Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian
Delana memainkan bulu mata Rex yang lentik, dia juga menggunakan jari telunjuknya seperti anak kecil yang main perosotan di hidung Rex yang mancung.
Meski sudah bangun, pria itu tetap diam. Membiarkan gadisnya memainkan wajahnya dengan gembira.
Sampai jari Delana menyentuh bibir Rex dengan lembut.
“Apa rasanya bibir yang selalu bicara kasar ini? Berapa wanita yang telah mencicipi nya?”
Delana menghela nafas.
“Rugi rasanya jika berciuman denganmu pak tua. Aku belum pernah melakukan First kiss, tapi kamu? Ck! Sangat tidak sepadan. Kamu harus bayar mahal untuk itu.”
Rex masih tetap diam mendengarkan Delana berceloteh.
“Ya sudahlah, biar gak rugi aku pun harus melakukan First kiss dulu dengan pria lain. Emmm, mungkin dengan beberapa pria. Biar aku juga bisa tahu, siapa yang paling jago dan….”
Delana tidak melanjutkan ucapannya saat mata Rex tiba-tiba terbuka.
“Coba saja kalau berani.”
“Apa?” Tanya Delana pura-pura tidak mengerti. Rex menatapnya tajam, membuat Delana menciut tidak bisa berkutik.
“Ayo kita menikah.”
“Hah? Dadakan banget.”
“Sesuai kesepakatan, kamu harus menikah denganku agar hutang Sharga lunas.”
“Lunas? Lunas begitu saja? Wah, keenakan papa dong kalau gitu. Aku yang jadi tumbal.”
“Tumbal? Kata-kata itu sangat tidak sepadan dengan keadaan kamu saat ini.”
“Ya tetep aja aku nikah sama bapak dan gak bisa menikah dengan pria yang aku cinta.”
“Kamu mencintai pria lain?”
“Nggak.”
“Maka belajarlah untuk mencintaiku.”
Delana terdiam.
“Tidak usah buru-buru, kita masih punya banyak waktu dan aku akan menunggu.”
“Hanya ada satu pertanyaan.”
“Ajukan.”
“Kenapa aku harus belajar mencinta bapak? Lalu bagaimana dengan bapak sendiri?”
“Lantas, kenapa di antara banyaknya anak pengusaha, hanya kamu yang aku terima? Kamu pikir orang lain yang berhutang padaku, tidak mengajukan anaknya untuk menjadi istriku?”
“Iya, oke. Anggap sajalah begitu, tapi yang seharusnya menikah dengan bapak bukan aku, tapi kak Dara.”
“Keterlambatannya bukan hal yang kebetulan.”
Delana mengerutkan kening. Dia berusaha mencerna apa yang diucapkan Rex. Dan diapun mengerti.
“Wah, jadi kak Dara telat pulang itu karena sengaja? Daebaaak, bukan maen hebatnya bapak ini.”
“Lana, kakak mau pernah bertemu denganku, dia bilang dia tidak ingin menikah denganku karena sudah mencinta orang lain.”
“Buset, jadi aku ditumbalkan oleh dua orang, gitu?”
“Dan kalaupun Dara yang diajukan, aku akan menolak.”
“Karena?”
Rex menghela nafas berat. Dia kewalahan menghadapi bocah yang lemot itu.
Dia memilih untuk bangun daripada menjawab pertanyaan Delana. Sementara Delana masih mencecar Rex dengan pertanyaan yang sama. Dia mengikuti Rex yang turun dari ranjang.
“Ayo katakan, karena apa? Aku penasaran ini. Tolong lah.”
Rex tidak peduli. Dia pergi mencuci wajah, lalu menggosok giginya. Sementara Delana masih tetap mengikuti sambil mengajukan pertanyaan yang sama dengan nada merengek bak anak kecil.
“Pak, ih. Jawab dulu, aku penasaran kenapa?” Delana terus saja mengajukan pertanyaan itu sampai dia tidak sadar jika mereka sudah berada di dalam kamar mandi.
