NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Man Who Stayed Too Long

Serena menundukkan pandangannya perlahan. Dadanya terasa sesak. Lucunya, setelah sepuluh tahun bersama Damien Knox, Serena masih belum bisa membedakan mana ketulusan dan mana rasa bersalah dalam diri pria itu. Mungkin karena Damien sendiri juga tidak pernah benar-benar tahu.

“Aku lelah menjadi tempat pelarianmu.” Suara Serena terdengar jauh lebih kecil dibanding yang ia inginkan.

Damien tidak langsung menjawab. Pria itu masih berdiri terlalu dekat di belakang Serena, cukup dekat hingga aroma parfum dan kehangatan tubuhnya perlahan mengacaukan pikiran Serena seperti dulu.

Dan itu adalah masalah.

Damien selalu tahu cara membuat Serena lupa bahwa mereka sudah berakhir.

Tangan pria itu perlahan turun dari leher Serena menuju lengannya yang terbuka. Jemarinya menyentuh kulit Serena pelan, nyaris seperti kebiasaan refleks yang sudah tertanam selama bertahun-tahun. Sentuhan itu terus turun ke pinggang Serena. Damien menggamit pinggang ramping itu, seolah Serena benar-benar satu yang ia punya.

Sepuluh tahun terlalu lama untuk dilupakan hanya dalam dua minggu.

“Kau bukan pelarian,” ucap Damien rendah.

Serena memejamkan mata sesaat. “Kau tahu bagian paling buruk dari dirimu?” bisiknya lirih. “Kau selalu mengatakan hal yang tepat di waktu yang salah.”

Damien terkekeh pelan. Suara rendah itu langsung membangkitkan terlalu banyak kenangan di kepala Serena. Malam-malam panjang di Paris saat Damien diam-diam terbang hanya untuk menemuinya setelah fashion week. Pagi-pagi malas di mansion ini ketika Damien memasak sarapan sambil masih mengenakan bath robe-nya. Cara pria itu selalu tidur sambil menarik Serena ke dalam peluk seolah takut perempuan itu menghilang. Semua terasa nyata.

Terlalu nyata untuk sekadar disebut pelarian.

Namun kalau memang cinta, kenapa Damien tetap pergi?

Serena berbalik perlahan hingga kini mereka berdiri saling berhadapan.

Jarak di antara mereka terlalu dekat. Damien menatap Serena lama sekali. Tatapan gelap dan tenang yang selalu membuat Serena merasa seperti satu-satunya perempuan di dunia. Dan mungkin itulah alasan Serena bertahan selama ini. Karena Damien Knox tidak pernah mencintainya dengan setengah-setengah saat mereka sedang bersama.

Pria itu hanya tidak pernah menjadikan Serena sebagai ending.

“Apa kau tidur dengannya sekarang?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Rahang Damien langsung menegang.

Serena membenci dirinya sendiri karena masih peduli.

“Aku tidak ingin membicarakan dia malam ini,” jawab Damien akhirnya.

Serena tersenyum tipis, meski matanya mulai terasa panas.

“Tapi dia alasan kita seperti ini.”

Hening.

Damien mengangkat tangannya perlahan, lalu mengusap sudut mata Serena dengan ibu jarinya sebelum air mata itu benar-benar jatuh. Sentuhan kecil itu hampir menghancurkan Serena. Karena Damien masih mengenal dirinya sedetail itu.

“Jangan menangis,” gumam pria itu pelan.

Serena tertawa kecil sambil menahan napas, sedikit gemetar. “Lihat?” bisiknya. “Ini kenapa aku tidak bisa membencimu.”

Tatapan Damien berubah samar. Lalu tanpa peringatan, pria itu menarik Serena perlahan ke dalam pelukannya.

Tubuh Serena langsung membeku.

Bukan karena asing. Justru karena terlalu familier.

Dada Damien masih terasa sama. Hangat. Kokoh. Aman dengan cara yang mematikan.

Ia membenci fakta bahwa pelukan ini masih terasa seperti rumah. Serena diam di dalam pelukan itu lebih lama daripada yang seharusnya.

Tangannya sempat menekan dada Damien pelan, seolah ingin mendorong pria itu menjauh. Namun pada akhirnya, jemarinya justru mencengkeram pelan kemeja hitam Damien seperti seseorang yang kelelahan setelah terlalu lama bertahan sendiri.

Damien membiarkannya.

