Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roda Kehidupan Berputar
Hari-hari berlalu dengan atmosfer yang makin mencekik di rumah Perekonomian keluarga mereka mendadak terjun bebas. Biasanya, Ferdilah yang menjadi tulang punggung tunggal, dari urusan belanja sayur, sabun mandi, hingga biaya sekolah si kembar, semuanya beres di tangannya.
Namun, sejak insiden hilangnya seluruh uang Ferdiansyah beberapa hari lalu, rumah itu mendadak kering kerontang. Ferdi sama sekali tidak bisa memberikan uang belanja. Akibatnya? Rumah itu berubah jadi medan perang. Debat mulut antar-anggota keluarga pecah hampir setiap hari, bahkan sampai membuat piring dan panci di dapur melayang ke udara.
Pada akhirnya, Bu Nimas tidak punya pilihan lain. Sambil menangis batin, ia terpaksa merelakan salah satu emas koleksi kesayangannya untuk dijual demi menutupi kebutuhan dapur. Kalau tidak begitu, mereka sekeluarga bisa mati kelaparan.
Mau mengandalkan hasil sawah Pak Kusnadi? Jelas tidak bisa. Sawah mereka baru saja mengalami gagal panen total kemarin. Sekarang posisinya baru mulai menanam bibit baru. Untuk bisa memetik hasilnya, mereka harus gigit jari menunggu beberapa bulan ke depan.
Ferdi sendiri meratapi nasibnya dengan nelangsa. Urusan perut di rumah memang sudah dihendel sementara oleh ibunya, tapi bagaimana dengan nasibnya sendiri di pabrik?
Ia membuka dompetnya dengan lesu. Di dalam sana, hanya tersisa selembar uang seratus ribu dan satu lembar lima puluh ribu. Total cuma 150 ribu rupiah. Padahal, hari gajian masih sepuluh hari lagi.
"Astaga... Uang segini mana cukup?" keluh Ferdi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Buat beli bensin motor saja sudah pas-pasan banget! Terus makan siangku di kantor bagaimana? Belum lagi Manda yang hobi banget merengek minta makan siang di luar!"
Tepat saat Ferdi sedang pusing tujuh keliling, pintu ruangannya terbuka.
"Mas, makan siang yuk? Ada kedai soto baru buka tuh di seberang jalan, kayaknya enak." ajak Manda yang tiba-tiba masuk dengan gaya manja seperti biasanya.
Hubungan gelap mereka memang sudah kembali harmonis. Manda akhirnya terpaksa menyetujui keputusan untuk tetap menikah, meskipun dengan acara pernikahan yang seadanya dan terkesan sembunyi-sembunyi. Manda sengaja mengalah karena takut Ferdi berubah pikiran dan malah memutuskannya. Pikir Manda, yang penting ia sah dulu menjadi istri kedua Ferdiansyah. Urusan mengeruk dan menguras habis uang lelaki itu bisa ia lakukan pelan-pelan di masa mendatang. Ya, begitulah rencana busuk yang ada di kepala Manda.
Ferdi mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia menatap Manda dengan tatapan lelah.
"Manda, kamu kan tahu sendiri kondisiku sekarang bagaimana? Mas lagi masa pengiritan total. Mas sama sekali tidak pegang uang lebih cuma buat makan siang di luar. Jadi... maaf ya. Untuk saat ini, kita puasa jajan di luar dulu." Ferdiansyah mencoba memberi pengertian pada kekasih gelapnya itu.
Mendengar hal itu, Manda langsung mengerucutkan bibirnya. Wajahnya ditekuk masam.
Melihat pacar simpanannya ngambek, Ferdi merasa tidak tega. Ego lelakinya terusik. "Atau... apa boleh pakai uangmu dulu, Man?" tanya Ferdi ragu, berharap Manda mau modal sekali-kali demi kebersamaan mereka.
Sontak saja Manda menggelengkan kepalanya dengan cepat. Wajah manjanya langsung berganti ketus.
"Nggak mau ah, Mas! Aku mana ada uang. Uangku juga ngepas banget bulan ini. Kamu kan tahu sendiri gajiku di pabrik ini berapa? Sebagian besar sudah kukirimkan ke ibuku di kampung." tolak Manda mentah-mentah.
Dalam kamus hidup Manda, tidak ada sejarahnya perempuan yang membiayai laki-laki. Manda jelas emoh jika dirinya yang harus keluar modal untuk kencan mereka.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu makan di kantin saja bareng teman-temanmu yang lain..." ucap Ferdi pasrah. Ia tidak bisa memaksa karena tahu betul berapa kecilnya gaji calon istri keduanya itu.
"Ya udah, aku ke kantin dulu!" Jawab Manda ketus.
Manda langsung melenggang pergi keluar dari ruangan Ferdi. Ia sama sekali tidak peduli apakah pacar gelapnya itu kelaparan atau tidak, yang penting perutnya sendiri kenyang.
Setelah Manda pergi, Ferdi hanya bisa menghela napas gusar. Tangannya terulur mengelus perutnya yang mulai berbunyi.
"Duh, lapar banget. Tapi kalau buat beli makan, sayang banget uangnya..." gumam Ferdi merana.
Akhirnya, untuk mengganjal rasa lapar yang makin melilit, Ferdiansyah berjalan ke sudut ruangan. Ia mengambil gelas dan meminum air putih dari galon fasilitas kantor sebanyak yang ia bisa. Bergelas-gelas air ia tenggak demi menghalau rasa lapar.
