Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Di dalam ruang kerja Duke yang beraroma kayu ek dan cerutu mahal suasana terasa seberat timah. Kaelen duduk dengan kaki bersilang menatap Duke Alaric dengan tatapan yang tajam dan tak terbantahkan.
"Ayahanda Raja telah memberikan titah Duke" ucap Kaelen sambil meletakkan secangkir teh ke meja dengan dentingan yang sengaja diperkeras "Beliau ingin Lady Elara segera diperkenalkan ke publik. Katakan saja pada dunia bahwa selama ini ia sedang menempuh pendidikan di luar negeri atau baru saja pulang dari benua lain. Raja tidak ingin ada spekulasi liar mengenai hilangnya putri sah Astoria dari pergaulan sosial selama bertahun-tahun"
Duke Alaric mengerutkan dahi dan tangannya gemetar menahan emosi "Tapi Pangeran... Elara itu... bukankah itu terlalu mendadak? Nama baik Astoria bisa saja—"
"Nama baik Astoria akan lebih hancur jika Raja sendiri yang turun tangan karena Anda menyembunyikan putri kandung Anda" potong Kaelen dingin "Adakan pesta perjamuan besar. Tunjukkan pada dunia bahwa Astoria memiliki permata yang baru saja kembali"
Alaric terdiam. Ia menghitung untung dan rugi dalam kepalanya. Jika Raja yang meminta ini bukan lagi sekadar urusan keluarga melainkan kewajiban politik "Baiklah jika itu kehendak Yang Mulia Raja, saya akan melaksanakannya"
Tepat saat kesepakatan itu tercapai pintu ruang kerja terbanting terbuka hingga menghantam dinding.
BRAKK!!!!!
Lilian masuk dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Pipi kirinya merah padam seolah baru saja dihantam dengan tenaga besar. Rambut ikalnya yang biasanya tertata rapi kini acak-acakan menutupi wajahnya yang basah oleh air mata dan yang paling mengejutkan ada noda darah tipis di sudut bibirnya.
"Ayah...!" jerit Lilian sambil jatuh terduduk di atas lantai marmer menangis tersedu-sedu.
Alaric langsung berdiri wajahnya memerah padam melihat putri kesayangannya dalam kondisi hancur seperti itu "Lilian! Apa yang terjadi padamu?!"
"Maafkan aku... maafkan aku mengganggu pertemuan kalian" isak Lilian sambil menatap Kaelen dengan pandangan memohon belas kasih "Pangeran maafkan hamba yang tidak sopan ini. Tapi Kak Elara... Kak Elara benar-benar marah. Dia bilang dia membenciku karena aku mengambil perhatian semua orang selama dia tidak ada. Dia memukulku Ayah... dia bilang aku tidak pantas menginjakkan kaki di rumah ini"
"Kurang ajar!!!!" Alaric menggebrak meja hingga botol tinta terguling "Elara benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya! Beraninya dia menyentuhmu setelah semua fasilitas yang kuberikan!"
Alaric sudah melangkah hendak keluar untuk menyeret Elara namun suara dingin Kaelen menghentikannya di ambang pintu.
"Tunggu dulu Duke" ucap Kaelen tanpa beranjak dari kursinya. Ia menatap Lilian dengan tatapan yang sangat datar seolah sedang melihat pertunjukan teater kelas teri "Karena nama Lady Elara dibawa-bawa dan dia adalah tamu yang aku antar secara pribadi rasanya tidak adil jika kita hanya mendengar satu pihak. Mengapa tidak panggil saja Elara ke sini? Panggil juga Mina dan Rhea, pelayannya pasti melihat kejadian itu jika memang benar terjadi"
Mendengar saran Kaelen jantung Lilian seolah berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya mendadak dingin. Ia tidak menyangka Kaelen akan sejauh itu membela Elara. Jika Mina dan Rhea dipanggil, kebohongannya bahwa ia sengaja menampar dirinya sendiri dan mengacak-acak rambutnya akan terbongkar dalam sekejap.
"A-Ah... tidak perlu Pangeran" Lilian segera menyela, suaranya sedikit meninggi karena panik. "Aku... aku sudah memaafkan Kak Elara. Benar, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. Aku hanya ingin Ayah tahu betapa sedihnya aku tapi tolong jangan panggil dia. Aku tidak ingin Kak Elara makin membenciku"
Alaric yang melihat ketakutan di mata Lilian yang ia kira sebagai rasa trauma akhirnya perlahan kembali tenang. Ia mengusap rambut Lilian dengan lembut "Anakku yang malang, kau terlalu baik, pergilah ke kamarmu dan obati lukamu"
Setelah Lilian dan Kaelen keluar dari ruangan itu, Alaric berdiri sendirian di tengah ruangan yang remang-remang. Matanya berkilat penuh kebencian. Ia tidak akan membiarkan Elara lepas begitu saja. Sandiwara Lilian mungkin berhasil meredakan situasi di depan Pangeran tapi di mata Alaric, Elara adalah duri yang harus segera dicabut.
