Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aduh Jeng Daisy!
Daisy tersenyum melihat foto-foto yang disimpan dokter Lucky di pigura digitalnya. Pigura itu bisa menampung seratus foto HD dan dokter Lucky dengan artistiknya, menyusun dari awal mereka menikah, bersama dengan Shea dan Iptu Steven, AKP Victor dan Jaksa Sandra, AKP Nana dan Rommy saat mereka jogging hari Sabtu. Lalu saat tahu Daisy hamil, acara nujuh bulan yang rusuh seperti biasa ( sorry aku skip. Apa perlu dibuatkan bonus? ), kekacauan di ruang bersalin, acara akikah Kenzie, liburan bertiga ke Turin, Kenzie bersama Winston, foto Kenzie pamer giginya yang tertulis Buto Cakil Mini aku, hingga kemarin mereka makan pecel lele.
Dokter Lucky bukan tipe orang suka pamer di sosial media bahkan Daisy bilang isinya membosankan karena kebanyakan edukasi kesehatan. Atau kegiatan di IGD dan ruang operasi.
"Ya ampun, mana lagunya Kidung Mesra pula?" kekeh Daisy sambil melihat-lihat jejak digital mereka selama hampir tiga menikah.
Ingin selami samudra hatimu
temukan mutiara tiada tara
Lalu terlena rebah didasarnya
Ingin masuki puri di hatimu
hangatkan ruangnya dengan cinta
Dalam irama kita berdansa
dan terbuai
kidung mesra
milik kita
"Lho? Dok Daisy?"
Daisy terkejut saat melihat dokter Rahmat masuk. Dia baru sadar kalau sudah jam setengah dua.
"Astaghfirullah! Aku lupa kembali ke ME gara-gara lihat foto-fotonya Kenzie yang disimpan Mas Lucky!" seru Daisy. "Kalau Dok Rahmat tidak masuk, bisa bablas bolos ini!"
Dokter Rahmat tertawa kecil. "Kenzie memang menggemaskan! Naik apa Dok?"
"Oh, tadi diantar Olivia tapi cuma drop karena dia harus ke kantor."
"Mau aku antar? Sekalian? Soalnya aku mau ketemu sama Jeng Fifi juga di dekat Polda," tawar dokter Rahmat.
"Boleh deh Dok! Aku kirim pesan ke Mas Lucky dulu ya. Dia lagi sibuk di IGD. Ada korban tenggelam banyak," jawab Daisy sembari mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke dokter Lucky.
"Korban tenggelam?" gumam dokter Rahmat. "Kok aku tidak de ... Oh aku masih di ruang OR!"
Daisy tersenyum maklum. "Aku sudah kirim pesan ke Mas Lucky. Mari Dok." Daisy mengambil tasnya dan mereka pun keluar dari ruang kerja tim bedah.
***
Tiga jam kemudian, tim IGD baru bisa istirahat sejenak setelah menangani para korban tenggelam. Berkat kesigapan baik dari pihak SAR, Basarnas dan tim IGD, para korban selamat semua dan sekarang dalam proses pemulihan.
Dokter Lucky sedang berkoordinasi dengan para tim penyelamat sebagai kepala IGD sementara. Dia tahu kenapa mereka yang bisa berenang, malah tenggelam.
"Pusaran air? Di Ciliwung?" tanya dokter Lucky kaget.
"Iya Dok. Kita juga kaget. Padahal mereka semua alat keamanan lengkap," jawab anggota Basarnas yang masih ada disana untuk mengawal para korban.
Polisi dan TNI juga sudah mulai pulang setelah mengantarkan para anggota keluarga korban ke RS Bhayangkara. Mereka berterima kasih pada semua tim yang sudah bekerja dengan sigap hingga tidak ada korban jiwa.
"Mereka dari kementerian lingkungan hidup?" tanya dokter Lucky.
"Benar. Mereka hendak mengecek sampah di sungai Ciliwung. Tahu kan Dok. Masyarakat daerah sana susah kalau di edukasi," jawab anggota Basarnas itu.
"Alhamdulillah semua bisa selamat ... Pusaran air memang berbahaya," ucap dokter Lucky.
"Iya Dok. Yang penting itu."
***
Dokter Lucky beristirahat sejenak sambil mengambil ponselnya dari dalam saku snelinya dan terkejut ketika membaca pesan istrinya.
