Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 My elite lover
Sementara Saga dan timnya mulai melacak jejak musuh yang kabur tadi pagi, di dalam gedung rumah sakit suasana tampak normal dan sibuk seperti biasanya. Suara mesin medis yang berdenyut teratur dan langkah kaki tenaga medis yang cepat mengisi lorong-lorong bersih. Rena baru saja selesai melakukan operasi pembedahan kecil pada seorang anak sekolah dasar, prosedurnya berjalan lancar, dan anak itu sudah dalam kondisi stabil di ruang perawatan intensif.
Namun ia masih memiliki jadwal visit beberapa pasien lagi hari ini, termasuk dua pasien yang baru menjalani operasi besar kemarin malam.
"Baiklah, pasien kamar 305 dan kamar 307 butuh pengecekan ulang ..." gumamnya pelan sambil mengecek catatan di tangannya.
"Eh, tapi keknya aku butuh kasa steril juga! Hmm! Aku cek sendiri aja deh!"
Karena terlalu sibuk dan fokus, Rena sedikit lupa dengan peringatan keras Saga tadi pagi. Lorong-lorong rumah sakit yang ramai perlahan berubah menjadi lebih sepi saat ia masuk ke area gudang penyimpanan alat medis dan obat-obatan yang letaknya agak terpencil di bagian belakang gedung.
"Mhmm! Mana ya letak kasa steril itu?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengedarkan pandangan ke rak-rak tinggi yang penuh dengan kotak-kotak barang.
Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang aneh menyelimuti punggungnya. Seolah-olah ada mata yang sedang mengawasi gerak-geriknya dari balik bayang-bayang. Rena berhenti sejenak, lalu perlahan menoleh ke belakang.
Lorong itu kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa.
"Mungkin cuma perasaanku aja kali ya ..." bisiknya berusaha menenangkan diri, namun jantungnya mulai berdegup lebih kencang dari biasanya.
Ia kembali membalikkan badan, namun nyaris menjerit kaget saat melihat seorang pria bertubuh besar berdiri tepat di depannya hanya berjarak beberapa langkah! Pria itu mengenakan jas laboratorium yang longgar, topi bedah menutupi sebagian kepalanya, dan masker medis yang menutupi wajahnya hingga hanya menyisakan sepasang mata yang menatap tajam ke arahnya.
"Eh! Anda siapa? Maaf, area gudang ini hanya untuk petugas medis. Kalau butuh sesuatu, silakan tanya ke suster di depan ya," ucap Rena dengan suara yang tetap sopan dan tenang, namun secara tidak sadar ia mundur selangkah demi selangkah menjauhi pria itu.
Otak dokternya bekerja cepat, menganalisa setiap detail dari pria asing di hadapannya, postur tubuhnya terlalu kaku untuk seorang dokter atau petugas medis, langkahnya tidak seperti orang yang terbiasa bergerak di rumah sakit, dan bahkan jas laboratoriumnya terlihat seperti dicabut kasar dari rak, bukan dipakai dengan benar seperti biasanya! Aku harus waspada! pikirnya dalam hati.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam sebentar, lalu tersenyum miring di balik maskernya, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Rena meremang dan kulitnya merinding. Pria itu mulai berjalan mendekat perlahan, langkahnya berat dan mengintimidasi, membuat lantai keramik sedikit bergetar setiap kali kakinya menyentuhnya.
"Kau dokter Renata, kan?" ucap pria itu dengan suara yang serak dan berat. "Wajahmu persis seperti yang digambarkan. Sangat cantik ... bahkan lebih cantik dari yang di foto. Sayang sekali nasibmu tidak sebaik wajahmu."
Darah Rena seakan berhenti mengalir dan kakinya hampir goyah. Tapi ia tidak mau terlihat lemah sepenuhnya. Sebagai dokter, ia sudah terbiasa menguasai diri untuk tetap tenang dalam keadaan apapun, meski tangan di saku bajunya mengepal erat.
"A-apa maksud kamu bicara seperti itu?! Jangan macam-macam! Ini rumah sakit yang penuh dengan kamera keamanan dan petugas keamanan! Aku akan berteriak dan mereka akan datang cepat!" ancam Rena, matanya cepat memindai area sekitar mencari benda yang bisa dijadikan senjata atau titik lemah lawan.
