Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Waktu terus bergulir, dan badai yang sempat meluluhlantakkan ketenangan hidup mereka perlahan berganti dengan pelangi.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, Sulfi kembali bekerja bersama Yuana menjadi pengacara.
Meskipun kandungannya mulai memasuki tahap yang lebih terlihat, semangat Sulfi untuk menegakkan keadilan justru semakin membara.
Ia tidak lagi menjadi saksi yang gemetar di kursi pesakitan, melainkan berdiri tegak di samping Yuana, membela mereka yang tertindas oleh hukum.
Di kantor firma hukum mereka, tumpukan berkas perkara menjadi saksi bisu kembalinya duet maut ini. Yuana sering kali harus mengingatkan sahabatnya itu untuk tidak terlalu memaksakan diri.
"Ingat pesan dokter, Sulfi. Jangan sampai klienmu menang, tapi kamunya yang pingsan karena lupa makan," goda Yuana sambil meletakkan segelas susu hamil di meja kerja Sulfi.
Sulfi hanya tersenyum manis. "Tenang saja, Yuana. Si kecil di dalam sini justru seolah memberi energi tambahan setiap kali aku membaca berkas ketidakadilan."
Sementara itu, di markas kepolisian, suasana kembali produktif.
Zaidan kembali menangani kasus bersama Kompol Hendrawan.
Tanpa adanya gangguan dari Bima dan jaringannya, mereka kini fokus membersihkan sisa-sisa kelompok kriminal yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang.
Zaidan tampak lebih berwibawa dengan lencana di dadanya, namun tatapannya selalu melunak setiap kali ia melirik ponselnya yang menampilkan foto USG terakhir anak mereka.
Kompol Hendrawan sering kali menepuk bahu Zaidan saat mereka sedang melakukan gelar perkara.
"Zaidan, fokus. Penjahatnya ada di depan mata, bukan di dalam layar ponselmu," canda Kompol Hendrawan yang disambut tawa kecil oleh anggota tim lainnya.
"Siap, Komandan. Hanya memastikan motivasi saya tetap aman di rumah," balas Zaidan dengan tegas namun santai.
Kehidupan mereka kini telah kembali ke jalur yang semestinya.
Zaidan dan Kompol menjaga keamanan dari sisi hukum kepolisian, sementara Sulfi dan Yuana berjuang di meja hijau.
Di tengah kesibukan profesional itu, mereka tetap menjaga janji untuk selalu makan malam bersama, mensyukuri setiap detik perdamaian yang berhasil mereka rebut kembali dengan penuh perjuangan.
Malam itu, suasana di kediaman Yuana dan Kompol Hendrawan terasa sangat hangat.
Sebagai bentuk rasa syukur atas kembalinya ritme hidup mereka yang normal, mereka memutuskan untuk makan malam bersama di rumah Yuana.
Aroma masakan rumah yang lezat memenuhi ruangan, ditemani obrolan ringan tentang kasus-kasus yang mereka tangani di kantor.
Zaidan dan Sulfi duduk berdampingan, sementara Yuana sibuk menyajikan menu spesialnya. Namun, saat baru saja hendak menyantap hidangan utama, wajah Yuana tiba-tiba berubah pucat.
Ia meletakkan sendoknya dengan perlahan, tangannya memegangi ulu hati.
Yuana yang tiba-tiba merasakan perutnya tidak enak langsung menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Duh, kenapa ya? Tiba-tiba rasanya mual sekali melihat aroma daging ini," gumamnya dengan dahi sedikit berkeringat.
Sulfi yang sudah berpengalaman dengan sensasi itu selama berminggu-minggu, langsung menghentikan makannya
Ia menatap Yuana dengan pandangan penuh selidik namun berbinar senang.
"Jangan-jangan kamu hamil?" tanya Sulfi spontan.
"Gejalanya persis sekali dengan yang aku rasakan waktu kita beli bubur ayam dulu, Yuana!"
Kompol Hendrawan yang tadinya sedang tertawa bersama Zaidan seketika terdiam.
Wajahnya yang tegas mendadak menunjukkan rona panik sekaligus harap-harap cemas.
Tanpa membuang waktu, ia langsung merogoh saku celananya.
"Tunggu, jangan ditebak-tebak dulu. Biar ahlinya yang bicara," ujar Hendrawan.
Dengan sigap, Kompol menghubungi dokter pribadinya untuk meminta konsultasi singkat atau kunjungan darurat malam itu juga.
Zaidan menepuk bahu rekan seniornya itu, mencoba menenangkan.
Sementara itu, Sulfi berpindah duduk ke samping Yuana, mengusap punggung sahabatnya dengan lembut.
Ruang makan yang tadinya penuh dengan suara tawa, kini berubah menjadi suasana penuh antisipasi.
