Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Aula Perkumpulan Para Mafia
Aula besar itu dipenuhi suasana tegang. Para tetua duduk berderet, sementara Shen Xiao Han berdiri tenang di hadapan mereka.
“Sudah dua bulan ini banyak anggota kita menjadi korban. Ini sudah keterlaluan,” ujar Tetua Lin dengan nada geram.
“Masalah ini akhirnya bisa dikendalikan berkat bantuan Xiao Han,” sambung Tetua Shan.
Xiao Han tersenyum tipis. “Masalah sepele saja tidak ada yang mampu diselesaikan,” katanya dingin. “Di mana Yohanes saat wilayah utara dikuasai musuh? Bersembunyi di bawah meja karena takut, atau bermain wanita di atas ranjang?”
“Yohanes sudah menjelaskan masalah ini sebelumnya,” Tetua Lu mencoba membela. “Dia tidak berniat menghindar. Dia bahkan mengirim anak buahnya. Namun lawan terlalu kuat hingga akhirnya mereka tewas.”
“Siapa yang percaya alasan seperti itu?” potong Xiao Han tajam. “Dia mafia. Memegang kendali atas sejumlah anggota, tapi tidak punya rencana yang layak. Menyerang tanpa strategi tidak akan membawa kemenangan. Yang dibutuhkan adalah rencana yang rapi.”
“Xiao Han, kau juga tahu Yohanes tidak memiliki banyak anggota sepertimu,” Tetua Lu kembali bersuara. “Wajar jika dia tidak mampu mengalahkan mereka.”
“Alasan!” bentak Xiao Han. “Memiliki anggota sedikit bukan berarti harus kalah. Dia sudah lama berkecimpung di dunia mafia, tapi otaknya tak pernah digunakan dengan benar. Dari pagi sampai malam yang dia lakukan hanya bersenang-senang.”
Xiao Han menjentikkan jarinya ke arah Roy.
Roy yang mengerti perintah itu langsung menyalakan layar televisi jumbo di aula.
Rekaman demi rekaman diputar. Terlihat Yohanes mabuk-mabukan bersama beberapa wanita. Roy menekan tombol remote, menampilkan rekaman lain—Yohanes berada di klub malam berbeda, dengan minuman dan wanita yang juga berbeda.
Aula pun mendadak sunyi.
“Ini adalah orang yang selama ini kalian percaya,” ucap Xiao Han dingin.
Para tetua saling memandang. Bisik-bisik berubah menjadi hujatan. Wajah-wajah yang tadi ragu kini dipenuhi kemarahan terhadap sikap Yohanes.
Tiba-tiba—
“Shen Xiao Han!”
Teriakan itu menggema di seluruh aula.
Pintu besar terbuka kasar. Yohanes melangkah masuk dengan wajah merah padam dan napas memburu.
Xiao Han melirik sekilas, lalu tersenyum mengejek.
“Akhirnya kau datang, pengecut.”
“Shen Xiao Han!” bentak Yohanes sambil melangkah cepat mendekat. “Jangan mentang-mentang kau yang mengalahkan musuh, kau merasa berhak menguasai wilayah utara. Itu bukan milikmu!”
Langkah Yohanes terhenti tepat di hadapan Xiao Han. Aura amarahnya meledak, namun Xiao Han tetap berdiri tenang—seolah ancaman itu tak lebih dari angin lalu.
“Aku yang merebut kembali wilayah utara,” ucap Xiao Han dingin. “Maka sudah sewajarnya wilayah itu menjadi milikku. Selama berada di tanganmu, kau tidak pernah menjaganya dengan benar!"
Ia menatap Yohanes tanpa emosi.
“Setiap kali terjadi masalah, kau bersembunyi seperti wanita. Dan sekarang kau baru berani muncul?” Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Apa kau tidak tahu malu?”
“Shen Xiao Han, kau hanya mencari alasan!” bentak Yohanes sambil menunjuk ke arahnya. “Mengambil kembali wilayah? Semua ini karena kau memang menginginkannya sejak awal!”
Belum sempat jarinya kembali, Xiao Han sudah bergerak.
Crak!
Xiao Han menjepit jari telunjuk Yohanes dan memutarnya dengan tenaga brutal. Suara tulang beradu menggema.
“Aaahh!” Yohanes menjerit kesakitan, tubuhnya langsung bergetar.
“Belum pernah ada orang yang berani menunjuk jarinya ke arahku,” ucap Xiao Han pelan, namun mematikan. “Yohanes, kau kira aku tidak tahu rencana busukmu?”
Para tetua tersentak.
“Kau bekerja sama dengan orang luar untuk menentangku,” lanjut Xiao Han, menekan jarinya lebih kuat, “dan menyerang adikku.”
“Jangan—jangan menuduhku!” Yohanes terengah, suaranya pecah karena sakit.
Xiao Han mencondongkan tubuhnya, menatap Yohanes tepat di mata.
Roy memutar rekaman penyerangan terhadap Colly dan Dicky.
Layar besar menampilkan sebuah mobil yang tertangkap jelas oleh kamera CCTV. Sudut pengambilan gambar memperlihatkan wajah di dalam mobil—dan tak terbantahkan lagi, sosok Yohanes duduk di kursi samping bersama Boby.
Aula langsung gempar.
“Saat penyerangan itu terjadi, kau berada di lokasi,” ujar Xiao Han dingin. “Sayangnya saat itu aku tidak sadar. Kalau tidak, menurutmu kau masih bisa bernapas sampai sekarang?”
“Tidak… tidak! Itu bukan aku!” teriak Yohanes sambil menahan sakit di jarinya. “Itu hanya rekaman palsu!”
“Yohanes, apa kau sudah gila?!” bentak Tetua Liu. “Colly adalah putri Holdes! Orang kita sendiri! Dan kau berani bekerja sama dengan pihak luar untuk menyerang keluarga sendiri?!”
Tetua Lu ikut berdiri. Wajahnya gelap oleh kemarahan.
“Aku masih bisa terima kebodohanmu,” katanya dingin. “Tapi saat kau melukai orang sendiri, itu berarti kau sudah menjadi pengkhianat.”
“Kalian harus percaya padaku! Itu bukan aku!” Yohanes berusaha membela diri, suaranya mulai putus asa.
Xiao Han melangkah maju.
Dengan satu gerakan, ia menekan tangan Yohanes ke atas meja. Kepala Yohanes dipaksa menunduk hingga dahinya membentur permukaan meja keras.
Aula kembali sunyi.
“Kau tahu satu hal yang paling kubenci,” ucap Xiao Han rendah, sarat ancaman. “Ketika keluargaku disentuh.”
Ia menekan lebih kuat, membuat Yohanes terdiam.
“Itu berarti hubungan kita sudah putus.”
Di hadapan para tetua, Xiao Han tanpa ragu menikam telapak tangan Yohanes. Sehingga membuat pria itu menjerit kesakitan.