NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — MALAM SAAT SEMUA ORANG DIBURU

Benturan berikutnya membuat pintu kamar hampir copot.

Kayu mulai retak.

Pegangan pintu berguncang keras.

Aku langsung menarik tangan wanita itu.

“Kalau mau ngomong soal masa lalu, lakukan sambil hidup!”

Tapi dia tetap diam di tempat.

Tatapannya justru mengarah ke pintu.

Tenang.

Terlalu tenang.

“Kenapa kamu tidak takut?”

Dia tersenyum kecil.

“Karena aku sudah hidup terlalu lama dengan monster.”

Kalimat itu membuat tengkukku dingin.

BRAK!

Pintu akhirnya terbuka setengah.

Suara langkah langsung terdengar dari luar.

Cepat.

Berat.

Lebih dari satu orang.

Sial.

Aku langsung mematikan senter.

Ruangan kembali gelap.

“Belakang.”

Bisikku cepat.

Aku menarik wanita itu menuju pintu darurat kecil di samping dapur mini hotel.

Untungnya kamar suite ini punya akses servis.

Suara langkah makin dekat.

“Cari mereka!”

Aku langsung membeku sesaat.

Suara itu—

aku mengenalnya.

Bukan orang asing.

Bukan.

Aku pernah mendengarnya sebelumnya.

Dan sebelum aku sempat mengingat—

suara tembakan pecah.

DUAK!

Kaca jendela kamar pecah berantakan.

Wanita itu langsung refleks menunduk.

Aku menariknya lebih cepat.

“GERAK!”

Kami masuk ke lorong servis sempit.

Gelap.

Pengap.

Bau debu.

Napas kami terdengar berat.

“Siapa mereka?!”

Aku menahan emosi.

Wanita itu berjalan cepat di depanku.

“Orang-orang yang bekerja untuk bayangan.”

“Aku capek sama jawaban aneh!”

Dia menoleh sekilas.

“Karena kalau kamu tahu nama mereka…”

Tatapannya gelap.

“…kamu tidak akan bisa tidur lagi.”

Sial.

Kami turun lewat tangga darurat.

Langkah kaki terdengar dari atas.

Mereka mengejar.

“Cepat!”

Aku hampir terpeleset di anak tangga basah.

Wanita itu langsung menarik tanganku.

Dan di detik itu—

suara Arkan terdengar dari bawah.

“ALENA!”

Aku langsung menoleh.

Arkan berdiri di lantai dasar.

Napasnya berat.

Dengan pistol di tangannya.

Dan untuk pertama kalinya—

aku benar-benar melihat sisi gelap pria itu.

Bukan CEO.

Bukan pria dingin yang suka memancing emosiku.

Tapi seseorang…

yang memang tumbuh di dunia berbahaya seperti ini.

Dia langsung naik beberapa anak tangga.

Menarikku ke belakang tubuhnya.

“Kamu terluka?”

Aku menggeleng cepat.

Tatapannya langsung pindah ke ibunya.

Dan ekspresinya berubah.

“Kamu…”

Suaranya rendah.

“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”

Ibunya menatapnya lama.

Tatapan yang aneh.

Seperti sedih.

Tapi juga lega.

“Aku mencoba menyelamatkanmu.”

DUAK!

Tembakan lain pecah dari atas tangga.

Arkan langsung menarik kami menepi.

Peluru menghantam dinding.

“Turun sekarang!”

Kami bergerak cepat ke basement hotel.

Suasana kacau.

Alarm mulai berbunyi.

Orang-orang berteriak di atas.

Leon tiba-tiba muncul dari balik mobil hitam.

“Akhirnya!”

Dia langsung membuka pintu mobil.

“Kita harus pergi!”

Aku masuk cepat.

Ibunya Arkan duduk di sebelahku.

Arkan masuk terakhir.

Mobil langsung melesat keluar basement.

Sunyi.

Hanya suara napas kami.

Dan hujan yang mulai turun lagi.

Aku masih mencoba mencerna semuanya.

