NovelToon NovelToon
Mahkota Berlumur Anggur Merah

Mahkota Berlumur Anggur Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:783
Nilai: 5
Nama Author: Iseeyou911

Pangeran Gautier de Valois.

Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.

"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."

"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"

"Ini bukan permintaan, Countess,"

"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 (Keputusan di Malam Gelap)

Tiga minggu berlalu di Château Valois, tiga minggu yang terasa seperti tiga abad bagi Countess Amélie LeBlanc. Ia hidup dalam isolasi mewah. Pangeran Gautier de Valois masih absen, sibuk dengan tugas militer di perbatasan, tetapi bayangannya menjulang di setiap sudut kastil. Dubois, petugas pribadi Gautier yang kaku, memastikan setiap aturan ditaati, setiap jadwal dipenuhi. Pelajaran etiket Valois yang ketat, sesi dengan penata busana istana dan tinjauan tanpa akhir atas silsilah keluarga Valois.

Amélie memainkan peran itu dengan sempurna. Ia mempelajari Valois. Ia mempelajari kelemahan mereka—keangkuhan.

Namun, dibalik sikapnya yang tenang, Amélie membuat sebuah rencana. Kontrak yang ia tanda tangani memberi Gautier dua tahun untuk mendapatkan pewaris, setelah itu Amélie bisa menuntut kebebasan. Tetapi Amélie tidak mau menunggu. Kontrak itu hanyalah formalitas, sebuah belenggu dan ia akan memutuskannya. Keinginan untuk melarikan diri tidak pernah padam, malah semakin membara setelah percakapannya dengan Sœur Céleste dan setelah menghadapi penghinaan dingin dari Gautier.

Ia harus pergi. Bukan karena takut pada Gautier, tetapi karena dia perlu kebebasan untuk menyelidiki kebenaran tentang hutang keluarganya dan kematian orang tuanya, jauh dari mata tajam Valois.

Malam itu, adalah malam yang dipilih Amélie. Angin kencang dan hujan deras yang mendera jendela kastil memberinya selimut yang sempurna.

Ia telah menyimpan uang receh emas dan beberapa perhiasan kecil. Ia mengenakan gaun wol hitam sederhana—bukan gaun sutra mewah yang dipaksakan Dubois—dan sepatu bot kulit yang kokoh. Liontin bunga iris dari Céleste ia sembunyikan di balik korsetnya.

Rencananya sederhana, menyelinap keluar melalui lorong dapur yang jarang digunakan oleh petugas malam. Ia menghafal rute dari kamarnya yang berada di sayap Istana Duke ke tangga pelayan, berkat peta yang ia 'pinjam' dari ruang arsip kastil.

Pukul dua pagi. Kastil Valois diselimuti kegelapan.

Amélie bergerak seperti bayangan. Lantai kayu tua berderit pelan di bawah sepatu botnya, tetapi suara deru hujan menenggelamkannya. Ia berhasil mencapai lorong dapur. Udara di sana lembap, berbau asap dan minyak. Pintu belakang, besar dan berat, dikunci dengan baut besi tebal.

Dengan sekuat tenaga dan hati-hati, Amélie menarik baut itu. Bunyinya memekakkan telinga dalam keheningan malam, tetapi hujan segera mengambil alih kebisingan itu.

Ia membuka pintu dan keluar ke halaman belakang. Dingin menusuk tulang. Tanah basah dan lumpur segera menempel di sepatu botnya. Ia berlari.

Targetnya adalah hutan di luar tembok luar Valois—hutan yang membentang bermil-mil dan diyakini tidak dijaga ketat di sisi ini.

Amélie berhasil mencapai tembok batu tinggi yang mengelilingi kastil. Ia melihat menara jaga yang kosong, lampu minyaknya sudah padam—kelalaian yang disengaja? Atau keberuntungannya? Ia tak peduli. Amélie terus berlari, menuju gerbang kayu tua yang jarang digunakan untuk mengangkut kayu bakar. Gerbang itu hanya diikat dengan rantai tipis dan kunci gembok yang berkarat.

Menggunakan jepit rambut besi yang ia modifikasi menjadi alat sederhana, Amélie bekerja cepat. Jemarinya dingin dan gemetar, tetapi adrenalin membuatnya fokus. Klik. Gembok itu terbuka.

