NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:106.5k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Sesal Bu Rahma

Malam itu, rumah Pak Santoso dipenuhi oleh lantunan doa yang mengalun pelan. Suara tahlil menggema di ruang keluarga, bercampur dengan isak tangis yang sesekali tak tertahan. Aroma /wangi teh hangat dan kopi menyatu, menciptakan suasana yang begitu sendu.

Para pelayat duduk bersila, khusyuk melantunkan doa. Namun di antara mereka, ada tiga jiwa yang terasa paling kehilangan.

Raya duduk dengan kepala sedikit tertunduk. Matanya sembab, wajahnya pucat. Sesekali ia mengusap air mata yang kembali jatuh tanpa permisi. Di sampingnya, Rakha menggenggam tasbih erat-erat, bibirnya bergerak pelan mengikuti bacaan, tapi pikirannya entah ke mana. Sementara Rana, si bungsu, hanya bisa terdiam dengan mata merah, sesekali terisak kecil menahan tangis.

Hari itu terasa begitu panjang bagi mereka.

Kehilangan seorang ayah… bukan hanya tentang kepergian, tapi tentang separuh hidup yang ikut runtuh.

Namun di balik ramainya lantunan doa di ruang keluarga, ada satu luka yang jauh lebih dalam—tersembunyi di balik pintu kamar yang tertutup rapat.

Di dalam kamar itu, Bu Rahma terbaring lemah di atas ranjang. Matanya terbuka, namun kosong. Tatapannya lurus ke langit-langit, seolah jiwanya tertinggal di suatu tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun.

Di sampingnya, istri Om Dani dan istri Om Irwan duduk menemani, sesekali mengusap tangan Bu Rahma, mencoba memberi kekuatan. Tapi wanita itu… tak lagi merespons seperti biasanya.

Air mata terus mengalir dari sudut matanya tanpa suara.

Hatinya hancur… lebih dari sekadar kata kehilangan.

Suaminya—teman hidupnya, tempat bersandar selama puluhan tahun—pergi begitu tiba-tiba. Tanpa pesan terakhir yang bisa ia genggam. Tanpa kesempatan untuk mengucap perpisahan yang layak.

Dan yang paling menyakitkan…

Semua itu terjadi tepat di depan matanya.

Bayangan tubuh Pak Santoso yang roboh… suasana panik… teriakan… semua masih terulang jelas di pikirannya. Seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.

Dadanya sesak.

Ia ingin berteriak… ingin menangis sejadi-jadinya… tapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Yang tersisa hanya air mata yang tak berhenti mengalir.

Di benaknya, terlintas wajah Pak Santoso saat terakhir kali ia lihat—wajah yang penuh harap… sebelum semuanya berubah menjadi tragedi.

"Kenapa…?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.

Pertanyaan itu menggantung… tanpa jawaban.

Lebih dari kehilangan suami, Bu Rahma juga dihantui rasa bersalah yang menggerogoti dari dalam. Ia merasa tak mampu melindungi keluarganya. Tak mampu menjaga suaminya.

Dan yang paling menghancurkan, semua ini berawal dari luka yang ditorehkan laki-laki tak bertanggung jawab pada anak mereka sendiri.

Air matanya semakin deras.

Hatinya seperti diremas, dihimpit oleh kesedihan, penyesalan, dan luka yang terlalu besar untuk ditanggung seorang diri.

Di luar, lantunan doa terus mengalun, namun di

dalam kamar yang temaram itu, napas Bu Rahma terasa berat. Matanya masih menatap kosong ke arah langit-langit, tapi pikirannya dipenuhi suara-suara yang tak berhenti bergaung.

Selain kehilangan suami, ada luka lain yang jauh lebih dalam—

luka yang ia ciptakan sendiri.

Air matanya kembali mengalir tanpa suara.

Bayangan itu terus datang… berulang… tanpa ampun.

Saat ia dengan penuh keyakinan meminta Raya menerima lamaran Kamil melalui orang tuanya.

Saat ia berkata bahwa anak sahabat lamanya itu pasti bisa membahagiakan putrinya.

Saat ia meyakinkan semua orang… bahwa ini adalah pilihan terbaik.

Padahal… ia salah.

Sangat salah.

"Kalau saja… aku tidak memaksa…” bibirnya bergetar, suaranya nyaris tak terdengar.

Dadanya sesak, seolah ada beban besar yang menghimpit tanpa memberi ruang untuk bernapas.

