NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Kata yang Menghancurkan

Xu Tian berdiri di hadapan mereka.

Jaraknya tidak sampai tiga langkah, namun rasanya seperti terpisah oleh jurang yang dalam. Nafasnya tersendat, naik turun tanpa ritme. Udara sore terasa dingin di tenggorokannya, seolah setiap tarikan adalah ujian kecil yang bisa membuatnya mundur.

Namun ia tidak mundur.

Tangannya gemetar di sisi tubuh. Jemarinya kaku, masih menyisakan rasa perih dari tugas kasar yang baru selesai. Pakaiannya kusam, bernoda debu dan bekas keringat. Tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang tampak pantas berada di tempat ini.

Di hadapannya, Lin Ruo’er berdiri tenang.

Wajahnya bersih, ekspresinya terkendali. Tatapannya jatuh pada Xu Tian tanpa kejutan, tanpa gelombang emosi. Seolah ia sudah menduga momen ini akan datang, atau mungkin sudah lama menunggu tanpa benar-benar mengharapkannya.

Zhao Heng berada di sisinya.

Sedikit di belakang, sedikit menyamping. Posisi yang alami. Posisi seseorang yang memang seharusnya berada di sana.

Xu Tian merasakan tekanan itu menekan dadanya.

Ia membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Kata-kata berdesakan di tenggorokannya, saling bertabrakan, membuat kepalanya berdengung. Untuk sesaat, ia hampir menyerah.

Namun bayangan masa lalu muncul begitu saja.

Senyum kecil itu. Sapaan lembut itu. Perasaan bahwa ia pernah dianggap sebagai manusia, bukan beban.

Ia menarik napas panjang.

“Lin… Lin Ruo’er.”

Suaranya keluar pelan, serak. Tidak lantang. Tidak meyakinkan. Namun cukup untuk membuat Lin Ruo’er memusatkan perhatiannya sepenuhnya padanya.

Di sekitar mereka, langkah kaki melambat.

Beberapa murid yang melintas menoleh. Ada yang berhenti, ada yang berpura-pura tidak peduli namun telinganya jelas tertarik. Suasana di jalur batu itu berubah perlahan, seperti udara yang menegang sebelum hujan.

Xu Tian merasakan tatapan-tatapan itu.

Punggungnya terasa dingin.

Namun ia sudah melangkah sejauh ini.

“Aku…” Ia menelan ludah. “Aku tahu posisiku. Aku tahu aku tidak punya apa-apa.”

Kata-katanya sederhana. Tidak dihias. Tidak disusun untuk terdengar indah. Itu adalah suara seorang murid rendahan yang berbicara dari tempat paling rendah dalam hidupnya.

“Tapi selama ini… satu-satunya alasan aku masih bertahan di sini…” Ia berhenti sejenak, mengatur napas yang kembali goyah. “Adalah karena kamu.”

Hening.

Angin sore menyapu daun-daun di taman dekat aula. Suara kain murid yang bergesekan terdengar jelas di telinga Xu Tian.

Ia menatap Lin Ruo’er, matanya sedikit memerah, namun tidak ada air mata yang jatuh. Ia tidak ingin menangis. Tidak di sini. Tidak sekarang.

“Aku tidak berharap banyak,” lanjutnya. “Aku tidak berani bermimpi terlalu tinggi. Aku hanya ingin jujur. Perasaan ini… sudah terlalu lama kupendam.”

Beberapa murid saling melirik.

Ada yang mengangkat alis. Ada yang menyeringai tipis.

Xu Tian bisa merasakannya, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap fokus ke depan. Ke satu wajah itu.

“Aku menyukaimu,” katanya akhirnya.

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa hiasan, tanpa pembelaan. Telanjang. Rentan.

Dadanya terasa kosong setelah mengucapkannya, seolah seluruh keberanian yang ia kumpulkan seumur hidup telah habis dalam satu tarikan napas itu.

Lin Ruo’er tidak langsung menjawab.

Ia terdiam, menatap Xu Tian dengan ekspresi yang sama—tenang, terkontrol. Tidak ada rasa kaget. Tidak ada kebingungan. Tidak juga penolakan yang tergesa-gesa.

Hanya jarak.

Xu Tian menggenggam tangannya lebih erat.

