NovelToon NovelToon
Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menanggung Pilihan

Tidak ingin meratapi kesakitan, Anjani tetap pergi bekerja.

Sekarang sudah jam 01.30 siang, artinya dia berada di toko roti Smile Bread milik Nam Jisu, jam kedua kerja paruh waktunya.

Keadaan sepi setelah satu jam lalu diserbu pembeli bertepatan waktu istirahat kalangan pekerja kantor dan anak sekolah.

Saat ini Anjani dan Jisu duduk mengisi paket kursi dan meja tempat pelanggan, dua cangkir kopi terhidang di masing-masing hadapan.

"Jika kau tidak mau cerita, setidaknya jangan membuatku cemas dengan bekerja membawa wajah yang seperti itu!" Jisu menegur.

Berbeda dengan Nyonya Ju yang terkecoh dengan kelakuan sok sibuk Anjani dan maskernya dengan alasan sedang terkena flu, sebagai sahabat baik, Jisu tidak mudah dikelabui. Sehelai masker dan rambut digerai acak sampai separuh menutup wajah, jelas itu bukan gaya Anjani.

Anjani menatap sahabatnya itu dengan perasaan bersalah, tapi sangat sulit baginya untuk terbuka, terlalu sesak bahkan untuk sekedar cerita.

“Anjani! Ceritalah! Bagi bebanmu denganku! Jika masalah dengan Woojun, aku yakin bukan, kalian tidak pernah bertengkar dan selalu baik-baik saja, tidak ada alasan untuk saling memaki sampai membuatmu kacau begini. Apa karena utang-utang kalian?! Bank menagih dengan cara kasar?! Atau kau diusir dari rumah itu karena biaya sewa?!”

Kata-kata Jisu rasanya mengentakーbagian Ahn Woojun. Seperti itu saja, hanya mendengar namanya saja, sudah membuat perasaan Anjani diremasremas.

 Selaksa bayangan tentang pria itu kembali memenuhi kepala lalu membentuk remangan di bola mata.

"Jisu benar ... selama ini kami selalu baik-baik saja. Bahkan di saat-saat sulit karena musibah dan jeratan utang, kami selalu saling berpeluk, berbagi dukungan dan saling menguatkan satu sama lain.”

Pantas Jisu atau yang lain tidak bisa menerka sampai ke sana.

Tapi entah, entah sejak kapan semua berubah. Entah sejak kapan dirinya jadi terlalu membosankan di mata Woojun sampai pria itu memutuskan berselingkuh.

Yang tidak akan menyangka bukan hanya orang lain, tapi diri Anjani sendiri.

Memaut napas dalam-dalam untuk setidaknya mengisi udara ke kerongkongan.

Tapi tetap saja sesaknya tak mau hilang.

“Anja!” Nam Jisu jadi semakin yakin jika sesuatu yang lebih buruk dibanding apa yang ada dalam kepalanya, terjadi pada Anjani. Perubahan di wajahnya lekas, dari kesal menjadi cemas.

“Aku tak tahan, Jisu. Dadaku sakit." Akhirnya pecah tangisan, Anjani memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangan, terbunuh kelemahannya sendiri.

Bergegas Nam Jisu pindah ke samping sahabatnya itu, lalu meraihnya dalam dekapan. “Maafkan aku. Aku tidak akan memaksa lagi. Kau bisa ceritakan nanti, atau tidak usah jika itu memberatkanmu.”

"Jisu! Ahn Woojun ... dan aku ..." Napas Anjani terus bertambah berat. “Woojun dan aku ... kami akan bercerai."

Impulsif Nam Jisu melepas pelukannya atas Anjani, menatap lebar wajah yang kacau itu. “Apa katamu? Anjani bisa kau ulangi kata-katamu?!”

Anjani terisak, terbenam lara, lagi-lagi sulit bicara.

“Anja, kau bercanda, 'kan? Pasti bercanda, 'kan?!" Dua pundak Anjani dipegangnya dengan kesan menuntut.

Namun tatapan Anjani dan segenap ekspresi yang ditunjukkan ... bukan jawaban yang diharapkan, luruh raut Nam Jisu. Diam membeku menatap mata indah yang tidak henti menganak sungai.

Memejam matanya sesaat, lalu bertanya, “Tapi kemarin ... bukankah kalian masih baik-baik saja? Woojun bahkan masih terus menghubungimu walau sedang bekerja. Bagaimana bisa, Anja?!”

Anjani bingung, bagaimana menjelaskannya. Tangisnya tak mau berhenti dan itu menambah sulit.

Jisu tak tega. Dua bulir air mata menitik, ikut merasakan. Buru-buru menyongsong tubuh Anjani lagi, memeluknya erat kembali. "Sudah, tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Kau masih punya aku.”

Di luar toko, seseorang memerhatikan kedua sahabat itu di balik kaca yang tersamar oleh satu pot palm besar kesayangan Jisu. Raut wajahnya datar, tapi dalam bening matanya menguar atmosfer panas, juga ada tekad.

 "Sudah saatnya, Anjani. Sudah saatnya ....” Tertutup kata itu, dia berbalik dan pergi, membawa tangan terkepal.

**

Demi Anjani, Jisu memutuskan menutup toko. Kali ini Anjani tidak menentang, dia sedang benar-benar butuh sandaran.

Anjani sudah bercerita dan tanggapan Jisu tentu saja lebih dari sekedar tak habis pikir, tapi juga marah, sangat marah.

“Aku akan membunuhnya untukmu, Anjani! Aku akan membunuhnyaaa!!!”

Sepenggal tanggapan marah Nam Jisu setelah mendengar semua cerita Anjani beberapa saat lalu.