Seandainya ia tidak menjodohkan Raya dengan Kamil…

seandainya ia membiarkan putrinya memilih jalannya sendiri…

mungkin hari ini semuanya masih utuh.

Suaminya masih ada.

Rumah ini masih dipenuhi tawa.

Dan Raya… tidak akan menjadi janda dalam hitungan menit setelah sah menjadi istri.

Air matanya semakin deras.

Hatinya seperti dihantam berkali-kali oleh penyesalan yang tak ada ujungnya.

Ia teringat wajah Raya saat itu—wajah yang berusaha tegar, tapi menyimpan luka yang begitu dalam. Anak yang selama ini ia jaga… justru ia serahkan pada takdir yang menyakitkan.

"Aku ibu yang gagal…” bisiknya lirih, penuh kepedihan.

Tangannya mencengkeram ujung selimut dengan gemetar, seolah mencoba menahan rasa sakit yang menjalar di dadanya.

Penyesalan itu bukan sekadar datang… tapi menetap. Mengikat, membelenggu, dan menggerogoti setiap sudut hatinya.

Ia ingin memutar waktu.

Ingin memperbaiki semuanya.

Ingin menarik kembali keputusan yang telah ia buat.

Namun semuanya sudah terlambat.

Kini yang tersisa hanya kenyataan pahit—

suaminya telah tiada,

dan putrinya harus menanggung luka yang seharusnya tidak pernah ada.

Bu Rahma memejamkan matanya erat-erat, air matanya terus mengalir tanpa henti.

Di dalam hatinya, ia berteriak… menyalahkan dirinya sendiri…

namun tak ada satu pun yang bisa ia lakukan untuk mengubah keadaan.

Penyesalan itu… kini menjadi beban yang harus ia pikul seumur hidup.

Namun di dalam kamar itu,

seorang istri sedang perlahan runtuh—

dalam diam, dalam sepi, dalam kehilangan yang tak tergantikan.

***

Sementara itu, suasana di rumah Pak Hasan tidak kalah sendu.

Bu Aida tampak terbaring lemah di kamarnya. Wajahnya pucat, napasnya naik turun tidak teratur. Riwayat sakit jantung yang ia miliki membuat semua orang diliputi kekhawatiran. Namun saat diajak ke rumah sakit, Bu Aida justru menolak.

Ia takut… takut menjadi bahan hujatan orang-orang di luar sana.

Akhirnya, Pak Hasan memanggil dokter keluarga.

"Sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja, Pak. Saya khawatir dengan kondisi ibu. Khawatir kena serangan lagi," ujar Dokter Adi setelah memeriksa.

Pak Hasan menghela napas berat.

"Tapi dia menolaknya, Dok. Saya tidak bisa memaksanya."

Dokter Adi menatap Bu Aida sejenak, lalu kembali berkata dengan nada serius,

"Tapi bagaimanapun, Ibu membutuhkan peralatan yang lebih canggih dibandingkan dirawat di rumah."

Suasana menjadi hening.

"Baik, Dok. Nanti kita akan bujuk biar mau dibawa ke rumah sakit," ucap Hakim, mencoba mengambil keputusan.

Dokter Adi pun mengangguk. Setelah memastikan kondisi Bu Aida untuk sementara stabil, ia pamit meninggalkan rumah itu.Ruangan itu terasa sempit. Udara terasa berat. Dan kenyataan yang baru saja ia dengar… perlahan mulai menghantam kesadarannya.

Bahwa kali ini—

Bukan hanya bisik-bisik.

Bukan hanya cibiran.

Tapi… kehilangan yang nyata.

Tak lama setelah dokter pergi, pintu rumah terbuka cukup keras.

Iqbal, anak kedua Pak Hasan, datang dengan wajah penuh emosi. Ia datang sendiri, tanpa istrinya yang sedang hamil.

Baru saja masuk, matanya langsung mencari Kamil.

"Kamil!" suaranya meninggi.

Tanpa basa-basi, ia langsung menyemprot.

"Brengsek lu. Kelakuan lu itu bikin malu keluarga. Liat tuh, sekarang lu viral! Itu yang lu mau, hah?"

Suasana yang tadinya tegang berubah semakin panas.

"Kenapa lu melakukan hal sehina itu sih? Apa lu gak mikir apa akibatnya? Tolol banget! Ijazah aja S2 tapi pemikiran kayak anak TK!"

Kamil hanya duduk diam. Kepalanya tertunduk, tak ada satu pun kata keluar dari mulutnya.

