NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Pagi itu, udara di perumahan elite tersebut terasa sangat menggigit, seolah-olah alam tahu bahwa akan ada badai besar yang pecah. Pukul tujuh tepat, suara menderu dari mesin kendaraan besar terdengar berhenti di depan pagar rumah megah milik Adila dan Revan. Bukan suara mobil mewah, melainkan suara truk terbuka dengan beberapa orang berseragam pekerja yang membawa peralatan penggalian.

Adila berdiri di balkon lantai dua, masih dengan jubah tidurnya yang elegan, memegang cangkir kopi hitam tanpa gula. Matanya menatap dingin ke arah truk itu. Di sampingnya, sebuah unit ambulans khusus pengangkut jenazah juga sudah terparkir rapi. Adila tidak sedang bercanda. Jika penyakit harus diangkat, maka akarnya alasan konyol tentang makam itu harus dicabut paksa hari ini juga.

"Dila! Apa-apaan ini?!" teriakan Revan menggema dari lantai bawah. Ia berlari keluar dengan kemeja kantor yang belum dikancingkan sempurna, wajahnya pucat pasi melihat pemandangan di halaman rumahnya.

Adila tersenyum lalu memutuskan untuk turun kebawah dengan tenang, langkah kakinya di atas anak tangga marmer terdengar seperti lonceng kematian. "Itu adalah administrasi yang aku janjikan semalam, Revan. Aku sudah membayar semua biaya pemindahan jenazah suami Meisya untuk di makam kan ke kampung halamannya. Tim itu sudah siap berangkat ke pemakaman, mengambil jenazahnya dan langsung mengantarkannya hari ini."

"Kamu sudah gila! Ini penghinaan!" bentak Revan.

"Penghinaan adalah membiarkan istrimu dihina di rumahnya sendiri," sahut Adila datar. "Suruh Meisya bersiap. Dia bisa ikut ambulans itu kalau dia ingin tetap dekat dengan suaminya."

Tepat saat itu, Meisya muncul dari arah dapur. Wajahnya yang pucat nampak makin putih seperti kertas. Ia melihat ke arah luar pagar, lalu melihat ke arah Adila dengan tatapan ngeri yang dibuat-buat.

"Kak... Kak Adila... kenapa sejahat ini?" suara Meisya bergetar. "Mas Revan... Meisya takut..."

Meisya mulai terhuyung. Ia memegang kepalanya dengan dramatis, matanya berputar, dan dalam hitungan detik, tubuhnya ambruk ke lantai ruang tamu.

Bruk.

"Meisya!" Revan berteriak histeris. Ia langsung menghambur, memangku kepala Meisya. "Lihat, Dila! Kamu puas?! Dia sedang hamil dan kamu memberinya stres sehebat ini sampai dia pingsan! Kalau terjadi apa-apa dengan janinnya, kamu yang bertanggung jawab!"

Adila hanya berdiri diam, melipat tangan di depan dada. Ia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Sebagai dokter, ia melihat ada yang ganjil. Ritme napas Meisya terlalu teratur untuk orang yang benar-benar kehilangan kesadaran dan kelopak matanya bergetar halus sebuah tanda klasik dari pseudoseizure atau pingsan buatan.

"Revan coba kamu minggir. Aku kan juga seorang dokter, biar aku yang periksa," ucap Adila dingin.

"Tidak! Jangan sentuh dia dengan tangan dinginmu itu!" Revan membentak, melindungi Meisya seolah-olah Adila adalah monster.

Adila tersenyum miring. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jubahnya. "Oh, begitu? Baiklah. Kalau kamu tidak mau aku memberikan pertolongan medis secara privat, mungkin publik bisa membantu memberikan saran."

Adila menekan beberapa tombol di ponselnya. Ia membuka aplikasi media sosial dan menyalakan fitur Live Streaming. Adila memiliki ribuan pengikut karena profilnya sebagai dokter muda dan penulis.

"Halo semuanya," ucap Adila ke arah kamera ponselnya dengan suara yang sangat jernih. "Selamat pagi. Hari ini saya ingin berbagi cerita edukasi tentang Etika Tamu dan Fenomena Pelakor Berkedok teman masa kecil. Di depan saya sekarang, ada seorang wanita yang mengaku sedang pingsan karena jenazah suaminya tidak mau dipindahkan ke kampung halamannya, padahal wanita ini yang sedang pingsan ini mengaku dia tidak mau jauh dari makam suaminya makanya dia memilih untuk menjadi benalu di rumah saya dan suami saya, padahal kurang baik saya, bahkan saya rela memfasilitasi semua biayanya."

Revan terbelalak. "Adila! Matikan itu! Apa yang kamu lakukan?!"

"Aku sedang Live, Revan. Saat ini sudah ada lima ratus orang yang menonton. Ayo, perkenalkan ini suamiku yang lebih peduli pada pingsannya wanita lain daripada harga diri istrinya," Adila mengarahkan kamera ke arah Revan dan Meisya yang masih terkapar.

Adila mendekat, kamera ponselnya kini menyorot wajah Meisya secara close-up. "Lihat penonton sekalian, wanita ini hamil. Dia menumpang di rumah saya, menggunakan kartu kredit saya dan sekarang dia berakting pingsan agar suamiku mengasihani dia. Bagaimana kalau kita buktikan secara medis? Biasanya, orang yang pura-pura pingsan akan bereaksi jika privasinya terancam."