"Pesta publik ya?" gumam Alaric dingin "Baiklah. Tapi sebelum itu kau harus tahu siapa penguasa di rumah ini Elara"
Alaric memanggil Vane asisten pribadinya "Sampaikan pada Elara. Aku ingin dia datang ke ruanganku malam ini sendirian tanpa pengawal istananya yang sombong itu"
___
Malam itu Elara sedang didalam kamarnya, Rhea dan Mina berjaga di depan pintu dengan waspada memastikan tidak ada satu pun pelayan nakal yang berani lewat. Elara sendiri sedang asyik merebahkan diri di kasur empuknya menatap langit-langit sambil membayangkan menu makan malam nanti.
Tiba-tiba jendela kamarnya berderit terbuka. Angin malam masuk membawa sesosok bayangan tinggi yang melompat masuk dengan gerakan seringan kucing.
"AYAM COPOT AYAM COPOT" Elara langsung terduduk dan berteriak latah dengan wajah pucat pasi.
Xander berdiri di tengah ruangan masih mengenakan jubah gelapnya. Namun ia tidak langsung bicara. Xander tertegun, matanya yang tajam menelusuri sosok Elara. Ada yang berbeda, aura Elara terasa lebih jernih dan lebih tenang seolah-olah ia baru saja pulang dari tempat paling suci, bukan dari gua pengap di hutan.
"Bisa ngga sih kalau masuk lewat pintu?!" omel Elara sambil memegangi dadanya yang masih berdegup kencang "Hobi banget jadi ngendap-ngendap kaya maling jemuran, hampir aja jantungku pindah ke usus tahu ngga!!!"
Xander tetap diam dengan wajah datarnya yang legendaris. Tanpa kata ia merogoh sesuatu dari balik jubahnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kertas kecil yang masih hangat. Bau manis mentega dan vanila seketika memenuhi ruangan.
"Aku tuh benci banget dikagetin Xander!!!!Benar-benar ngga suka aku tuh diginiin..." Elara berhenti bicara saat melihat Xander membuka bungkusan itu menampakkan cupcake cokelat dengan krim lembut di atasnya "...tapi....kali ini aku maafin, lain kali jangan gitu hmphh"
Elara langsung menyambar bungkusan itu dengan mata berbinar mengabaikan fakta bahwa seorang pria baru saja menyusup ke kamarnya malam-malam. Xander yang melihat itu hanya bisa menatap Elara dengan pandangan gemas yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik wajah datarnya.
"Gimana perkembanganmu di sana?" tanya Xander rendah "Apa kau sudah bisa menggunakan mantra dasar dengan benar?"
Elara hampir saja keceplosan ingin pamer kalau dia sudah bisa membuat nuklir tanpa baca mantra tapi ia teringat pesan Kakek Zoff untuk tetap low profile. Ia pun menjawab sambil mengunyah cupcake nya "Ya... gitu deh. Sihirku masih lemah, cuma bisa bikin percikan kecil buat nyalain lilin kalau mati lampu. Ngga ada yang spesial"
Xander menyipitkan mata tapi ia tidak mendesak. "Lama sekali kau di sana. Tiga bulan itu waktu yang panjang sampai aku sulit mengawasi kelinci kecil ini"
Elara berhenti mengunyah lalu seringai jahil muncul di bibirnya yang masih ada sisa krim cokelat. Ia mendekat ke arah Xander menatapnya dengan pandangan menggoda "Ciyeeee... kelinci kecil? Tiga bulan ngga ketemu jangan-jangan kamu kangen yaaaa? Ngaku aja ayo..."
Seketika, rona merah tipis menjalar di pipi Xander. Ia langsung memalingkan wajah ke arah jendela berusaha mempertahankan martabatnya yang hampir runtuh "Siapa... siapa yang bilang aku kangen? Aku cuma takut rekan kerjaku mati konyol di hutan karena dimakan ulat bulu"
Elara tertawa kecil melihat telinga Xander yang juga ikut memerah "ululuuu lucu banget owner cupcake pinky pinky ini" batin Elara puas.
Sementara itu Xander di dalam hati sedang merutuki dirinya sendiri. Sial kenapa jantungku berisik sekali? gumamnya kesal sambil tetap memasang wajah sekaku tembok.....
BTW ini Pangeran Kaelen mwehehehe😋👇
kayaknya gak bakal pilih dua2nya🤣🤣🤣
sering atos sing seueur