"Kalau gak mau nikah sama Raya, harusnya lu nolak dari awal! Ini kan nggak—malah setuju-setuju aja. Eh akhirnya kayak gini."

"Sudah-sudah!" suara Pak Hasan memotong tegas.

Ia menatap Iqbal dengan sorot mata lelah.

"Nanti saja kita bahas hal itu. Jangan sampai mama kena serangan jantung lagi."

Ucapan itu langsung membuat suasana mereda, meski bara emosi masih terasa menggantung di udara.

1
Lee Mba Young
Raya cm pelarian, Dan Andra masih blm move on.
krn Cinta nya Andra sdh hbis pd Ananda Dan sisa nya kl dia sm Raya itu cm melanjutkan hidup atau skedar pelarian 🤣.
Nana Geulise
kakak adik(ananda n amanda) ga ada malunya.urat malunya dah putus.🫢🫢🫢...kok bisa ya kakak adik kelakuannya sama🤔...owh...kan cuma ada di dunia halu😁..mungkin ada x nya🤔.semanggat Author💪
Djuaningsih: lg seru banget brenti
total 1 replies
sunaryati jarum
Agar nanti jika ada ulet bulu nekat kamu jadi tamengnya Ray agar tak bisa menyerang dokter Andra.Sepertinya mantan tidak punya urat malu mau datang..Awas jika Dokter Andra memberikan kesempatan emak berhenti mengikuti kisahmu Ray.Emak tetap berharap kalian berjodoh.Amanah sebagai direktur Nisraya berhasil.
sunaryati jarum
Waah meetingnya diselingi dengan lamaran terselubung ya Dok,semoga memang kalian berjodoh
Lee Mba Young
kl Andra mau balik an ya bodoh lah masak masih mau ma bekas orang lain.
kcuali janda baik baik ok ae, ini dulu masih gadis nyampak an masak sekarang dah bekas pake 4th mau balik an di terima iuhhh jijik banget lah.
falea sezi
klo. tergoda ma ananda🤣 berarti Andra goblok🤣 ada berlian kayak raya malah milih kerikil bekas
Arieee
Andra jangan mau sama sodara nya Mak lampir ya🤧
Ma Em
Andra jgn sampai tergoda lagi sama Ananda ingat Andra dulu sdh dicampa kan sama Ananda cuekin saja Ananda dan pura2 Andra tdk kenal Ananda .
Lee Mba Young: 🤣 kl mau balik an ya bodoh masa dulu jls di campak kan trus sekarang dah bekas pake mau balik an di terima iya ogah lah kl Dr Andra Pinter. kcuali blm move on walau bekas ya masih mau 😄
total 1 replies
Mahmudah Mahmudah178
lanjut thro
Ester Natalia
suka ceritanya
Ester Natalia
ditunggu up nya
Isabela Devi
syukurlah raya bisa pegang butiknya srndiri💪
Ma Em
Alhamdulillah Raya sekarang sdh naik jabatan dari direktur utama , semoga amanah Raya menjalaninya dan makin sukses butik nya .
Ma Em
Semoga Dr Andra segera jadian dgn Rayyan , Thor jgn sampai Ananda yg akan dijadikan model oleh Raya .
Ceu Markonah
terlalu byk pemeran utamanya😃
Ma Em
Ayo Raya kamu hrs peka dong kalau Andra emang suka sama Raya , semoga Andra tdk akan tergoda dan kembali pada Ananda cintanya Andra pada Ananda sdh lenyap menguap begitu saja dan sekarang sdh tergantikan cintanya Andra pada Raya 💪💪👍.
sunaryati jarum
Semoga Dokter Andra dan Raya segera jadian ,dan saat ada ulat bulu mendekat, tidak terpengaruh.
sunaryati jarum
Semoga semakin dekat,dan hati saling terpaut erat dan kuat.Tidak goyah walau badai menerjang.Tidak retak walau ada ulat bulu raksasa yang menggigitnya
sunaryati jarum
Jangan sampai Andra luluh atas rayuan dan permintaan maaf Ananda.Ternyata Ananda, terlalu percaya diri, sombong, dan tidak punya malu.Akmal segera beri tahu tentang keberadaan Ananda pada Andra.Agar Andra dapat mempersiapkan diri saat ditemui Ananda.
partini
pandai kali si dokter bikin raya kikuk
sekarang aja bis kaya gitu nanti ketemu ma mantan hemmm lain cerita,
terus up keseharian raya Thor biar yg meremehkan melek matanya raya sukses yg para mantan buat bumbu aja dikit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!