Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 SAMBUTAN DARI RAJA
Zeta Menarik napas panjang mencoba Menerima kenyataan baru yang tak bisa ia tolak. Tanpa banyak kata, mereka bertiga melangkah pergi dari ruangan itu. Langkah kaki mereka bertiga menggema di lorong istana yang megah.
Putri Stella berjalan di samping Zeta dengan binar mata yang jauh lebih cerah dari sebelumnya. "Selamat, Zeta! Mata Naha itu benar-benar cocok denganmu. Dengan penglihatan itu, meski kau hanya memiliki satu elemen angin, itu sudah lebih dari cukup. Kerajaan Beltrum benar-benar punya harapan sekarang!"
Lytia ikut mengangguk, meski wajahnya tetap terlihat kaku. "Syukurlah, Putri. Usulan Anda untuk melakukan ritual pemanggilan memang tepat. Sepertinya kita bisa meraih kemenangan itu”
Zeta mendengus, melirik mereka berdua dengan mata ungunya yang berkilat. "Cih! Bukannya tadi kalian kecewa berat pas tahu ku cuma punya satu elemen? Terus tadi juga bilang harapan kalian hilang? Sekarang saja kalian muji-muji ku setinggi langit. Dasar penjilat!"
Wajah Stella memerah karena malu, sementara Lytia membuang muka sambil berdehem keras.
"Xixixixi... itu kan tadi, Zeta! Lagipula, siapa yang menyangka kalau Mata Naha akan bereaksi secepat itu pada mu zeta?" Stella terkekeh canggung, mencoba mencairkan suasana. "Intinya... kami benar-benar menaruh harapan padamu."
Zeta berhenti melangkah, menatap lurus ke depan dengan serius. "Ingat ya, jangan berharap terlalu lebih sama ku. Aku bakal bantu sebisanya, tapi kalau situasinya udah nggak masuk akal, jangan salahin ku kalau aku kabur."
Stella dan Lytia saling pandang, lalu mengangguk serempak dengan patuh. "Baik, kami mengerti," ucap Stella lembut.
"Baiklah Zeta, sekarang kita ke ruangan ayahku, Sang Raja Iblis. Beliau harus tahu kalau ritual ini berhasil sepenuhnya," ajak Stella sambil memandu jalan menuju pintu aula besar yang dijaga ketat oleh prajurit berzirah hitam.
Sambil berjalan, Zeta bertanya dengan nada was-was, "Setelah ketemu ayah mu apa aku bakal langsung dikirim ke garis depan? Maksud ku... bertempur beneran?"
Lytia langsung menyela dengan nada meremehkan. "Bertempur? Kamu saja belum tau cara menggunakan sihir, Tidak, kau akan dilatih di bawah pengawasanku secara langsung."
Zeta menghentikan langkahnya, menatap Lytia dari atas ke bawah. "Hah? Dilatih sama kamu? Apa nggak ada yang lebih baik atau... lebih 'tinggi' dikit buat ngelatih ku?"
"APA KAU BILANG?!" teriak Lytia, urat di dahi kecilnya mendadak muncul. Tangannya sudah gatal ingin menjitak kepala Zeta.
Stella justru tertawa terbahak-bahak melihat mereka. "Hahahaha! Padahal belum ada sehari, tapi kalian berdua sudah sangat akrab ya?"
"Akrab apanya?!" Zeta memutar bola matanya. "Ini karena aku terpaksa dan nggak tahu apa-apa di dunia ini, jadi mau nggak mau aku harus blak-blakan sama Jenderal mungil ini."
Lytia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan amarahnya. "Beraninya kau... Tunggu saja saat latihan nanti. Aku memang lebih pendek darimu, tapi kekuatanku bisa meratakan gedung ini beserta kau di dalamnya!"
Zeta hanya nyengir lebar, merasa puas bisa menggoda jenderal yang tadinya terlihat sangat mengerikan itu. Namun, di balik candaannya, ia mulai merasakan beban berat yang sesungguhnya. Di balik pintu besar di depan mereka, Sang Raja Iblis menunggu dan perjalanan Zeta sebagai senjata pamungkas baru saja dimulai.