"Teriak saja sekuat tenagamu ... tidak ada yang akan mendengar. Area ini sudah aku pastikan steril!" bisik pria itu menyeramkan. "Tuanku ingin bertemu denganmu, Nona manis. Ikut aku dengan suka rela, atau aku paksa!"
Pria itu melompat cepat mencoba menangkap lengan Rena!
"JANGAN MENDEKAT!!" teriak Rena bukan karena takut tapi karena kesal yang luar biasa, bagaimana bisa ada orang yang berani mengganggu ketenangan di tempat yang seharusnya menjadi tempat penyembuhan!
Dengan refleks yang cepat yang sudah terlatih selama bertahun-tahun dalam ruang operasi di mana setiap gerakan harus presisi dan cepat Rena tidak hanya menghindar dengan menggeser tubuhnya ke samping dengan gesit, tapi ia juga menggunakan teknik yang sering ia lakukan saat menangani alat-alat tajam di ruang operasi! Tangannya yang lincah dengan cepat meraih nampan besi kecil yang ada di meja samping, lalu dengan kekuatan yang luar biasa untuk tubuhnya yang kecil, ia memukulnya keras ke arah siku tangan pria itu yang sedang mengincarnya.
PRANG!!
Suara benturan besi dengan tulang dan kulit terdengar jelas di ruangan yang sepi!
"AKH!!" erang pria itu kaget, lengannya terhenti karena serangan mendadak itu.
"Tidak semudah itu bisa menangkapku! Aku ini seorang dokter bedah ahli! Aku tahu setiap titik lemah di tubuh manusia! Aku bisa saja membedahmu dengan cepat lalu mengeluarkan ginjalmu lalu kujual ke orang yang membutuhkan! Apa kamu mau mencobanya?!" seru Rena dengan suara berani yang sedikit bergetar karena adrenalin yang mengalir deras di dalam tubuhnya, meski jantungnya sudah berdegup sangat kencang.
Pria itu memijat sikunya yang kesakitan, matanya membelalak kaget melihat gadis di depannya ternyata bukan mangsa empuk yang mudah ditakuti. Ia mengira akan sangat mudah menangkapnya, tapi rupanya ia salah menghitung.
"Wah! Ternyata nyalimu boleh juga ya ..." geram pria itu.
"Ya iya lah! Ngapain takut sama pria pengecut seperti kamu! Yang cuma berani bersembunyi di balik masker! Jelek ya mukanya sampai malu nunjukin ke orang lain? Atau bekas jerawat parah sampai tidak bisa dilihat? Atau mungkin jangan-jangan gigimu tonggos dan belang-belang kayak gigi buaya ya, jadi harus selalu ditutup? Hahaha!" Rena mulai berceloteh ngawur asal-asalan, matanya terus mencari jalan keluar sambil berusaha memancing emosi pria itu agar membuat kesalahan. Ia tahu ia tidak bisa bertahan lama dengan kekuatan fisiknya saja, jadi ia harus mengulur waktu sebanyak mungkin, berharap ada seseorang yang lewat atau ada yang menyadari bahwa ia menghilang terlalu lama.
"Btw kamu nyuri baju lab ini di mana? Di toko baju badut?! Pantas kedodoran!?"
"DIAM KAU PEREMPUAN SIALAN!!" bentak pria itu emosi, lalu dengan brutal menyerang lagi dengan lebih ganas.
Rena berusaha sekuat tenaga menghindar dan menghindarkan diri. Ia melompat ke belakang, menghindari cengkeraman pria itu dengan menggeser tubuhnya ke bawah lalu berdiri kembali dengan cepat. Ia menggunakan rak-rak barang sebagai tempat bersembunyi, berlari dari satu sisi ke sisi lain ruangan. Walaupun dia pintar dan lincah, kekuatan fisiknya jauh di bawah pria bertubuh kekar itu yang sudah terbiasa dengan kekerasan. Setelah adu cepat beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, akhirnya tangan panjang pria itu berhasil mencengkeram kedua lengan Rena dengan sangat kuat, membuatnya tidak bisa bergerak lagi!
