Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kristal Tulang Naga
Hujan lebat terus mengguyur Reruntuhan Kuil Bulan Mati, membilas darah yang menggenangi lantai arena. Namun, tak satu pun dari ratusan penonton di tribun beranjak dari tempat duduk mereka. Mata mereka terpaku pada sosok bertopeng abu-abu yang kini berdiri sendirian di tengah lautan mayat, bagai monumen kehancuran yang tak tergoyahkan.
"Satu orang... dia memenangkan ini sendirian," gumam seorang Tetua dari sekte lokal dengan wajah pucat. "Fisik yang melahap sihir... Apakah dia reinkarnasi dari ahli Body Cultivation era Kuno?"
Di balkon VIP, Tuan Hei tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar serak dan serakah. "Hahaha! Investasi yang sempurna! Kita mendapatkan monster sejati malam ini!"
Tuan Hei memberi isyarat kepada bawahannya. Sesaat kemudian, sebuah kotak kayu gaharu yang diukir dengan naga emas dibawa turun menuju arena, dijaga oleh empat pengawal tingkat Pembangunan Pondasi Puncak. Mereka melangkah dengan sangat hati-hati, menjaga jarak aman dari Lin Tian.
Lin Tian tidak mengaktifkan aura membunuhnya. Ia menatap kotak itu dengan tenang. Inti Teratai Pedang di perutnya berdenyut halus, merasakan resonansi energi penguatan fisik yang sangat masif dari dalam kotak tersebut.
Salah satu pengawal membuka kotak gaharu itu. Di dalamnya, beralaskan sutra merah, terletak sebuah kristal berwarna hitam pekat seukuran kepalan tangan. Permukaannya kasar, seperti tulang yang telah memfosil, namun di dalamnya mengalir urat-urat berwarna tinta yang terus bergerak layaknya darah naga hidup.
Kristal Tinta Tulang Naga.
"Tuan Mo, sesuai janji dan aturan Puncak Darah, hadiah utama ini adalah milikmu," ucap pengawal itu, menyerahkan kotak tersebut dengan tangan sedikit gemetar, lalu buru-buru mundur.
Lin Tian mengambil kotak itu. Saat jemari kirinya menyentuh kristal dingin tersebut, sensasi hangat yang sangat kuat langsung menjalar ke lengan kanannya yang terluka. Niat Pedang di sumsumnya bereaksi liar, mendesak untuk segera menyerap energi dari fosil purba ini.
"Dengan ini, aku akan bisa menahan recoil dari Gagang Pemutus Langit hingga tiga kali lipat," batin Lin Tian puas.
Tanpa berbicara sepatah kata pun pada wasit atau penonton, Lin Tian berbalik dan melangkah perlahan keluar dari arena, meninggalkan mayat-mayat lawannya dan puluhan kantong penyimpanan yang berserakan. Kekayaan fana di arena ini tidak lagi sebanding dengan waktu yang harus ia gunakan untuk menyerap kristal tersebut.
Satu jam kemudian, di ruang rahasia bawah tanah Asosiasi Tentara Bayaran.
Lin Tian duduk di kursi batu yang dingin. Di meja di hadapannya, selain Kristal Tulang Naga, terdapat sebuah kantong berisi seribu Batu Spiritual tingkat menengah dan sepuluh botol Pil Inti Dingin tingkat tinggi—bonus yang Tuan Hei janjikan untuk pengobatan Lin Xue.
Pintu ruang rahasia terbuka. Tuan Hei masuk, senyum rubahnya masih menghiasi wajah keriputnya.
"Luar biasa, Tuan Mo. Pertunjukanmu malam ini menaikkan pamor Asosiasi Tentara Bayaran ke puncak tertinggi. Geng Kapak Hitam dan Paviliun Obat Racun kini harus tunduk pada dominasiku di kota ini," puji Tuan Hei sambil menuangkan dua cawan arak spiritual.
Lin Tian tidak menyentuh cawan itu. Ia menatap lurus ke arah Tuan Hei. "Bagianku sudah kuselesaikan. Sekarang penuhi bagianmu. Jalur rahasia keluar dari blokade Sekte Pedang Surgawi."
Senyum Tuan Hei memudar sedikit, digantikan oleh tatapan licik seorang saudagar pasar gelap. Ia duduk berseberangan dengan Lin Tian, mengetukkan jari-jarinya yang dipenuhi cincin batu permata ke meja.
"Tentu, tentu. Janji tetaplah janji. Namun, situasi di luar sedikit... berubah," ucap Tuan Hei pelan. "Setengah jam yang lalu, Tetua Gui Ming dari Sekte Pedang Surgawi tiba di kota ini. Dia membawa Formasi Cermin Pelacak Jiwa Tingkat Tinggi dan sebuah artefak pelacak darah."
Mata di balik topeng Lin Tian menyipit berbahaya. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, Tetua Gui Ming telah menyegel seluruh gerbang udara, darat, dan bahkan saluran pembuangan kota dengan formasi Inti Emas. Jalur rahasiaku yang biasa kugunakan untuk menyelundupkan barang juga terkena imbas riak formasi itu," jelas Tuan Hei. "Mereka mencari buronan yang membunuh Tuan Muda Chu Yun."
Tuan Hei menatap tajam balutan perban di lengan kanan Lin Tian, lalu melirik topeng kayunya. "Dan dari laporan mata-mata saya, pemuda bernama Lin Tian yang menghancurkan kapal perang Tanah Suci itu... bertarung dengan kekuatan fisik murni tanpa Qi, menggunakan tangan kanannya untuk meremukkan pedang, dan kebetulan memiliki tinggi serta perawakan yang sama persis denganmu, Tuan Mo."