Bukannya kenyang, perut Ferdiansyah malah terasa kembung dan begah.
"Haduh, malah kembung begini!" keluhnya merana.
Meskipun badannya lemas dan perutnya berbunyi protes, Ferdi terpaksa melanjutkan pekerjaannya sambil menahan lapar yang menyiksa.
**
Sementara itu, di sebuah kafe yang nyaman...
"Apa? Hahaha! Hebat kamu, Sekar! Dari dulu sifat nekat dan bar-barmu itu memang nggak ada yang berani lawan. Aku bangga banget sama kamu!" seru Amelia terbahak-bahak setelah mendengarkan cerita sahabatnya.
"Iya dong, Sekar Sari gitu loh! Mas Ferdi saja sampai gemetaran ketakutan waktu aku angkat tongkat kasti. Ah, badannya saja yang gede, aslinya mental tempe!" seloroh Sekar dengan senyum kemenangan.
Amelia masih terkekeh, lalu mencondongkan badannya. "Hahaha, oh ya... ngomong-ngomong, kamu dapat berapa bulan ini?"
"Dapat berapa apanya?" tanya Sekar bingung.
"Itu loh, gaji dari hasil menulis kamu di aplikasi!"
"Loh, memangnya sudah cair? Ini kan baru tanggal berapa?" Sekar terkejut lalu buru-buru memeriksa tanggal di layar ponselnya. "Eh, baru tanggal 3 loh, Mel..."
"Tapi bulan ini sistemnya dipercepat, periksa saja dulu. Kan aku sudah pernah bilang, jadwal cairnya itu kadang bisa maju tergantung hari libur." ujar Amelia meyakinkan.
Dengan jantung yang tiba-tiba berdebar, Sekar segera membuka aplikasi menulisnya dan memeriksa bagian pendapatan.
"Hah???" Sekar langsung menutup mulutnya, matanya terbelalak menatap layar ponsel.
"Kenapa, Kar? Kok ekspresimu kayak habis lihat hantu?" tanya Amelia penasaran.
"I-ini Mel... aku nggak salah lihat, kan? Ini beneran uang gajiku?" ucap Sekar terbata-bata, tangannya sampai gemetar.
Amelia yang tidak sabaran langsung merebut ponsel dari tangan Sekar. Begitu melihat angka yang tertera di sana, mata Amelia ikut membulat sempurna.
"Wah! Pecah telor kamu, Kar! 5 juta 300 ribu ?! Gila, ini keren banget!" pekik Amelia heboh, ikut bahagia melihat sahabat yang dibimbingnya mulai merangkak sukses.
"Hah? Serius Mel, lima juta lebih ? Banyak banget!" Sekar histeris.
"Ssst! Pelan-pelan suaranya, Sekar! Orang-orang di kafe pada ngeliatin kita tuh." tegur Amelia sambil melirik kanan-kiri dengan cengiran malu.
Sekar langsung membekap mulutnya sendiri, namun binar kebahagiaan di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.
Mata Sekar berkaca-kaca menatap angka digital itu. "Ah, serius? Lima juta? Wah... banyak banget, Mel!" pekiknya tertahan.
"Iya beneran!”
Tanpa sadar, Sekar langsung menghambur dan memeluk erat tubuh Amelia. "Ya ampun, terima kasih banyak ya, Amelia... Berkat bantuan dan bimbinganmu, sekarang aku bisa kerja santai dari rumah dan menghasilkan uang sendiri..."
Amelia tertawa kecil dan membalas pelukan sahabatnya itu. "Hehehe, sama-sama. Tapi ini murni karena kerja keras dan tulisanmu yang bagus, Sekar. Aku cuma perantara yang membukakan jalan saja. Memang di sinilah jalan rezekimu. Semoga ke depannya makin sukses, ya? Kalau kamu sukses, aku juga ikut senang. Kita harus sukses bareng-bareng, oke?"
"Oke!" balas Sekar dengan senyum sumringah yang merekah.
Sekar tampak terdiam sejenak, memikirkan sesuatu sebelum akhirnya menyeletuk, "Mel... bagaimana kalau nanti kalau modal uangku sudah terkumpul banyak, kita buka usaha bareng? Kamu setuju nggak?"
Amelia tertegun, "Usaha? Usaha apa?"
"Ya, usaha apa saja yang penting menjanjikan. Aku pengen punya bisnis riil yang bisa diwariskan ke anak cucuku nanti. Daripada uangnya cuma ditumpuk di rekening, takutnya malah habis tak bersisa kalau ada keperluan mendadak." cetus Sekar.
Otak cerdas Sekar memang selalu penuh dengan ide-ide brilian. Baginya, membuka usaha adalah investasi jangka panjang yang paling aman. Sementara menulis bisa tetap ia jalankan sebagai pekerjaan sampingan di waktu luang.
"Hmm... boleh juga ide kamu. Boleh banget!" Amelia mengangguk setuju. Selama ini Amelia memang hanya menimbun uangnya di bank. Setelah selesai merenovasi rumah orang tuanya menjadi bagus, ia sempat bingung harus dikemanakan lagi uang hasil kerjanya itu.
Sekar tersenyum puas. "Sip! Kalau begitu, yuk kita nge-mall! Kali ini aku yang traktir kamu makan di restoran Jepang premium sebagai tanda syukuran.."
"Asyik! Oke, kalau begitu nanti tiket nonton bioskopnya biar aku yang bayar. Anggap saja syukuran juga! Hahaha!" canda Amelia.
kapoooooooook