NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pil kb..

Setelah badai nafsu itu mereda, Arjuna beranjak dari ranjang dengan wajah yang tampak sangat segar dan puas.

 Ia mengenakan kembali kemejanya tanpa rasa bersalah, melirik sekilas ke arah Indira yang masih terbaring lemas dengan tatapan kosong ke langit-langit. Tanpa sepatah kata pun, Arjuna keluar dari kamar, meninggalkan aroma parfum kayu cendananya yang masih tertinggal pekat di ruangan itu.

​Tak lama setelah pintu ditutup dan langkah kaki Arjuna menjauh, pintu kamar kembali terbuka perlahan. Darsih masuk dengan wajah yang sembab. Tangannya bergetar membawa segelas air hangat dan sebuah pil kecil berwarna putih.

​Darsih duduk di tepi ranjang, menatap tubuh putrinya yang penuh dengan tanda kepemilikan Arjuna. Hatinya hancur berkeping-keping, namun ia harus tetap tegar demi masa depan Indira.

​"Nduk... bangun sejenak. Telan ini dulu," bisik Darsih lembut sambil mengusap dahi Indira yang berkeringat.

​Indira menoleh dengan mata yang sembab dan sayu. Ia mencoba duduk meski bagian bawah tubuhnya masih terasa sangat nyeri dan berdenyut. Dengan tangan gemetar, ia menerima pil kecil itu.

​"Ini apa, Bu? Pil apa?" tanya Indira polos. Suaranya hampir habis karena terlalu banyak mendesah dan merintih tadi.

​Darsih terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tercekat. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa itu adalah pil kontrasepsi darurat untuk mencegah kehamilan. Ia tidak ingin menghancurkan mental putrinya lebih dalam lagi dengan kenyataan bahwa risiko dari hubungan ini bisa lebih jauh dari sekadar rasa sakit fisik.

​"Itu... itu vitamin, Nduk. Biar badanmu tidak makin drop, biar kamu tidak sakit setelah demam kemarin. Telan ya?" bohong Darsih, meski hatinya terasa seperti diiris sembilu.

​Indira yang masih sangat polos dan selalu percaya pada ibunya pun mengangguk. Ia meletakkan pil itu di lidahnya dan meminum air yang diberikan Darsih hingga tandas. Ia tidak tahu bahwa pil itu adalah benteng terakhir yang diberikan ibunya agar nasibnya tidak semakin hancur karena mengandung anak dari pria yang bahkan tidak menganggapnya sebagai manusia setara.

​"Ibu... aku kotor ya?" lirih Indira tiba-tiba, menyembunyikan wajahnya di pundak Darsih.

​Darsih memeluk erat putrinya, tangisnya pecah tanpa suara. "Tidak, Nduk. Kamu anak baik... Kamu hanya sedang menanggung beban yang terlalu berat. Maafkan Ibu, Indira... Maafkan Ibu."

Darsih merasa telah mendorong putrinya kejurang yang paling gelap.

Karena rasa ibanya pada sang putra majikan,membuat putrinya yang menanggung semuanya.

tadinya Darsih melakukan itu karena tidak tega dengan kesehatan majikan nya.

Darsih sudah lihat sendiri betapa menderitanya Arjuna saat asupan asinya tidak ada.

Sementara putrinya memiliki obat penawar itu,butuh sesuatu untuk mengurasnya.

Darsih hanya mencoba menyelamatkan tuannya,dan mengobati putrinya,,namun semua diluar kendalinya.

Tuannya justru bertindak terlalu jauh,sehingga membuat kesuciannya terenggut.

​Sementara itu, di rumah utama, Arjuna berdiri di balkon kamarnya, menghisap rokok dalam-dalam. Ia menatap ke arah paviliun dengan seringai tipis. Ia merasa telah memenangkan segalanya. Ia memiliki Clarissa untuk urusan martabat dan bisnis, dan ia memiliki Indira untuk memuaskan rasa haus akan "asupan" dan gairah liarnya.

​Namun, ia tidak tahu bahwa Darsih diam-diam bermain di belakangnya dengan pil-pil itu.

 Arjuna sudah merencanakan sesuatu yang lebih gila: ia tidak keberatan jika suatu saat nanti Indira mengandung anaknya, karena baginya, itu akan memastikan bahwa Indira tidak akan pernah bisa lari darinya seumur hidup.

Arjuna lebih memilih Indira yang mengandung benihnya,ketimbang Clarissa yang tidak tahu apakah kekasihnya itu bersih atau justru sudah terkena penyakit karena sering gonta ganti pasangan.

***

​Enam bulan berlalu tanpa terasa. Kehidupan Indira kini terbagi menjadi dua dunia yang kontras: pagi hingga siang sebagai siswi berprestasi di kelas 12 Yayasan Pratama yang sedang berjuang demi ujian akhir, dan malam hari sebagai pelayan pribadi bagi kebutuhan aneh Arjuna.

​Hubungan mereka berjalan sangat rahasia. Arjuna adalah pria yang sangat teliti dan penuh perhitungan; ia tidak pernah membiarkan ada celah yang bisa dilihat oleh Clarissa. Setiap kali ia mendatangi kamar Indira,,, itu selalu dilakukan saat Clarissa sudah pulang ke rumahnya sendiri atau saat tunangannya itu sedang sibuk dengan lingkaran sosialitanya. Di mata Clarissa, Arjuna tetaplah calon suami yang dingin, gila kerja, dan menjaga jarak.