Rex membalikan badan, lalu membuka bajunya di hadapan Delana. Sontak gadis itu terkejut, dia segera berbalik untuk pergi, namun Rex menarik tangannya lalu memeluk nya dari belakang.
“Karena aku menginginkan kamu.”
Deg!
Jantung Delana berdetak kencang sekali, lalu seolah terhempas tanpa detak.
“Aku hanya ingin kamu yang menjadi istriku. Apa masih ingin bertanya kenapa? Karena aku, sudah lama jatuh cinta padamu.”
Tubuh Delana seketika dihinggapi rasa dingin yang menyebar dari ujung kaki ke ujung kepala. Dia seolah membeku tidak bisa menggerakkan badan nya sama sekali. Terlebih saat Rex mencium kepala bagian sampingnya, tepat di belakang telinganya.
Nafas Rex yang meniup telinga Delana, membuat gadis itu merinding sejadinya.
Pria itu hanya tersenyum melihat reaksi tubuh Delana.
“Keluarlah, aku mau mandi. Kecuali…”
Delana langsung terbirit-birit. Tawa Rex begitu renyah melihat gadis kecil itu berlari seperti tikus yang ketahuan mencuri keju.
Setelah mengetahui perasan Rex padanya, Delana merasa sangat canggung.
Dia tidak ingin Rex salah faham jika dia masih centil seperti dulu. Delana tidak ingin Rex menganggap jika dia pun mencintai pria yang usianya jauh lebih di atas dirinya.
Bahkan Delana meminta kamar tidurnya terpisah. Dia tidak ingin mereka tidur bersama lagi.
Tidak ada pertanya dan tidak ingin menanyakan apapun, Rex menyetujui semua yang di inginkan Delana. Baginya, Delana ada di samping nya pun itu sudah lebih dari cukup.
Setiap pagi saat sarapan, Delana memperhatikan jika Rex hanya minum secangkir kopi. Sementara makanan di meja begitu banyak macamnya.
“Pak, kenapa setiap sarapan hanya minum kopi? Tidak baik untuk kesehatan.”
“Aku tidak berselera makan.”
“Kenapa? Lalu untuk apa mempekerjakan chef profesional jika bapak tidak makan.”
“Untuk menjamin gizi anak buahku. Mereka kerja keras, jadi asupan nya pun harus setara.”
Ya, Rex memang terkenal kejam jika berhadapan dengan rekan atau rival kerjanya. Tapi dibalik wajah sangarnya, dia memiliki hati yang lembut dan peka.
“Mau aku buatkan sesuatu?”
“Tidak perlu, kamu hiduplah dengan nyaman, santai dan enjoy di rumah ini. Tugas mu hanya satu, menghabiskan hartaku.”
Delana tertawa.
“Ada apa? Apa terdengar seperi lelucon?”
“Bukan, hanya saja untuk menghabiskan semua harta bapak, butuh waktu sampai kapan?”
Rex mengangkat kedua bahunya.
“Tunggu sebentar ya.”
Delana pergi ke dapur. Dia membuatkan Rex nasi goreng jadul. Nasi goreng yang dulu selalu di siapkan oleh ibunya.
Tidak butuh waktu lama karena hanya memakai bawang merah, bawang putih, garam dan penyedap.
“Cobalah.”
“Apa ini?”
“Coba saja.”
Tanpa ragu Rex mulai mencicipi nasi goreng jadul buatan Delana. Siapa sangka Rex menyukainya. Dia makan dengan lahap sampai tak bersisa.
“Itu makan sampai bersih bukan karena semata-mata ingin menghargaiku kan?”
“Suka dan tidak suka, akan aku katakan dengan jelas.”
Delana tersenyum.
“Besok, aku akan membuatkan masakan lain. Yang penting Bapak mau sarapan.”
Rex mengangguk pelan.
Delana tersenyum sumringah sambil melanjutkan sarapan nya. Melihat wajah ceria gadis itu, Rex merasa sangat bahagia sekaligus bangga. Bangga pada dirinya karena akhirnya bisa mendapatkan Delana.
Rayden, kau harus tepati janji kita. Lihat saja, kali ini aku yang menang.