Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilecehkan
Hari demi hari berlalu setelah kepergian Arman untuk selamanya. Tahun pun telah berganti, Nadia yang dulu ceria dan pintar, sekarang menjadi anak yang sangat pendiam dan memilih menyimpan semua suka dukanya sendiri.
Di rumah itu, kehadiran Nadia dianggap seperti tidak pernah ada. Astrid tidak mengusirnya, tapi mendiamkannya. Astrid tidak mengungkap siapa Nadia sebenarnya, tapi dia memperlakukan Nadia bahkan lebih buruk dari sebelumnya.
Anak malang itu harus menanggung beban hidup yang sangat keras. Tidak ada tempat sama sekali yang bisa dia jadikan tempat untuk mengadu atau berlindung.
Sejauh ini Astrid tidak pernah meminta Nadia membersihkan rumah, masak, nyuci atau pekerjaan apapun. Tapi, Astrid tidak memberinya makan dan minum sedikit pun saat Nadia tidak melakukan apapun di rumah itu.
Astrid juga tidak meminta Nadia berhenti sekolah, tapi membiarkan Nadia membayar sendiri semua keperluan sekolahnya.
Beruntungnya, Nadia mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Selain itu, Nadia ikut membantu tetangga sebelah rumah berjualan sayur mayur di pasar setiap sabtu minggu. Uang yang Nadia dapat, cukup untuk membayar keperluan lain sekolahnya.
Begitulah waktu berlalu menghajar habis-habisan mental gadis kecil yang malang itu.
Dan tidak terasa sekarang Nadia sudah kelas dua SMP. Sore ini Nadia pulang terlambat karena harus ikut pelajaran tambahan.
"Masih tau jalan pulang!" ketus Astrid membuat Nadia menghentikan langkahnya menuju kamar.
"Maaf, ma. Tadi ada..."
Astrid mendengus tidak suka mendengar Nadia memanggilnya dengan sebutan mama.
"Lain kali gak usah pulang aja sekalian!" lanjut Astrid sinis.
Setelah mengatakan itu, Astrid berlalu begitu saja meninggalkan Nadia yang masih mematung menatap lantai rumah dengan berbagai macam hal yang berkecamuk dalam pikirannya.
Setelah beberapa waktu melamun, Nadia menuju kamarnya. Sebelum lanjut dengan pekerjaan berikutnya, Nadia mandi terlebih dahulu.
Hari ini Sabtu, itu tandanya Nadia akan ke pasar sore membantu tetangga nya berjualan.
Namun, begitu selesai mandi saat keluar dari kamar mandi, Nadia dikejutkan dengan kehadiran dua cowok berseragam SMA duduk santai di ranjang kecilnya.
"Akh....!" Jerit Nadia hendak kembali ke kamar mandi, tapi gerakannya terlambat.
Cowok satu dengan cekatan menarik tangan Nadia kuat hingga tubuh Nadia terpental ke atas kasur. Cowok dua dengan sigap membekap mulut Nadia dengan kedua telapak tangannya.
"Hmmppp...." Seluruh tubuh Nadia mencoba berontak, tapi dua cowok itu terlalu kuat untuk dia lawan.
"Diam! Diam adek manis..." bisik cowok satu di telinga Nadia.
Posisi cowok satu, berada di atas tubuh Nadia yang hanya berbalut handuk. Sementara cowok dua menghimpit kedua bahu Nadia dengan lututnya dan kedua tangannya membekap mulut Nadia dengan sangat kuat.
Nadia gemetar ketakutan, air matanya menetes deras dalam keadaan tak berdaya hanya ayah yang teringat olehnya.
"Tenang, tenang adek manis. Kita cuma mau merasakan sedikit saja. Gak usah takut, gak sakit kok." rayu cowok satu mulai meraba tubuh Nadia.
Nadia berontak kuat, saat ada kesempatan Nadia menggigit telapak tangan cowok dua yang membekap mulutnya.
"Akh anj*ng...!" Teriaknya marah.
PLAK
Satu pukulan kuat mendarat di wajah Nadia hingga bibir Nadia pecah, hidungnya berdarah. Akibat pukulan itu, kepala Nadia pun terasa sangat pusing.
"Kakak kamu yang ngizinin kita melakukan ini sama kamu adek manis."
"Gerah banget bjir. Buka baju asik kayaknya." Cowok-cowok itu membuka baju mereka bergantian.
Cuih!
Dengan tenaga yang tersisa Nadia meludahi wajah cowok yang duduk di atasnya.
Wajah cowok itu merah padam, sebentar dia menyapu ludah Nadia di wajahnya dengan telapak tangannya. Kemudian dengan tanpa perasaan, ditariknya kuat rahang Nadia. "Sok cantik! Kamu pikir kamu secantik itu, sampai berani meludahi wajah ini, hah!"
