NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 — Hari-Hari Yang Menyenangkan

Ketika matahari hampir berada diatas kepala, Li Yao telah kembali ke penginapan. Pintu kamar terbuka pelan, dan dari balik kusen, ia melihat Xiao Nannan sudah bangun. Gadis kecil itu duduk di tepi kasur, kaki mungilnya yang masih beralas sepatu merah menggantung tidak menyentuh lantai.

Di tangannya, secarik kertas pesan yang ditinggalkan Li Yao terlipat tidak rapi, ujung-ujungnya sudah kusut karena terlalu sering dibuka dan dilipat lagi.

“Kakak Li Yao!” Xiao Nannan segera bangkit begitu pintu terbuka. Ia berlari kecil, langsung memeluk kaki Li Yao erat-erat. Wajahnya menekan lipatan jubah, matanya terpejam. “Kakak pergi kemana. Nannan takut sendirian.”

“Kakak keluar membeli sesuatu,” kata Li Yao sambil mengelus rambutnya yang masih sedikit kusut. “Sudah sarapan?”

Xiao Nannan menggelengkan kepala, pipinya bergesekan dengan kain jubah. “Nannan menunggu kakak pulang.”

Li Yao tersenyum tipis. Ia menggandeng tangan mungil itu—jari-jari Xiao Nannan masih terasa kurus. “Ayo.”

Mereka berdua berjalan keluar dari penginapan. Suasana pagi hari telah menghilangkan, matahari tidak terlalu terik menyengat. Pedagang makanan masih ramai, menawarkan berbagai jajanan.

Li Yao tidak berencana makan di penginapan, ia membawa Xiao Nannan ke sebuah kedai kecil di tikungan jalan, tempat seorang ibu-ibu gemuk dengan celemek lusuh sedang menyendok bubur dari kuali besar.

“Mau bubur ayam?” tanya Li Yao pada Xiao Nannan.

Xiao Nannan mengangguk antusias, lalu menatap Li Yao. “Kakak sendiri ingin makan apa?”

“Teh."

“Kakak Li Yao harus makan bersama Nannan,” kata Xiao Nannan dengan nada memerintah, pipinya sedikit menggembung. Kemudian dia menatap ibu penjual. “Kakak pesan bubur juga.”

“Aku tidak lapar.” Li Yao menggelengkan kepala tidak berdaya, ia merasa geli sekaligus lucu dengan tingkah Xiao Nannan.

“Tidak boleh berbohong.” Xiao Nannan mengerutkan bibirnya, jelas tidak percaya dengan perkataan Li Yao.

Ibu penjual itu terkekeh. “Adik kecil ini benar, lebih baik makan bersama agar makanan terasa lebih nikmat.”

Akhirnya Li Yao memesan semangkuk bubur juga, meskipun ia tidak terlalu lapar. Xiao Nannan tersenyum puas. Mereka makan berdua di meja kayu kecil di pinggir kedai. Xiao Nannan menyantap buburnya dengan lahap, sesekali berhenti untuk mengamati Li Yao yang makan dengan pelan.

“Kakak Li Yao,” panggil Xiao Nannan.

“Ya?”

“Kakak yang terbaik, hehe."

Li Yao tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan makannya. Xiao Nannan tersenyum-senyum sendiri.

Setelah sarapan, Li Yao mengajak Xiao Nannan berkeliling pasar. Gadis kecil itu memegang erat tangannya, matanya melirik ke segala arah dengan rasa ingin tahu yang tidak pernah habis.

Ada lapak mainan kayu di tikungan. Seorang kakek tua duduk di belakang meja, di atasnya berjejer kincir angin dari bambu, boneka kayu yang digantung dengan tali, dan beberapa mainan sederhana lain.

Xiao Nannan berhenti. Matanya tertuju pada sebuah kincir angin kecil berwarna merah dan kuning. Bilah-bilah bambunya dicat cerah, berkilau di bawah sinar matahari.

Li Yao melihat arah tatapan Xiao Nannan. Ia mendekati lapak itu, menunjuk kincir angin tersebut. “Yang ini berapa, Kek?”

Kakek itu mengangkat kepala, matanya menyipit. “Dua koin tembaga, Nak. Buatan tangan sendiri, kakek dapat menjamin kualitas nya."

Li Yao mengeluarkan dua koin, menyerahkannya pada kakek itu. Ia mengambil kincir angin, lalu menyerahkannya pada Xiao Nannan. “Ini untukmu.”

