Lamaran Raditya di tolak oleh yuni calon ibu mertua nya karena tidak menyanggupi hantaran yang di minta. Yuni bahkan menghina Raditya dan mempengaruhi anak nya agar mencari laki laki yang kaya, karena anak nya Melinda adalah seorang sekretaris di perusahaan ibu nya. terpengaruh oleh ibu nya, Melinda sebagai kekasih Raditya akhir nya ikut merendah kan
karena emosional tiba tiba Raditya melamar seorang gadis yang bernama Dahlia, pembantu di rumah Melinda dengan cincin Berlian.
Namun siapa sangka, Raditya yang di kenal sebagai pegawai admistrasi di tempat Melinda bekerja, sebenar nya adalah anak sulung pewaris perusahaan itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
"Apa kata mu" ucap Tarno seperti salah dengar
"Baik lah aku akan memperjelas nya jika sekali lagi anda berani menyentuh kasar lagi gadis itu dan ibu nya, anda akan berurusan dengan ku. Sekali klik panggilan saja aku jamin polisi akan langsung menjemput anda. Sebab mereka adalah calon istri dan calon ibu mertua ku. Tolong bekerja sama lah, aku menghargai anda sebagai laki laki yang akan menikah kan kami"
seketika Tarno terpengarah, sungguh terkejut luar biasa. Bagaimana bisa seorang pemuda kaya bisa menjadi menantu nya? Tumpukan uang seperti sedang berada di depan nya. Tarno tak bergerak seolah bernafas pun dia takut. Dia takut pria di depan nya itu berubah pikiran
"Ma,, maaf kan aku" ucap Tarno
"Minta maaf lah pada mereka bukan aku"
Raditya menoleh pada Dahlia yang sedang membantu ibu nya berdiri
"Maaf kan aku Bu ne, Dahlia. Maaf kan bapak, bapak khilaf"
ada ar mata yang mengalir dari mata tua Tarno. Siapa pun pasti tahu itu adalah airmata dusta. Namun, Raditya hanya terus menatap laki laki itu dengan sinis. Ia hanya ingin tahu sejauh mana itu akan bertahan
"Kalau dahlia mau memaafkan mu, baru lah aku akan memaafkan mu, pak" ucap Marni masih terisak, menahan rasa sakit di sekujur tubuh nya
Dahlia hanya diam. Sama sekali dia tak mau menoleh. Raditya mengerti maksud gadis itu.
"Ayo kita keluar cari udara" ajak Raditya
"ibu juga ayo" lanjut Raditya menoleh pada Marni
wanita tua itu justru makin terisak untuk sejenak. Raditya membiarkan wanita itu meluapkan emosi nya. Pasti lah banyak hal yang terpendam yang sangat berat yang sudah di tanggung wanita itu selama ini. Raditya hanya terus menunggu Marni kembali tenang
"Ayo kita jalan jalan" lanjut Raditya
Marni menganguk haru, ada binar di mata Dahlia melihat Raditya memperlakukan ibu nya. Ia mengikuti Raditya dan ibu nya melangkah menyusuri halaman itu.
Tiba tiba muncul dari pintu kayu berpagar bambu, sosok yang tak asing
"loh, Abang di sini?"
Raditya terkejut luar biasa
"Daren,,?!"
Raditya melangkah cepat menghampiri adik nya
"kamu disini ngapain?"
"Nah, terus Abang ngapain itu?" tanya daren tak kalah bingung nya
Raditya pun kaget seperti melihat hantu. merupakan hal yang sangat mengejutkan melihat Daren ada di rumah itu. Ia tahu betul selera adik nya itu jauh lebih tinggi dari dia. Daren tak pernah hidup sulit sedangkan dia dulu pernah hidup kekurangan ketika menemani ayah nya merintis perusahaan
"Panjang cerita nya, nanti abang ceritakan. sekarang jawab pertanyaan Abang
Raditya tak sabaran
"Abang mencurigakan" Daren memicingkan mata nya
"Yang sopan sama Abang mu, sekarang katakan ngapain kamu ke sini?'
Suara Raditya meninggi. Ia selalu berhasil membuat adik nya itu menciut. Tak heran sebab Raditya sering memberikan Daren uang belanja secara diam diam. Itu di luar pengetahuan ayah dan ibu mereka
"Hmm,,, mau balikin gelang ini sama gadis itu bang" ucap daren pelan
Raditya meraih gelang dari tangan Daren dan memperhatikan gelang itu
"Bagaimana bisa?"
"Kemarin kan dia yang cuci mobil ku. jadi gelang nya jatuh" kata Daren enteng
Membelalak mata Raditya tak percaya. sekelebat memori saat sosok perempuan bermasker menyiram nya muncul seperti ia sedang menonton film. Raditya langsung menoleh ke belakang. Dahlia yang sadar posisi nya tak aman hanya cengengesan dan menelungkup kan tangan nya di depan dada.
"Sungkem" bisik nya hampir tak bersuara dengan mata nya yang menyipit
Melihat gadis itu tersenyum begitu. Raditya hanya bisa menahan rasa kesal nya. Bibir nya terpaksa ia sunggingkan ke arah Marni
"Perkenalkan, ini adik saya Bu, Daren nama nya"
Marni menganguk sembari menelungkup kan tangan, memberi hormat. sedang kan Daren hanya tersenyum masih menahan banyak Tanda tanya di dalam hati nya
"Ayo kita pergi bersama sama" ajak Raditya
"Ibu cari Tania dulu ya" ucap Marni mencoba keluar pintu lebih dulu
Sambil menunggu Marni, Radit mendekati Dahlia. Dua alis nya mengangkat bersamaan seperti memberi isyarat
"Ya maaf, habis nya kamu main samperin aja" ucap Dahlia cengengesan
"Kenapa pas video call gak cerita?"
"Ya maaf lagi"
Dahlia memonyongkan mulut nya karena kebingungan. Ia seperti berada di dua sisi. Satu sisi jurang, satu sisi laut. sama sama tak aman
"Tempo hari barang kami tertukar. Aku ngejar dia sampai di sini. Mobil ku jadi kotor, ya sudah dia harus bertanggung jawab" tutur Daren sambil menatap Dahlia
"Dia memang ceroboh, heran deh. Mata nya lagi cuti kali" seloroh Raditya agak kesal