Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota yang jauh dari hiruk-pikuk beton Jakarta, Kinanti duduk termenung di teras belakang. Tidak ada lampu kristal yang menyilaukan, hanya cahaya temaram dari lampu teras yang bergoyang ditiup angin malam.
Suara jangkrik bersahutan, seolah mencoba menghibur hati seorang wanita yang sedang menata kepingan harga dirinya yang hancur berkeping-keping.
Ibu Sarah keluar membawa secangkir teh hangat, lalu duduk bersimpuh di samping putrinya.
Ia melihat Kinanti hanya menatap kosong ke arah kebun kecil di belakang rumah. Tidak ada lagi sorot mata tajam sang penguasa korporat, yang tersisa hanyalah seorang istri yang sedang meratapi pengkhianatan yang tak terbayangkan.
Kinanti perlahan menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya luruh juga. "Bunda... apakah ketulusan itu memang tidak ada harganya bagi Arkan?" suaranya parau, tercekik oleh rasa sesak di dada.
Ibu Sarah mengusap tangan Kinanti dengan lembut. "Ketulusan itu sangat mahal, Nak. Hanya saja, Arkan bukan pria yang cukup kaya hatinya untuk memilikinya. Dia lebih memilih mainan murah yang mudah didapatkan daripada berlian yang sulit dijaga."
Kinanti memejamkan mata. Bayangan Arkan yang dulu memohon restu di depan ibunya kembali terlintas.
Dulu, Arkan berjanji akan mengangkat derajat Kinanti, menjadikannya satu-satunya wanita dalam hidupnya. Namun kenyataannya, Arkan justru menusuknya dari belakang dengan sahabat dari masa kecilnya, Alana.
"Aku rela jadi tameng buat dia, Bun. Saat perusahaannya hampir bangkrut dulu, aku yang lembur tiap malam. Aku yang berhadapan dengan investor galak demi menyelamatkan namanya. Tapi dia... dia malah berbagi tempat tidur dengan wanita lain saat aku berjuang untuknya," isak Kinanti semakin dalam.
Ibu Sarah hanya bisa memeluk putrinya erat. Sebagai mantan asisten rumah tangga di keluarga Alana dulu, ia tahu betapa sombongnya keluarga Hadiningrat.
Ia tahu betapa mereka selalu meremehkan Kinanti. Dan sekarang, menantunya sendiri justru memberikan kemenangan pada mereka melalui perselingkuhannya.
"Sudah, Nak. Jangan tangisi pria yang bahkan tidak tahu cara berterima kasih. Kamu bukan anak pembantu yang malang lagi. Kamu adalah wanita hebat yang bisa berdiri di atas kakimu sendiri," bisik Ibu Sarah menenangkan.
Sementara itu, di kediaman mewah Wiratama yang megah, suasana justru terasa seperti pesta kemenangan. Arkan merasa telah benar-benar merdeka. Sejak ia berhasil memindahkan kembali seluruh akses aset ke tangannya, egonya melambung setinggi langit.
Ia merasa tidak lagi membutuhkan Kinanti yang selalu mengatur hidupnya dengan jadwal yang ketat dan aturan-aturan profesional.
Arkan duduk di ruang tengah sambil menikmati cerutu mahalnya. Di sampingnya, pengasuh bayi tampak canggung menggendong Arjuna yang mulai rewel.
"Diamkan anakku! Jangan sampai tangisannya merusak suasana hatiku!" bentak Arkan tanpa perasaan. Pengasuh itu segera berlari menjauh dengan wajah pucat.
Arkan mengambil ponselnya, lalu menghubungi asisten pribadinya. "Pastikan besok pagi, kurir sudah sampai di desa tempat Alana tinggal. Berikan dia uang tunai dan kartu ATM atas namaku. Bilang padanya, aku akan segera menjemputnya. Kita akan pindah ke rumah baru di pusat kota."