Ini hanya butuh waktu, katanya pada dirinya sendiri. Dia hanya perlu berpikir. Dia selalu seperti ini—tidak gegabah, tidak emosional.

Harapan kecil itu bergetar di dalam dadanya.

Ia mengingat hari-hari ketika Lin Ruo’er masih mau berbicara dengannya. Ketika jarak ini belum selebar sekarang. Ketika dunia belum terasa sekejam ini.

Zhao Heng tetap diam.

Namun kehadirannya terasa semakin jelas. Sosoknya seperti bayangan yang menegaskan perbedaan—bersih dan kuat, berdiri tanpa perlu membuktikan apa pun.

Xu Tian bisa merasakan tatapan Zhao Heng sekilas jatuh padanya. Bukan hinaan. Bukan ejekan.

Hanya penilaian singkat.

Itu lebih menyakitkan.

Bisikan mulai terdengar di sekitar mereka.

“Bukankah itu Xu Tian?”

“Dia benar-benar berani…”

“Di depan umum seperti ini?”

Suara-suara itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat telinga Xu Tian berdenging. Wajahnya memanas. Lehernya terasa kaku.

Namun ia tidak mundur.

Ia sudah berada di tepi jurang. Tidak ada jalan kembali tanpa melompat.

“Ruo’er,” katanya lagi, lebih pelan. “Aku tidak memintamu membalas perasaanku sekarang. Aku hanya… ingin kamu tahu.”

Nada suaranya hampir seperti permintaan maaf.

Hening kembali menyelimuti mereka.

Cahaya sore mulai meredup, bergeser menuju warna jingga yang lebih gelap. Bayangan murid-murid memanjang di jalur batu, menciptakan garis-garis yang terpotong dan tak beraturan.

Xu Tian berdiri di tengah semua itu, rapuh dan terbuka.

Lin Ruo’er akhirnya bergerak.

Ia mengangkat dagunya sedikit, matanya tetap tenang. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada rasa iba yang berlebihan. Hanya kejelasan yang dingin.

Xu Tian merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.

Inilah saatnya.

Dadanya terasa sesak.

Napasnya tertahan, seolah satu kata darinya akan menentukan apakah ia masih boleh berharap… atau harus melepaskannya selamanya.

Ia menunggu.

Dengan seluruh dirinya.

Lin Ruo’er menghela napas pelan.

Gerakannya kecil, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat dada Xu Tian mengencang. Tatapan itu tidak berubah—tetap tenang, tetap berjarak. Seolah apa pun yang akan diucapkannya sudah dipikirkan matang-matang, tanpa emosi yang mengganggu.

“Xu Tian,” katanya akhirnya.

Namanya diucapkan dengan jelas, tanpa nada lembut seperti dulu. Tidak dingin. Tidak hangat. Hanya datar.

Beberapa murid mendekat sedikit, pura-pura lewat, pura-pura sibuk. Lingkaran tak kasatmata terbentuk di sekitar mereka. Tidak ada yang mengusir. Tidak ada yang mencegah.

Semua menunggu.

“Aku sudah mendengar apa yang ingin kamu sampaikan,” lanjut Lin Ruo’er. “Dan aku menghargai kejujuranmu.”

Kata menghargai itu terdengar aneh di telinga Xu Tian. Tidak membawa kelegaan. Tidak juga harapan. Jantungnya justru berdetak semakin tidak teratur.

Ia menelan ludah.

“Namun,” Lin Ruo’er melanjutkan, “kita hidup di dunia yang berbeda.”

Kalimat itu diucapkan tanpa tekanan, tanpa nada menggurui. Fakta sederhana, seperti menyebutkan langit berwarna senja atau batu yang dingin di bawah kaki.

Xu Tian merasakan telinganya berdengung.

“Kamu dan aku,” kata Lin Ruo’er, “berdiri di jalur yang tidak sejajar sejak awal.”

Ia melirik sekilas ke arah Zhao Heng, lalu kembali menatap Xu Tian. Gerakan itu singkat, tapi cukup jelas.

Zhao Heng melangkah setengah langkah lebih dekat.

Tidak menghalangi. Tidak menyentuh. Namun keberadaannya kini terasa semakin nyata, seperti tembok yang berdiri di antara dua dunia.