Xiao Nannan menerima dengan hati-hati, seolah takut kincir itu akan rusak. Ia meniup pelan—bilah-bilah bambu berputar lambat, warna merah dan kuning bersatu menjadi lingkaran kabur. Xiao Nannan tertawa gembira. Ia meniup lagi lebih keras, kincir angin berputar kencang, mengeluarkan bunyi desir pelan.

“Terima kasih, kakak!” Xiao Nannan melompat-lompat kecil sambil memegang kincir di atas kepala.

Setelah itu mereka mengunjungi toko kue. Penjual kue madu adalah seorang perempuan muda dengan rambut diikat ke belakang. Xiao Nannan berdiri di depan etalasi kaca, jari telunjuknya menyentuh kaca, matanya mengamati setiap jenis kue.

“Yang mana?” tanya Li Yao.

Xiao Nannan berpikir cukup lama. Kemudian, “yang itu,” dia menunjuk kue berbentuk daun dengan taburan wijen di atasnya.

Li Yao memesan dua potong. Xiao Nannan memakan satu, mulutnya mengunyah pelan, matanya terpejam seolah menikmati setiap gigitan. Potongan satunya ia bungkus dengan daun pisang dan simpan di saku baju.

“Buat apa disimpan?” tanya Li Yao.

“Dimakan nanti, hehe."

Mereka berdua berjalan lagi. Xiao Nannan memegang kincir di tangan kanan, tangan kirinya tetap menggenggam erat jari Li Yao. Sesekali ia meniup kincir itu, lalu tertawa saat bilah bambu berputar. Li Yao tidak banyak bicara, hanya berjalan, sesekali menuntun Xiao Nannan menghindari gerobak dorong yang melintas.

Menjelang sore, Li Yao mengajak Xiao Nannan ke luar kota. Di belakang bukit timur, sekitar setengah li dari gerbang kota, ada sebuah taman bunga besar yang dijaga oleh seorang petani tua. Bunga-bunga warna-warni bermekaran, kupu-kupu beterbangan di sela-sela kelopak. Bau tanah basah dan wangi bunga bercampur menjadi satu.

Xiao Nannan terpana. Ia melepaskan tangan Li Yao, berlari kecil ke tengah taman, berhenti di depan sekuntum bunga mawar merah. Ia membungkuk, mencium aroma bunga dengan mata terpejam. Kemudian ia berlari ke bunga lain—dahlia ungu, krisan kuning, aster putih. Ia seperti kupu-kupu yang tidak bisa menentukan bunga mana yang harus ia hinggapi.

“Kakak Li Yao, lihat!” pekiknya, memegang setangkai bunga matahari yang lebih besar dari wajahnya. “Bunganya sebesar wajah Nannan!”

“Benarkah, tapi bunga itu memang cukup besar,” kata Li Yao dari kejauhan.

“Coba deh, lihat!” Nannan membandingkan bunga matahari dengan wajahnya, memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri “Lihat ini. Sama besar, kan!”

Li Yao berjalan mendekat. Ia berjongkok, membandingkan bunga di tangan Xiao Nannan dengan wajah gadis kecil itu. “Wah benar, sama besarnya dengan wajah Nannan.”

Xiao Nannan tersenyum puas.

Matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna jingga, awan tipis seperti goresan kapas. Cahaya matahari sore membuat bunga-bunga tampak keemasan. Li Yao duduk di tepi taman, di atas rumput yang agak kering. Xiao Nannan duduk di sampingnya, terkadang memetik bunga liar, terkadang hanya diam menatap langit.

“Nannan,” kata Li Yao setelah beberapa saat.

“Hmm?”

“Kakak punya ide.”

Nannan menoleh. “Ide apa?”

“Kita terbang.”

Mata Xiao Nannan membulat. “Terbang? Seperti burung?”

Li Yao mengangguk.“Seperti burung.”

Li Yao berdiri, lalu membungkuk dan menggendong Xiao Nannan. Gadis kecil itu segera melingkarkan kedua tangannya di leher Li Yao dengan erat.

“Pegang dengan kuat.”

Xiao Nannan mengangguk, dagunya menekan bahu Li Yao.

Li Yao melayang perlahan. Kedua kaki meninggalkan tanah, lalu ia naik lebih tinggi—lima meter, sepuluh meter, hingga ratusan meter dari atas permukaan tanah. Dari ketinggian itu, taman bunga terlihat seperti permadani warna-warni. Ibu kota Yan di kejauhan tampak kecil, tembok-temboknya seperti garis tipis, atap-atap rumah seperti kotak-kotak mainan.

