NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

## Bab 28: Sisa Bara dalam Gelas yang Dingin

Malam semakin larut, namun kehangatan dari pelukan rekonsiliasi kami di ruang makan masih menyisakan getaran halus di dalam dadaku. Charles akhirnya bersedia menyantap makan malamnya, meskipun sup jagung dan tumisan yang kubuat sudah hampir mendingin. Kami makan dalam keheningan yang jauh lebih bersahabat, jenis keheningan yang dipenuhi oleh pemahaman tak terucap bahwa kami baru saja melewati satu lagi ujian kedewasaan dalam hubungan ini.

Setelah merapikan meja makan dan mencuci piring-piring porselen, aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika aku kembali ke ruang tengah dengan mengenakan piyama katun bergaris yang longgar, aku melihat Charles masih duduk di sofa panjang dekat jendela besar. Ia sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaus hitam santai, namun laptopnya kembali menyala di atas pangkuan.

Aku melangkah mendekat, lalu duduk di ujung sofa yang lain, meluruskan kakiku dan bersandar pada bantalan yang empuk. "Charles, ini sudah hampir tengah malam. Bukankah kau bilang hari ini ingin mengistirahatkan pikiran?"

Charles tidak langsung mengalihkan pandangannya dari layar. Jemarinya yang panjang bergerak lincah di atas *trackpad*, menutup beberapa dokumen legal sebelum akhirnya menurunkan layar laptop tersebut setengah melipat. Ia menoleh ke arahku, sepasang mata tajamnya tampak lelah namun tetap memancarkan intensitas yang sama.

"Ada beberapa hal yang harus kupastikan selesai sebelum besok pagi, Andini," jawabnya, suaranya terdengar serak khas orang yang kekurangan tidur. "Gunawan baru saja mengirimkan laporan bahwa tim hukum Vivian mulai bergerak ke beberapa stasiun televisi swasta. Dia mencoba membeli slot wawancara eksklusif untuk membangun opini publik yang menyudutkan kita sebelum persidangan administrasi dimulai."

Mendengar nama Vivian kembali disebut, rasa tidak nyaman yang sempat reda kini kembali menggelitik hatiku. "Apakah dia tidak akan pernah berhenti, Charles? Mengapa seseorang bisa begitu haus akan kehancuran orang lain?"

Charles meletakkan laptopnya di atas meja kopi, lalu menggeser duduknya hingga jarak di antara kami kembali menyempit. Ia meraih sebelah tanganku, menaruhnya di atas telapak tangannya yang hangat. "Di dunia bisnis, kehancuran lawan adalah tangga menuju puncak, Andini. Vivian tahu dia sudah tidak punya kartu untuk dimainkan di dalam ruang rapat Utama Group. Satu-satunya caranya untuk bertahan adalah memaksaku membuat kesalahan di depan hukum. Dia mengincar emosiku. Dia tahu jika dia menyerangmu, aku akan bereaksi keras."

Aku menatap wajah Charles yang diterangi sisa cahaya lampu kota dari balik jendela. Ada garis-garis ketegasan yang tak tergoyahkan di sana. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku sudah memblokir semua aksesnya ke media arus utama," ucap Charles datar, tanpa ada nada sombong, melainkan sebuah pernyataan fakta dari seseorang yang tahu persis seberapa besar kekuasaan yang ia miliki. "Setiap stasiun televisi yang mencoba menayangkan wawancara dengan Vivian akan berhadapan dengan tuntutan pencemaran nama baik dari firma hukumku. Aku tidak akan memberi mereka ruang untuk memproduksi kebohongan lagi."

Aku mengembuskan napas lega, bersandar pada bahu tegapnya. Charles secara otomatis melingkarkan lengannya di pundakku, menarikku ke dalam dekapan yang terasa begitu akrab setelah ketegangan malam ini. Di dalam hati, aku merasa bersalah karena sempat menuduhnya cemburu atau mengekangku siang tadi. Pria ini sedang bertempur di medan perang yang begitu kotor, menahan semua peluru yang diarahkan kepadaku, sementara aku justru menambah bebannya dengan merindukan masa lalu yang naif.

"Charles," bisikku pelan, jariku memainkan ujung kaus hitamnya.

"Hmm?"

"Mengenai Kak Reyhan... aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak dihargai. Aku hanya terkejut melihat seseorang dari masa laluku tiba-tiba ada di sini, di tengah semua kerumitan ini."

Charles terdiam sejenak. Aku bisa merasakan dadanya naik turun saat ia menarik napas dalam-dalam. "Aku tahu, Andini. Seperti yang kubilang tadi, aku tidak marah pada masa lalumu. Aku hanya... aku tidak terbiasa dengan perasaan bahwa ada hal-hal dalam hidupmu yang tidak bisa kukendalikan atau kulindungi. Saat pemuda itu bicara seolah dia paling tahu tentang kebahagiaanmu, ada bagian dari diriku yang menolak untuk menerima bahwa aku mungkin terlambat datang ke dalam hidupmu."