Suasana di ruang batu itu seketika menjadi beku. Suhu udara turun drastis bukan karena sihir, melainkan murni dari Niat Membunuh yang memancar bocor dari pori-pori kulit Lin Tian.
"Kau berniat menjualku ke Tanah Suci?" Suara Lin Tian lebih dingin dari jurang es kuno. Tangan kirinya perlahan meraih Gagang Pemutus Langit di pinggangnya.
Tuan Hei dengan cepat mengangkat kedua tangannya. Keringat dingin menetes di lehernya. Ia sadar, meskipun ia adalah seorang Inti Emas setengah langkah, melawan monster fisik jarak dekat di ruangan sempit ini sama saja dengan bunuh diri.
"Tenanglah! Aku pengusaha, bukan orang bodoh yang mencari mati!" Tuan Hei terburu-buru menjelaskan. "Aku tidak memberitahu Sekte Pedang Surgawi tentang identitasmu! Jika aku menyerahkanmu, mereka mungkin menghancurkan asosiasiku setelah mereka mendapatkanmu, lagipula aku sudah meraup untung dari kemampuanmu."
Lin Tian menghentikan gerakan tangannya, namun auranya tidak mengendur sedikit pun. "Lalu apa solusimu? Jika jalur rahasiamu ditutup, aku akan membelah gerbang mereka dan menembus blokadenya sendiri."
"Itu tindakan bunuh diri bagi adik-adikmu, Tuan Mo—atau lebih tepatnya, Saudara Lin," kata Tuan Hei jujur. "Tetua Gui Ming adalah Inti Emas tingkat menengah. Dia tidak bertarung dengan formasi konyol seperti Tetua Feng Yang. Dia menggunakan racun roh dan kutukan jarak jauh. Adik-adikmu tidak akan bertahan satu detik pun dalam jangkauan pertarungan kalian."
Tuan Hei mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Lin Tian lekat-lekat. "Namun, ada satu jalan keluar. Sebuah celah dalam blokade mereka yang akan terbuka tepat dua hari lagi."
"Bicara."
"Dua hari lagi, Kapal Dagang Persekutuan Seratus Harta akan melintas di atas kota ini dalam perjalanan mereka menuju ibu kota Benua Tengah," jelas Tuan Hei matanya berbinar licik. "Persekutuan ini sangat kuat, bahkan Sekte Pedang Surgawi tidak berani sembarangan memeriksa kapal utama mereka karena ada perlindungan dari klan-klan bangsawan ibu kota."
"Aku punya koneksi dengan salah satu Penatua kapal tersebut," lanjut Tuan Hei. "Aku bisa menyelundupkan kalian bertiga masuk ke dalam kompartemen kargo khusus yang dilapisi Formasi Penghalang Jiwa tingkat tinggi. Cermin Pelacak Tetua Gui Ming tidak akan bisa mendeteksi kalian di dalam sana. Kapal itu akan membawa kalian terbang melintasi dan langsung masuk ke wilayah Benua Tengah yang sebenarnya."
Lin Tian mempertimbangkan tawaran itu dengan cepat. Mengandalkan kapal persekutuan netral raksasa memang cara paling aman untuk membawa Lin Xue yang rapuh dan Lin Chen.
"Apa harganya?" tanya Lin Tian, tahu persis bahwa orang seperti Tuan Hei tidak akan memberikan jalan ini secara gratis.
Tuan Hei menyeringai. "Sederhana. Aku ingin kau melakukan satu tugas terakhir untukku sebelum kau pergi. Sebuah tugas pembersihan, dan ini ada hubungannya dengan alasan mengapa Sekte Pedang Surgawi begitu bersemangat mencarimu di sekitar kota ini, selain untuk balas dendam."
"Jelaskan."
"Sekte Pedang Surgawi sebenarnya telah menanam seorang pengkhianat di dalam jajaran Paviliun Obat Racun lokal kita," Tuan Hei mengeluarkan sebuah gulungan bambu dan meletakkannya di meja. "Pengkhianat ini menyusup ke kota untuk memetakan jalur rahasia pasar gelap dan mencuri formula racun rahasia kami. Dia sekarang bersembunyi di sebuah menara kosong di luar kota, menunggu dijemput oleh pasukan Tetua Gui Ming."
Mata Tuan Hei berkilat dingin. "Aku tidak bisa mengirim orangku sendiri karena akan memicu perang terbuka antar faksi jika gagal. Tapi kau... kau adalah 'Mo', seorang petarung lepas yang misterius. Bunuh pengkhianat itu malam ini, hancurkan formula yang ia curi, dan esok harinya aku pastikan tiket kalian bertiga di kapal Persekutuan Seratus Harta aman."
Lin Tian menatap gulungan bambu itu, lalu menatap Kristal Tulang Naga di dalam kotak gaharu.
Dua hari. Waktu yang cukup untuk menyerap kristal tersebut dan menstabilkan Tulang Pedang Sejati-nya ke puncak tahap awal. Membunuh satu pengkhianat fana bagi Lin Tian bukanlah masalah besar, lagipula itu akan mengurangi satu anjing Tanah Suci di kota ini.
"Satu pembunuhan untuk tiket ke Benua Tengah," ucap Lin Tian. Ia berdiri dan mengambil kotak gaharu serta kantong pil di meja. "Kirimkan koordinat menara itu. Pengkhianat itu tidak akan melihat matahari terbit besok."
Saat Lin Tian berbalik menuju pintu, Tuan Hei memanggilnya pelan.
"Saudara Lin... berhati-hatilah. Pengkhianat itu bukan petarung biasa. Dia adalah ahli sihir ilusi dan jebakan mematikan. Dia tidak mengandalkan fisik."
Lin Tian tidak berhenti. "Di hadapan kekuatan absolut, semua ilusi hanyalah kaca yang menunggu untuk dipecahkan."