"Lha? Aku lupaaaaa! Aduuuhhh, Jeng Daisy," seru dokter Lucky panik.
"Sudah sampai ke ME, Dok," kekeh dokter Rahmat yang berada di belakang dokter Lucky yang bingung.
Dokter Lucky pun berbalik. "Ya Allah, aku lupa istriku tadi masih di ruang kerja karena Dok Juno minta tolong. Terima kasih Dok Rahmat."
Dokter Lucky dan Dokter Rahmat
"Sudah, tenang saja. Aku tahu kamu sibuk disini jadi aku antar Daisy ke ME. Lagipula, aku juga mau bertemu dengan Jeng Fifi dekat Polda," senyum dokter Rahmat.
"Apakah ada masalah, Dok?" tanya dokter Lucky.
"Bisa dibilang begitu. Tadi aku temani Jeng Fifi bertemu dengan Victor dan Steven. Ada Nana juga dan seperti biasa ... Nana sudah ingin mau nendang orang," kekeh dokter Rahmat.
Dokter Lucky memutar matanya malas. "Anak ituuuu!"
Dokter Rahmat menepuk bahu rekan yang juga sahabatnya. "Obat awet muda itu, Dok."
"Obat awet muda apanyaaaa! Nanti kalau sudah kecetit, encok kumat, salah urat ... Aku yang repot Dok!" omel dokter Lucky.
Dokter Rahmat terbahak. "Sudah. Bagaimana pasien darurat kita?"
***
Medical Examiner RS Bhayangkara Jakarta
"Korban nomor satu belum diketahui namanya ya Mat?" tanya Daisy usai mengautopsi korban bunuh diri di apartemen. Semua datanya sudah diberikan pada pihak major crimes yang mengusut kasusnya.
"Korban nomor satu Dok?" jawab Mamat bingung.
"Mutilasi. Kalau nomor dua sudah diketahui namanya," ucap Daisy.
"Oh yang nomor satu. Sudah ketemu Dok. Aku dan Dok Wayan serta pak Fariz sudah dapat. Namanya Aina. Usia enam belas tahun. Agak susah karena kan dia belum ada KTP. Kita tahu karena orang tuanya nyariin sudah lama hilang. Polisi juga nggak bisa menemukan," jawab Mamat.
"Terakhir dia kemana?" tanya Daisy.
"Katanya ketemu temannya tapi habis itu vanished without a trace. Begitulah kira-kira bahasa Italia nya," cengir Mamat.
"Scomparso senza lasciare traccia," kekeh Daisy. "Tunggu, anak enam belas tahun kok bisa menghilang sekian lama ... Dimutilasi pula pas ditemukan. Dia pergi sama siapa?"
"Itu yang masih dalam penyelidikan, Dok."
Daisy tampak berpikir. "Dulu waktu aku masih usia belasan, Padre selalu ribut kalau aku belum pulang ke rumah. Padahal sudah ada pengawal dan dia selalu laporan aku dimana. Tapi tetap saja, Padre tidak tenang kalau aku belum ada di rumah. Lha ini ... Orang tuanya kapan cari anaknya?"
"Besoknya Dok. Kata pak Fariz, anaknya biasa pergi malam," jawab Mamat.
"Astagaaa ... hari gini anak gadis pergi sampai malam?" Daisy menggelengkan kepalanya.
"Dok, jangan terlalu dipikirkan. Kita sebaiknya menunggu hasil penyelidikan pak Fariz. Nanti dikira kita ikut campur deh," kekeh Mamat. "Kenzie gimana Dok? Babysitter nya gimana?"
"Semakin lucu. Alhamdulillah, Gita baik sama Kenzie. Aku senang Kenzie ada nanny nya. Bukan apa-apa, kadang aku lembur, Mas Lucky juga," senyum Daisy.
"Alhamdulillah Dok. Aku ikut senang," ucap Mamat tulus.
***
Yuhuuu up Siang yaaaa
thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
hikksss.....
kasihan banget flint, padahal dia nggak tau apa-apa
ayahnya itu ampun deh...
ibunya juga kurang aware😓😓😓
lgian,spa jg yg bkln sbar kl ktmu orng ga wrs ky gt....bgus bgt idenya dok gabut yg mau bkin dia gatal2,biar kapok....
yang dikhawatirkan sama kan.... pispot🤣🤣🤣🤣