Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsession
🦋
Izarra selalu punya cara untuk membuat masalah kecil menjadi api besar. Sore itu, saat sekolah hampir selesai, ia menghampiri Jaka dengan langkah cepat dan wajah sok prihatin.
"Jaka… kamu tau nggak? Nadira sekarang sering banget deket sama Keenan." Ucapannya meluncur seperti racun yang manis.
Jaka yang sedang membereskan buku langsung menoleh, alisnya berkerut. "Maksud kamu?"
Izarra menghela napas seolah berat. "Ya… aku cuma kasihan aja sama kamu." Ia melirik ke sekitar, memastikan tak ada guru.
"Kamu kan pacarnya, tapi dia lebih sering bareng Keenan. Kemarin aja mereka pulang bareng, loh."
Jaka terdiam. Tangannya yang memegang tas mengepal tanpa sadar.
"Pulang bareng?" ulangnya pelan.
Izarra mengangguk. "Iya. Aku liat sendiri. Mereka ketawa, kayak… akrab banget."
Nada suaranya sengaja dibuat biasa, tapi setiap katanya seperti menekan luka yang sudah ada.
Tidak ada yang tahu apakah Izarra jujur, berlebihan, atau sekadar memutarbalikkan fakta. Tapi yang jelas, wajah Jaka memucat lalu memanas dalam hitungan detik.
"Serius kamu lihat?" suaranya rendah, tegang.
Izarra tersenyum tipis. "Jaka, aku ga ada untungnya bohong, Jak. Aku cuma… ga tega kamu dibohongin terus kayak gini."
Jaka menghela napas kasar. Rahangnya mengeras.
Dan setelah itu, tidak butuh waktu lama. Amarah Jaka sudah terbakar.
Ia pergi tanpa pamit. Tanpa menoleh lagi pada Izarra yang masih berdiri dengan senyum kecil penuh kemenangan.
***
Malam itu, sekitar pukul delapan lebih sedikit, Nadira baru selesai mandi ketika ada suara ketukan keras di pintu rumah. Bukan ketukan santai… tapi seperti seseorang yang sedang menahan emosi.
Duk. Duk. Duk.
Laura yang kebetulan sedang main di rumah Nadira ikut menoleh.
"Siapa ya? Kok keras banget…" bisik Laura.
Nadira berdiri mematung sesaat. Jantungnya langsung berdebar tak enak.
"Nadira?" Laura menatapnya. "Kamu kenal suaranya?"
Nadira menelan ludah. "Mungkin… Jaka."
Ketukan itu terdengar lagi. Lebih keras.
Ia menarik napas panjang sebelum melangkah ke pintu. Tangannya sempat bergetar saat memutar gagang.
Ia membuka pintu perlahan, dan benar saja. Jaka berdiri di sana dengan wajah yang sudah merah dan rahangnya mengeras. Matanya tajam, penuh sesuatu yang membuat Nadira spontan mundur setengah langkah.
"Kita perlu ngomong. Sekarang."
Nada suaranya tidak meminta. Itu perintah.
Nadira refleks mundur sedikit. "Jaka… kenapa?"
Jaka langsung masuk tanpa menunggu dipersilakan. Ia berdiri di ruang tamu, napasnya naik turun, seperti habis menahan sesuatu terlalu lama.
"Kamu pacarku."
Nada suaranya rendah, bergetar. "Kenapa malah dekat dengan Keenan?"
Laura berdiri agak ke belakang, matanya tak lepas dari Jaka.
Nadira mengerutkan kening. "Aku cuma… temanan sama Keenan, Jak. Kami sekelas. Deket sebatas teman."
"Teman?" Jaka tertawa pendek, tanpa humor.
"Kamu bohong, Nadira! Zarra sendiri lihat kalian berdua pulang bareng!"
"Itu bukan cuma berdua tapi tapi rame-rame," balas Nadira cepat. "Terserah kamu mau percaya sama siapa. Tapi aku nggak ngelakuin apa-apa."
"Kamu cuma boleh dekat sama aku!" suara Jaka meninggi, memantul di dinding rumah.
Nadira tersentak. Laura ikut tegang.
"Jaka, tolong," suara Nadira mulai bergetar, "jangan ngomong gitu."
"Kamu pacarku!" ulang Jaka keras. "Kenapa kamu ga bisa ngerti itu?!"
Nadira menggenggam tangannya kuat-kuat, mencoba tetap tenang. Dadanya naik turun.
"Jangan bertingkah, Jaka." Ia menatapnya lurus. "Kalau kamu terus kayak gini… mending kita putus aja.”
Kata-kata itu jatuh seperti bom.