Jika benar Yuana hamil, maka kebahagiaan mereka akan menjadi berlipat ganda, menandai babak baru yang lebih indah bagi kedua keluarga kecil tersebut.
Suasana ruang tamu rumah Yuana mendadak hening dan penuh antisipasi saat dokter memeriksa keadaan Yuana di sofa panjang.
Kompol Hendrawan berdiri tak jauh dari sana, mondar-mandir dengan wajah tegang yang jarang terlihat saat ia sedang bertugas di lapangan.
Zaidan dan Sulfi ikut menunggu dengan napas tertahan di sudut ruangan, berharap kabar baik segera menyusul kebahagiaan mereka.
Dokter tersebut akhirnya meletakkan stetoskopnya, lalu beralih melihat alat tes cepat yang baru saja digunakan Yuana di kamar mandi.
Sebuah senyum tipis mulai mengukir wajah sang dokter saat ia menatap Kompol Hendrawan yang tampak kaku seperti sedang menunggu putusan sidang.
"Selamat, Kompol," ucap dokter itu dengan nada mantap sambil menjabat tangan Hendrawan.
"Istri Anda positif hamil. Usia kandungannya baru memasuki minggu kelima."
Seketika, ketegangan di ruangan itu pecah menjadi sorak kebahagiaan.
Kompol Hendrawan yang biasanya dikenal sebagai perwira yang dingin dan tegas, tampak terpaku sejenak sebelum akhirnya wajahnya memerah karena haru.
Ia segera menghampiri Yuana dan mengecup kening istrinya dengan sangat lama.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Dok," bisik Hendrawan dengan suara yang sedikit bergetar.
Sulfi langsung memeluk Yuana dengan erat, air mata kebahagiaan menggenang di sudut matanya.
"Ternyata tebakanku benar, Yuana! Kita akan berjuang bersama-sama sekarang sebagai sesama calon ibu."
Zaidan menepuk bahu Kompol Hendrawan dengan bangga.
"Selamat, Komandan. Sepertinya tugas kita ke depan bukan cuma menjaga keamanan kota, tapi juga menjaga dua 'aset' paling berharga di rumah kita masing-masing."
Yuana, meski masih merasa sedikit mual, tertawa kecil sambil mengusap air matanya.
Malam itu, di tengah kesederhanaan makan malam yang sempat tertunda, dua keluarga kecil ini merayakan keajaiban ganda.
Kejahatan Bima telah terkubur di balik jeruji besi, dan kini dua kehidupan baru sedang tumbuh, membawa harapan yang jauh lebih besar bagi masa depan mereka.
Melihat wajah istrinya yang masih pucat, naluri pelindung Kompol Hendrawan langsung bekerja penuh.
Dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan namun lembut, Kompol meminta agar istrinya untuk tetap istirahat di sofa yang nyaman dengan bantal yang menyangga punggungnya.
Ia kemudian menoleh ke arah tamu-tamunya yang sedari tadi ikut tegang.
Ia meminta Zaidan dan Sulfi makan duluan di meja makan.
"Jangan sampai kalian ikut lapar, kasihan Sulfi dan si kecil," ucap Hendrawan tegas namun ramah.
Zaidan mengangguk paham, menuntun Sulfi menuju ruang makan untuk melanjutkan makan malam mereka yang sempat tertunda, memberikan ruang privasi bagi pasangan baru tersebut.
Di ruang tengah, Hendrawan membawa piring berisi makanan yang telah dipotong kecil-kecil.
Dengan penuh ketelatenan, ia mengambil dan menyuapi Yuana sesendok demi sesendok.
Yuana merasa sedikit risih sekaligus haru diperlakukan seperti itu di depan sahabat-sahabatnya.
"Mas, aku bisa makan di ruang makan sendiri. Aku cuma mual sedikit, bukan sakit parah," protes Yuana pelan sambil mencoba meraih sendok dari tangan suaminya.
Hendrawan hanya menatap mata Yuana dengan pandangan tajam yang penuh kasih sayang, lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir istrinya.
"Ssshh.... Jangan nakal," bisiknya rendah namun berwibawa.
"Sekarang kamu punya dua nyawa yang harus dijaga. Biarkan Mas yang melayani kalian malam ini. Turuti saja perintah Komandanmu, ya?"
Yuana akhirnya menyerah dan tersenyum malu, menerima suapan demi suapan dari suaminya yang perkasa namun mendadak sangat manja itu.
Dari ruang makan, Sulfi dan Zaidan saling berpandangan dan tersenyum.
Mereka melihat pemandangan indah di mana dua pria yang biasanya berjibaku dengan kerasnya dunia kriminal, kini tunduk dengan penuh pengabdian di hadapan istri-istri mereka yang sedang membawa anugerah kehidupan.