"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan Lily selain menjalani pekerjaan barunya itu.
Lily menghela nafas pelan, menatap gedung perusahaan yang isinya telah mengobrak-abrik hatinya.
"Semangat Lily, anggap saja bos mu itu, bukan siapa-siapa. Demi pengobatan Ibu dan masa depan Luna!" ucap Lily menyemangati diri sendiri, dengan harapan kecil hari ini setidaknya tidak berurusan dengan mantan kekasihnya itu.
Lily segera masuk ke gedung perusahaan, melakukan absensi kehadirannya, dan segera menuju ruang staf kebersihan.
Sesampainya di ruangan sudah ada beberapa orang dengan alat kebersihan di tangan masing-masing.
"Eh, sudah sampai. Ayo cepat, kita bertugas membersihkan di lantai paling atas," ucap Vina yang tampak buru-buru.
"Hah?" Lily mengerjapkan mata, kaget dan masih berharap yang didengarnya adalah salah.
"Iya di lantai atas, lantai 14, lantai khusus Pak Axton," ucap Vina dengan senyum lebar saat menyebut nama Axton.
"Sialan, Axton merencanakan apalagi?" batin Lily hanya bisa mengumpat dalam benaknya.
Ia hanya bisa pasrah, menerima bagian mana ia dikirim untuk melakukan pekerjaannya.
Dengan menggunakan lift karyawan, Lily dan dua orang temannya sampai di lantai atas.
Saat pintu lift terbuka, bola mata Lily langsung melebar, melihat kondisi lantai itu tampak berantakan.
Benda-benda yang bertebaran di lantai adalah hal yang menjijikan. Beberapa pakaian wanita dibiarkan tergeletak begitu saja, serta lembaran tisu yang menguning tersebar di lantai.
Pemandangan yang menjijikkan, membuat seluruh tubuh Lily memanas, dan juga merasa mual.
Meski ada pengharum ruangan, aroma khas cairan tubuh itu tercium ke hidungnya.
"Oh wow, sepertinya kemarin ada adegan hot," sahut Vina yang justru tampak sumringah melihat pemandangan itu.
Lily memandangnya heran, dan menggelengkan kepala tanpa mengucapkan apapun.
"Ayo cepat bersihkan, ke ruangannya dulu, sebelum Pak Axton datang!"
"Hm, kalian masuk ke ruangannya saja. Biar aku yang di sini," sahut Lily.
"Di ruangan itu pasti lebih parah, dan aku tidak mau melihatnya," batin Lily berharap bisa menghindar.
"Oke, cepet bersihin di sini ya. Pungut tisu sama pakaiannya dulu," ucap Rania yang dibalas anggukan Lily.
Rania dan Vani bergegas ke ruangan Axton yang Lily belum tau tempatnya, dan berharap tak pernah masuk ke sana. Tinggallah ia sendiri, membersihkan koridor tempat itu.
Dengan menggunakan sarung tangan, dan masker, menahan rasa jijik dan mual, ia memunguti satu persatu benda itu.
"Ini pakaian siapa? Dan apa masih mau dipakai?" batin Lily saat telah mengumpulkan pakaian dalam ke satu tempat.
Sesaat Lily terdiam saat benaknya kembali terpikirkan oleh Axton dan pakaian itu. "Tiga pasang pakaian wanita. Apa artinya dia bermain tiga wanita sekaligus?" batin Lily yang merasakan panas di hatinya, dan juga membuat tubuhnya merinding jijik.
Perasaan panas dan jijik yang hadir, karena pria yang pernah ia cintai, bergerumul dengan banyak wanita, membuatnya memiliki rasa menyesal pernah mengenal.
Lily menghela nafas kasar, mengabaikan kain-kain tipis itu, dan melanjutkan pekerjaannya. Ia mulai membersihkan lantai dari cairan lengket yang membuat kening Lily berkerut.
"Apa aku bisa tahan kerja di sini, menghadapi kondisi begini?" batinnya sembari terus melakukan pekerjaannya.
Saat ia masih membersihkan koridor di depan lift. Suara lift yang terbuka membuatnya mengalihkan pandangan, dan melihat Axton yang diapit dua wanita yang bergandengan manja di lengan Axton.
