Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*27
Karena niat awal hanya untuk tidak membuat Paris kesal, komunikasi lewat pesan singkat malah terus berlanjut hingga tak terasa hampir satu jam. Bahkan, Mika yang awalnya merasa enggan untuk membalas, kini malah terbawa suasana. Mereka ngobrol dengan cara berbalas pesan tanpa enggan.
Bahkan, karena terbawa suasana, Mika malah ikut menceritakan prihal sang mama yang ingin pulang kampung. Paris menjawab dengan penuh tanggung jawab. Dia akan mengatur kepulangan mama Mika dengan baik.
Awalnya, Mika menolak, tapi Paris tetap memaksa. Bahkan, Paris sudah punya rencana besar untuk mengubah hidup istri barunya yang sangat memprihatinkan ke level yang jauh lebih baik.
Hampir satu jam berlalu, akhirnya, berbalas pesan singkat usai juga. Paris menutup pesan itu dengan kata-kata manis. Ucapan selamat malam tidak pula lupa dia kirim. Mika tersenyum tanpa sadar.
*Jika lelah atau masih tidak nyaman untuk kembali bekerja, kamu bisa libur besok.
Mika kembali tersenyum karena membaca pesan itu. "Apa begini rasanya punya seseorang yang melindungi?" Mika berucap tanpa sadar.
Lalu, setelah gadis ini sadar, dia segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Astaga! Apa yang baru saja aku katakan?"
Mika menepuk kedua pipinya dengan pelan. "Sadar, Mika. Sadar. Jangan berkhayal. Ya Tuhan .... "
Di sisi lain, Paris juga merasakan hal yang sama dengan yang Mika rasakan. Perasaan bahagia karena bisa berhubungan dengan seseorang. Bedanya, Paris merasakan perasaan tersebut dengan kesadaran yang utuh. Tidak di luar kesadaran seperti yang Mika alami.
"Mikaila Adinda. Kamu semangat baru untuk hidupku sekarang. Kamu ... sangat menarik, Mika."
Senyum Paris terkembang. Kebahagiaan hati ini datang setelah hubungannya dengan Naya rusak. Ini adalah kebahagiaan yang nyata setelah dia tahu, bahwa Naya membunuh calon anak mereka.
Mungkin, kesalahan terbesar yang Naya lakukan adalah menikahkan Paris dengan Mika. Karena Paris sudah merasakan hal yang berbeda saat pertama kali melihat Mika. Pesona Mika yang luar biasa, Naya tidak menyadarinya. Namun, mungkin juga ini adalah ketentuan dari garis takdir yang merestui Mika dan Paris bersama. Sungguh, garis takdir itu adalah hal yang sangat nyata. Sesuai dengan kehendak yang maha kuasa.
Keesokan harinya, Mika tetap bekerja seperti biasa. Bersikap seolah tidak ada yang terjadi antara dirinya dengan Paris si atasan tempat dia bekerja, itu sungguh sangat sulit bagi Mika. Karena bagaimanapun, hati sangat sulit untuk di atur. Hati tetap merasakan hal yang berbeda setelah semua yang ia lewati kemarin.
"Mika."
"Iy-- iya, Pak."
"Pak Paris meminta kamu ke ruangannya."
"Ha? Saya ... it-- itu, saya ... sedang banyak pekerjaan, Pak Rama. Kerjaan saya ini .... " Mika menggantungkan kalimatnya saat dia sadar apa yang baru saja dia ucap.
"Mika."
"Iy-- iya, Pak Rama. Saya ke ruangan pak Paris sekarang juga," ucapnya sambil berjalan cepat. Kali ini, Rama yang memanggilnya langsung dia tinggal.
Sontak, ulah Mika langsung membuat Rama dan yang lainnya merasa bingung. Rama langsung mengalihkan pandangannya ke arah Tina yang posisi duduknya tepat di samping kanan meja Mika.
"Ada apa dengan dia? Apa yang salah dengannya?"
Tina langsung mengangkat kedua bahunya.
"Gak tau, Pak. Anak itu aneh sejak beberapa hari yang lalu. Tapi saat di tanya, dia selalu bilang baik-baik saja. Tidak ada masalah. Gitu katanya."
"Ah, pak. Mungkin Mika sedang lelah karena memikirkan masalah yang akhir-akhir ini dia alami. Selain pekerjaan kantor yang banyak, Mika juga 'kan sibuk ngerawat mamanya," ucap salah satu karyawan lainnya membela Mika.
"Oh, benar juga apa yang kamu katakan. Mika kelelahan. Kasihan dia."
"Baiklah. Kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Urusan Mika, biar aku yang bicara dengan pak Paris nantinya."
"Baik, Pak Rama." Mereka berucap hampir bersamaan.
*
Mika tiba ke ruangan Paris. Dengan tangan yang sedikit berat, Mika mengetuk pintu ruangan atasannya yang masih tertutup rapat.
"Siapa?"
"Saya, Pak. Mika."
"Masuk!"
Pintu Mika buka. Paris yang sibuk melihat layar laptop langsung mengalihkan pandangan ke arah Mika. Rasa bahagia langsung menyapa hati Paris. Senyum kecil dia tarik dari sudut bibirnya.
"Maaf, Pak. Ada masalah apa bapak memanggil saya?"
Paris menatap Mika lekat. "Haruskah aku punya masalah dulu baru bisa memanggil kamu, Mika?"
"Bu-- bukan gitu, Pak. Maksud saya, saat ini saya dengan banyak pekerjaan. Jadi-- "
"Karena kamu punya banyak pekerjaan, jadi aku akan pindahkan kamu ke ruangan ku."
"Ap-- apa, Pak?" Mika di buat syok dengan kata-kata yang baru saja Paris ucapkan. Sungguh, dia sebenarnya hanya beralasan saja dengan mengatakan kalau dirinya punya banyak pekerjaan. Tapi hasilnya malah sangat jauh berbeda.
"Apakah ucapan ku kurang jelas, Mika?"
"Ah, lupakan? Sebenarnya, aku sudah memikirkan rencana pemindahan posisi untuk kamu cukup lama. Aku berniat untuk menjadikan kamu sebagai sekretaris pribadi ku, Mika. Bagaimana? Kamu setuju dengan posisi baru ini, bukan?"