Ia menarik gerbang kayu, dan ruang kecil tercipta. Amélie merangkak melewatinya, merasakan kebebasan yang merangkak naik ke tenggorokannya. Ia berdiri dan mulai berlari menuju hutan yang gelap dan basah, di mana pepohonan ek kuno tampak seperti bayangan raksasa.

Dia bebas.

Senyum pertama yang tulus muncul di wajahnya selama berminggu-minggu. Paris. Ia harus mencapai Paris, ke tempat di mana ia bisa bersembunyi di antara keramaian dan mencari tahu kebenaran.

Namun, kebebasan itu hanya bertahan sesaat.

Tepat saat ia melangkah masuk ke dalam naungan pepohonan, ia mendengar suara yang menembus badai.

Ringkik Kuda.

Suara itu semakin dekat dan lampu obor muncul di antara hujan, bergerak cepat.

"Berhenti!" sebuah suara yang keras berteriak, bahasa Prancis yang tajam dan militeristik. "Anda melanggar batas, Nyonya!"

Amélie tahu, ini bukan penjaga biasa. Ini adalah Kavaleri Valois, yang terkenal akan kecepatannya yang mematikan. Pangeran Gautier memang tidak meninggalkan penjagaan yang longgar.

Amélie membalikkan badannya dan berlari lebih dalam ke hutan, lumpur dan akar pohon menghambat langkahnya. Ia tahu ia tidak bisa berlari lebih cepat dari kuda. Ia hanya bisa bersembunyi.

Dia tersandung dan jatuh di antara semak-semak lebat, terengah-engah. Obor dan suara kuda semakin dekat.

"Dia ada di sini! Cari ke area itu, cepat!"

Amélie menutup mulutnya dengan tangan, air hujan mengalir deras di wajahnya, bercampur dengan keringat. Ia gemetar, bukan hanya karena dingin, tetapi karena ketakutan yang semakin mencekiknya.

Tiba-tiba, suara derap kuda terhenti tepat di samping tempat persembunyiannya. Tanah itu terasa bergetar.

Amélie mengangkat kepalanya sedikit. Dan jantungnya serasa berhenti.

Dua pasukan berkuda Valois mengapit seorang pria yang menunggangi kuda hitam besar yang basah kuyup.

Sosok itu... Pangeran Gautier de Valois.

Dia mengenakan mantel militer kulit tebal, bahunya tampak lebar dan kuat di bawah hujan. Wajahnya keras, dan mata abu-abunya menyala berbahaya, lebih tajam daripada obor yang dipegang pasukannya. Pria itu tidak seharusnya berada di sini. Bukankah tugas militernya ada di perbatasan?

Namun, sepertinya Amélie tidak tau bagaimana kekuatan Gautier yang sesungguhnya, wanita itu nampak tercengang. Gautier, ada di sana. Dan sialnya pria itu seperti mengetahui soal pelariannya.

Gautier mengarahkan pandangannya langsung ke arah semak-semak tempat dimana Amélie bersembunyi. Seolah-olah pria itu memiliki indra keenam untuk menemukan pemberontakan.

"Keluar," perintah Gautier, suaranya rendah dan menggelegar, namun penuh otoritas tak terbantahkan yang membuat Amélie seketika lumpuh. "Sekarang, Countess. Jangan buang waktuku dengan permainan bodoh ini."

Amélie tahu, perlawanan fisiknya adalah hal yang sia-sia. Ia berdiri, lumpur menetes dari gaun hitamnya.

Gautier turun dari kudanya dengan gerakan cepat dan anggun. Dia melangkah maju, melewati lumpur dengan sepatunya yang panjang. Dia tampak jauh lebih tinggi dan lebih mengancam di tengah badai.

"Sungguh mengecewakan, Amélie," katanya, kata-kata itu diucapkan dengan nada tenang yang lebih buruk daripada teriakan. "Aku bahkan belum menikahimu dan kau sudah menunjukkan pemberontakan yang memalukan ini."

...*****...

1
Iseeyou911
Jangan lupa Like dan Komennya yaa 🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!