“Apa maksudnya bayangan?”

Aku akhirnya bicara.

Ibunya Arkan menatap keluar jendela.

“Organisasi lama.”

“Organisasi apa?”

“Yang membangun semua kekuasaan ini.”

Leon langsung menoleh dari kursi depan.

“Maksud Anda…”

Dia terlihat ragu mengucapkannya.

“…The Circle?”

Aku langsung mengernyit.

“The Circle?”

Dan saat nama itu disebut—

wajah ibunya Arkan langsung berubah.

Berarti itu benar.

“Ayahmu…”

Dia menatapku.

“…dan ayah Arkan dulu bagian dari mereka.”

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Tidak.

Tidak mungkin.

“Ayahku bukan kriminal.”

Kataku dingin.

“Dia bukan.”

Jawab wanita itu cepat.

“Awalnya mereka semua berpikir mereka sedang membangun sesuatu yang besar.”

“Tapi?”

Tatapannya menjadi kosong.

“Orang-orang serakah selalu berubah jadi monster.”

Sunyi.

Aku menatap Arkan.

Dia diam.

Tapi aku tahu—

dia juga baru mendengar semua ini.

“Ayahku tahu?”

Ibunya tersenyum pahit.

“Suamiku tahu terlalu banyak.”

Dan itulah kenapa dia mati.

Kalimat itu tidak perlu diucapkan.

Kami semua memahaminya.

Mobil terus melaju membelah hujan malam.

Tapi perasaanku justru semakin buruk.

Karena sekarang masalahnya jauh lebih besar.

Ini bukan lagi soal keluarga.

Bukan cuma dendam.

Kami sedang menyentuh sesuatu yang selama ini disembunyikan rapat.

Sesuatu yang cukup besar sampai orang-orang dibunuh untuk melindunginya.

Ponsel Leon tiba-tiba berbunyi.

Dia langsung melihat layar.

Dan wajahnya berubah pucat.

“Tidak…”

“Apa?” tanya Arkan cepat.

Leon menatap kami lewat kaca depan.

“Rumah utama keluarga Wijaya…”

Napasnya tertahan.

“…terbakar.”

Sunyi.

Aku langsung menoleh ke Arkan.

Wajahnya membeku.

“Itu jebakan.”

Bisikku pelan.

Karena semuanya terjadi terlalu cepat.

Terlalu teratur.

Seseorang sedang menghapus semua jejak.

Dan malam ini—

mereka bergerak besar-besaran.

“Kita ke sana.”

Arkan langsung berkata tegas.

Ibunya langsung menggeleng keras.

“Tidak!”

Semua langsung menoleh padanya.

“Itu yang mereka mau.”

“Ayahku masih di sana.”

Wanita itu langsung diam.

Dan di situlah aku sadar sesuatu.

Ayah Arkan…

mungkin belum mati.

Dadaku langsung terasa dingin.

“Arkan…”

Aku menatapnya pelan.

“Kamu bilang ayahmu meninggal karena sakit.”

Tatapannya tetap lurus ke depan.

“Itu yang diberitahu ke publik.”

“Dan kamu percaya begitu saja?”

Dia tertawa kecil.

Pahit.

“Di keluarga kami…”

Tatapannya kosong sekarang.

“…kebenaran selalu dikubur lebih cepat daripada mayat.”

Kalimat itu membuat mobil kembali sunyi.

Hujan di luar semakin deras.

Dan di tengah suara hujan itu—

aku mulai sadar satu hal yang mengerikan.

Mungkin selama ini…

kami bahkan belum mengenal musuh kami yang sebenarnya.

Karena orang-orang yang mengejar kami malam ini—

bukan sekadar pembunuh bayaran.

Mereka terorganisir.

Terlatih.

Dan sangat ingin memastikan…

masa lalu tetap mati.

Mobil melaju semakin cepat.

Menuju rumah keluarga Wijaya yang sekarang terbakar.

Dan entah kenapa—

perasaanku mengatakan sesuatu yang jauh lebih buruk sedang menunggu kami di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!