NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalam Pengawasan

Pagi itu tidak terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Justru sebaliknya, tubuh Aurora terasa semakin berat. Luka di tangan dan lututnya masih terasa perih, dan kepalanya sedikit pusing karena kurang tidur. Namun ia tetap memaksakan diri datang ke kantor, seperti tidak ada pilihan lain.

Aurora baru saja duduk di kursinya ketika pintu ruang CEO terbuka. Refleks, tubuhnya langsung menegang.

Zayn keluar dengan langkah tenang seperti biasa. Rapi, dan dingin.

Namun kali ini, begitu matanya menangkap sosok Aurora, langkahnya melambat. Tatapannya berubah.

Zayn berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tatapannya tajam, rahangnya mengeras.

Aurora pura-pura fokus pada berkas di depannya, meskipun jantungnya kembali berdetak tidak karuan.

“Flora.”

Suara itu lagi.

Aurora menutup matanya sebentar sebelum akhirnya mendongak, “Iya, Pak…”

Zayn tidak langsung bicara. Matanya menelusuri wajah Aurora, lalu turun ke tangan yang terbalut perban.

“Apa kamu pikir ini normal?”

Aurora sedikit terkejut, “Maaf, Pak?”

“Kondisi kamu, dan kamu tetap masuk kerja” lanjut Zayn datar.

Aurora terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa, “Lho bukannya semalam dia nyuruh tetap berangkat ya? Kenapa sekarang seakan aku yang salah?” batinnya.

“Saya… masih bisa kerja, Pak” ucap Aurora.

Beberapa detik hening.

Zayn menghela napas pelan, lalu berbalik, “Masuk.”

Aurora mengernyit.

“Ke ruangan saya” ucap Zayn lagi.

Aurora benar-benar bingung sekarang, “P-Pak?”

Zayn berhenti, menoleh sedikit, “Atau kamu mau saya ulang dua kali?”

Aurora langsung berdiri, “Nggak, Pak.”

Aurora mengikuti Zayn dengan perasaan tidak tenang, “Duh kenapa nih? Mau dipecat kah?” batinnya.

Begitu masuk ke dalam ruangan itu, Aurora langsung merasakan suasana berbeda. Ruangannya luas, rapi, dan terasa tenang.

Namun Aurora tidak merasa tenang saat masuk ke ruang kerja Zayn. Perasaannya campur aduk antara takut dan khawatir.

Zayn berjalan ke arah mejanya. Sementara Aurora berhenti di dekat pintu, tidak tahu harus ke mana.

Mata Zayn kemudian menangkap sebuah sofa panjang di dekat pintu, lengkap dengan meja kecil di depannya. Biasanya digunakan untuk menerima tamu.

Zayn menoleh, “Duduk di situ.”

Aurora berkedip, “Sofa itu?”

Zayn tidak menjawab. Tatapannya cukup untuk menjadi jawaban.

Aurora akhirnya berjalan ke sana dan duduk dengan canggung.

“Kayaknya aku beneran mau dipecat deh” batin Aurora.

Beberapa detik kemudian, pintu diketuk dan seorang staf masuk membawa beberapa map tebal.

“Taruh di sana.”

Zayn menunjuk ke arah meja kecil di depan Aurora.

Aurora langsung menegang saat map-map itu diletakkan tepat di hadapannya.

“Apa alasan aku bakal dipecat karena aku salah ngerjain ya?” batin Aurora.

Zayn kembali duduk di kursinya, membuka laptop seolah semuanya normal, “Kerjain.”

Aurora membuka map pertama dengan ragu.

Namun sebelum ia mulai, suara Zayn kembali terdengar.

“Setengah.”

Aurora mengangkat kepalanya, “Pak?”

“Setengah setiap berkas.”

Aurora mengerutkan kening, “Maksudnya?”

“Kerjain setengah. Sisanya nanti.”

Aurora semakin tidak mengerti, tapi tetap mengangguk, “Iya, Pak…”

Ia mulai bekerja, “Agak aneh sih, tapi nggak papa, asal bukan dipecat aja” batinnya.

Beberapa menit pertama terasa aneh. Sangat aneh bagi Aurora.

Biasanya Aurora bekerja di mejanya sendiri, dengan jarak aman dari Zayn. Tapi sekarang ia bisa merasakan keberadaan pria itu hanya beberapa meter darinya.

Terlalu dekat bagi Aurora.

Aurora mencoba fokus, matanya menelusuri dokumen di tangannya. Tapi pikirannya terus melayang.

“Kenapa harus di sini? Kenapa cuma setengah ngerjainnya? Dan kenapa rasanya aku bukan cuma kerja, tapi aku sengaja buat diawasi?” batin Aurora.

