NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 : Ruang pribadi Dr.Milly

Alexander menarik napas panjang, menahan kekesalan yang sejak tadi menumpuk. Rasanya memasuki rumah sakit ini seperti menerima kutukan: entah bagaimana, selalu saja ia berhadapan dengan gadis yang tak pernah bisa diam.

“Bisakah kau berhenti berlari sebentar saja? Apa kakimu tak mengenal kata berjalan?” Nada suaranya tegas, penuh penekanan.

Victoria sama sekali tidak menggubris. Ia hanya berjongkok, buru-buru meraih botol dan peralatan yang terlempar dari nampan kecilnya. Senyum tipis muncul ketika salah seorang asisten Alexander ikut menunduk, dengan sabar membantu mengumpulkan obat-obatan itu.

“Terima kasih…” ucapnya lirih, tulus.

Alexander, yang sejak awal merasa diabaikan, mendengus keras lalu menyilangkan tangan di dada. “Aku sedang berbicara denganmu!”

Kali ini Victoria bangkit. Rambut panjangnya jatuh berantakan di punggung, wajahnya lelah namun tetap tegak. Ia menahan napas, lalu meremas nampan yang kini kembali penuh di tangannya.

“Aku sedang terburu-buru. Ada pasien yang menunggu obat ini,” ujarnya singkat sebelum melangkah cepat meninggalkan pria itu.

Alexander menatap punggungnya yang menjauh, bibirnya menegang. Untuk kedua kalinya gadis itu lolos begitu saja, meninggalkan rasa jengkel yang tak terucap. Namun ia memilih mengabaikan, tidak saat ini. Ia hanya menggeleng pelan dan meneruskan langkah, kedua asistennya mengikuti tanpa banyak suara.

Mereka berjalan di lorong panjang menuju area asrama dokter. Arah itu membuat para asistennya saling melirik, bingung akan keputusan mendadak sang pemimpin.

“Tuan Reed… mengapa kita kembali ke lorong ini?” tanya salah satu dengan nada hati-hati.

Alexander tidak menghentikan langkah. “Kita mulai dari ruang pribadi dokter Mily. Sebagai dokter penting, kemungkinan besar ia lebih sering menetap di asrama daripada di rumah.” Pandangannya lurus, penuh perhitungan.

“Tapi lokasi insiden terjadi di lantai lima, bukan di sini,” sanggah asisten lain.

Alexander menoleh singkat, sorot matanya tajam. “Justru itu. Kita perlu memahami kesehariannya sebelum menyimpulkan apa pun.”

Tanpa menunggu balasan, ia memimpin hingga berhenti di depan pintu bertuliskan Dr. Mily. Keheningan singkat menyelimuti, keraguan sempat muncul di wajah salah satu asistennya. Alexander mengangkat tangannya, membuka pintu perlahan.

Udara dingin menyambut dari dalam. Cahaya matahari menembus tirai putih yang bergerak lembut diterpa angin. Kamar itu tampak terawat, setiap sudutnya tertata rapi.

“Tempat ini… sangat bersih,” gumam salah seorang asisten, hampir tak percaya.

Cahaya hangat dari balik jendela menembus tirai tipis, memberi kesan tenang, meski kepala Alexander masih dipenuhi rasa jengkel. Bayangan tentang gadis kecil yang dua kali mengacaukan langkahnya hari ini terus menempel. Ia menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan kekesalan itu, meyakinkan dirinya bahwa Victoria hanyalah gangguan kecil yang muncul di saat yang paling tidak tepat.

Begitu memasuki kamar, ketiga pria itu terdiam sejenak. Sorot mata mereka menyapu ruangan yang rapi dan tertata. Di sudut, sebuah meja besar berdiri tegak, dipenuhi tumpukan buku yang berjajar rapi. Di atasnya, sebuah bingkai foto memperlihatkan wajah dokter Mily, tersenyum bersama beberapa rekan sejawatnya.

“Dia tampaknya cukup disukai… punya banyak kawan,” gumam salah seorang asisten, menatap foto itu dengan seksama.

Alexander melirik sekilas lalu mengangguk singkat. “Ambil. Kita harus tahu siapa saja orang di sekelilingnya.”

Asisten itu segera mencopot bingkai dari meja, menyelipkannya di antara buku catatan yang ia bawa. Suasana kembali hening, hingga suara panggilan pelan memecah keheningan.

“Tuan Reed…”

Alexander menoleh. Asistennya yang lain berjongkok di sisi ranjang, tangannya menunjuk ke bawah. Ia menemukan sesuatu yang tak biasa, seutas pita merah, terikat kuat pada kaki tempat tidur.

Alexander mendekat, ikut berjongkok. Ia menatap pita itu lama, seolah mencari jawaban dari benda sederhana yang tampak tak pada tempatnya. “Pita merah? Apakah Mily punya kebiasaan memakai ini?” tanyanya dengan nada ragu.

Asisten di sebelahnya menggeleng cepat. “Tidak pernah. Saya tidak pernah melihatnya menggunakan pita, apalagi warna mencolok seperti ini.”

Kening Alexander berkerut, hatinya mulai dipenuhi tanda tanya. “Kalau begitu… milik siapa?”

Belum sempat mereka menebak, terdengar suara asing. Pintu yang tadi sengaja dibiarkan terbuka berderit perlahan, sendi kayunya memekik tipis. Perlahan, daun pintu itu bergerak menutup, hingga akhirnya menimbulkan dentuman kecil saat rapat dengan kusen.

Ketiganya sontak menoleh bersamaan. Ruangan sunyi, lorong di luar jarang dilalui siapa pun. Tak ada hembusan angin, tak ada langkah.

Namun pintu itu… menutup dengan sendirinya.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!