Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berusaha Membujuk
Namun seketika langkahnya terhenti saat terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari arah tangga.
TAP..
TAP..
TAP..
Saat mendongak, mata mereka pun saling bertemu. Chandra dan Judika kini berdiri berhadapan di tengah ruangan, saling menatap dalam diam.
Melihat kedua putranya hanya saling tatap tanpa sepatah kata pun membuat Jovina merasa geli sekaligus cemas. Akhirnya dialah yang memecah keheningan itu.
"Mau sampai kapan kalian berdiri di situ hanya saling pandang-memandang, hum?" goda Jovina sambil tersenyum.
Suara ibunya sukses menyadarkan mereka berdua. Judika langsung mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju kulkas. Seperti biasa, dia mengambil satu botol susu pisang, minuman kesukaannya.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, Judika langsung berjalan menuju pintu utama, seolah berniat langsung berangkat ke sekolah.
"Sayang," panggil Jovina.
Langkah Judika terpaksa terhenti, namun dia tidak membalikkan badannya.
"Apa?" jawab Judika dengan nada suara yang terdengar jauh lebih lembut dari biasanya, walau di dalam hatinya tak nyaman.
Mendengar nada lembut itu membuat hati Jovina dan Chandra serasa berbunga-bunga. Mereka merasa sangat bahagia.
Jovina segera menghampiri putra bungsunya, lalu mengelus lembut rambut dan wajah tampan putranya.
"Kita sarapan dulu ya. Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu," bujuk Jovina sambil menggandeng tangan putranya menuju meja makan.
Sekali lagi, Jovina dan Chandra tersenyum lega. Judika tidak memberontak. Tidak menepis tangan ibunya, dan tidak mengeluarkan kata-kata pedas seperti beberapa hari yang lalu.
^^^
Kini mereka bertiga sudah duduk melingkar di meja makan. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama, mereka bisa makan bersama dalam satu meja lengkap sebagai sebuah keluarga.
"Coba kemarin aku tidak egois dan mau memberikan kesempatan kedua padanya, mungkin saat ini suamiku, Juandra Pratama, masih ada di sini. Duduk bersama kami," batin Jovina.
Tanpa sadar, air matanya kembali menetes. Pemandangan itu tentu saja tidak luput dari perhatian kedua putranya.
"Ibu! Kenapa Ibu menangis?" tanya Chandra cemas.
Sementara itu, Judika hanya melirik sekilas tanpa niat bertanya atau menunjukkan rasa perhatian lebih. Dia bersikap biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Ach, Ibu tidak apa-apa. Mata Ibu hanya kelilipan," jawab Jovina berbohong sambil menyeka air matanya. "Jangan dipikirkan ya. Ayo habiskan sarapannya. Nanti kalian terlambat ke sekolah," ucap Jovina cepat untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Baiklah, Bu," jawab Chandra patuh.
Sedangkan Judika. Dia kembali fokus pada makanannya. Dia sama sekali tidak peduli akan keadaan sekitarnya.
Memang benar, sikap Judika kini sudah berubah. Dia tidak lagi marah-marah atau memberontak saat diperlakukan dengan kasih sayang oleh ibu dan kakaknya.
Namun itu bukan berarti Judika sudah memaafkan kesalahan masa lalu mereka sepenuhnya.
Di lubuk hati Judika. Rasa kecewa dan marah itu masih tersimpan, terutama dendam akan kehilangan ayahnya. Luka akibat ditinggalkan saat dia paling membutuhkan mereka belum sembuh sempurna. Sekarang luka baru bertambah yaitu kehilangan ayahnya akibat keegoisan keduanya.
Judika bersikap baik sekarang hanya karena dia tidak ingin dicap sebagai anak atau adik yang durhaka oleh orang lain. Dia membiarkan mereka bersikap manja dan perhatian, karena baginya itu adalah tugas mereka sebagai keluarga. Anggap saja semua perlakuan manis ini adalah cara mereka menebus apa yang dulu sempat hilang selama bertahun-tahun.
Terdengar kejam, memang. Tapi saat ini, hanya itu yang bisa Judika lakukan. Dia butuh waktu lama untuk benar-benar bisa ikhlas dan memaafkan ibu dan kakaknya.
"Aku sudah selesai. Kalau begitu aku berangkat dulu," ucap Judika sambil berdiri dari kursinya.
Baru saja Judika hendak melangkah pergi, tangan kanannya dicekal oleh Chandra.
Judika menatap tangan kakaknya, lalu menatap wajah kakaknya dengan tatapan dingin dan datar.
"Kenapa?" tanya Judika singkat.
Chandra ikut berdiri, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu adiknya.
"Berangkat bersama kakak, ya?" pinta Chandra lembut.
"Aku bisa berangkat sendiri," tolak Judika sambil menepis pelan tangan kakaknya di bahunya.
"Ayolah, Dika!" bujuk Chandra dengan wajah memelas. Tangannya kini dilipat di depan dada seolah sedang memohon.
Judika seketika memutar bola matanya malas melihat tingkah kakaknya yang bertolak belakang dengan penampilannya yang gagah.
Sementara Jovina yang melihat itu hanya tersenyum gemas.
"Terserah. Lakukan apa yang kau mau," jawab Judika datar.
Setelah mengatakan itu, Judika berjalan mendahului keluar ruangan.
Chandra terpaku sejenak mendengar jawaban itu, namun kemudian wajahnya bersinar cerah.
"Chandra," panggil ibunya menyadarkan lamunannya.