Aurora mengangkat kepalanya tanpa sadar.

Dan benar saja. Tatapan Zayn langsung bertemu dengan matanya.

Aurora langsung menunduk cepat, jantungnya berdebar.

Beberapa detik hening.

“Fokus” ucap Zayn. Seperti biasanya suaranya terdengar dingin.

Aurora menggigit bibirnya pelan, “Iya, Pak…”

Waktu berjalan. Aurora menyelesaikan setengah berkas pertama, lalu membuka yang kedua.

Namun setiap beberapa menit, ia bisa merasakan hal yang sama.

Tatapan itu tidak selalu lama, dan juga tidak selalu jelas. Tapi cukup untuk membuatnya sadar Zayn memperhatikannya.

Bukan sebagai atasan. Tapi sebagai sesuatu yang lain.

“Aduh…” Aurora meringis pelan saat tangannya bergerak terlalu cepat. Luka di pergelangannya kembali terasa perih.

Gerakannya terhenti.

Dan dalam hitungan detik suara Zayn kembali terdengar, “Kamu kenapa?”

Aurora terkejut. Ia tidak sadar Zayn sudah berdiri di depannya, “Nggak apa-apa, Pak... cuma-”

Zayn meraih tangannya sebelum ia selesai bicara.

Aurora langsung diam.

Sentuhan itu terlalu dekat. Terlalu tiba-tiba.

Zayn menatap perban di tangannya, alisnya sedikit mengernyit, “Kamu bilang nggak apa-apa.”

Aurora menelan ludah, “Iya, tadi nggak terlalu sakit…”

Zayn tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan luka itu beberapa detik.

Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia melepaskan tangannya, “Kembali kerja.”

Aurora mengangguk cepat, “Iya, Pak…”

“Kamu harapin apa sih, Aurora? Dia bakal perhatian lagi? Nggak mungkin, kemarin itu paling cuma karena kasihan, atau ngerasa bersalah” batin Aurora.

Zayn kembali ke mejanya.

Suasana di ruang kerja Zayn terasa berbeda.

Aurora merasakan perubahan itu. Ia tidak bisa menjelaskan, tapi yang jelas ada sesuatu yang berubah.

Bukan lebih ringan. Justru lebih menekan.

Karena sekarang ia sadar. Semua ini bukan kebetulan.

Dan Zayn tidak sekadar menyuruhnya bekerja di ruangan ini. Ia sengaja.

Jam demi jam berlalu.

Aurora sudah menyelesaikan beberapa berkas semuanya setengah, seperti yang diperintahkan.

Namun rasa aneh itu tidak hilang.

“Pak…” Aurora akhirnya memberanikan diri bicara.

Zayn tidak langsung menoleh, “Apa?”

Aurora ragu sejenak, “Kenapa harus setengah?”

Beberapa detik hening.

Zayn akhirnya mengangkat kepalanya. Tatapannya langsung mengarah ke Aurora.

“Biar kamu nggak capek” jawab Zayn.

Aurora terdiam. Jawaban itu tidak ia duga akan keluar dari mulut atasannya itu. Dan justru itu yang membuatnya semakin bingung.

Aurora menunduk lagi, tidak tahu harus merespons apa.

“Flora.”

Aurora menutup matanya sebentar, “Iya, Pak…?”

“Jangan banyak tanya.”

Aurora menghela napas pelan, “Iya…”

Waktu terus berjalan sampai sore mulai datang.

Aurora akhirnya bersandar sedikit ke sofa, tubuhnya terasa lelah. Ia tidak sadar kapan terakhir kali ia bekerja dalam suasana seperti ini.

Terlalu dekat dan penuh tekanan yang tidak bisa Aurora jelaskan.

Di sisi lain, Zayn kembali menatapnya. Lebih lama dari sebelumnya.

Tatapannya tidak lagi sekadar mengawasi, seolah memastikan.

Seolah ia sedang memastikan bahwa Aurora masih di sana, masih aman, masih dalam jangkauannya.

Aurora membuka matanya perlahan. Dan sekali lagi, tatapan mereka bertemu.

Kali ini, tidak ada yang langsung mengalihkan pandangan.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Dan untuk pertama kalinya, Aurora merasakan sesuatu yang berbeda dari pria itu.

Bukan dingin, bukan marah. Tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya, karena ia tidak bisa mengartikannya.

Dan tanpa Aurora sadari, sejak ia masuk ke ruangan itu, ia bukan hanya sedang bekerja. Ia sedang berada tepat di tengah sesuatu yang tidak ia mengerti.

Sesuatu yang perlahan akan menariknya lebih dalam.

Dan kali ini, mungkin tidak akan ada jalan keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!