Satu tangannya berada di pinggang Serena, sementara tangan lainnya bergerak perlahan mengusap rambut perempuan itu dengan ritme tenang yang terlalu familier. Gerakan sederhana yang dulu selalu berhasil menenangkan Serena setiap kali dunia terasa terlalu berat.

“Kau membuat semuanya sulit,” bisik Serena lirih di dada pria itu.

Damien menunduk sedikit hingga dagunya menyentuh puncak kepala Serena.

“Aku tahu.”

“Kau juga tetap datang ke sini.”

Hening sejenak.

Lalu Serena merasakan tangan Damien mengerat sedikit di pinggangnya. “Aku tidak bisa langsung meninggalkanmu begitu saja.”

Kalimat itu nyaris terdengar seperti cinta. Dan mungkin itu yang paling berbahaya dari Damien Knox.

Pria itu tidak pernah benar-benar memberi Serena kepastian, tetapi juga tidak pernah membiarkannya benar-benar pergi.

Serena mengangkat wajah perlahan. Jarak mereka kini terlalu dekat. Ia bisa melihat jelas mata gelap Damien yang selama sepuluh tahun terakhir selalu menjadi tempat Serena kembali, bahkan setelah pertengkaran paling buruk sekalipun.

“Apa kau tahu,” gumam Serena pelan, “kalau aku membenci diriku sendiri setiap kali masih berharap padamu?”

Tatapan Damien turun ke bibir Serena beberapa detik. Dan sialnya, Serena menyadari. Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

Hujan di luar semakin deras, memantul pelan di dinding kaca besar mansion hingga suasana di antara mereka terasa semakin intim.

Damien mengangkat tangan perlahan, menyentuh pipi Serena dengan jemarinya. “Kau tidak seharusnya menungguku.” Suara rendah itu hampir terdengar lelah.

Namun Serena justru tersenyum kecil. “Sudah terlambat untuk mengatakan itu setelah sepuluh tahun.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Damien benar-benar tak tertebak.

Serena melihatnya sebagai rasa bersalah. Penyesalan. Atau mungkin sesuatu yang lebih buruk semacam perasaan yang bahkan Damien sendiri tidak tahu harus disebut apa.

“Aku pernah berpikir akan menikahimu,” ucap Serena tiba-tiba.

Jemari Damien berhenti di wajahnya.

Serena tertawa kecil sebelum melanjutkan, “Waktu umurku dua puluh lima, aku bahkan sempat memilih desain cincin sendiri.”

Damien menatapnya dengan mata berbinar. “Kenapa kau tidak pernah bilang?”

“Karena aku takut terlihat terlalu mencintaimu.”

Jawaban itu membuat suasana mendadak sunyi. Lalu perlahan, sangat perlahan, Damien menundukkan wajahnya mendekat.

Serena tahu ia seharusnya mundur. Mereka sudah berakhir. Damien sudah memilih perempuan lain. Namun tubuh Serena selalu lebih lemah dibanding hatinya saat menyangkut pria ini.

Napas Damien menyentuh bibirnya.

“Serena.”

Hanya namanya. Namun cara Damien mengucapkannya terdengar begitu lembut hingga hampir terasa menyakitkan.

Dan tepat sebelum bibir mereka bertemu, ponsel pria itu bergetar.

Damien langsung berhenti. Tubuh Serena sudah lebih dulu menyadari perubahan kecil itu sebelum pikirannya sempat mengejar. Tatapan Damien bergeser. Tidak lagi sepenuhnya padanya.

Getaran ponsel kembali terdengar di antara napas mereka yang masih berantakan. Mendadak semuanya terasa memalukan.

Serena perlahan mundur satu langkah. Jarak kecil yang langsung terasa dingin. Damien mengeluarkan ponselnya dari saku celananya tanpa benar-benar melepaskan tatapan dari Serena. Namun saat layar itu menyala, ada sesuatu di wajah pria tersebut yang berubah tipis sekali.

Lembut. Nyaris tak terlihat.

Tapi Serena mengenalnya terlalu baik. Sepuluh tahun terlalu lama untuk tidak mengenali ekspresi pria yang dicintainya.

Serena tertawa kecil sambil menggeleng pelan.

Sakit sekali. Padahal, beberapa detik lalu Damien hampir menciumnya seperti pria yang tidak bisa hidup tanpa dirinya. Lalu, satu panggilan masuk saja cukup untuk menariknya kembali pada kenyataan.

Damien mematikan layar ponselnya tanpa menjawab. Namun sudah terlambat.

Serena telanjur melihat nama itu.

Claire.

...----------------...

......To be continue......

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!