Seorang Kaisar Abadi yang sedang melewati rangkaian Ujian Langit, mengalami kegagalan karena diserang oleh Pasukan Berjubah. Dirinya yang mengalami luka cukup parah sebab gagal melewati Ujian Langit, serta merasa geram terhadap Pasukan Berjubah. Menggunakan sebuah Teknik Terlarang untuk melawan Pasukan Berjubah hingga menyebabkan tubuh dan jiwanya hancur.
Lima Ribu Tahun kemudian, Ia terlahir kembali sebagai seorang Tuan Muda dari Klan Xiao. Namun sayangnya, Ia terlahir dengan kondisi lautan energi yang tersegel sehingga membuat dirinya tidak bisa berkultivasi.
Tetapi, kondisi yang kurang baik tersebut tidak membuat dirinya menyerah. Ia akan berusaha keras untuk mendapatkan kembali seluruh kekuatannya seperti di masa lalu, demi membalaskan dendamnya serta melindungi orang yang ia cintai!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnginBiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 25 - Kembali ke Gua Ungu
Sebagai salah satu Teknik Bertarung dengan Tingkat Emas Tahap Tinggi, Jejak Bayangan Phoenix sangat membebani kondisi fisik Xiao Yun. Setelah menyimpan kembali pedangnya, tubuh Xiao Yun segera terduduk lemas di atas mayat Harimau Api Miasma. Napasnya terdengar berat dan tidak beraturan, jemarinya yang lemas terlihat berusaha melepas kedua alas kakinya. Kerutan halus pun seketika muncul di antara alisnya, ketika melihat pergelangan kakinya yang dipenuhi oleh aliran darah segar dari beberapa goresan luka.
Suara desis yang keluar dari rongga mulutnya menjadi ungkapan tersirat dari rasa sakitnya. Penggunaan berlebihan Teknik Jejak Bayangan Phoenix sungguh memberikan dampak serius terhadap kondisi fisiknya. "Kau mungkin tidak bisa berjalan dengan kondisi luka seburuk itu, Yun." ujar Yan
Xiao Yun segera menghela napas panjang. Sebelum memutuskan untuk menggunakan Jejak Bayangan Phoenix, dirinya sudah menduga bahwa akan ada dampak buruk yang diterima oleh tubuhnya. Kekuatan fisiknya yang masih berada di tahap Pemurnian Energi Lapisan Ketujuh jelas tidak sesuai dengan Teknik Emas tahap Tinggi tersebut. "Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku berguling hingga sampai ke Gua Ungu?" Xiao Yun mencoba mengolok-olok Yan
"Jika kau berani melakukan hal bodoh itu. Maka aku akan membakar semua mayat Harimau Api Miasma beserta dirimu." Yan berbicara dengan penuh ketenangan, namun kata-kata yang diucapkannya terasa sangat tajam dan mengandung sarkasme
"Baiklah. Aku tidak akan melakukannya." ucap Xiao Yun sembari mengangkat kedua tangannya sebagai bentuk menyerah tunduk kepada perkataan mutlak Yan. Akan tetapi, senyum lebar di wajahnya menjadi ungkapan kebahagiaan lainnya setelah berhasil memancing sedikit amarah Yan. Rasa sakit yang dirasakannya perlahan teralihkan oleh gema tawanya. Walaupun dirinya sempat dihadapkan pada situasi antara hidup atau mati, namun sekarang hatinya merasa sangat senang dan bersyukur karena dapat kembali bernapas dengan nyaman. Di tengah suasana yang sudah mulai tenang, telinga Xiao Yun mendadak mendengar suara derap langkah dari bagian dalam Hutan Spirit Beast.