“Perasaan,” Lin Ruo’er melanjutkan, “bukan satu-satunya hal yang menentukan masa depan seseorang di sekte ini.”

Beberapa murid tersenyum tipis.

Ada yang berbisik, tidak berusaha menahan diri.

“Dia masih berharap apa?”

“Berani sekali murid rendahan itu.”

Xu Tian mendengar semuanya, namun suara-suara itu terdengar jauh. Seolah ia sedang berdiri di dasar air, melihat dunia di atasnya bergerak tanpa suara yang jelas.

Ia menatap Lin Ruo’er, matanya kosong.

“Jadi…,” katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Itu artinya…?”

Lin Ruo’er tidak langsung menjawab.

Ia menatap Xu Tian lebih lama kali ini. Tatapan yang menilai, bukan menghina. Tatapan seseorang yang sudah mengambil keputusan dan tidak berniat mengubahnya.

“Aku tidak bisa menerima perasaanmu,” katanya akhirnya.

Kalimat itu jatuh dengan bersih. Tanpa getar. Tanpa keraguan.

Sejenak, tidak ada reaksi.

Lalu suara tawa kecil terdengar dari salah satu sisi. Cepat ditekan, tapi sudah terlanjur mencederai keheningan.

Xu Tian berdiri kaku.

Kepalanya terasa ringan, seolah seluruh darah di tubuhnya naik ke tengkorak lalu menguap begitu saja. Kata-kata Lin Ruo’er bergema, berulang-ulang, namun maknanya sulit ditangkap sepenuhnya.

Tidak bisa menerima.

Bukan belum siap. Bukan perlu waktu.

Tidak bisa.

“Aku harap kamu bisa mengerti,” lanjut Lin Ruo’er. “Ini bukan tentang siapa yang lebih tulus. Ini tentang realitas.”

Realitas.

Kata itu menekan dadanya lebih keras daripada ejekan mana pun yang pernah ia terima.

Xu Tian membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu. Apa saja. Penjelasan. Bantahan. Permohonan terakhir.

Namun tidak ada kata yang keluar.

Zhao Heng menoleh ke arah Xu Tian.

Tatapannya singkat, datar. Tidak ada rasa puas. Tidak juga rasa kasihan. Seolah Xu Tian hanyalah bagian kecil dari pemandangan sore yang kebetulan ada di sana.

Ia kemudian mengalihkan pandangan kembali ke Lin Ruo’er.

Gerakan itu sederhana.

Namun cukup untuk menghancurkan sesuatu di dalam diri Xu Tian.

Bisikan semakin ramai.

“Akhirnya.”

“Sudah jelas sejak awal.”

“Berani bermimpi terlalu tinggi.”

Xu Tian merasakan lututnya melemah, tapi ia memaksa dirinya tetap berdiri. Jika ia jatuh sekarang, ia tahu ia tidak akan bisa bangkit lagi.

Lin Ruo’er menarik napas sekali lagi.

Ada jeda singkat, seperti ia sedang memastikan bahwa apa yang akan diucapkannya tidak meninggalkan celah apa pun.

Lalu ia berbicara.

“Orang sepertimu tidak akan pernah pantas dicintai.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan keras.

Tidak ada emosi di dalamnya.

Justru karena itu, kalimat itu terasa seperti pisau yang dingin dan tajam, menembus tanpa perlawanan.

Xu Tian berdiri membeku.

Semua suara di sekitarnya menghilang.

Ia melihat mulut Lin Ruo’er tertutup kembali, melihat Zhao Heng berdiri di sisinya, melihat murid-murid lain mulai bergerak, mulai berbicara, mulai melanjutkan hidup mereka.

Dunia sekte kembali bising.

Langkah kaki berlalu-lalang. Tawa terdengar di kejauhan. Seorang murid memanggil temannya, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi.

Xu Tian tetap berdiri di tempatnya.

Matanya kosong, menatap lurus ke depan tanpa fokus. Dadanya tidak terasa sakit.

Tidak ada amarah.

Tidak ada tangis.

Hanya kehampaan yang perlahan menyebar, menelan sisa-sisa perasaan yang selama ini ia pegang erat.

Sesuatu di dalam dirinya runtuh.

Dan kali ini, tidak ada apa pun yang tersisa untuk menopangnya.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!