Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riset Tanpa Batas
Udara di koridor menuju kamar utama apartemen Arkan terasa lebih berat, seolah setiap partikel oksigen di sana telah bermuatan listrik. Arkan tidak melepaskan gendongannya; ia mendekap Sia seolah wanita itu adalah harta paling berharga yang baru saja ia curi dari dunia. Sia, di sisi lain, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arkan, menghirup aroma maskulin yang kini tercampur dengan adrenalin. Suara detak jantung mereka bersahutan, menciptakan ritme yang lebih cepat daripada ketikan keyboard Arkan saat mengejar tenggat waktu.
Begitu kaki Arkan mendorong pintu kamar hingga terbuka, cahaya remang dari lampu tidur yang otomatis menyala menyambut mereka. Kamar itu, yang biasanya terlihat sangat rapi dan fungsional—cerminan dari sisi CEO Arkan yang perfeksionis—kini terasa seperti arena yang sangat berbeda.
Arkan meletakkan Sia di atas tempat tidur dengan sangat perlahan, seolah takut Sia akan pecah jika ia sedikit saja kasar. Namun, tatapan matanya tidak menunjukkan kelembutan yang biasa. Ada api yang berkobar di sana, api yang sama yang ia tuangkan dalam diksi-diksi Bab 26 Nightshade.
"Masih mau lanjut, Sia?" bisik Arkan, suaranya kini benar-benar serak, berada di oktaf terendah yang pernah Sia dengar.
Sia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih kerah kaus hitam Arkan dan menariknya hingga pria itu terpaksa bertumpu di atasnya. "Jangan tanya hal yang kamu sudah tahu jawabannya."
Arkan menyeringai tipis. Ia melepaskan kausnya dalam satu gerakan cepat, menampilkan proporsi tubuh yang selama ini hanya bisa Sia bayangkan di balik kemeja kantor yang kaku. Bahunya lebar, dengan otot-otot yang terbentuk karena kedisiplinan hidupnya. Di bawah cahaya lampu kuning temaram, Arkan terlihat seperti karakter fiksi yang benar-benar hidup—seorang Bima yang jauh lebih nyata dan lebih mendebarkan.
Tangan Arkan mulai menjelajahi sisi wajah Sia, jempolnya mengusap bibir Sia yang sedikit terbuka. "Kamu tahu, di Bab 26 tadi, aku menulis bahwa Bima merasa seolah dia sedang memegang seluruh dunianya saat dia menyentuh Raya. Sekarang aku sadar, tulisan itu masih sangat kurang."
Arkan menunduk, mencium Sia dengan intensitas yang membuat Sia merasa seolah ia sedang tenggelam, namun ia tidak ingin diselamatkan. Lidah mereka bertemu dalam tarian yang sudah lama mereka nantikan sejak pertama kali ketegangan ini muncul di kantor.
Tangan Arkan merambat turun, membuka kancing cardigan Sia satu per satu dengan ketelitian yang menyiksa. Setiap inci kulit yang terekspos langsung disambut oleh hawa dingin ruangan, sebelum akhirnya dipanaskan kembali oleh sentuhan tangan Arkan.
"Arkan..." desah Sia saat bibir Arkan berpindah ke lehernya, meninggalkan jejak-jejak hangat di sana. "Ini... ini jauh lebih gila daripada yang kamu tulis."
"Karena realita nggak butuh sensor, Sia," gumam Arkan di antara kecupannya.
Arkan bergerak dengan kepercayaan diri seorang pria yang terbiasa memegang kendali, namun ada kerentanan di sana—cara dia memegang tangan Sia, cara dia menatap mata Sia di sela-sela pergulatan mereka—menunjukkan bahwa bagi Arkan, ini bukan sekadar pelepasan hasrat. Ini adalah cara dia berkomunikasi, cara dia menunjukkan bahwa di balik tembok tinggi yang ia bangun di Dewangga Group, ada seorang pria yang sangat merindukan kehangatan ini.
Sia merasa setiap saraf di tubuhnya terbangun. Ia mengikuti setiap gerak Arkan, membiarkan instingnya mengambil alih. Ia menyukai cara Arkan mendominasi, namun ia juga menyukai cara pria itu memberikan ruang baginya untuk membalas. Mereka seperti sedang menulis naskah baru di atas sprei satin itu, sebuah naskah yang tidak memiliki titik atau koma, hanya aliran emosi yang meluap-luap.
Di tengah keheningan malam Jakarta, hanya terdengar suara napas mereka yang memburu dan gesekan kain yang jatuh ke lantai satu per satu. Arkan berhenti sejenak, menatap Sia yang rambutnya berantakan di atas bantal, wajahnya merona karena gairah.
