NovelToon NovelToon
FAKE LOVE MISSION

FAKE LOVE MISSION

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Xylona

Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.

Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.

Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.

Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 24.

Bel berbunyi sudah datang Aurora dan kedua temannya berjalan keluar kelas sambil bersenda gurau, Aurora tidak menyadari bahwa Gama sudah ada di depan kelas mereka kalau saja Khanza tidak menyikut perutnya Aurora tidak akan sadar.

Aurora yang awalnya ingin marah menjadi urung setelah melihat arah mata Khanza, ya... Gama berdiri di hadapan Aurora dengan tatapan seperti biasanya datar, dingin. Seolah tidak memiliki ekpresi lain selain itu.

"Ekhem... kayaknya kita pergi dulu ya." Ujar Zara sambil mengedipkan mata menggoda, Aurora rasanya ingin menjambak rambut kedua temannya dengan kencang melihat tingkah menyebalkan mereka.

Aurora beralih menatap Gama, Gama tanpa bicara hanya menggunakan gestur tubuh seolah menyuruh Aurora mengikuti langkahnya.

"Pulang bareng?." Tanya Aurora memastikan.

Gama mengangguk pelan. Setelah itu, ia berjalan di samping Aurora menuju area parkiran sekolah. Langkah mereka santai, tidak terburu-buru meski jam pelajaran telah berakhir dan sebagian besar siswa mulai meninggalkan sekolah.

Suasana sore itu cukup ramai. Beberapa murid masih berkumpul di depan kelas, ada yang menunggu jemputan, ada pula yang mengobrol sebelum pulang. Di tengah keramaian itu, kehadiran Aurora dan Gama yang berjalan berdampingan tanpa sadar menarik perhatian banyak orang.

Beberapa murid menoleh saat mereka lewat. Ada yang hanya melirik sekilas, ada yang berbisik kepada temannya sambil sesekali mencuri pandang.

Terutama para siswi SMA Mandala.

Tatapan yang diarahkan kepada mereka beragam. Sebagian terlihat penasaran, sebagian lagi tampak kurang senang.

Beberapa siswi bahkan terang-terangan memperhatikan Aurora dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang mencoba mencari tahu apa yang membuat gadis itu bisa begitu dekat dengan Gama.

Aurora menyadari perhatian yang tertuju pada mereka. Ia sempat menundukkan kepala, merasa kurang nyaman menjadi pusat perhatian sebanyak ini. Namun ia berusaha bersikap biasa dan tetap melanjutkan langkahnya.

Sementara itu, Gama tampak sama sekali tidak terusik. Wajahnya tetap tenang, langkahnya tetap santai, seolah tatapan penasaran maupun sinis dari orang-orang di sekitar tidak berarti apa-apa baginya.

Namun tetap saja, sampai mereka hampir tiba di parkiran, beberapa pasang mata masih mengikuti kepergian mereka. Rasa penasaran orang-orang tampaknya belum akan hilang dalam waktu dekat. Apalagi melihat Aurora dan Gama pulang bersama seperti itu bukanlah pemandangan yang biasa bagi sebagian besar murid SMA Mandala.

Selama perjalanan pulang tidak ada percakapan di antara mereka hanya suara kendaraan yang terdengar di keheningan mereka.

"Mau makan dulu?." Tanya Gama memulai pembicaraan.

"Terserah."

Gama menghela napas pelan sambil menggelengkan kepala kecil. Entah kenapa, menurutnya perempuan memang punya satu jawaban yang paling membingungkan di dunia.

Padahal saat ditanya ingin ke mana, mau makan apa, atau memilih sesuatu, jawaban itu hampir selalu keluar lebih dulu. Namun anehnya, ketika benar-benar dipilihkan, belum tentu mereka setuju.

Gama melirik Aurora sekilas, lalu kembali memandang ke depan. Sudut bibirnya terangkat tipis, antara heran dan geli.

Di pikirannya, kata terserah bukanlah jawaban. Itu lebih seperti teka-teki yang harus ditebak sendiri oleh laki-laki. Salah menebak sedikit saja, ujung-ujungnya tetap dianggap salah.

Memikirkan itu membuatnya kembali mengembuskan napas panjang.

Kadang ia merasa perempuan memang makhluk yang sulit dipahami. Mereka bilang terserah, tapi belum tentu benar-benar terserah. Mereka bilang tidak apa-apa, padahal ekspresinya mengatakan hal yang berbeda.

"Terserahnya tuh iya apa enggak?." Tanya Gama kembali.

"Terserah kakak."

