Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DELAPAN
Layar tablet di pangkuan Maharani menampilkan halaman berita digital TABLOID BINTANG. Judul besar itu menohok matanya berkali-kali:
“GEGER! VIDEO PANAS MAHARANI & RISYAD TERSEBAR!”
Tangannya bergetar saat menggulir ke bawah. Setiap kalimat terasa seperti cambuk. “National Girlfriend kini jadi sorotan.” “Fans pun terbelah.” “Kamera wartawan menangkap ekspresi wajah Maharani yang tampak pucat dan lelah…”
Maharani memeluk dirinya sendiri. Dada naik-turun, napasnya pendek-pendek.
“Ya Tuhan…” bisiknya parau.
Ia mencoba menguatkan diri, tetapi semakin lama membaca, semakin terasa semua kata-kata itu menusuk. Ada bagian kutipan fans yang membela, tapi tak cukup menghapus rasa malu karena komentar sinis lainnya. Kata-kata seperti “pantas aja…” atau “murahan” berputar di kepalanya, seakan ribuan suara asing sedang menertawakan dari balik layar.
Air mata jatuh lagi, membasahi sudut tablet. Dengan cepat ia menghapusnya, tapi tangannya gemetar. Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa harus ada berita hoax ini tersebar ?
Siska yang sedari tadi duduk di sisi ranjang meraih bahunya pelan. “Mbak, udah… tolong jangan dibaca lagi. Itu semua bikin Mbak makin down.”
Maharani menggeleng cepat. “Aku harus tahu, Sis. Aku harus lihat apa yang mereka tulis. Kalau aku berhenti baca, aku kayak pengecut. Aku harus tahu sejauh apa mereka menghancurkan aku…”
Suaranya pecah di ujung kalimat.
Reza, yang sedang sibuk menjawab telepon di sudut kamar, akhirnya mendekat. Wajahnya keras, tapi sorot matanya menyimpan empati. Ia menarik tablet dari tangan Maharani dengan tegas. “Cukup, Rani. Jangan biarin omongan mereka masuk ke kepalamu. Kita lagi nyiapin langkah hukum. Aku udah minta tim untuk kumpulin bukti kalau video itu hoaks.”
“Tapi semua orang udah lihat, Za…” Maharani menatap kosong ke dinding. “Mereka nggak peduli video itu asli atau palsu. Buat mereka, aku ini hina. Semua kerja keras aku… semua citra yang aku bangun… hilang begitu aja.”
Tangisnya pecah. Ia membenamkan wajah ke telapak tangannya, bahunya terguncang hebat.
Siska memeluknya erat, sementara Reza menghela napas panjang. “Dengar, Rani. Dunia hiburan emang kejam, tapi kamu nggak sendirian. Kita ada di sini. Kamu harus kuat. Jangan biarin mereka menang.”
Namun di dalam hati Maharani, suara lain terus berbisik: “Apakah aku bisa bangkit lagi? Atau ini akhir dari segalanya?”
Kamar hotel terasa seperti kotak musik yang rusak — tiap bunyi sekecil apa pun bergema berulang kali. Lampu meja hanya menyisakan lingkaran kuning kecil di atas meja rias; di luar, malam Lembang dingin dan sunyi. Maharani duduk di tepi ranjang, punggungnya membungkuk, bahunya menggulung menahan gemetar. Kedua telapak tangannya menekan keras ke wajahnya, mencoba menutup dunia yang mendadak runtuh.
Isakannya tidak keras, tapi terus menerus; seperti remuk yang lembut namun tak kunjung berhenti. Di sudut kamar, Siska duduk menekuk lutut, wajahnya pucat, tangan kecilnya memegang satu sisi tangan Maharani erat-erat. Reza mondar-mandir, ponselnya tak henti bergetar—wartawan, produser, perwakilan sponsor—suara notifikasi yang tak bisa ia abaikan.
“Mbak…” suara Siska lirih, penuh rasa iba sekaligus marah yang terpendam. “Siapa, ya, yang tega memfitnah Mbak seperti ini? Lihat aja—kualitas videonya jelek, ada banyak anomali. Itu jelas bukan Mbak. Ini editan murahan, aku yakin.”
Kata-kata itu bagai pintu yang terbuka sedikit; Maharani menurunkan tangan dari wajahnya perlahan. Air mata masih mengalir, tapi matanya kini berbeda—lebih fokus, ada kilat yang menyala di dalamnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan tubuhnya meski punggungnya terasa berat.
Editan. Fitnah. Siapa yang paling mungkin menghancurkan namanya baiknya?
Nama itu muncul di benak seperti serbuk panas: Risyad. Seketika jantungnya berdegup keras, bibirnya bergetar saat menyebutnya, suaranya hampir tidak keluar.
“Risyad…”
Reza langsung terhenti di tengah langkah, ponselnya hampir terlepas dari tangan. “Apa?” nadanya berubah—dari tegang menjadi waspada.