Adila menarik napas dalam, lalu berbicara lagi ke kamera. "Teman-teman, jika dalam hitungan ketiga wanita ini tidak bangun, saya akan menunjukkan foto-foto bukti sewa apartemen mewahnya yang masih aktif dan rekaman CCTV saat dia menggoda suamiku di bawah tangga semalam. Biar seluruh dunia tahu siapa sosok wanita malang ini sebenarnya. Satu..."

Meisya masih diam, namun jemarinya mulai meremas ujung bajunya.

"Dua... Oh, penonton sudah mencapai seribu orang. Ada yang bertanya apakah dia pelakor? Mari kita lihat reaksinya saat aku menyebutkan nama akun Instagram aslinya agar bisa kalian silaturahmi ke sana..."

"Tiga!"

Seketika, Meisya membuka matanya dengan sentakan besar. Ia langsung duduk tegak, napasnya memburu, wajahnya merah padam antara malu dan marah. Tidak ada lagi sisa-sisa orang pingsan di sana.

Revan tertegun, tangannya yang tadi memeluk Meisya terlepas begitu saja. "Meisya? Kamu... kamu sudah sadar?"

Adila mematikan Live nya yang sebenarnya hanyalah rekaman layar biasa tanpa benar-benar menyiarkannya secara publik, namun gertakannya berhasil seratus persen.

"Wah, mukjizat medis," sindir Adila sambil menyimpan ponselnya. "Hanya dengan ancaman nama baik, orang yang pingsan bisa langsung sembuh total. Bagaimana penjelasannya secara ilmiah, Revan? Apakah ini juga pengaruh 'hormon' seperti yang kamu bilang semalam?"

Revan berdiri, menatap Meisya dengan tatapan tidak percaya. "Meisya, kamu tadi benar-benar pingsan atau hanya... pura-pura?"

"Mas... aku... aku tadi pusing sekali, tapi mendengar Kak Adila mengancam seperti itu, aku jadi kaget dan terbangun," Meisya mencoba membela diri dengan suara gemetar, tapi kali ini Revan tidak langsung memeluknya.

Adila melangkah maju, kini ia berdiri tepat di depan Meisya yang masih duduk di lantai. "Drama pingsanmu sudah selesai, Meisya. Sekarang, pilihannya tetap sama. Kamu keluar dari rumah ini dengan ambulans itu menuju makam suamimu, atau aku benar-benar akan melakukan Live Streaming yang sesungguhnya ke seluruh rekan kantormu, keluargamu di kampung, dan semua orang yang mengenalku."

Adila menunjuk ke arah pintu yang terbuka lebar, di mana para pekerja makam sedang menunggu instruksi. "Truknya sudah siap, Meisya. Jenazah suamimu akan dipindahkan hari ini, dengan atau tanpamu. Kalau kamu masih ingin dekat dengannya, silakan pergi sekarang juga. Di rumah ini, tidak ada lagi ruang untuk parasit yang pandai berakting."

Revan hanya terdiam, ia melihat istrinya yang begitu tangguh dan dingin, lalu melihat Meisya yang kini nampak begitu kecil dan penuh tipu daya. Untuk pertama kalinya dalam sebulan ini, Revan merasakan tamparan kenyataan yang begitu keras di wajahnya.

"Pilih, Meisya," ucap Adila pelan namun tajam. "Atau aku yang akan memilihkan cara yang paling mematikan untuk karier dan masa depanmu."

1
stela aza
payah bgt udh gitu aja masih di tampung si Memes ,,,, pekok bin bahlul s Revan 🤦
falea sezi
lanjutt
falea sezi
cerai lah oon di usir secara halus gk paham🤣 bego katanya. dokter masak ngemis2 ke laki🤣
falea sezi
mengejar. karir makanya g hamil🤣
falea sezi
10 tahun g hamil. mandul kahh
Suanti
mampus lah kau revan sekalian aja mantan mertua bangun dri pingsan langsung stroke 🤭
Dew666
🩵🩵🩵🩵
cinta semu
syukurin ,salah sendiri jadi suami plin-plan ...sudah dewasa masih aja mau di atur ibu yg mulut ny pedas level 1000... gunakan kedewasaan u untuk berpikir bijak Revan ...dah pulang Sono ...ngadu lagi sm ibu u ...
Sri Widiyarti
lanjut kak semangat up-nya...
Lee Mba Young
lanjut
Dew666
👑👑👑👑
cinta semu
😁😁kaki manusia ...kok q baca ny bisa senyum sendiri ...mungkin efek tegang Krn keluarga Revan nyerang Dil kali😂😂
stela aza
❤️❤️❤️❤️
stela aza
rasakan itu sampah di pungut ,,, istri luar biasa multitalent di buang ,,, pekok ora ketulungan 🤦
Sri Widiyarti
satu kata buat Kel Revan bodoh bela2in perempuan kayak Meisya...🤦🤦🤦
stela aza
lanjut thor up Double y Thor ❤️❤️❤️
stela aza
good job Dila ❤️❤️❤️
stela aza
q suka karakter s Adila ,,, yg tegas pintar dan cerdik ,,, bagaimana menghadapi para benalu dan suami bahlul bin plin-plan ,,, good job Dila
stela aza
stupid bin tongkol sampah loe pungut ,,, punya istri cerdas hebat multitalent loe ganti dg sampah bau busuk bener2 suami bahlul 🤦
Heni Setiyaningsih
untung punya perjanjian pranikah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!