Arkan tersenyum lebar. Ia merasa telah menang telak. Di matanya, Kinanti yang kabur ke rumah ibunya hanyalah wanita lemah yang sedang merajuk. Ia berpikir, dengan uang yang sudah kembali di tangannya, Kinanti tidak akan berani menggugat cerai atau macam-macam.
"Wanita itu pasti akan kembali berlutut padaku saat dia tahu dia tidak punya sepeser pun uang di rekeningnya. Dia akan kembali menjadi istri yang patuh dan lembut seperti dulu," gumam Arkan sombong.
Ia berjalan menuju dapur, berteriak pada Bi Ijah untuk menyiapkan camilan tengah malam. "Bi! Di mana Kinanti menaruh kunci gudang wine?! Aku ingin merayakan sesuatu malam ini!"
Bi Ijah mendekat dengan gemetar. "Maaf, Den... kuncinya dibawa Ibu Kinanti."
"Sialan!" Arkan menendang kursi makan hingga terjungkal. "Berani-beraninya dia membawa kunci di rumahku sendiri! Lihat saja nanti, saat dia pulang, aku akan pastikan dia tahu siapa tuan di rumah ini!"
Arkan tidak tahu bahwa di balik kesunyian malam di rumah ibunya, Kinanti bukan sedang merajuk. Kinanti sedang mengumpulkan kekuatan untuk melakukan hal yang paling tidak terduga.
Kembali ke rumah Ibu Sarah. Kinanti menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri, menatap bayangannya di kaca jendela yang buram.
"Bunda benar. Aku tidak boleh menangis untuk pria yang bahkan tidak punya nyali untuk setia," ucap Kinanti, suaranya kini terdengar lebih mantap. "Arkan pikir dia sudah mengambil semuanya dariku karena dia menguasai angka-angka di rekening itu. Dia lupa, bahwa otaknya, strateginya, dan seluruh relasi yang membangun Wiratama adalah milikku."
Kinanti berbalik menatap ibunya. "Bunda, besok kita kembali ke Jakarta. Aku tidak akan membiarkan Arkan menyentuh Arjuna lebih lama lagi. Aku akan menunjukkan padanya bahwa seorang wanita yang dikhianati bisa menjadi badai yang paling menghancurkan."
"Apa yang akan kamu lakukan, Nak?" tanya Ibu Sarah cemas.
Kinanti tersenyum tipis, senyum yang menyimpan luka sekaligus ketegasan. "Aku tidak akan membalas dengan kemarahan atau makian, Bun. Itu terlalu murah. Aku akan membalasnya dengan kenyataan. Aku akan menarik semua dukungan sistem yang selama ini menopang bisnisnya. Aku ingin melihat, seberapa lama pria sombong itu bisa bertahan tanpa otak di balik layarnya."
Malam itu, Kinanti tidur di ranjang tua di rumah ibunya. Sederhana, namun ia merasa jauh lebih aman daripada di ranjang sutra di rumah Wiratama. Ia tahu, besok pagi adalah awal dari kehancuran Arkan.
Arkan yang sedang tertidur dengan mimpi indah tentang Alana, tidak sadar bahwa esok hari, saat ia mencoba menggunakan kekuasaannya, ia akan mendapati bahwa seluruh pintunya telah tertutup.
Bukan karena teknologi, tapi karena Kinanti telah memutus kepercayaan para mitra bisnis dan memegang dokumen fisik asli yang menyatakan bahwa seluruh aset tersebut adalah harta bersama yang tidak boleh dipindahtangankan tanpa persetujuannya.
"Selamat tidur, Arkan," bisik Kinanti dalam gelap. "Nikmati malam terakhirmu sebagai orang kaya. Karena besok, aku akan mengambil kembali martabatku, dan membiarkanmu membusuk bersama kesombonganmu."
Dua hati yang dulu menyatu, kini telah menjadi dua kutub yang akan saling menghancurkan. Dan bagi Kinanti, tidak ada kata maaf bagi sebuah pengkhianatan yang dilakukan di atas keringat dan air matanya.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.