang menggebu-gebu. Declan melumat bibir Sienna seakan-akan ingin menegaskan pada dunia—dan pada Edrick yang berada di lantai bawah—bahwa cewek ini adalah teritorinya yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun.
Sienna yang masih dalam kondisi fisik tidak prima karena flu mendadak merasa pandangannya berputar. Pasokan oksigen di paru-parunya menipis dengan drastis akibat serangan bertubi-tubi dari Declan.
Dug! Dug! Dug!
Sienna mulai memukul dada bidang Declan dengan sisa-sisa kekuatannya, mencoba mendorong tubuh kekar pria itu menjauh karena dia benar-benar sudah kehabisan napas dan merasa kepalanya pening.
Merasakan pukulan itu, Declan akhirnya melepaskan tautan bibir mereka dengan perlahan. Dia menarik kepalanya mundur, menatap Sienna yang kini langsung terbatuk-batuk kecil sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya dengan wajah yang merah padam sampai ke leher.
Declan memperhatikan wajah berantakan Sienna, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat tipis, membentuk senyuman miring khasnya yang sangat menyebalkan. Rasa frustrasi dan cemburunya mendadak menguap, digantikan oleh keinginan untuk menjahili cewek cegil di depannya ini.
"Baru digituin aja udah mau pingsan," ejek Declan dengan nada meremehkan, suaranya kembali terdengar ketus dan menyebalkan seperti Kanebo kering biasanya. "Lagian, lo itu gak jago ciuman banget ya? Gak bisa napas lewat hidung apa?"
Sienna yang baru saja berhasil menstabilkan napasnya langsung melotot galak, jiwa cegilnya kembali meronta dengan kekuatan penuh. "Heh!!! Lo itu yang nyiumnya kayak orang kesurupan, ya! Main nyosor aja kayak angsa tetangga! Lagian gue kan lagi flu, hidung gue mampet sebelah tahu gak! Mana bisa napas lancar!" amuk Sienna sambil memegangi bibirnya yang terasa sedikit bengkak dan berdenyut hangat.
Declan terkekeh pelan—suara tawa yang sangat jarang terdengar namun terdengar sangat seksi di telinga Sienna. Dia melepaskan cengkeramannya dari tengkuk Sienna, lalu berjalan santai menuju tempat tidur, merebahkan tubuh tingginya di atas kasur dengan tangan yang dijadikan bantalan kepala.
"Makanya, kalau belum pinter, latihan lagi sama gue. Jangan sok-sokan mau nantangin Maura atau Edrick di depan kamera kalau dicium suaminya sendiri aja langsung lemas kayak tripleks kena air," sindir Declan lagi tanpa dosa, matanya terpejam santai seolah-olah tidak baru saja melakukan aksi brutal yang membuat jantung Sienna hampir meledak.
Sienna mengepalkan tangannya gemas, berjalan mendekati tempat tidur dengan tampang ingin menerkam Declan hidup-hidup. "Declan Bryer!!! Gue bener-bener bakal hancurin muka sok ganteng lo itu besok pagi, ya! Lihat aja lo!"
"Tidur, Sienna. Berisik," sahut Declan pendek tanpa membuka matanya, namun tangan kirinya diam-diam menepuk sisi kasur di sebelahnya, memberikan ruang kosong yang hangat untuk Sienna tidur di dekatnya malam itu.
Sienna hanya bisa menggerutu panjang pendek sambil merangkak naik ke atas kasur, membungkus dirinya sendiri dengan selimut tebal di sisi paling ujung. Namun, di dalam keheningan malam kamar mereka, Sienna tahu... dinding pertahanan hatinya malam ini sudah runtuh sepenuhnya oleh rasa cemburu seorang Declan Bryer.