"Suara ini.." Xiao Yun bergumam ketika derap langkah tersebut kian mendekat menuju tempatnya berada. Tak lama kemudian, seekor Serigala berbulu putih menampakkan dirinya dari balik pepohonan besar. Senyum kecil langsung merekah di sudut bibir Xiao Yun, saat mengetahui bahwa suara derap langkah tadi berasal dari Xiao Zi. Dengan tatapan mata yang lembut, langkah kaki Xiao Zi segera menghampiri tubuh Tuannya yang masih terduduk di atas salah satu mayat Harimau Api Miasma. "Bagaimana bisa kau sampai ke tempat ini, kawan kecil? Apa kau merasakan kondisi burukku?" ucap Xiao Yun sembari mengelus-elus leher serta kepala Xiao Zi
Kata-kata yang diucapkan oleh Xiao Yun sekilas terdengar seperti percakapan basa-basi antara seorang Tuan dengan hewan peliharaannya. Namun sebenarnya, kalimat tersebut memuat fakta unik dari Kontrak Darah yang Xiao Yun lakukan tempo hari. Kontrak Darah bukan hanya tentang ikatan perjanjian mutlak untuk mengubah Spirit Beast menjadi hewan peliharaan. Kontrak Darah dapat menciptakan hubungan batin yang sangat dalam di antara kedua belah pihak, hingga insting mereka bisa merasakan kondisi apapun saat sedang tidak bersama. Seperti halnya Xiao Zi yang mampu merasakan kondisi Xiao Yun. "Karena Xiao Zi sudah datang. Ini waktunya kita kembali ke Gua Ungu." ujar Yan
"Tunggu sebentar, Yan. Masih ada satu hal yang harus kulakukan." Dengan langkah yang tertatih-tatih, Xiao Yun mengeluarkan sebuah pisau kecil dari cincin ruangnya. Lalu, menghampiri dan mengambil setiap bagian berharga dari tubuh mayat ketiga Harimau Api Miasma. Hasrat duniawi Xiao Yun tampaknya masih sangat bersemangat. Di sisi lain, dengus napas berat sontak terdengar dari Yan saat melihat tingkah laku Xiao Yun yang masih bergerak lincah meski sedang terluka. "Sebaiknya kau segera mengurangi sikap tamakmu itu, Yun." sindirnya
"Ini bukanlah tamak. Ini adalah cara para manusia mensyukuri kekayaan alam yang sudah disediakan untuk kelangsungan hidup mereka." seru Xiao Yun
"Omong kosong! Aku tidak akan tertipu oleh perkataanmu!" tawa Xiao Yun kembali menggema. Kebahagiaan pada hatinya membuat aliran darah di pergelangan kakinya itu hanya terlihat seperti percikan darah belaka. Xiao Yun tidak menunjukkan ekspresi yang begitu dalam terhadap lukanya tersebut. Beberapa saat kemudian, langkah kakinya perlahan menghampiri Yan serta Xiao Zi yang masih setia menunggu. "Kau sudah selesai?" tanya Yan
"Iya. Kita kembali sekarang." Xiao Yun langsung menaiki punggung Xiao Zi yang sedang berada di kondisi duduk. Setelah itu, Xiao Zi segera membangkitkan seluruh bagian tubuhnya menggunakan otot-otot kakinya. Lalu membawa tubuh Xiao Yun yang tak mampu berjalan menuju tempat mereka beristirahat, yakni Gua Ungu. Waktu tempuh perjalanan pulang yang semestinya berlangsung cukup lama, berhasil dipersingkat berkat kecepatan langkah lari Xiao Zi. Setiap gerakan yang penuh kestabilan, membuat tubuh Xiao Yun dapat beristirahat sejenak dengan tenang seraya menikmati kencangnya embusan angin.
_______
"Haah.. Aku sangat beruntung karena dampak Jejak Bayangan Phoenix tidak merobek otot kakiku."
Sebelum kembali pulang ke Gua Ungu, Xiao Yun harus membersihkan terlebih dahulu beberapa luka dan darah pada kakinya. Dengan bantuan aliran deras air sungai yang terletak di dekat Gua Ungu. Rintihan kesakitan sesekali terlepas dari mulutnya saat proses pembersihan luka. Setelah bagian kedua pergelangan kakinya telah bersih dari darah segar, Xiao Yun langsung menutup seluruh bagian lukanya menggunakan kain kasa. "Kakimu akan membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih sepenuhnya, Yun."
"Kau benar." Bahu Xiao Yun seketika merosot jatuh. Ada rasa kecewa dan pasrah terhadap keadaan yang sangat jelas di lubuk hatinya. "Paman Yuran pernah berkata, bahwa ada harga yang harus dibayar ketika kau pergi ke Hutan Spirit Beast. Dan aku rasa, luka ini menjadi salah satu harga tersebut."
Selama beberapa saat, Xiao Yun membiarkan pikirannya terbawa oleh arus sungai di hadapannya bersama dengan segala hal yang telah terjadi pada dirinya. Balutan kain kasa berwarna putih yang menutupi seluruh lukanya, menjadi tanda peringatan tegas terhadap dirinya agar tidak meremehkan setiap hal di Hutan Spirit Beast. Kemudian, Xiao Yun segera mengedipkan matanya beberapa kali sebagai bentuk usaha untuk menarik kembali pikirannya ke dunia nyata. "Ayo pulang." ucapnya sambil bangkit dari sebuah batu besar tempatnya duduk
Bayangan matahari yang telah berada di titik terendah, menemani kepulangan Xiao Yun menuju Gua Ungu dengan menaiki punggung Xiao Zi. Embusan angin yang mulai menusuk dingin wajahnya membuat kedua mata Xiao Yun sesekali terpejam lembut. Kondisi tubuhnya sudah mencapai puncak kelelahan. Tenangnya langkah kaki Xiao Zi pun akhirnya berhasil membawa Xiao Yun kembali ke Gua Ungu dan langsung merendahkan tubuhnya supaya Xiao Yun dapat turun dari punggungnya dengan aman. Setelah sampai di Gua Ungu tanpa ada hambatan yang mengganggunya selama perjalanan. Xiao Yun segera mengistirahatkan tubuhnya di antara kehangatan kasur lipat yang datang dari cincin ruangnya serta keindahan cahaya Kristal Ungu Abadi.