Xiao Nannan memekik kegirangan. “Kakak Li Yao! Lihat! Kecil! Semuanya terlihat kecil!” Ia menunjuk ke bawah. “Itu penginapan kita, kan? Yang warna coklat itu.”

“Iya.”

“Dan itu gerbang kota! Aku lihat gerbang kota dari atas!”

“Ya.”

Xiao Nannan tertawa. Ia melepaskan satu tangannya dari leher Li Yao, merentangkan tangan lainnya seperti sayap burung. Angin sore membelai rambutnya yang kusut, membuatnya berkibar ke belakang. Sepatu merahnya bergoyang pelan di udara.

“Aku bisa terbang, Kak! Lihat, Nannan bisa terbang!”

“Nannan tidak terbang. Kakak yang terbang, kamu hanya digendong.”

“Tapi aku ikut terbang!” Xiao Nannan tidak peduli. Ia terus tertawa riang, suaranya terdengar jernih di langit sore.

Mereka berputar perlahan, melayang di atas taman, lalu bergerak ke arah kota. Li Yao tidak terbang tinggi—cukup untuk melihat atap-atap rumah, cukup untuk membuat Nannan merasa seperti burung. Sesekali Xiao Nannan menunjuk ke bawah, “Kak itu pasar!” atau “Itu sungai kecil, lihat, Kak!”

Mereka mendarat di dekat gerbang kota. Xiao Nannan masih tertawa, wajahnya merah karena angin dan kegirangan. Sepatu merahnya berdebu, ujung jubahnya kotor, tapi mata bulatnya berbinar.

Hari-hari berlalu begitu saja.

Mereka berdua menghabiskan waktu dengan perlahan. Setiap pagi, Li Yao dan Xiao Nannan sarapan bersama di kedai yang sama, tempat ibu-ibu gemuk dengan celemek lusuh itu. Setelah itu, Li Yao membacakan cerita—kadang dongeng tentang naga dan pahlawan, kadang kisah-kisah sederhana seperti raksasa yang mengejar timun emas. Xiao Nannan mendengarkan dengan antusias, bertanya hal-hal aneh di tengah cerita, dan sering tertawa saat Li Yao mencoba meniru suara tokoh dalam cerita.

Siang hari, mereka bermain di dalam kamar penginapan. Xiao Nannan suka bermain tebak-tebakan, meskipun ia sering mengulang pertanyaan yang sama. “Kak, tebak, apa yang bisa terbang tapi tidak punya sayap?” “Waktu,” jawab Li Yao. “Salah! Itu kupu-kupu yang jatuh dari tebing!” Xiao Nannan tertawa terbahak-bahak, padahal itu lelucon garing yang tak masuk akal!

Setelah itu Xiao Nannan selalu bercerita bahwa ia menemukan tebakan itu dari seorang anak lelaki di pasar, dan bahwa anak lelaki itu bodoh karena tidak pernah tahu jawabannya.

Sore hari, jika cuaca cerah, Li Yao mengajak Xiao Nannan keluar kota, ke taman bunga, atau sekadar berjalan di sekitar tembok kota. Kadang Nannan berlari-larian kecil mengejar kupu-kupu, kadang ia hanya duduk di pangkuan Li Yao, matanya setengah terpejam menikmati angin sore.

“Kakak Li Yao,” kata Xiao Nannan suatu sore, kepala kecilnya bersandar di dada Li Yao.

“Ada apa?”

“Nannan ingin punya nama panggilan untuk Kakak.”

“Kamu sudah memanggilku Kakak Li Yao.”

“Itu biasa. Aku ingin yang lebih spesial.”

Xiao Nannan berpikir cukup lama, alisnya berkerut serius. “Kak Yao,” katanya akhirnya.

“Kak Yao?”

“Iya. Lebih pendek. Lebih cepat diucapkan. Kak Yao.” Ia mengulangi beberapa kali, seolah menguji rasanya. “Kak Yao. Kak Yao.”

“Terserah Nannan,” kata Li Yao sambil menggelengkan kepala.

Xiao Nannan tersenyum. “Kak Yao.”

Malam kelima, setelah makan malam, Li Yao dan Xiao Nannan duduk di kasur berhadapan. Lampu minyak di atas meja berkedip-kedip, cahaya oranye memantul di dinding anyaman bambu. Nannan sudah memakai piyama baru—kain tipis berwarna biru muda dengan bordir kelinci di saku depan.

“Nannan,” kata Li Yao pelan.

