Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Belum lewat lima belas menit sejak kepergian Kiyo, pintu kamar 502 kembali
terbuka. Kali ini tidak ada ketukan sopan. Sosok yang muncul di ambang pintu
adalah Gwen Anderson. Ia masih mengenakan jaket varsity kebanggaan tim basket
sekolah, dengan tas olahraga yang disampirkan asal-asalan di bahu. Wajahnya
terlihat kusut, ada sisa-sisa kelelahan sekaligus amarah yang tertahan di sana.
Gwen melangkah masuk, matanya langsung menyapu seisi ruangan dan tertuju pada
tumpukan kantong plastik makanan yang masih berserakan di atas meja. Ia
mendengus kasar.
"Gue liat mobil Kiyo baru aja cabut dari parkiran bawah pas gue nyampe," cetus
Gwen tanpa basa-basi. Suaranya berat dan terdengar tidak senang.
Bianca yang baru saja hendak memejamkan mata, kembali memperbaiki posisi
duduknya. Ia memasang wajah yang tenang, namun sedikit lelah. "Oh... iya. Dia
baru aja balik."
Gwen menjatuhkan tas olahraganya ke lantai dengan bunyi bug yang cukup keras,
lalu berjalan mendekati ranjang. Ia menatap kotak sushi dan martabak yang masih
terbuka. "Tuh anak beneran niat banget ya nyari muka. Lo dikasih makan ginian?
Dia nggak tahu apa lo lagi sakit, malah dibawain makanan berminyak sama mentah
kayak gitu?"
"Kiyo cuma niat baik, Gwen. Dia nggak tahu mau bawain apa, jadi dia beli aja
semuanya," jawab Bianca pelan, suaranya sengaja dibuat seolah ia tidak ingin ada
keributan.
Gwen mendengus lagi, ia menarik kursi yang tadi diduduki Kiyo—menggesernya
sedikit kasar seolah ingin menghapus jejak adiknya di sana—lalu duduk di hadapan
Bianca. "Sori gue telat. Pelatih gila itu beneran nggak mau lepasin gue. Katanya
kalau kaptennya mangkir latihan H-1 pertandingan, mending timnya bubar aja.
Belum lagi bokap gue... dia nelpon pelatih tiap jam cuma buat mastiin gue nggak
keluyuran."
Bianca tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat pengertian. "Nggak
apa-apa, Gwen. Gue paham kok. Lo kan emang tumpuan tim. Makasih ya, udah
sempet-sempetin dateng ke sini."
Gwen menatap Bianca lekat-lekat. Matanya kemudian turun ke arah rambut Bianca
yang pendek. Ekspresinya yang tadinya keras perlahan melunak, digantikan oleh
gurat kesedihan yang nyata. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum
akhirnya menyentuh ujung rambut Bianca yang kasar.
"Bi... gue masih nggak percaya lo beneran ngelakuin ini," bisik Gwen. "Gue
ngerasa gagal banget jagain lo. Pas gue liat lo motong rambut lo sendiri di
video itu... jantung gue rasanya mau copot, Bi."
'Halah, basi banget akting lo,' batin Bianca sinis. 'Lo ngerasa gagal karena
mainan lo rusak, bukan karena lo peduli sama gue.'
"Gue cuma... gue cuma ngerasa butuh perubahan, Gwen. Gue capek jadi Bianca yang
dulu. Gue mau buang semua memori buruk itu lewat rambut ini," ucap Bianca,
matanya mulai berkaca-kaca—sebuah trik yang sudah ia kuasai di luar kepala.
Gwen menghela napas panjang. Ia tiba-tiba meraih kedua tangan Bianca dan
menggenggamnya erat. "Bi, dengerin gue. Gue tahu hubungan kita belakangan ini
kacau. Gue tahu gue banyak salah sama lo. Tapi liat lo kayak begini, liat lo
hancur gara-gara tekanan yang gue sama keluarga gue kasih... itu bikin gue sadar
satu hal."
Bianca diam, menunggu kelanjutan kalimat Gwen dengan perasaan waspada.