Maharani menatapnya; di matanya ada kombinasi luka dan kemarahan. “Siapa lagi, Za? Siapa lagi yang punya akses buat fitnah? Siapa lagi yang punya motivasi? Kamu tahu sendiri bagaimana dia waktu aku bilang mau putus—dia histeris, dia ancam-ancam. Dia selalu mau ngendaliin semuanya.” Nada suaranya pecah di akhir kalimat, lalu air matanya tumpah lagi.
Siska sampai menutup mulutnya sendiri, tak kuasa berkata-kata. “Mbak… maksudnya… Risyad yang nyebarin?”
Maharani mengangguk, tak berani berbohong sedikit pun. “Aku nggak tuduh sembarangan. Aku kenal dia—terlalu posesif. Dia selalu bilang ‘kamu milikku’ waktu kita masih pacaran. Waktu aku bilang mau menjauh, dia marah. Kalau dia ngerasa kehilangan kendali, dia bisa nekat. Aku nggak kaget kalau dia sampai segitunya.”
Reza menelan ludah. Wajahnya memerah bukan karena marah semata, tapi karena kemarahan yang dalam sudah mulai berkobar. Ia mengepalkan tangan sampai urat-uratnya terlihat. “Bajingan,” gumamnya, suara hampir tak terdengar. “Kalau ternyata dia pelakunya, aku bakal… aku pastiin dia dapat ganjaran yang setimpal. Kita nggak cuma pake jalur publik—kita akan bongkar semuanya secara hukum.”
Siska cepat-cepat menahan gelombang emosi itu. “Tapi Mbak… kita nggak bisa langsung tuduh. Tanpa bukti, kita bisa balik kena fitnah lagi. Media suka puter balik cerita. Kita perlu bukti kuat: jejak digital, siapa unggah video pertama—semua itu harus kita kumpulin.” Ia menatap Reza tajam, tegas. “Kita juga perlu lindungi Mbak dulu. Matikan akun, minta DM ditutup sementara, dan minta semua staff PR stop komentar sampai kita siap klarifikasi yang proper.”
Maharani menutup mata, kepalanya miring ke belakang. Dalam kepalanya tiba-tiba muncul potongan-potongan kenangan: Risyad yang memeluknya terlalu erat di sebuah kamar hotel, suara marahnya saat Maharani mencoba mundur dari rencana pernikahan yang dipaksakan, ancaman samar yang ia ucapkan setelah minum terlalu banyak — semua itu menempel seperti bekas tinta. Kenangan itu bukan hanya luka; itu adalah bukti emosional yang memicu rasa curiga.
“Kalau memang dia yang lakukan…,” desah Maharani, suaranya kecil tapi dingin, “aku nggak akan tinggal diam. Aku ingin semua orang tahu kebenarannya. Aku pengen dia merasakan apa yang aku rasain.” Mata yang basah kini menyiratkan tekad, bukan lagi hanya kepedihan.
Reza bergeser mendekat. Dia turun berlutut di depan Maharani, genggaman tangannya kuat tapi lembut saat meraih kedua tangan Maharani. “Denger, Rani. Kita mulai dari langkah yang benar. Aku udah telepon seseorang di forensik digital. Mereka bisa analisis frame-by-frame, nyari jejak editan, metadatanya, sumber upload pertama. Aku juga udah kontak pengacara krisis PR—kita akan keluarkan pernyataan resmi yang terencana, jangan panik ya, yang ada bikin tambah runyam.”
Siska mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca tapi fokus. “Kita juga harus amankan semua gadget Mbak: telepon, laptop—baterainya jangan diisi dulu. Kita fotoin semua notifikasi yang masuk. Jangan buang pesan apapun. Kalau ada ancaman via DM atau pesan, simpan semuanya. Itu semua bukti.”
Maharani menatap keduanya, napasnya pelan-pelan kembali teratur. Meski wajahnya masih sembab, ada gerakan kecil: dagunya terangkat, ada keberanian yang perlahan menyusup. “Kita mulai besok pagi. Aku mau semua akun dimonitor. Kalau Risyad ketauan, aku nggak bakal nurut ampun.”
Reza menatapnya lama, lalu mengangguk. “Baik. Aku juga bakal minta pihak keamanan hotel untuk bantu lindungi kalian dari wartawan sampai kita siap keluarin pernyataan. Aku nggak akan biarin Mbak diekspos terus-terusan tanpa kontrol.”
Siska menyeka pipi Maharani dengan tisu, lalu menarik napas dalam. “Lalu, Mbak… kita juga butuh saksi—siapa yang terakhir ketemu Mbak, jam berapa, di mana. Kita harus bangun timeline. Jangan biarkan ‘mereka’ yang bikin narasi. Kita yang harus kontrol narasi itu.”