“Hmm?” Nannan sedang asyik mengatur boneka kucingnya di pangkuan.

“Besok, Kakak akan pergi.”

Jari-jari Xiao Nannan berhenti. Ia tidak mendongak. Matanya tetap tertuju pada boneka di pangkuannya, tapi tangannya tidak bergerak.

“Kakak harus pergi ke Wilayah Utara. Ada urusan penting disana.”

Xiao Nannan masih diam. Bahu kecilnya mulai bergetar pelan.

“Nannan,” panggil Li Yao lagi.

Nannan mendongak. Matanya sudah basah. Air mata mengalir di pipinya tanpa suara.

“Jangan pergi, Kak,” bisiknya. “Nannan tidak ingin sendirian.” Meskipun ia tidak tau dimana Wilayah Utara yang dimaksud, pasti sangat jauh.

“Nannan...” Li Yao mendesah, sempat bingung mengucapkan kata-kata apa untuk menghibur.

“Nannan janji tidak rewel,” potong Nannan, suaranya tersendat. “Nannan tidak minta mainan baru. Tidak minta baju baru. Tidak minta apa-apa. Nannan mau bantu Kakak. Nannan bisa belajar memasak, mau cuci piring, mau apa saja.”

Air matanya jatuh ke pangkuan, membasahi kain piyama.

“Jangan pergi, Kak Yao. Nannan tidak punya siapa-siapa lagi.”

Li Yao menatapnya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan.

Xiao Nannan terus menangis, bahunya naik turun, kedua tangannya menggenggam boneka kucing itu erat-erat. Setelah beberapa lama, ia berbicara lagi, suaranya terputus-putus.

“Kak Yao... aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku takut... Nannan akan lupa.” Xiao Nannan menyeka air matanya dengan punggung tangan. “Aku takut lupa Kak Yao. Lupa wajah Kakak. Lupa suara Kakak. Lupa manisan pertama yang kakak beri. Lupa kincir angin. Lupa bunga matahari besar. Lupa semua pengalaman indah bersama kakak.”

Ia menatap Li Yao dengan mata merah.

“Kadang aku melupakan sesuatu. Tanpa Nannan tahu, tiba-tiba Nannan tidak mengingat apapun. Suatu hari kalau Nannan lupa Kak Yao, lalu Kakak tidak ada di sini... siapa yang akan tau bahwa ada Kak Yao yang pernah bersama Nannan?”

Li Yao diam mendengarkan. Dari ingatannya tentang cerita asli, ia tahu bahwa Xiao Nannan memang sering kehilangan ingatan. Bukan karena sakit, tapi karena sesuatu yang lebih rumit—sesuatu yang berhubungan dengan siapa dirinya sebenarnya. Tapi ia tidak tahu kapan siklus itu akan terjadi.

“Kak Yao tidak akan ada di sini,” lanjut Xiao Nannan. “Lalu aku lupa, dan aku tidak tahu harus bertanya pada siapa. Pada akhirnya hanya tersisa Nannan sendiri."

Li Yao tidak menjawab. Ia mengulurkan tangan, meraih sesuatu dari dalam tumpukan baju di sudut kasur—sebuah kotak kayu kecil, tidak lebih besar dari telapak tangan.

“Nannan lihat ini.”

Ia membuka kotak itu. Di dalamnya, beralaskan kain hitam, tergeletak sebuah gelang giok. Warna hijaunya pucat, terlihat seperti gelang giok biasa, tapi permukaannya halus mengkilap. Cahaya lampu minyak membuat gelang itu tampak berkilau lembut.

“Ini untuk Nannan.”

Xiao Nannan menerima gelang itu dengan hati-hati. Tangannya yang masih basah air mata gemetar saat mengambilnya.

“Ini gelang giok,” kata Li Yao. “Di bagian dalamnya sudah kakak ukir sebuah rune untuk merekam. Setiap hari, gelang ini akan merekam semua yang Nannan lakukan. Mulai dari Nannan bangun tidur, makan, bermain, sampai tidur lagi. Semua peristiwa penting pasti terekam disini.”

Xiao Nannan menatap gelang itu, lalu menatap Li Yao.

“Kalau suatu hari Nannan lupa,” Li Yao melanjutkan, “cukup sentuh gelang ini di bagian dalam dengan jari, lalu pejamkan mata. Nannan akan melihat semua kenangan yang hilang. Melihat wajah Kakak. Mendengar suara Kakak. Mengingat semua momen penting Nannan.”