Lily meremas gagang pel di tangannya, hatinya tiba-tiba terasa nyeri, dan panas, dan pikirannya langsung mengatakan.
"Sialan! Kenapa aku masih mencintainya?" batinnya menyadari hatinya masih menyisakan rasa yang dipikir sudah hilang.
Meski pikirannya sempat kalut beberapa detik. Lily masih bisa mengontrol, dengan ramah menyapa. "Selamat pagi Pak, Bu," sapanya.
"Pagi, Lily. Bagaimana ruangan pak Axton sudah dibersihkan?" jawab Ciara dengan senyuman ramahnya.
"Masih sedang dibersihkan Bu," jawab Lily cepat yang dibalas anggukan santai Ciara.
"Kenapa belum selesai? Sejak tadi apa yang kamu kerjakan hah!" sahut Axton dengan suara yang sedikit menyentak membuat Lily meliriknya sekilas.
"CK, kaulah yang datang terlalu cepat!" gerutu Lily dalam benaknya. Sedangkan mulutnya berkata lain, dan berusaha bersikap normal. "Maaf Pak, saya lihat teman-teman saya dulu," ucap Lily membungkuk kecil berpamitan pergi.
"Tidak perlu! Bersihkan tempat ini cepat!" ucap Axton lagi kemudian berjalan duduk di sofa yang tak jauh dari sana.
Matanya melirik ke arah tumpukan pakaian dalam yang berada di lantai, lalu menatap Lily yang kembali bekerja.
Axton menyinggung senyumnya, lalu menatap dua wanita yang bersamanya tadi, "Ciara, Aline," panggilnya lembut, membuat dua wanita itu serentak menoleh dan tersenyum manis.
"Ini pakaian kalian, kenapa ditinggal di sini? Sepertinya punya Daisy juga ada," sahut Axton menunjuk pakaian di lantai.
"Ah, Pak Axton, kemarin terlalu melelahkan, sampai lupa pakai kembali," ucap Aline duduk dan menyandarkan kepalanya manja di bahu Axton.
Ciara ikut duduk bergabung di sisi lain Axton. "Benar itu Pak. Ini semua ulah bapak, kita pulang tanpa pakaian dalam," ucapnya memberikan cubitan kecil di paha Axton.
Axton tertawa tanpa rasa bersalah, dengan santai berucap. "Siapa suruh kalian cantik, dan menggoda. Milik kalian terlalu nikmat, jadi kalau tidak dihantam dengan baik, rasanya terlalu rugi."
Ucapan Axton yang disertai tawa Ciara dan Aline, namun membuat Lily sebagai pendengar mulai gemetar.
"Jadi benar dia memainkan tiga wanita sekaligus? Hm, menjijikkan!" batin Lily dengan hembusan nafas kasar, dan tangan mengepal gagang pel yang tetap bergerak membersihkan lantai.
"Nanti, kita bermain lagi ya. Ajak Daisy lagi," ucap Axton sembari menatap Lily yang membelakangi mereka.
"Lily sayang, dulu aku sangat baik padamu. Jadi, setidaknya kamu merasa sedikit sakit mendengar ini kan? Ya, tentu ... karena aku pantas ditangisi, setelah kamu merasa kehilangan," batin Axton dengan penuh percaya diri.
"Hm, baik Pak, dengan senang hati kami akan melayani," ucap Ciara memperhatikan Axton, yang membuatnya terdiam, saat melihat tatapan yang berbeda di mata pria itu.
Ciara mengikuti arah pandang Axton, namun hanya sekejap, saat Axton menatapnya, ia membalas spontan membalas tatapan itu.
Ciara tersenyum, saling berlempar pandang dengan Axton. "Aku semakin yakin. Ada sesuatu diantara mereka. Dan sesuatu itu adalah hal besar."
"Kalau begitu panggil Daisy, kita bermain sekarang," perintah Axton yang seketika membuat tubuh Lily tegang dan berhenti melakukan gerakan pelnya.
"Dia berniat melakukan di depanku?"