Aku mendongak, menatap dagunya yang kokoh. "Kau tidak terlambat, Charles. Kau datang tepat di saat aku hampir tenggelam. Kak Reyhan adalah orang yang menemaniku saat langit masih cerah, tapi kaulah orang yang memegang tanganku saat badai ini datang. Itu dua hal yang sangat berbeda."

Charles menundukkan wajahnya, menatapku dengan sorot mata yang melunak. Sebuah senyuman tipis, yang kali ini benar-benar tulus dan hangat, terukir di bibirnya. Ia mengepalkan tangannya yang bebas, lalu menyentuh hidungku dengan gemas. "Kau selalu tahu bagaimana cara meruntuhkan argumenku dengan kata-katamu, Penulis."

Aku tertawa kecil, merasakan beban di hatiku benar-benar terangkat sepenuhnya. "Itu karena aku belajar dari guru terbaik. Kau selalu bicara dengan logika, jadi aku harus membalasnya dengan rasa."

"Kurasa kombinasi itu tidak terlalu buruk," balas Charles rendah, sebelum ia kembali mengecup puncak kepalaku, lama dan penuh kehangatan.

Keesokan paginya, suasana apartemen terasa jauh lebih ringan. Cahaya matahari pagi masuk dengan sempurna, menerangi ruang belajar baruku. Pukul sembilan tepat, bel pintu kembali berbunyi. Aku sempat menahan napas sejenak, ada trauma kecil yang tersisa dari kejadian kemarin siang. Namun, ketika Pak Gunawan membuka pintu, sosok yang muncul bukanlah pemuda dengan kemeja flanel, melainkan seorang wanita paruh baya dengan sanggul rapi dan kacamata tebal.

"Selamat pagi, Ibu Andini. Saya Ibu Rahma, pengajar baru yang diutus langsung oleh Bu Sarah," sapa wanita itu dengan senyum yang sangat keibuan dan menenangkan.

Aku mengembuskan napas lega dan membalas senyumannya dengan ramah. "Selamat pagi, Bu Rahma. Silakan masuk."

Charles yang kebetulan belum berangkat karena sedang memeriksa berkas terakhir di ruang kerjanya, keluar menemui kami. Ia menyalami Ibu Rahma dengan sikap formal yang penuh rasa hormat. "Terima kasih sudah datang, Bu Rahma. Saya harap Anda bisa membantu istri saya fokus pada persiapannya tanpa ada gangguan dari luar."

"Tentu saja, Pak Charles. Tugas saya di sini murni untuk pendidikan materi sastra dan persiapan ujian. Anda tidak perlu khawatir," jawab Ibu Rahma dengan tegas namun sopan.

Charles mengangguk puas, lalu menoleh ke arahku. Ia berjalan mendekat, memperbaiki kerah piyamaku yang agak miring sebelum ia mengenakan jasnya. "Aku pergi ke kantor dulu. Jika ada sesuatu, langsung hubungi Gunawan atau aku. Mengerti?"

"Iya, Charles. Berhati-hatilah di jalan," jawabku sambil tersenyum.

Melihat Charles melangkah pergi dengan aura CEO-nya yang biasa, aku merasakan kekuatan baru mengalir di dalam diriku. Hari itu berjalan dengan sangat produktif. Ibu Rahma adalah pengajar yang luar biasa terampil. Kami membahas struktur novel klasik dan bagaimana cara membangun konflik narasi yang kuat tanpa perlu menyinggung urusan pribadi sedikit pun. Aku merasa duniaku sebagai pelajar akhirnya kembali, meskipun formatnya telah berubah.

Namun, di belahan kota yang lain, di dalam sebuah ruang kantor firma hukum yang remang-remang, Reyhan Dewangga sedang menatap layar ponselnya dengan kepalan tangan yang mengeras. Di hadapannya, beberapa lembar cetakan berita tentang Charles Utama berserakan di atas meja. Kepergiannya dari apartemen Charles kemarin siang tidak memadamkan api di dalam dadanya; itu justru memicu sesuatu yang jauh lebih berbahaya—sebuah obsesi masa muda yang menolak untuk menerima kenyataan bahwa takdir telah bergerak maju tanpa dirinya.

Silahkan like dan komentar agar author bisa semangat update..

mulai besok author akan up 2 bab per hari yaitu pada jam 08.00 dan pada jam 19.00. Salam sayang semuanya. Enjoy reading yah...🥰🥰🥰

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!