"Gue sayang sama lo, Bi. Serius," ucap Gwen dengan nada yang sangat dalam dan
sungguh-sungguh. "Bukan cuma sekadar pengen lo jadi pacar gue karena lo cantik
atau karena lo populer. Tapi gue bener-bener nggak bisa bayangin hari-hari gue
tanpa lo. Gue mau kita serius. Gue mau lo jadi milik gue, satu-satunya."
Suasana kamar mendadak hening. Cahaya lampu yang sedikit redup menambah kesan
dramatis di antara mereka. Gwen menatap Bianca dengan sorot mata penuh
permohonan, seolah seluruh hidupnya bergantung pada jawaban gadis di depannya
ini.
Bianca mematung. Dalam hati, ia ingin tertawa terbahak-bahak. Gwen Anderson, si
playboy tingkat tinggi yang biasanya cuma nganggep cewek sebagai piala, sekarang
nembak gue di bangsal rumah sakit? Lucu banget.
'Gue harus mainin ini dengan cantik,' pikir Bianca.
Bianca perlahan menarik tangannya dari genggaman Gwen. Ia menunduk, pura-pura
menghapus setetes air mata yang jatuh di pipinya. "Gwen... lo tahu kan keadaan
gue sekarang kayak gimana?"
"Gue nggak peduli, Bi. Gue bakal tetep di samping lo sampe lo sembuh total. Gue
bakal jagain lo dari siapapun, termasuk dari Kiyo kalau dia berani macem-macem
lagi," balas Gwen cepat, suaranya penuh determinasi.
Bianca menggeleng pelan. "Justru itu masalahnya, Gwen. Gue nggak bisa."
Wajah Gwen seketika menegang. "Kenapa? Karena Kiyo? Tadi dia ngomong apa aja ke
lo? Dia nembak lo juga?"
Bianca mendongak, menatap mata Gwen dengan tatapan yang penuh kepedihan palsu.
"Nggak, Gwen. Ini bukan soal Kiyo. Tadi Kiyo emang... dia emang perhatian
banget. Tapi gue juga nggak bisa sama dia. Gue nggak bisa sama siapapun
sekarang."
"Tapi kenapa, Bi? Gue bisa kasih lo segalanya. Gue bisa jamin hidup lo aman!"
Gwen mulai terdengar panik. Ego besarnya merasa terpukul karena penolakan ini.
"Gue hancur, Gwen! Lo liat gue!" Bianca tiba-tiba menaikkan nada suaranya,
aktingnya semakin totalitas. "Jiwa gue lagi sakit. Mental gue berantakan. Gue
bahkan nggak sanggup buat liat muka gue sendiri di cermin tanpa ngerasa jijik.
Gimana bisa gue ngejalanin hubungan sama orang lain kalau gue sendiri aja benci
sama diri gue?"
Gwen terdiam, lidahnya kelu.
"Kalau gue maksa buat bareng sama lo sekarang, gue cuma bakal nyakitin lo. Gue
bakal jadi beban buat lo. Lo itu atlet, lo punya masa depan cerah. Lo nggak
butuh cewek rusak kayak gue di samping lo," lanjut Bianca dengan isakan yang
tertahan.
'Gila, gue pantes dapet Oscar sih kalau begini terus,' batin Bianca sambil
menahan tawa di balik isakannya.
"Gue nggak ngerasa lo beban, Bi! Sumpah!" seru Gwen, ia berusaha kembali meraih
tangan Bianca namun Bianca menghindar.
"Kasih gue waktu, Gwen. Tolong... kalau lo emang beneran sayang sama gue, tolong
hargai keputusan gue buat sendiri dulu. Gue mau fokus nyembuhin diri gue
sendiri. Gue nggak mau terikat sama siapapun, baik itu sama lo, ataupun sama
Kiyo," ucap Bianca dengan tegas namun lembut.
Gwen menyugar rambutnya dengan frustrasi. Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir
di ruangan itu. "Sialan. Gue bener-bener telat ya? Gara-gara latihan basket
sampah itu, gue jadi kehilangan momen buat ada di samping lo pas lo paling
butuh?"
"Bukan gitu, Gwen. Emang takdirnya lagi kayak gini," Bianca mencoba menenangkan.