Gama menghembuskan napas sabar menghadapi makhluk ciptaan tuhan yang sangat sulit di pahami oleh kaum pria.

Karna tidak memiliki jawaban pasti Gama akhirnya memutuskan untuk makan terlebih dahulu, ia membelokkan mobilnya ke arah rumah makan khas sunda. Mereka turun dari mobil dan menuju ke resto tersebut, duduk di paling pojok kanan seorang karyawan perempuan datang menghampiri mereka.

Menyerahkan buku menu kepada mereka berdua, Gama yang sedang fokus melihat lihat menu, berbanding terbalik dengan Aurora ia merasa ada yang aneh dengan karyawan wanita ini. Di saat Gama menanyakan menu karyawan wanita itu seperti terlihat gestur mencurigakan, seperti suara yang sengaja di imut imutkan.

Dan kalau Gama menatap karyawan itu wanita itu langsung menyelipkan rambutnya di telinga dengan gerakan yang centil seolah menggoda.

Aurora memutar bola matanya mendadak ia merasa sebal dan tidak berselera untuk makan, karna karyawan wanita itu.

"Mau makan apa?." Tanya Gama.

"Terserah!."

Gama mengerutkan kening bingung ada apa dengan Aurora, Gama menyadari nada suara Aurora berubah lebih ke ketus dan jutek. Gama merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa Aurora seperti sedang kesal.

Karna tidak ingin terlalu lama Gama akhirnya yang memilihkan makanan mereka, setelah karyawan wanita itu pergi Gama menayangkan kenapa Aurora terlihat kesal.

"Kenapa?."

"Nggak apa apa."

Gama mengembuskan napas untuk kesekian kalinya hari ini. Ia menatap ke depan sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana.

Kadang ia benar-benar heran.

Kenapa perempuan selalu menjawab "nggak apa-apa" saat ditanya, padahal dari ekspresi wajahnya sudah jelas ada sesuatu yang mengganggu?

Menurutnya, kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling membingungkan yang pernah ada. Kalau memang tidak ada masalah, biasanya suasana akan tetap biasa saja. Tapi kalau nada suara mulai berubah, wajah sedikit ditekuk, dan jawaban yang keluar hanya dua kata pendek itu, biasanya justru ada banyak hal yang tidak diucapkan.

Memikirkan hal itu membuat Gama kembali menghela napas pelan.

Bukan karena kesal, lebih karena bingung.

Kadang ia merasa perempuan berharap orang lain mengerti tanpa perlu dijelaskan. Sementara di sisi lain, tidak semua orang bisa menebak isi kepala seseorang dengan tepat.

Gama hanya menggeleng kecil sambil terkekeh pelan pada pikirannya sendiri. Dunia perempuan memang rumit. Mereka bisa mengatakan satu hal, tetapi tatapan mata, nada bicara, dan ekspresinya justru menceritakan hal yang berbeda.

Dan anehnya, meski berkali-kali dibuat bingung, ia tetap berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya mereka maksud setiap kali mendengar kalimat sederhana itu.

"Yang bener?." Tanya Gama memastikan.

Aurora hanya mengangguk memalingkan wajahnya kearah jendela melihat lalu lalang kendaraan, enggan menatap Gama yang memandang bingung kearah Aurora.

Setelah menunggu beberapa menit pesanan mereka sudah siap dan yang mengantarkan pesanan mereka itu karyawan wanita tadi, awalnya Gama terlihat biasa saja tidak ada yang aneh. Tapi, setelah tidak sengaja Gama melirik ke arah Aurora. Ia melihat ekpresi tidak senangnya kepada karyawan wanita tersebut.

Gama mengulum senyum di bibirnya merasa lucu melihat Aurora telihat cemburu? mungkin.

"Cemburu?." Goda Gama.

Aurora menoleh kaget ia menggeleng protes tidak setuju dengan persepsi Gama.

"Enggak! ngapain juga aku cemburu." Elak Aurora.

Gama terkekeh pelan menggemaskan sekali Aurora yang sedang menyembunyikan kecemburuannya.

"Kalau cemburu juga nggak apa apa." Gama tidak berhenti untuk menggoda Aurora.

Aurora merengut kesal kenapa dari pagi samoai hari ini semua orang sangat senang sekali menggodanya.

1
Davina Aurora
bagus ka ceritanya😍
aurora: terima kasih☺
total 1 replies
T28J
hadiir kk🙏
aurora: terimakasih😊☺😍
total 1 replies
Wawan
Semangat ✍️
aurora: terimakasih 🤗🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!