Xiao Nannan memutar gelang itu di tangannya, mencari bagian dalam. Jarinya yang mungil menyentuh ukiran rune, ujung jarinya terasa hangat.

“Ini gelang giok ajaib?” tanyanya lirih.

“Ya." Li Yao terkekeh pelan.

Xiao Nannan memeluk gelang di dadanya. Ia tidak ingin menangis lagi, tapi air mata masih mengalir perlahan. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang ingin keluar.

“Nannan akan menjaga nya dengan baik,” bisiknya. “Tidak akan lepas, tidak akan hilang.”

“Nanti kalau Kakak pergi, Nannan bisa lihat rekaman itu setiap malam. Bisa melihatnya setiap hari.”

“Dan Nannan tidak akan lupa?”

“Nannan akan tetap ingat. Karena rekaman itu tidak akan hilang.”

Xiao Nannan mengangguk mengerti. Nannan kemudian melepaskan sebuah kalung batu dari lehernya, berniat memberikan nya kepada Li Yao. Xiao Nannan menjelaskan kalau ia tidak dapat makanan, kalau merasa lapar ia menggigit batu itu dan tiba-tiba merasa kenyang.

Dengan tegas Li Yao menolak, jelas dia tau batu ini bukan diperuntukkan untuknya.

Mereka berdua terdiam. Lampu minyak berkedip tertiup angin malam, bayangan mereka berdua bergoyang di dinding. Xiao Nannan akhirnya merangkak mendekat, merebahkan tubuhnya di pangkuan Li Yao. Tangannya masih memegang gelang itu di dadanya.

“Kak Yao pasti kembali?” bisiknya pelan.

“Suatu hari nanti, pasti."

“Janji?”

“Janji.”

.....

Pagi-pagi buta, ketika langit masih gelap dan burung belum berkicau, Li Yao bangun.

Xiao Nannan masih tertidur di kasur sebelah, tubuh kecilnya meringkuk di bawah selimut tipis. Gelang giok melingkar di pergelangan tangannya yang kurus, berkilau redup di bawah cahaya yang belum ada. Boneka kucing terjepit di kedua lengannya, terlihat sangat nyaman. Wajah Xiao Nannan tenang—tidak ada bekas tangis, tidak ada kerutan dahi. Ia tidur selayaknya anak kecil di dunia ini.

Li Yao berdiri.

Ia sudah menyiapkan semuanya sejak kemarin. Beberapa cadangan jubah gelap, perlengkapan lain disimpan di Lautan Pahit. ia tidak perlu membawa apa pun dari kamar ini.

Li Yao menatap Xiao Nannan.

Gadis kecil itu bernapas pelan, dada kecilnya naik turun. Sesekali ia berguling, mencari posisi nyaman, lalu terdiam lagi.

Lebih baik begini, tidak perlu berpamitan lagi sebelum tekadnya goyah. Ia melangkah ke pintu. Tangannya menyentuh gagang kayu yang dingin.

Li Yao menghela napas, ia melangkah keluar tanpa suara. Daun pintu tertutup pelan di belakangnya, tidak sampai mengeluarkan bunyi. Koridor penginapan masih gelap, hanya ada satu lampu minyak kecil di ujung lorong yang menyala redup. Ia berjalan biasa, namun setiap langkahnya lebih cepat dari biasanya.

Di luar, udara masih terasa dingin. Kabut tipis menggantung di antara atap-atap rumah. Beberapa pedagang yang paling rajin sudah mulai membuka lapak, menyalakan api di tungku mereka. Asap mengepul tipis, membumbung ke langit yang masih kelabu.

Li Yao tidak menoleh ke belakang.

Karena jika ia menoleh, ia mungkin tidak tega meninggalkan Xiao Nannan.

Li Yao melewati gerbang utara sebelum matahari terbit. Di belakangnya, ibu kota Yan masih tampak sepi. Di dalam penginapan, seorang gadis kecil dengan sepatu merah masih tertidur pulas, tidak tahu bahwa orang yang menghabiskan beberapa hari terakhir bersamanya telah pergi meninggalkannya.

Li Yao berjalan.

Di pergelangan tangan kiri, gelang giok itu—sama, ia membeli satu set berisi dua gelang giok. Satu untuk Xiao Nannan, satu untuknya. Ia mungkin akan jarang memakainya, tapi Li Yao pasti akan menyimpan gelang giok ini dengan baik. Sebagai pengingat bahwa di suatu tempat, di Ibu kota kecil Yan, ada seseorang yang menunggunya untuk kembali.

1
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!