Plak!
"Hajar aja, men. Gue duluan." ucap cowok dua.
"Akh... Hmp..." Jerit Nadia tertahan karena mulutnya kembali di bekap.
Dalam keadaan lemah tak berdaya, dua cowok itu melancarkan aksinya melecehkan Nadia di kamarnya.
Nino duduk santai di kursi ruang tamu sambil menikmati sebotol teh dingin. Sementara Astrid baru saja pergi ke mall bersama Nina.
Dan setelah setengah jam lebih di kamar Nadia, dua cowok berseragam SMA itu pun keluar dari kamar Nadia dengan senyum puas.
"Gila, adek lo oke juga, bjir." ucap cowok satu sambil mengancing resleting celananya.
"Lain kali boleh dong nambah." sambung cowok dua.
"Gila lo berdua. Otak lo pada ngeres mulu. Kalian apa-in aja si anak pungut?" tanya Nino santai.
Dua temannya itu saling pandang, tersenyum seringai. "Gak sampai masuk kok. Cuma main-main dikit aja."
"Anjing lo berdua."
"Lo yang ngasih izin." ucap cowok satu.
"Lo boleh make motor gue sampai seminggu kedepan." timpal cowok dua.
"Thanks guys. Ini yang gue mau. Ya udah sana cabut."
Nino langsung mengusir dua temannya keluar dari rumah sebelum ibu dan Nina pulang.
>~<
Nadia mematung di atas tempat tidurnya. Tubuh telanjangnya ia balut dengan selimut tipis miliknya. Tangannya mencengkeram erat ujung selimut itu. Sorot matanya kosong, napasnya memburu tak beraturan.
Gadis itu hancur. Harga dirinya di jadikan bahan taruhan oleh kakaknya hanya demi bisa merasakan naik motor balap.
"Ayah..." lirih Nadia sebelum akhirnya Nadia kehilangan kesadaran.
Sementara Nino bertingkah seakan tidak terjadi apa-apa. Dia melanjutkan aktivitasnya seperti biasa tanpa ada sedikitpun rasa kasihan pada Nadia.
Nina dan Astrid yang tidak tahu apa apa pun, hanya kebagian merasa heran karena sudah hampir dua harian ini Nadia tidak keluar kamar, tidak makan dan bahkan tidak minum.
"Nina, tengok anak pungut itu gih! Masih hidup atau udah mengeras tu di kamarnya!" titah Astrid pada Nina.
"Palingan tidur ma. Atau gak lagi nangis-nangis takut gak dapat beasiswa lanjut SMA."
Nino diam saja, menyantap makan malamnya. "Paling putus cinta kali tu anak."
"Ya tetap saja harus di periksa. Mama gak mau ya, nanti tau-tau ada bau menyengat di rumah kita. Eh taunya bau mayat. Serem kan!"
Nina bergidik ngeri saat membayangkan apa yang dipikirkan mamanya. "Nino ayok ikut gue periksa kamar Nadia!"
"Kamu aja Sana. Aku lagi makan nih gak liat."
"Ih ayok, nanti aja lanjut lagi makannya!" Nina menarik paksa tangan Nino.
Namun, sebelum sempat mereka melangkah menuju kamar Nadia, Nadia sudah keluar dari kamar.
"Nadia!" Seru Astrid terkejut.
Nina dan Nino langsung menoleh kearah Nadia yang terus melangkah tanpa ekspresi kearah mereka.
Wajahnya pucat, rambutnya kusut. Sisa darah di sudut bibirnya yang pecah masih ada bahkan sudah menghitam. Batang hidungnya kebiruan, rahangnya juga kebiruan.
"Nadia, kamu kenapa?" Selidik Astrid curiga bukan karena khawatir.
Nadia terus melangkah dan begitu tiba di meja makan, Nadia langsung duduk di kursi kosong. Tanpa peduli keadaan sekitar, Nadia menyendok nasi masuk kedalam piringnya. Nadia menyantap nasi putih tanpa lauk apapun dengan sangat lahap. Bahkan Nadia sampai tambah nasi dan menghabiskan hampir lima gelas air putih.
Astrid, Nina dan Nino saling menatap bergantian. Mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Nadia.
"Lapar atau kesetanan sih!" sinis Nina yang disenggol oleh Astrid dengan memberi isyarat agar Nina diam saja.
Apa mereka menghajar Nadia ya, kok sampai wajahnya biru-biru gitu! Ah bodoh amat. Yang penting gue untung, gue senang, gue menang. Pikir Nino sambil menyeringai puas.
Bersambung...