"Kamu cantik sekali, Sia," bisik Arkan tulus. "Aku nggak pernah merasa seberuntung ini. Bukan karena perusahaanku, bukan karena jutaan pembacaku. Tapi karena kamu ada di sini, bersamaku."
Sia tersenyum lemah, menarik Arkan kembali ke dalam pelukannya. "Berhenti bicara seperti penulis novel, Arkan. Lakukan saja."
Arkan terkekeh kecil, lalu ia benar-benar melakukan apa yang harus ia lakukan. Malam itu, apartemen mewah itu menjadi saksi bisu bagaimana dua orang yang awalnya terikat oleh kontrak kerja dan rahasia anonim, akhirnya melebur menjadi satu. Setiap sentuhan Arkan terasa seperti diksi yang tepat, dan setiap respons Sia adalah jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini menghantui pikiran Arkan.
Mereka menjelajahi satu sama lain seolah waktu tidak lagi bermakna. Tidak ada lagi pikiran tentang kantor, atau tentang Nightshade. Hanya ada Arkan dan Sia, dua manusia yang akhirnya berani meruntuhkan dinding pertahanan mereka masing-masing untuk menemukan kebenaran yang paling murni di balik nafsu yang mereka bagi.
Beberapa jam kemudian, cahaya bulan yang tipis masuk melalui celah gorden, menyinari dua tubuh yang kini berbaring berdampingan di balik selimut tebal. Ruangan itu kini dipenuhi aroma cinta dan kelelahan yang manis.
Arkan menarik Sia ke dalam dekapannya, membiarkan kepala Sia bersandar di dadanya yang masih terasa hangat. Ia mengusap bahu polos Sia dengan gerakan pelan, sebuah gestur protektif yang menunjukkan bahwa ia tidak akan pergi ke mana-mana.
"Jadi," suara Arkan memecah kesunyian, kini terdengar jauh lebih tenang dan penuh kepuasan. "Gimana menurut editor saya soal 'riset' malam ini? Apa ada yang perlu direvisi?"
Sia tertawa kecil, meskipun matanya sudah hampir tertutup karena kantuk. Ia mencubit pelan perut Arkan. "Nggak ada revisi, Pak Bos. Semuanya sempurna. Malah, aku curiga kamu selama ini sebenernya emang udah pro, bukan cuma jago nulis."
Arkan mengecup puncak kepala Sia. "Pro atau nggak, itu tergantung siapa pasangannya. Dan kalau pasangannya kamu, aku rasa aku bisa nulis sepuluh buku lagi cuma tentang malam ini."
Sia mendongak, menatap wajah Arkan yang kini terlihat sangat rileks—sesuatu yang hampir mustahil dilihat oleh siapa pun di dunia luar. "Arkan, kita benar-benar sudah melanggar semua aturan profesionalitas yang ada di dunia ini, ya?"
"Aturan itu dibuat untuk orang-orang yang nggak punya alasan untuk melanggarnya, Sia. Kita punya alasan paling kuat di dunia," jawab Arkan mantap.
Ia mematikan lampu tidur dengan sekali sentuh pada panel di samping tempat tidur, membuat kamar itu benar-benar gelap, hanya menyisakan kehangatan dari tubuh mereka yang saling menempel.
"Besok pagi, kita harus kembali jadi CEO dan asisten, kan?" tanya Sia pelan.
"Di depan orang lain, iya. Tapi begitu pintu lift tertutup dan cuma ada kita berdua... aku tetap Arkan-mu, dan kamu tetap Sia-ku," Arkan mengeratkan pelukannya. "Dan satu hal lagi, Sia."
"Apa?"
"Besok jangan panggil aku 'Pak' kalau kita lagi di dalam mobil. Itu bikin aku kepikiran buat narik kamu ke belakang."
Sia tertawa geli, memejamkan matanya sambil tersenyum. "Dasar mesum."
"Aku penulis romantis, Sia. Itu paket lengkap," sahut Arkan sebelum akhirnya mereka berdua terlelap dalam tidur yang paling nyenyak yang pernah mereka rasakan.
Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, di mana rahasia terbesar mereka bukan lagi soal identitas Nightshade, melainkan soal betapa dalamnya mereka telah jatuh ke dalam satu sama lain.
Besok pagi mungkin akan ada laporan kantor yang menanti, tapi untuk malam ini, mereka hanya ingin menjadi dua orang biasa yang sedang merayakan kemenangan hati mereka atas logika yang selama ini membelenggu. Dan bagi Arkan Dewangga, itu adalah draf terbaik yang pernah ia jalani dalam hidupnya.