"Ach, iya, Bu!" Chandra segera berlari menyusul adiknya. Meninggalkan ibunya yang hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah kedua putranya.
***
Pukul 8.00..
[HARMONI HIGH SCHOOL]
Judika sudah berdiri tepat di depan gerbang sekolahnya. Hari ini Chandra berhasil membujuk adiknya itu agar mau berangkat bersamanya, meski sekolah mereka berbeda lokasi.
Saat Judika hendak melangkah turun dari mobil, tangan Chandra terulur dan menahan lengan adiknya dengan lembut.
Sementara Judika? Dia sama sekali tak berniat menoleh, apalagi menatap wajah kakaknya itu.
"Pulang sekolah jam berapa selesainya?" tanya Chandra pelan.
"Mau apa?" jawab Judika ketus, matanya masih menatap lurus ke depan.
"Boleh kakak jemput di sini nanti?"
Judika hanya diam saja. Tak ada jawaban melainkan bibir yang mengerucut malas. Tapi bukannya menyerah. Bukan Chandra namanya kalau mudah putus asa membujuk adiknya.
"Nggak baik loh nolak kebaikan orang. Apalagi kalau orang itu kakak sendiri," ucap Chandra dengan nada yang dibuat semanis mungkin.
Judika memutar bola matanya malas. "Terserah."
"Loh, kok terserah? Paling nggak kasih jawaban yang bikin hati kakak senang dong. Jangan digantung begini," rengek Chandra sambil menampakkan wajah paling imut dan polos yang ia punya.
Judika seketika langsung menoleh melihat kearah kakaknya. Tatapan matanya membelalak sempurna.
"Sejak kapan manusia satu ini bertingkah seperti anak kucing yang manja? batin Judika kaget.
"Ayolah, adik manis." Chandra tersenyum lebar. Bahkan sampai mengedipkan sebelah matanya berkali-kali.
Judika langsung membuang wajahnya kembali melihat ke depan. Perasaannya seketika tak nyaman saat ini.
"Hah."
Judika menghela napas panjang. Rasanya energi habis hanya untuk menghadapi tingkah kakaknya itu. Dia tidak ingin berlama-lama bersama kakaknya dan dia ingin segera keluar dari sini.
"Jika ingin menjemputku, jemput saja. Jika tidak ingin, aku juga tidak masalah."
Setelah mengatakan itu kepada kakaknya, Judika segera melangkah turun dan menutup pintu mobil.
Namun sebelum benar-benar menutupnya, Judika sempatkan menoleh sekilas ke dalam. Dia lihat kakaknya masih terpaku diam, menatapnya dengan ekspresi konyol yang entah sedang memikirkan apa.
"Cih! Bisa-bisanya dia bersikap begitu," gerutu Judika pelan.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Judika langsung membanting pintu mobil cukup keras.
Buukk..
Suara itu sukses membuyarkan lamunan Chandra seketika.
"Aku tunggu paling lama lima belas menit!" seru Judika dari luar. Matanya menatap tajam ke arah kakaknya. "Kalau telat sedetik saja. Habis sudah semua kesempatanmu buat berdamai denganku!"
Tanpa menunggu balasan dari kakaknya , Judika langsung berbalik dan berjalan masuk melewati gerbang sekolah.
"Yes!" seru Chandra pelan. Wajahnya berbinar penuh kebahagiaan. "Kakak janji tidak bakal telat sedetik pun! Tungguin ya!" ucap Chandra menyemangati dirinya sendiri.
Setelah memastikan sosok adiknya hilang dari pandangan, Chandra kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan kawasan Harmoni High School menuju sekolahnya sendiri, Harfa High School.
^^^
[DI DALAM KELAS]
Judika sudah duduk tenang di bangkunya. Dia asyik menunduk. Mata terpaku pada layar ponsel di tangannya, seolah dunia di sekitarnya tak ada artinya. Tanpa dia sadari, sejak tadi keenam kakak angkatnya yaitu Arjuna, Yongki, Hendy, Nathan, Jericko dan Tamma sedang mengamati tingkahnya dengan rencana jahat yang sedang disusun dalam kepala mereka.
"Eehheemmm." Arjuna berdeham.
Arjuna sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar jelas oleh Judika. Dia berharap bisa menarik perhatian si bungsu.
Namun nyatanya Judika tetap diam dan tidak memberikan reaksi apapun. Matanya tak berkedip dari layar ponsel.
"Aish. keras kepala sekali," gerutu Arjuna dalam hati.
"EHEEEMMM... EHEEEMMM!!"
Kali ini Yongki yang mencoba. Bahkan suaranya dikeraskan sampai bergema di ruangan.
Tapi hasilnya tetap sama. Judika masih anteng ditempatnya. Jempolnya terus bergerak gesit di atas layar.
"Aish, bocah ini!" Yongki ikut kesal sambil memijat pelipisnya.
Jericko yang sedari tadi menahan tawa akhirnya punya ide. Dia mengambil batu kecil di tanah, lalu dengan lihai melemparkannya tepat ke arah Judika.
Tak..
Benda kecil itu mendarat tepat di kening Judika.
"Aww!" Judika meringis kesakitan. Tangannya langsung mengusap kening yang kena sasaran. "Aduh... sakit tahu!"
Sambil mendengus kesal, Judika menoleh ke kanan dan kiri, lalu menatap tajam ke arah pintu kelas yang terbuka. Tapi tak ada siapa-siapa di sana.
"Dasar manusia-manusia tidak berguna! Keturunan kera! Otak tumpul semua!" umpat Judika keras, dia yakin sekali pelakunya ada di antara teman-temannya sendiri.