Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4 - Perpaduan Sempurna
"Maaf telat sedikit, Fil. Harus mampir ke toko putriku nih tadi buat ambil amunisi meeting kita hari ini," ucap Ayah Faul sambil meletakkan kotak kue dari Milana’s Cake ke atas meja.
"Milana's Cake? Kok sama seperti yang di sebrang kantormu?" tanya Fildan.
"Ya, memang aku sengaja membuat toko kue putriku di sebrang kantor agar lebih mudah mengawasinya," jawab Faul.
Robi menyusul masuk, menaruh goodie bag berisi kopi bubuk dan beberapa gelas kopi panas dari Wangsa Cafe. "Dan ini kopi terbaik dari seberang, Om. Biar meeting kita makin segar."
Papa Fildan tertawa renyah. "Wah, kolaborasi yang pas. Perpaduan sempurna! Kuenya dari putrimu, kopinya dari putraku. Sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk melengkapi, ya kan Faul?"
Kedua pria itu saling melempar senyum penuh arti, sementara Robi hanya bisa tersenyum simpul sambil menyiapkan dokumen presentasi. Rapat berlangsung serius selama dua jam, membahas ekspansi proyek baru. Namun, begitu dokumen ditutup, suasana berubah menjadi lebih santai.
"Faul, soal yang kita bicarakan waktu itu... bagaimana?" tanya Fildan sembari menyeruput kopi.
"Besok ibuku pulang, aku belum membahas kembali pembicaraan kita kemarin ke istriku," jawab Faul.
"Nah, berarti besok adalah saat yang tepat, kan? Ibunda Soimah pulang," balas Papa Fildan kembali.
Ayah Faul mengangguk mantap. "Iya juga. Kalau begitu, besok di bandara, kita pertemukan mereka secara resmi di depan Ibu. Aku ingin Ibu melihat sendiri kalau Valen adalah sosok yang tepat untuk Mila."
Mendengar itu, Robi berdehem, menarik perhatian kedua orang tua itu. "Yah, Om Fildan... sebenarnya tadi tanpa direncanakan, Valen dan Mila sudah bertemu di toko kue."
Papa Fildan tampak antusias. "Oya? Bagaimana? Valen bilang apa?"
"Tadi Valen sendiri yang antar kopi pesanan saya ke toko kue Mila," cerita Robi sambil terkekeh membayangkan wajah adiknya tadi.
"Mila sampai bengong, Yah. Dia bahkan sempat keceplosan bilang Valen ganteng di depan orangnya langsung. Kayaknya pesona Valen langsung masuk ke radar Mila," lanjut Robi.
Ayah Faul tertawa, sementara Papa Fildan menepuk meja dengan puas. "Bagus! Itu awal yang sangat baik. Kalau mereka sudah punya ketertarikan satu sama lain, tugas kita tinggal meyakinkan Ibu Soimah besok."
"Tapi Yah," sela Robi dengan nada sedikit khawatir, "Oma kan orangnya sangat selektif. Meskipun Valen hebat, kita tahu sendiri kalau Oma sudah punya standar sendiri buat Mila."
Ayah Faul menghela napas, raut wajahnya kembali serius. "Itu sebabnya besok harus sempurna. Valen harus menunjukkan kelasnya di depan Oma. Karena kalau Oma sudah bilang 'tidak', sulit bagi kita untuk melangkah lebih jauh."
Papa Fildan mengangguk paham. "Tenang saja. Valen itu anak yang tahu tata krama. Besok dia akan datang ke bandara dengan penampilan terbaiknya. Dia juga belum tahu soal rencana kita, biar ini jadi kejutan yang manis."
"Abang cuma khawatir satu hal, Yah," sela Robi sambil merapikan sisa gelas kopi di meja. "Gimana kalau nanti Mila merasa dijebak? Kita semua tahu gimana keras kepalanya Mila kalau sudah dipaksa."
Ayah Faul menghela napas panjang, menatap ke luar jendela besar ruang kerjanya yang langsung menghadap ke arah toko Milana's Cake. Dari ketinggian itu, toko kue milik putrinya terlihat mungil namun bersinar hangat.
"Itu tugas kamu, Bi. Bantu Ayah jaga suasana besok. Dan soal Oma... Ayah harap Tante Dewi bisa bantu melunakkan hati Oma kalau nanti beliau mulai 'menginterogasi' Valen," ujar Ayah Faul penuh harap.
"Ya, pasti kak Dewi bisa bantu, apalagi kak Dewi paling jago melunakkan hati ibunda Soimah," ucap Fildan meyakinkan.
Tok Tok Tok .
"Ayah, Yah!"
Suara Mila tampak terdengar panik sembari mengetuk pintu ruang kerja sang ayah.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya.
Love you all❤️