Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengetahui identitas gadis semalam
Pukul tujuh malam, Raviel berdiri di depan sebuah bangunan tersembunyi yang tidak tercatat dalam peta mana pun. Tempat itu sunyi, tertutup, dan hanya dikenal oleh orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaannya. Di sanalah kesalahan dibayar, dan rahasia dikubur tanpa jejak.
Langkahnya mantap saat memasuki lorong panjang bercahaya redup. Beberapa pria bertubuh besar berdiri berjajar di sepanjang dinding. Begitu melihat sosoknya, mereka serempak menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Tidak satu pun berani menatap terlalu lama.
“Pelayan yang Anda bicarakan sudah ada di dalam, Tuan,” lapor salah satu pengawal dengan suara rendah.
“Hm.” Raviel menjawab singkat.
Tangannya meraih sebuah cutter kecil dari saku mantel. Benda itu dingin, ringan, dan selalu ia bawa ke mana pun.
Pintu besi terbuka perlahan.
Di dalam ruangan itu, seorang pelayan perempuan terduduk lesu di sebuah kursi logam. Tangan dan kakinya terikat, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat oleh ketakutan yang belum menemukan ujung. Matanya membesar saat Raviel melangkah masuk, aura dingin pria itu langsung menekan udara di sekitarnya.
“Kau tahu kesalahanmu apa?” tanya Raviel datar.
Tidak ada jawaban. Mulut perempuan itu tertutup lakban tebal.
Tanpa ekspresi, Raviel meraih ujung lakban lalu menariknya dengan keras. Teriakan melengking memenuhi ruangan, diikuti isak tertahan. Perempuan itu menunduk, bahunya bergetar hebat.
“katakan padaku,” ujar Raviel, suaranya rendah namun mengandung ancaman, “siapa yang menyuruhmu memberikan minuman itu kepadaku.”
Perempuan itu terdiam. Bibirnya tampak perih, napasnya tersengal. Cutter di tangan Raviel terangkat, ujungnya berhenti hanya beberapa sentimeter dari lehernya.
“Jawab,” suara Raviel mengeras, “atau aku akan melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kau lupakan.”
“A-ampun, Tuan…” ucap perempuan itu terbata.
"wanita kemarin yang menyuruh saya. Dia yang memberikan minuman itu dan memerintahkan saya mengantarkannya kepada Anda.”
“Namanya.”
“S-saya tidak tahu…” air matanya jatuh. “Tapi saya ingat… dia anak dari Pak Subianto.”
Cutter itu berhenti bergerak.
Raviel menghela napas pelan. Rahangnya mengeras, matanya menggelap. Dugaan itu tidak meleset. Kesalahan yang ia benci adalah ketika seseorang berani mencampuri wilayahnya dengan cara kotor.
“Kau kubiarkan hidup,” ucap Raviel akhirnya, suaranya kembali dingin. “Dengan satu syarat.”
Perempuan itu mengangguk cepat.
“Lupakan tempat ini. Jangan pernah membuka mulut kepada siapa pun. Setelah ini, kau akan dikirim keluar kota. Mulai hidup baru. Jika satu kata saja bocor—hidupmu akan berakhir.”
Perempuan itu mengangguk berkali-kali, ketakutan membuatnya tak mampu berkata lebih jauh.
Raviel berbalik tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup di belakangnya, meninggalkan isak yang perlahan menghilang.
Di luar ruangan, Raviel melangkah menuju lorong utama. Salah satu pria mendekat, menunggu perintah.
“Culik anak Pak Subianto,” ucap Raviel dingin. “Aku akan mengurusnya sendiri.”
Perintah itu diterima tanpa pertanyaan.
Namun sebelum Raviel melangkah lebih jauh, ponselnya bergetar di saku. Nama Ethan muncul di layar. Ia mengangkatnya.
“Tuan,” suara asistennya terdengar tegang, “identitas gadis yang Anda minta sudah ditemukan.”
Langkah Raviel terhenti.
“Ada apa?” tanyanya.
“Ada sesuatu yang… tidak terduga, dan anda pasti terkejut."
Raviel mematikan panggilan tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut. Jantungnya berdetak tidak wajar. Perasaan asing menjalar pelan, seperti bayangan lama yang kembali mengusik.
Terkejut karena apa?
Ia masuk ke mobil dan melajukannya menembus jalanan kota. Tujuannya satu—restoran yang sudah disepakati Ethan sebagai tempat pertemuan. Lampu-lampu malam berpendar di kaca jendela, namun pikiran Raviel dipenuhi satu hal.
Jika gadis itu hanya korban, ia akan bertanggung jawab.
Raviel mengepalkan tangan di atas kemudi.
Malam ini, hidupnya akan berubah. Dan siapa pun yang terlibat, tidak akan lolos dari cengkeramannya.
____
Raviel melangkah masuk ke dalam restoran itu dengan langkah mantap. Setelan hitam yang melekat di tubuhnya menegaskan aura dingin yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi. Tatapannya tajam, wajahnya tanpa ekspresi, seolah dunia di sekeliling tidak lebih dari bayangan yang lewat.