Pintu aula besar itu terbuka perlahan dengan suara derit yang berat, menyingkap sebuah ruangan luas yang diselimuti atmosfer mencekam. Di ujung ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan wibawa yang luar biasa di atas singgasana tulang Raja Iblis Beltrum. Di sisi-sisinya, berdiri para penasihat berjubah hitam dan barisan kapten perang dengan zirah yang berkilau tajam.
Stella dan Lytia segera mengambil posisi, menekuk lutut mereka dengan hormat yang mendalam. Sementara itu, Zeta justru berdiri mematung, matanya sibuk memindai dekorasi ruangan yang menurutnya "terlalu berlebihan" untuk ukuran sebuah kantor pemerintahan.
"Zeta! Cepat menunduk, Bodoh!" bisik Lytia tajam sambil menarik ujung jubah Zeta.
Zeta tersentak, lalu dengan kikuk mengikuti gerakan mereka. Duh, aku lupa kalau ini bukan di kampus, batinnya ketus.
*Titik Terang Beltrum*
Raja Beltrum berdehem, suaranya berat dan menggema di seluruh aula. "Putriku, Stella. Ceritakan padaku... bagaimana hasil daya sihir kekuatan nya itu? Apakah harapan kita masih ada?"
Stella mendongak, matanya berbinar penuh keyakinan. "Sudah berjalan lancar, Ayahanda. Meskipun ia hanya memiliki satu elemen angin namun ada keajaiban lain. Mata Naha telah memilihnya. Mata itu memang bukan sumber sihir penghancur, tapi kemampuannya membaca gerakan lawan akan menjadi kunci kemenangan kita."
Mendengar hal itu, sang Raja tersenyum tipis sebuah pemandangan langka yang membuat para kapten perang di ruangan itu saling berbisik.
"Terima kasih, Putriku. Usulanmu benar-benar membawa cahaya terang bagi Beltrum," ucap sang Raja. Ia kemudian mengalihkan pandangan tajamnya kepada Zeta. "Manusia dari dunia lain... Aku, Raja Beltrum, menaruh harapan besar di pundakmu. Bawalah kedamaian kedua kerajaan ini."
*Protes Sang Pahlawan "Paksa"*
Zeta menghela napas panjang. Di dalam kepalanya, bayangan tentang tugas presentasi mata kuliah makroekonomi besok pagi berputar-putar. Sialan... padahal besok jadwal aku presentasi, malah sekarang harus terjun ke perang dunia lain. Mana mata kiri ku dikorbanin lagi,” umpatnya dalam hati.
Zeta berdiri tegak, menepis rasa takutnya. "Begini ya, Yang mulia raja iblis... jangan terlalu banyak naruh harapan sama ku. Dan tolong, jangan maksa aku buat ngelakuin hal-hal gila melampaui batas. bahkan aku harus kehilangan mata kiri ku gara-gara ini."
"Zeta! Kau tidak sopan! Jaga bicaramu di depan Yang Mulia!" Lytia menegur dengan wajah pucat karena keberanian (atau kebodohan) Zeta.
Namun, sang Raja mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Lytia diam. Tak disangka, sang penguasa itu justru menundukkan kepalanya sedikit sebuah gestur permohonan maaf.
"Maafkan kami, Manusia Dunia Lain," ucap Raja dengan nada rendah. "Kami sadar telah menyeretmu ke dalam kekacauan yang bukan urusanmu. Tapi tenanglah, kami akan menjamin keselamatanmu selama berada di sini. Dan jika kedamaian telah tiba, aku bersumpah... kami akan menemukan cara untuk mengembalikanmu ke dunia asalmu."
Mendengar janji untuk pulang, pertahanan Zeta sedikit melunak. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hmm... baiklah. Selama ada jalan pulang, aku bakal lakuin sebisa ku," jawab Zeta akhirnya.
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