Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 GEDUNG TUA UNTUK DI TINGGALI
Anita Tumbler tiba di sebuah bangunan tua bergaya Art Deco nan megah.
Bangunan berupa gedung megah berwarna toska berdiri kokoh di hadapan Anita saat ini, disampingnya seekor Tarsius putih hinggap di bahu Anita Tumbler.
"Kau akan masuk ke dalam, Anita ?"
"Ya, tentu saja aku akan masuk menemui pemiliknya..."
"Tidakkah kau takut jika pemiliknya adalah hantu, Anita ?"
"Untuk apa aku takut pada hantu, aku tidak pernah takut pada apapun sekalipun itu sosok iblis, jin, setan dan sejenisnya."
"Tapi bangunan itu sangat menakutkan bahkan lebih menyeramkan daripada kastil drakula, kau tidak takut jika ada sosok penghisap darah tinggal di bangunan itu, Anita."
"Sudah aku katakan padamu bahwa aku tidak takut pada apapun juga sekalipun itu sosok penghisap darah..."
"Kau serius, Anita ?"
"Yah, aku serius sekali, dan kita masuk sekarang."
Anita melajukan langkah kakinya ke arah depan pintu bangunan bercat toska di depannya, dengan wajah serius serta sikap tegas, dia mengetuk pintu sebanyak tiga kali hitungan pelan.
"Tuk... ! Tuk... ! Tuk... !"
Sejenak dia berdiam diri sembari menunggu pintu terbuka oleh penghuninya.
Anita berdiri diam sembari menghadap lurus ke arah pintu di hadapannya.
Menunggu dengan sabar, pintu dibuka dari dalam gedung megah itu namun masih belum ada tanda sekalipun seseorang akan membukakannya.
"Sudah semenit berlalu tapi belum ada tanda seseorang akan membuka pintu ini."
"Coba kau buka pintunya, Anita !"
"Baiklah, aku akan mencobanya sesuai permintaanmu, Tarsius Wilson."
Anita memutar pegangan pintu gedung bercat toska di hadapannya ternyata pintu tidak terkunci dari dalam.
Sesaat Anita tertegun diam sembari menatap serius lalu membuka pintu itu dengan penuh keberanian besar.
"Krieeet... !"
Pintu terdorong lebar, tampak ruangan besar nan sunyi terhampar di hadapan Anita Tumbler.
Anita melangkah masuk perlahan-lahan ke dalam ruangan di gedung megah ini.
"Permisi, ada orang di sini !"
Ucap Anita seraya masuk ke ruangan gedung megah yang seluruh ruangannya bercat toska.
Terdengar gema pantulan suara Anita saat dia memasuki ruangan gedung megah ini.
"Ada orang di dalam sini ?"
Panggil Anita sekali lagi ketika dia melangkah masuk.
"Permisi... !"
Anita mengulangi ucapannya dan kembali terdengar suara gema darinya.
"Rupanya tidak ada orang disini sama sekali..."
Anita berjalan memasuki ruangan gedung luas ini seraya mengedarkan pandangannya.
"Tap... ! Tap... ! Tap... !"
Anita melangkah perlahan ke dalam ruangan luas ini dengan langkah hati-hati lalu mendekati sebuah meja panjang di tengah-tengah ruangan ini.
"Sepertinya gedung ini memang tidak ada penghuninya, kita akan berteduh disini sampai esok hari..."
"Kau yakin akan tinggal disini, Anita ?"
"Ya, untuk sementara waktu saja, kita akan berada di gedung ini, mungkin kita menemukan sesuatu disini."
"Baiklah, terserah padamu saja, mana baiknya, Anita."
"Kita akan mencari kamar buat beristirahat, mungkin kita bisa menemukan kamar kosong buat kita tinggali."
"Aku akan mengikutimu, Anita..."
"Gedung megah ini ada tiga lantai, kita akan leluasa memakai setiap ruangan di gedung ini, tapi kita hanya butuh satu kamar saja buat kita menginap sementara waktu, Tarsius Wilson."
"Ya, baiklah, kita cari kamar kosong untuk kita."
Anita mengangguk pelan seraya melangkahkan kakinya mendekati tangga naik.
Tampak sebuah tangga melingkar ke atas menuju lantai atas.
"Apa kita perlu naik tangga itu, Tarsius Wilson ?"
"Kau kan manusia abadi, kau bisa berbuat apa saja untukmu, Anita."
"Tapi aku tidak bisa terbang naik, Tarsius..."
"Kalau begitu naik saya lewat tangga itu, Anita."
"Baiklah, kita naik ke atas dan mencari kamar kosong buat kita, Tarsius Wilson."