​Malam itu, paviliun terasa sunyi. Indira duduk di meja belajarnya, dikelilingi oleh buku-buku tebal persiapan masuk perguruan tinggi. Kacamata bertengger di hidungnya, dan ia tampak sangat serius menghitung rumus-rumus fisika.

​Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka perlahan. Indira tidak menoleh, ia sudah hafal dengan aroma kayu cendana yang seketika memenuhi ruangan.

​"Tuan... saya sedang fokus belajar. Besok ada simulasi ujian akhir," ucap Indira tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

​Arjuna tidak menjawab. Ia melonggarkan dasinya, wajahnya tampak sangat lelah setelah seharian memimpin rapat direksi. Ia melangkah mendekat, berdiri di belakang kursi Indira, dan meletakkan kedua tangannya di bahu gadis itu.

​"Belajarlah. Aku tidak akan mengganggumu membaca," bisik Arjuna rendah.

​Indira hanya bisa menghela napas pasrah. Ia melepaskan kacamata dan menutup bukunya sejenak untuk memenuhi kewajiban rutinnya. Bagi Arjuna, asupan dari Indira bukan sekadar cairan, melainkan candu yang membuatnya bisa tidur tenang. Sambil menyesap asupannya, tangan Arjuna sesekali mengusap rambut Indira dengan gerakan yang hampir terlihat seperti kasih sayang, meski Indira tahu itu hanyalah bentuk kepemilikan.

Karena sudah terbiasa menyusui Arjuna,membuat Indira tidak merasa risih lagi.

Arjuna merebahkan kepalanya di kedua paha Indira,,sementara Indira menyingkap blouse nya keatas,lalu mengeluarkan daging kenyalnya dari wadahnya.

Arjuna langsung menyesap daging kenyal itu dengan rakus,sementara Indira kembali melanjutkan bacaannya.

Selesai menguras kedua dada montok itu bergantian,bukannya berhenti, tangan Arjuna justru merambah kemana mana,membuat Indira jadi terganggu.

"Tuan,,jangan lakukan itu,aku sedang sibuk,," ucapnya dengan nada bergetar.

karena Indira sudah mulai terangsang.

"Aku ingin menikmati mu,," tanpa ba bi bu,Arjuna meloloskan pakaian Indira,dan mulai menjelajah tubuh seksi itu.

jadilah Arjuna memasuki Indira lagi.

​Setiap kali Arjuna selesai dan meninggalkan paviliun melalui pintu belakang yang tersembunyi, Darsih akan selalu masuk ke kamar Indira. Ia selalu membawa segelas air dan sebuah pil kecil yang sama selama enam bulan terakhir.

​"Ini vitaminmu, Nduk. Biar tidak gampang sakit karena belajar sampai malam," ucap Darsih dengan nada yang selalu tenang, meski hatinya berdenyut sakit setiap kali berbohong.

​"Terima kasih, Bu," jawab Indira polos. Ia menelan pil kontrasepsi itu tanpa curiga sedikit pun. Baginya, itu adalah penolong agar staminanya tetap terjaga di tengah tekanan belajar dan tuntutan Arjuna yang sering kali membuatnya kelelahan secara fisik.

​Darsih tahu, jika ia tidak memberikan pil itu, dan Indira sampai hamil, maka hancurlah masa depan pendidikan putrinya. Ia ingin Indira lulus, ujian dengan baik, dan sebisa mungkin pergi dari rumah ini untuk kuliah di tempat yang jauh.

***

​Di tempat lain, Clarissa sedang sibuk menyiapkan rencana pernikahan mereka yang tinggal beberapa bulan lagi. Ia sama sekali tidak menaruh curiga pada Indira. Baginya, gadis di paviliun itu hanyalah "proyek amal" calon mertuanya, Tuan Pratama.

​"Juna, aku ingin setelah kita menikah nanti, pelayan-pelayan di paviliun itu dipindahkan saja," ucap Clarissa suatu sore saat mereka minum teh bersama di teras rumah utama.

​Arjuna yang sedang membaca koran digital di tabletnya hanya mengangkat alis sedikit. "Kenapa? Mereka sudah lama mengabdi di sini."

​"Ya, aku hanya ingin suasana baru. Lagipula, anak pelayan itu, siapa namanya... Indira? Dia kan sebentar lagi lulus. Biarkan dia kuliah di luar kota atau di mana pun, asal tidak di sini," lanjut Clarissa dengan nada santai.

​Arjuna terdiam sesaat. Matanya menatap lurus ke arah koran, namun pikirannya melayang pada kehangatan asupan yang ia rasakan setiap malam.

​"Kita lihat nanti," jawab Arjuna singkat.

​Clarissa tersenyum, mengira Arjuna setuju. Ia tidak tahu bahwa dalam pikiran Arjuna, rencana itu sama sekali tidak akan pernah terjadi. Arjuna sudah menyiapkan "sangkar" yang lebih mewah untuk Indira setelah lulus nanti—sebuah tempat di mana ia bisa memiliki Indira sepenuhnya tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!