Gwen berhenti melangkah, ia menatap Bianca lagi. "Tapi lo nggak bakal nerima
Kiyo kan? Janji sama gue, lo nggak bakal milih dia."
Bianca tersenyum tipis, kali ini senyum yang terasa misterius. "Gue nggak milih
siapapun, Gwen. Untuk sekarang, satu-satunya orang yang gue butuhin adalah diri
gue sendiri. Dan mungkin... dukungan dari lo sebagai temen baik. Itu lebih dari
cukup."
Gwen menghela napas panjang, bahunya merosot. Penolakan halus Bianca terasa
lebih menyakitkan daripada bentakan ayahnya. Namun, di sisi lain, ia merasa
punya secercah harapan karena Bianca juga tidak menerima Kiyo.
"Oke... oke kalau itu mau lo," ucap Gwen akhirnya dengan suara lesu. "Gue bakal
nunggu. Gue bakal buktiin kalau gue bisa jadi orang yang lo butuhin. Gue bakal
jagain lo dari jauh, tapi jangan harap gue bakal lepasin lo gitu aja ke cowok
lain."
'Terserah lo deh, mau nunggu sampe lumuran juga gue nggak peduli,' batin Bianca.
Gwen kembali mendekat, kali ini ia duduk di pinggir ranjang. Suasananya kembali
hening, namun tidak se-romantis tadi. Ada kecanggungan yang menggantung di
udara.
"Makanannya mau gue beresin?" tanya Gwen sambil menunjuk sampah dari Kiyo. "Gue
beliim yang baru ya? Yang lebih sehat. Bubur salmon kek, atau sup jagung?"
"Nggak usah, Gwen. Gue udah kenyang banget tadi disuapin Kiyo—eh maksud gue,
tadi udah makan banyak," Bianca pura-pura keceplosan.
Mata Gwen langsung berkilat marah mendengar kata 'disuapin'. "Dia nyuapin lo?
Bener-bener ya tuh anak. Nggak tahu diri banget."
"Udah, Gwen. Jangan mulai lagi. Gue capek denger kalian berantem terus," Bianca
memijat pelipisnya.
Gwen menarik napas dalam, mencoba mengontrol emosinya. "Sori. Gue cuma... gue
cuma nggak suka ada orang lain yang nyentuh milik gue."
'Milik lo? Sejak kapan gue jadi barang milik lo, brengsek?' Bianca menggeram
dalam hati, meski wajahnya tetap terlihat kalem.
"Bi... soal rambut lo," Gwen kembali membahas hal itu, tangannya menyentuh helai
rambut Bianca yang pendek di dekat telinga. "Besok gue panggilin penata rambut
langganan nyokap gue ke sini ya? Biar diperbaiki potongannya. Biar lo kelihatan
lebih cantik lagi. Gue nggak tahan liat potongan acak-acakan ini, ini pasti
bikin lo makin stres tiap kali liat kaca."
Bianca menggeleng cepat. "Jangan. Gue mau rambut ini tetep kayak gini."
"Kenapa?" Gwen mengernyit bingung.
"Biar gue selalu inget, Gwen. Biar gue inget rasa sakitnya. Biar gue inget momen
di mana gue mutusin buat berhenti jadi Bianca yang lemah," jawab Bianca dengan
sorot mata yang tiba-tiba menjadi tajam.
Gwen tertegun. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari aura Bianca. Gadis di
depannya ini bukan lagi Bianca yang selalu menurut dan bisa ia kontrol dengan
pesonanya. Ada sesuatu yang dingin, sesuatu yang gelap di balik mata cokelat
itu.
"Lo... lo beneran berubah ya, Bi," gumam Gwen pelan.
"Dunia yang ngerubah gue, Gwen. Dan keluarga lo punya peran besar di dalamnya,"
sahut Bianca dengan nada bicara yang datar, hampir tanpa emosi.
Gwen merasa tertohok. Ia tahu ayahnya, Maxwell, memang keras dan seringkali
menggunakan cara kotor dalam bisnis maupun dalam mengatur anak-anaknya. Ia tahu
keluarganya bukan keluarga suci. Tapi mendengar itu langsung dari mulut Bianca,
rasanya seperti ditampar kenyataan pahit.