Anita menaiki tangga yang melingkar tinggi menuju lantai atas, dia melangkah satu persatu melewati anak-anak tangga sembari berpegangan di pagar tangga naik.
Terlihat Tarsius Wilson mengikuti Anita sembari merangkak melewati pegangan tangga menuju lantai atas.
"Blang... ! Blang... ! Blang... !"
Anita naik satu demi persatu melewati tangga ke lantai atas.
"Masih tidak ada orang di gedung ini, Tarsius, sepertinya gedung ini memang kosong dan tak berpenghuni."
"Sepertinya demikian, Anita..."
"Sebentar lagi kita sampai ke lantai atas, Tarsius."
Anita mencapai lantai atas, dia melangkahkan kakinya menelusuri jalan yang ada di ruangan ini.
"Ada banyak kamar di lantai atas ini, akhirnya aku bisa melepas lelah untuk sementara waktu..."
Anita berjalan menuju satu kamar di dekat tangga naik lalu membukanya.
"BLAM... !"
Terdapat sebuah ruangan luas tepat di hadapan Anita Tumbler.
Aroma di ruangan itu sangat unik seperti ada bau sinar matahari menyengat lama serta membekas hangat.
Anita tersenyum puas lalu melajukan langkah kakinya masuk ke dalam ruangan kamar di hadapannya.
"Kamar yang luas tapi sayangnya tidak terawat, aku akan memilih kamar ini untuk berbaring sementara waktu..."
Anita melangkahkan kakinya ke arah sofa tua berbentuk segi panjang kemudian merebahkan tubuhnya diatas sofa.
"Lumayan, rasanya sofa ini sangat nyaman sekali, aku suka berbaring disini."
"Kita beruntung mendapatkan tempat berteduh walaupun gedung ini cukup tua dan tak terawat."
"Bukan masalah bagi kita, terpenting kita bisa beristirahat dengan nyaman, jika kau suka, kau bisa memilih kamar lainnya, Tarsius Wilson."
"Baiklah, aku akan tinggal di kamar sebelah, mungkin saja ada ruangan lainnya untuk aku beristirahat disana."
"Selamat beristirahat, Tarsius..."
"Selamat malam, Anita !"
Tarsius Wilson yang seekor Tarsius berwarna putih melompat cepat keluar kamar dimana Anita Tumbler tinggal di kamar ini.
Anita hanya tersenyum simpul memandang ke arah Tarsius Wilson pergi dan melanjutkan waktu istirahatnya.
"Fuih, hari yang melelahkan sekali..., kapan waktu panjang ini akan segera berlalu."
Anita menghela nafas panjang seraya mencoba memejamkan kedua matanya pelan-pelan.
Sedetik kemudian Anita terlelap tidur di atas sofa panjang ini.
Terdengar dengkurannya halus saat Anita terpejam nyenyak, terlihat sekali jika dia sangat kelelahan setelah berjalan lama dari kota tinggalnya yang hancur porak poranda ke kota asing ini.
Di ruangan lainnya, seekor Tarsius melompat tinggi ke langit-langit atas kamar kosong lalu menggelantungkan tubuhnya ke arah bawah.
Tarsius adalah hewan primata dengan mata besar dan tubuhnya sangat kecil, bahkan matanya lebih besar dari otaknya.
Primata mirip lemur ini memiliki penciuman yang kuat serta berkemampuan berburu hebat, dia juga mempunyai racun tertentu dari kalenjar yang terdapat di lengannya.
Seekor Tarsius memiliki kelebihan melompat tinggi dan sangat aktif di malam hari.
Tarsius Wilson merangkak turun seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung yang ada di depannya.
"Aku butuh selimut tebal karena cuaca hari ini sangat dingin, bisa-bisa aku mati membeku oleh udara ekstrem."
Tarsius Wilson meletakkan selimut besar dari dalam kantung depannya ke arah lantai kamar ini.
"Oh, ya, aku hampir melupakan Anita Tumbler, dia pasti butuh selimut tebal untuknya..."
Tarsius Wilson melompat cepat ke arah luar kamar menuju kamar Anita berada saat ini.
Tak butuh waktu lama bagi Tarsius Wilson yang seekor primata langka dengan kemampuan melompatnya yang tinggi, dia telah sampai di kamar Anita Tumbler.
Tampak Anita telah berbaring terlelap nyenyak di atas sofa panjang,.
Tarsius merangkak perlahan-lahan mendekati sofa panjang di dekat dinding kamar, dengan gerakan secepat kilat, Tarsius Wilson menyelimuti tubuh Anita Tumbler dengan selimut tebal yang berasal dari kantung depan miliknya kemudian hewan primata kecil itu melompat pergi kembali ke kamarnya di sebelah.