"Ini adalah hari yang sangat panjang dan melelahkan." gumamnya
_______
Keesokan paginya..
Selepas beristirahat penuh dalam kesunyian malam di Hutan Spirit Beast. Kini Xiao Yun, sedang membuat sebuah ramuan obat menggunakan Tungku Teratai Langit untuk mempercepat penyembuhan lukanya. Dengan posisi duduk bersila, gerak tangan Xiao Yun terlihat lihai menggabungkan beberapa tanaman obat di atas kobaran api besar. Hingga perlahan membentuk gumpalan cairan kental berwarna cokelat. Selama beberapa hari ke depan, Xiao Yun akan menjalani kesehariannya dengan tetap berada di Gua Ungu. Kondisi kakinya yang masih belum mampu bergerak maksimal, memaksa dirinya mengambil pilihan untuk fokus meningkatkan kultivasinya.
Jumlah Kristal Ungu Abadi yang begitu melimpah di sekitarnya membuat Xiao Yun tidak perlu berusaha keras untuk mencari dukungan luar terhadap peningkatan kultivasinya. Kehidupan sehari-hari Xiao Yun berjalan dengan tenang, tak ada kehadiran lain yang datang mengganggunya di Gua Ungu. Suara ayunan pedang yang membelah kekosongan udara juga sesekali terdengar menggema di tempat tersebut. Meski kondisi kakinya belum pulih, kedua tangan Xiao Yun tetap mengasah kemampuan pedangnya dengan gerakan sama berulang-ulang.
Dan setelah menjalani pelatihan tertutup selama tujuh hari lamanya, saat ini kultivasi Xiao Yun telah mencapai tingkat Pemurnian Energi Lapisan Kesembilan. Perkembangannya yang cukup pesat itu mungkin akan mengejutkan seluruh anggota Klan Xiao ketika dirinya kembali nanti. Proses penyembuhan pada pergelangan kakinya juga berjalan dengan lancar. Berkat bantuan ramuan obat buatannya, sekarang Xiao Yun dapat kembali bergerak bebas seperti sedia kala. Namun kali ini, ia ingin membatasi sedikit setiap tindakannya di Hutan Spirit Beast.
Tujuan utamanya untuk meningkatkan kemampuan bertarung dengan melawan beberapa Spirit Beast tetap dilakukannya. Tetapi ia, tidak membunuh Spirit Beast yang menjadi lawan latih bertarungnya. Ketika hatinya sudah merasa cukup dan puas, Xiao Yun segera bergegas pergi dari hadapan lawan-lawannya dan kembali pulang ke Gua Ungu. Karena daya tarik Hutan Spirit Beast yang sangat luar biasa, Xiao Yun mendapatkan kesempatan bertemu dengan para murid Perguruan atau Sekte kuat dari penjuru Negara Yun. Setiap kali dirinya merasakan fluktuasi energi dari murid-murid tersebut, Xiao Yun akan langsung bersembunyi dibalik rindangnya pepohonan.
Menahan napasnya sejenak serta aura keberadaannya sembari mengamati gerak-gerik mereka. Ia tidak ingin kehadirannya di ketahui oleh mereka agar terhindar dari segala kemungkinan yang tidak diharapkannya. "Sepertinya sekarang kau sudah bisa berpikir dengan baik, Yun. Tidak melakukan tindakan ceroboh lagi dan bisa memahami perubahan situasi di sekitarmu."
Xiao Yun seketika mendengus pelan. Wajahnya menjadi masam saat mendengar ucapan Yan. "Apa kau baru saja memujiku? Atau menghinaku?" sorot mata Xiao Yun terlihat sangat tajam
"Yah.. Mari kita lupakan pertanyaanmu itu sebentar. Sebab ada hal penting yang ingin kutanyakan kepadamu." Sikap buruk Yan yang sangat mudah mengalihkan topik pembicaraan, semakin memantik api amarah Xiao Yun. Kedua tangannya tampak terkepal kuat, pikirannya sudah berbisik untuk segera mencengkram tubuh Yan lalu melemparnya sejauh mungkin. Namun Xiao Yun memilih untuk tidak melakukannya, karena saat ini ia sedang berkonsentrasi menyerap Kristal Ungu Abadi di Gua Ungu. "Kalau begitu, katakanlah. Hal penting apa yang ingin kau tanyakan?" desaknya dengan tatapan mata yang sinis