Sekarang Anjani sudah lumayan terlihat tenang, napas teratur tanpa isakan. Rambut acaknya diikat tinggi oleh Nam Jisu. Tampilan mata bengkak bukan masalah untuk dilihat, hanya ada mereka berdua.

“Ayo ke rumahku. Tinggallah bersamaku, setidaknya sampai perasaanmu membaik.”

Tawaran itu langsung digelengi Anjani. “Tidak, Jisu. Aku akan pulang saja.”

“Tapi di sana kau akan bertemu Woojun, bukan? Apa itu pilihan bagus?!”

“Woojun sudah kuusir."

“Apa?!" Jisu terkejut lagi.

“Ya,” jawab Anjani. “Sekarang ... aku benar-benar hanya ingin sendiri."

Setelah mendesah panjang karena tawarannya ditolak, akhirnya Nam Jisu mengalah, coba mengerti tepatnya. “Baiklah. Kau boleh libur beberapa hari, hubungi aku jika butuh apa pun."

Anjani tersenyum, mengangguk sekali saja. Setidaknya masih ada pilar dukungan emosional untuknya di saat serapuh ini.

“Terima kasih, Jisu. Senang memilikimu sebagai sahabat.”

“Hmm. Aku juga."

Setelah berpelukan, Anjani memutuskan pulang dan meminta libur untuk toserba.

Esok hari, dengan sifatnya yang kukuh dan rajin itu, Anjani tetap saja kembali bekerja, bahkan hingga paruh waktu terakhir.

Jisu hanya memberi dukungan sepenuh hati meski agak sedikit kesal.

Sepulang menuju rumah.

Keluar dari bus, menyusur jalanan dengan kehampaan, lemah kaki Anjani menapaki aspal berdebu.

Tangga yang biasa dengan tanpa beban dia jajaki, kini terasa lama dan berat.

Rumah loteng yang sedang dia tuju, sepi sejak kemarin malam.

Meskipun karena usirannya, kepergian Ahn Woojun tetap meninggalkan kekosongan yang sangat besar.

Rumah yang hening tanpa hadirnya, tempat tidur yang menjadi dingin tanpa hangat tubuhnya, jiwa Anjani ikut terseret dalam kehampaan itu.

Sekarang pintu sudah di depan wajah.

“Aku yang membuat pilihan ini, jadi aku yang harus menanggung semua.” Menguatkan diri sekali lagi, namun saat akan mendorong diri, dia tertarik untuk menoleh ke satu sisi di arah kiri.

Tumpukan barang-barang Ahn Woojun masih di sana. Belum sempat dia mengurusnya karena lelah jiwa dan raga.

Menghela napas lalu bergumam berat, “Aku harus tidur sekarang agar besok bisa bangun lebih pagi. Aku harus mengurus barang-barang itu.”

Pintu didorong perlahan selepas bebas dari kuncian, lalu dia masuk dan membenamkan diri di dalam kamar dan tidur.

 “Aku akan terbiasa dengan ini. Jadi tenanglah, Anjani. Kuatkan dirimu.”

Saat yang sama, di luar rumah atap itu ....

Ahn Woojun berdiri bergeming. Menatap barang-barangnya bahkan kasur dan selimut yang malam lalu dia gunakan bercinta dengan Cha Yuri, terkumpul seperti tumpukan sampah.

“Kau sungguh-sungguh ingin membuangku, Anja? Sungguh?”

Hatinya mendadak ribut memikirkan itu.

“Tidak! Tidak akan! Kau tidak akan melakukan itu!" Dia menyangkal. “Sekarang kau hanya masih marah padaku. Esok atau lusa atau hari berikutnya lagi, kau akan mencariku dan mengatakan, 'Woojun, aku akan memberimu kesempatan lagi, jadi pulanglah'.” Pintu yang tertutup ditatapnya sekian detik. “Ya, itu yang akan kau lakukan, Anja! Aku bisa pastikan itu!”

1
Batsa Pamungkas Surya
woojoon.. kau yg buat luka seolah olah kau yg jadi korban... hadeeech😄
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hadeuh banget emang, Kak
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
👍 mantap
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan⏩ laah🙏
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap, Kak.
makasih masi membaca. Up-nya agak slow. aku sedang menggarap satu buku pria--action--lagi. do'akan lancar ya.
total 1 replies
Machan
kesian amat ya. padahal banyak yg nganggur di pasar
Machan
aku lebih romantis dari mereka lho, nyonya ju. klo mo tau, sini mampir😜
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
sebut saja, Malaikat tanpa saraf 😝
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Sepertinya kenalan lama 🤔
Batsa Pamungkas Surya
jangan tunggu lama lama
Batsa Pamungkas Surya
semngat up nya💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hehe, insyaAllah, Kak.
total 1 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Hmmh... blekok 😌
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Iklannya sekarang makin meresahkan, asal scroll bab berikutnya, pasti disambut dua iklan yang syulit diskip 🥴
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Babu!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Bajjjjjiiiingaaaaaan....!!!
DZIIIING... 🤜🥴💨
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Idungnya pesek gak, Pak? 😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Hahaha 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Tipsnya buat Tuan Berkaki Panjang!
Selamat jingkat buat Author!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Jingke... jingke...
total 2 replies
Drezzlle
nah gitu pintar dikit 😒
Drezzlle
udah beban masih juga bisa ngasih janji palsu ke wanita lain😒
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Ketidakbergunaan rata2 jarang disadari sama pelakunya🤣
total 1 replies
Drezzlle
dan kau masih percaya mereka akan bercerai. bulol/Curse/
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan lah
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap.
Btw, terima kasih selalu hadir, Kakak😍
total 1 replies
Drezzlle
trik apa ini? apakah menyembunyikan bangkai lagi/Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!