"LEPAS!! Sakit tau! Ini tangan yang digunakan untuk operasi menyelamatkan nyawa orang banyak lho! Kalau ada goresan atau cedera sedikitpun, aku akan tuntut kamu ganti rugi miliaran rupiah! Apa kau sanggup membayarnya?!" Rena tetap meronta dan mengomel dengan keras, matanya mulai berkaca-kaca bukan karena takut tapi karena kesal yang luar biasa dan sakit akibat cengkeraman kuat pria itu yang sudah mulai membuat kulitnya memerah dan sedikit memar.
"DIAM JANGAN BANYAK BACOT! Kau pikir aku takut dengan omongan kosongmu itu?!" desis pria itu sambil menyeret paksa Rena menuju pintu belakang yang gelap. "Mulai sekarang kau sandera, paham!"
"Sandera apa sandera! Kamu ini kurang gizi ya?! Badan besar otak kosong! Mending kamu makan sayur bayem deh, biar otakmu encer!"
"BERISIK!!"
"Kamu gak takut jika Kak Saga datang! Kamu bakal tamat lho!!"
_____________________________________
Mobil Saga baru saja melaju cepat membelah jalanan menuju titik temu bersama timnya. Tiba-tiba jantungnya terasa sangat sesak dan tidak tenang. Ada perasaan tidak enak yang menyerang dadanya secara tiba-tiba, seolah-olah ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Saga langsung menepikan mobilnya dengan mendadak. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Ada apa denganku? Kenapa aku merasakan hal aneh ini?" gumam Saga pelan.
"Rena ..." ucapnya tiba-tiba.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menekan tombol panggil cepat untuk nomor Rena.
Tuuut ... Tuuut ... Tuuut ...
Nada sambung terdengar panjang, tidak ada yang mengangkat!
Saga mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi! Tetap tidak diangkat!
Wajah Saga yang biasanya tenang kini berubah pucat lalu memerah padam karena menahan amarah dan kepanikan yang luar biasa.
"BRAM! RIZKY! AWAS AJA JIKA SESUATU TERJADI PADA WANITAKU?!" geramnya keras, tinjunya menghantam setir mobil dengan kuat hingga klakson berbunyi panjang.
Ia langsung menekan nomor pribadi Kevin, sahabat dan partner kerjanya yang paling bisa diandalkan dalam situasi darurat.
"Kevin!" suara Saga terdengar parau namun mematikan.
"Siap komandan!"
"Kamu handle semua dulu! Aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu!"
"Hah! Apa yang terjadi? Apa perlu bantuan?"
"TIDAK! AKU BISA SENDIRI!" tegas Saga lalu langsung mematikan sambungan telepon sepihak.
Seolah tak ingin membuang waktu, Saga gegas memutar setir mobilnya dengan liar, melakukan U-turn di tengah jalan tanpa peduli aturan lalu lintas. Matanya menyala liar seperti harimau yang kehilangan anaknya.
BRUUUMMM!!!
Mobilnya melaju dengan kecepatan yang tidak masuk akal, membelah jalanan kota bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya.
"Bertahanlah sebentar lagi sayang! Aku akan datang menyelamatkanmu! Siapapun yang berani menyentuhmu, akan kuputuskan tangannya!!" desis Saga di dalam mobil.
________________________________________
"LEPASKAN BERENGSEK! KAK SAGA AKAN MEMBUNUHMU!" Rena masih berteriak dan menendang-nendang kaki penyerangnya.
Pria itu sudah kesal setengah mati mendengar ocehan Rena yang tidak ada habisnya.
"Sepertinya mulutmu minta disumpal biar kamu bisa diam!" desisnya tajam sambil meraih sapu tangan untuk menutup mulut Rena, namun ...
BRAAAKKK!!!
Pintu besi itu terbuka dengan kasar menghantam tembok di sisinya.
Debu berterbangan di udara, Di ambang pintu, muncul bayangan tegas, Saga berdiri dengan napas memburu, kemeja putihnya sedikit berantakan, dan tatapan mata yang sangat mengerikan, penuh amarah yang tak terkendali!
Aura membunuh yang dipancarkannya begitu pekat hingga membuat udara di ruangan itu terasa mendidih!
"JAUHKAN TANGAN KOTORMU DARINYA! JIKA TIDAK, AKU PASTIKAN TANGAN ITU AKAN LEPAS DARI TUBUHMU!!"
Bersambung ...
😡😡😡😡😡😡