Beberapa pelanggan tanpa sadar menahan napas. Suasana yang semula ramai mendadak terasa berat, seakan udara ikut menegang begitu pria itu hadir. Tidak ada yang berani menatap terlalu lama, naluri mereka seolah memperingatkan bahwa sosok itu bukan seseorang yang pantas diganggu.
Di sudut restoran, Raviel melihat Ethan duduk tenang sambil meminum kopi hitamnya. Begitu menyadari kehadiran tuannya, Ethan segera berdiri dan menundukkan kepala hormat.
“Silakan, Tuan,” ucapnya sambil menarik kursi.
Raviel duduk tanpa banyak basa-basi. Matanya langsung tertuju pada Ethan.
“Jadi,” ucapnya dingin, “apa yang kamu dapatkan tentang identitas gadis kemarin?”
Ethan menarik napas pelan. “Anda akan terkejut,” jawabnya dengan senyum tipis yang sulit diterjemahkan. “Sekaligus…merasa senang.”
Raviel menyipitkan mata. “Aku tidak ingin bermain-main, Ethan. Cepat Katakan.”
Tanpa berkata lagi, Ethan membuka sebuah map cokelat tebal. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen, foto, serta hasil tangkapan kamera pengawas. Ia mendorong map itu ke arah Raviel.
“Ini identitasnya, Tuan.”
Raviel mengambil dokumen itu. Jemarinya berhenti sesaat saat membaca baris pertama. Matanya bergerak perlahan, menelusuri setiap huruf, setiap angka, seolah takut ada kesalahan yang luput.
Nama itu.
Jantung Raviel berdetak keras.
“Apa… apa benar ini gadis yang aku tiduri?” ucapnya pelan, suaranya untuk pertama kalinya terdengar tidak sepenuhnya terkendali.
“Benar, Tuan,” jawab Ethan mantap. “Menurut data yang saya kumpulkan, gadis itu baru saja menyelesaikan pesanan kue untuk salah satu tamu hotel tempat Anda mengadakan pertemuan bisnis. Saya juga menelusuri rekaman CCTV. Wajahnya sesuai. Tidak ada kekeliruan.”
Raviel menatap foto itu lebih lama.
Wajah yang tidak pernah benar-benar pergi dari ingatannya.
Wajah yang pernah ia lihat bertahun-tahun lalu.
Ethan bisa melihat perubahan halus di ekspresi tuannya. Senyum tipis terbit di sudut bibir Raviel—senyum yang jarang sekali muncul. Senyum yang tidak pernah berarti sesuatu yang sederhana.
“Nama lengkapnya?” tanya Raviel, meski sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
“Elinara Evelyn,” ucap Ethan pelan.
Dunia Raviel seolah berhenti berputar.
Ia tidak menyangka. Tidak pernah membayangkan. Gadis yang selama ini berdiam dalam pikirannya sejak kelas satu SMA—gadis yang ia kagumi dari jauh, yang wajahnya sesekali muncul di mimpi tanpa pernah ia sentuh—ternyata adalah gadis yang telah ia renggut kesuciannya dalam kondisi tak sadar.
Alih-alih merasa bersalah sepenuhnya, sesuatu yang lebih gelap justru bangkit di dadanya.
Obsesi itu berkobar.
Takdir, pikirnya. Atau mungkin Tuhan memang sengaja mempermainkannya dengan cara yang kejam sekaligus indah. Dari jutaan kemungkinan, mereka dipertemukan dengan cara seperti ini.
Raviel tersenyum miring.
“Bukankah lebih baik jika aku langsung menikahinya?” ucapnya ringan, seolah itu hanya urusan bisnis biasa.
Ethan terkejut. “T-Tuan,” ucapnya hati-hati, “menurut saya, Anda sebaiknya mendekatinya perlahan. Gadis itu bukan wanita seperti yang biasa Anda hadapi. Jika Anda memaksanya masuk ke dalam kehidupan Anda yang kelam, dia bisa tertekan… bahkan pergi.”
Raviel terdiam.
Ucapan Ethan ada benarnya. Elinara bukan bagian dari dunianya. Gadis itu terlalu lembut, terlalu rapuh untuk langsung ditarik ke dalam kehidupan yang penuh darah dan bayangan.
Untuk sementara, ia akan menunggu.
Mengawasi dari jauh.
Mendekat dengan cara yang halus.
Namun jika gadis itu menolak, jika ia mencoba menjauh, jika ia berani melarikan diri—
Raviel mengepalkan tangannya perlahan.
Ia akan mengurungnya di dalam mansionnya. Melindungi dengan caranya sendiri. Menjaga dengan obsesi yang tidak mengenal batas.
Baginya, Elinara Evelyn sudah menjadi miliknya sejak lama.
Dan malam itu hanya mempercepat takdir yang seharusnya terjadi.
Sungguh gila, bukan?
Namun bagi Raviel Althaire, kegilaan adalah bentuk cinta paling jujur yang ia miliki.