Laura menutup mulutnya refleks.
Jaka terdiam beberapa detik, wajahnya keras, matanya membara.
"Putus?" ulangnya pelan, hampir berbisik. "Cuma karena aku nggak mau kamu deket sama cowok lain?"
"Ini bukan soal itu!" Nadira meninggikan suara untuk pertama kalinya. "Ini soal kamu yang terlalu… posesif."
"Karena aku sayang sama kamu!" teriak Jaka.
Nadira mundur selangkah. "Sayang yang sehat itu bukan begini."
Jaka meremas rambutnya sendiri, napasnya berat. "Aku ga bisa kalau kamu sama cowok lain. Aku ga bisa bayangin!"
Ia menunjuk Nadira. "Kamu cuma boleh sama aku, Nadira. Cuma aku."
Laura berdiri, hendak menengahi. "Mas Jaka, tolong tenang dulu"
"Ini bukan urusan kamu!" bentaknya ke Laura.
Laura mematung. Nadira merasa tenggorokannya tercekat.
"Jaka, pulang." Nadira mengeraskan suaranya, meski tangannya dingin.
Jaka menatapnya lama… terlalu lama. Seolah mencoba menghafal wajah Nadira dalam kemarahan.
Lalu ia berjalan keluar tanpa berkata apa-apa. Namun sebelum pintu tertutup, ia berbalik dan berkata dengan suara rendah yang menggetarkan:
"Aku ga bakal ngelepas kamu. Ingat itu."
Pintu menutup keras.
Setelah Jaka pergi, Nadira langsung duduk di sofa, memegang kepalanya yang terasa berat. Tangannya gemetar.
Laura mendekat cepat. "Dira… kamu gapapa?" tanyanya pelan.
Nadira mengangguk, tapi matanya berkaca-kaca. "Aku capek, Lau." Suaranya serak.
"Jaka tuh selalu kayak gitu. Cemburu dikit, meledak. Salah dikit, marah. Aku tuh… takut."
Laura duduk di sampingnya dan memeluk bahunya. "Harusnya dia bikin kamu aman, bukan malah takut kayak gini."
Nadira mengusap wajahnya.
"Makanya aku bilang… mending kamu putus aja sama Jaka," lanjut Laura pelan.
"Tapi aku ga enak, Lau…" Nadira menunduk. "Dia selalu bantu aku. Dia sayang sama aku. Aku takut nyakitin dia."
Laura menarik bahu Nadira agar menatapnya. "Dira, dengar." Nada suaranya tegas tapi lembut. "Sayang itu bukan kepemilikan. Bukan ancaman. Bukan obsesi sampai kamu ga boleh punya temen."
Nadira menarik napas panjang. Kepalanya pusing, perasaannya campur aduk.
"Tapi aku ga mau dia ngerasa ditinggalin."
"Kamu juga ga cinta sama dia, Dira." Laura berkata jujur, tanpa menghakimi. "Percuma. Ini bukan hubungan, ini penjara."
Kata-kata itu menghantam keras. Nadira terdiam lama, sangat lama.
"Coba pikirin…" Laura melanjutkan pelan, "kamu lebih sering bahagia atau takut?"
Nadira menatap tangannya sendiri.
Jawabannya langsung muncul tanpa dipaksa.
Takut. Terlalu sering takut. Ia takut marahnya Jaka. Takut dia kasar. Takut disalahkan. Dan yang paling ia takuti: kehilangan dirinya sendiri di dalam hubungan itu.
Laura mengusap punggung tangan Nadira. "Aku ga bilang kamu harus langsung putus balik-belikan. Tapi… kamu harus sadar, Dira. Obsesi itu bukan cinta. Dan kamu berhak dapat seseorang yang bikin kamu tenang."
Nadira menutup wajahnya. Napasnya tercekat. "Kenapa hidupku kayak gini, Lau…" suara Nadira pecah.
Laura memeluknya erat. "Karena kamu kebanyakan nyimpen semuanya sendiri. Kamu terlalu baik buat orang yang ga mau ngerti kamu."
Nadira terdiam ia memikirkan Jaka, Keenan, Orang tuanya yang baru pulang. Dan dirinya sendiri bercampur seperti gelombang yang tidak berhenti.
Malam itu, ia tidur dengan perasaan campur aduk. Antara ingin lepas… dan takut. Antara setia… dan merasa tersiksa.
Dan untuk pertama kalinya, kalimat Laura berputar-putar di kepalanya:
"Percuma kamu bertahan kalau kamu ga cinta sama dia."
Nadira menggigit bibir. Dadanya terasa sesak.
Karena jauh di dalam hatinya… ia tahu Laura benar.