"Gue minta maaf atas nama bokap gue, atas nama keluarga gue," ucap Gwen tulus,
atau setidaknya terdengar tulus.
'Maaf nggak bakal balikin nyawa Ayah yang udah lo ancurin, Gwen,' batin Bianca.
"Udahlah, Gwen. Nggak usah bahas itu lagi. Gue mau istirahat. Kepala gue mulai
pusing lagi," ucap Bianca sambil memejamkan mata, memberi kode halus agar Gwen
segera pergi.
Gwen berdiri dengan berat hati. "Ya udah. Lo istirahat ya. Besok pagi sebelum
berangkat sekolah, gue bakal mampir lagi. Gue bakal bawain sarapan yang bener."
"Iya, makasih ya, Gwen."
Gwen membungkuk, ia mencium kening Bianca dengan lembut. Sebuah kecupan yang
seharusnya terasa manis, namun bagi Bianca rasanya seperti dikhianati oleh
seekor ular. Setelah itu, Gwen berbalik dan melangkah keluar kamar dengan
gontai.
Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki Gwen menjauh, Bianca langsung
membuka matanya. Ia mengambil tisu di samping ranjang dan mengusap keningnya
dengan kasar, seolah ingin menghapus bekas ciuman Gwen tadi.
"Najis banget," gumamnya pelan.
Bianca menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit kamar yang putih pucat.
Senyum miring kembali tersungging di bibirnya yang pucat.
'Dua-duanya udah masuk ke perangkap. Kiyo dengan rasa bersalahnya, dan Gwen
dengan obsesinya yang dia kira cinta,' Bianca membatin dengan penuh kepuasan.
Ia teringat penolakan yang ia berikan pada keduanya. Itu adalah langkah
strategis. Jika ia langsung menerima salah satu dari mereka, permainan ini akan
cepat selesai dan membosankan. Tapi dengan menolak keduanya atas nama "trauma"
dan "ingin sendiri", ia justru membuat mereka semakin penasaran, semakin
kompetitif, dan semakin mudah dikendalikan.
Mereka akan berlomba-lomba memberikan yang terbaik untuknya. Mereka akan saling
sikut, saling menjatuhkan, dan akhirnya menghancurkan satu sama lain hanya untuk
mendapatkan perhatian dari seorang gadis yang sebenarnya sangat membenci mereka.
'Kiyo bilang dia bakal jagain gue dari Gwen. Gwen bilang dia bakal jagain gue
dari Kiyo. Lucu banget,' pikir Bianca. 'Padahal yang sebenernya harus mereka
waspadai itu gue.'
Bianca mengambil ponselnya yang terletak di bawah bantal. Ia melihat ada pesan
masuk dari Rebecca.
From: Bec Gimana si Kapten Basket? Dia dateng kan?
Bianca mengetik balasan dengan cepat.
To: Bec Baru aja balik. Dia nembak gue, nangis-nangis kayak bocah kehilangan
permen. Gue tolak pake alasan mental health. Dia makin terobsesi sekarang. Kiyo
juga udah kena. Semuanya sesuai rencana. Besok gue mau mulai tahap selanjutnya.
Gue mau bikin Maxwell Anderson ngerasa kalau anak-anaknya udah nggak bisa dia
kontrol lagi.
Pesan terkirim. Bianca meletakkan kembali ponselnya. Ia merasakan kelelahan yang
luar biasa, namun semangat pembalasan dendamnya justru semakin membara. Rambut
pendeknya yang berantakan, yang Gwen anggap sebagai simbol kegagalan, baginya
adalah mahkota baru. Mahkota bagi seorang pejuang yang tidak akan berhenti
sampai musuhnya sujud di kakinya.
Di luar sana, malam Jakarta semakin larut. Di dalam kamar mewah itu, Bianca
tertidur dengan sebuah rencana besar yang terus berputar di mimpinya. Sebuah
rencana yang akan mengubah sejarah keluarga Anderson selamanya. Badai yang
sesungguhnya baru saja mendapatkan arah angin yang tepat, dan tidak akan ada
yang bisa selamat saat badai itu menerjang nanti.