Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Komplikasi Yang Lebih Rumit
Suasana tenang di ruang kerja Ben seketika musnah saat nada dering khusus berbunyi—nada yang hanya dikhususkan untuk satu orang: Baron Frederick.
Ben mengangkat telepon itu dengan satu gerakan cepat, wajahnya yang tadi menunjukkan kerutan frustrasi karena memikirkan Lala, kini berubah total menjadi topeng sedingin es yang mematikan.
"Ya, Tuan."
Suara di seberang sana tidak berbasa-basi. Berat, rendah, dan penuh dengan aura ancaman yang bisa membuat siapa pun gemetar. "Gita hilang, Ben. Mano Fransiska telah mengambilnya. Kamu tahu apa artinya ini."
Darah Ben berdesir. Mano Fransiska. Wanita itu adalah sisa-sisa racun masa lalu yang seharusnya sudah mereka kubur dalam-dalam. Jika Mano berani menyentuh Gita, itu berarti perang terbuka.
"Saya mengerti, Tuan," sahut Ben. Suaranya kini terdengar seperti mesin perang yang siap diaktifkan. "Saya akan mengumpulkan tim taktis sekarang juga. Lacak sinyal ponselnya dan CCTV di sekitar kediaman."
Ben berdiri, menyambar jasnya yang tergantung di kursi, lalu berbalik menatap layar monitor yang masih menampilkan rekaman CCTV koridor. Di sana, ia melihat Lala yang sedang keluar dari lift di lantai bawah, tampak linglung dan tersandung kaki mejanya sendiri.
Sial.
Ben menatap gadis itu di layar dengan tatapan tajam, lalu berpaling ke arah pintu ruangannya. Prioritasnya sudah jelas. Tuan Frederick adalah segalanya. Keselamatan keluarga Frederick adalah hukum tertinggi.
Ia menekan interkom dengan satu jari.
"Gilang, batalkan semua agenda saya hari ini. Berikan akses penuh pada tim keamanan untuk melacak koordinat Mano Fransiska. Dan satu lagi..." Ben terdiam sejenak, matanya menatap pintu ruangannya yang tertutup.
"Pastikan sistem keamanan di lantai ini tetap terkunci. Tidak boleh ada satu orang pun yang masuk ke ruangan saya, apalagi desainer interior tadi."
"Baik tuan," jawab Gilang mantap. Ben pun melangkah keluar dari ruangannya dengan langkah lebar yang mengintimidasi. Ia tidak lagi memikirkan proyek lounge atau deadline 48 jam. Di kepalanya kini hanya ada peta, taktik, dan kemungkinan terburuk dari sanderaan Gita.
Namun, saat ia berpapasan dengan salah satu staf di koridor, ia tiba-tiba berhenti.
"Jika gadis itu—Lala—kembali ke sini untuk mencari saya," ujar Ben dengan nada dingin yang absolut, "Katakan padanya untuk menghilang. Jika dia tetap bersikeras, kunci dia di ruang tunggu sampai saya kembali. Jangan biarkan dia membuat kekacauan di gedung ini saat saya sedang tidak ada."
Ben tidak menunggu jawaban. Ia sudah masuk ke dalam lift khusus, memencet lantai dasar dengan jemari yang stabil meski pikirannya sedang menyusun strategi untuk menghancurkan Mano Fransiska.
Di luar gedung, sebuah badai besar akan segera pecah. Ben Arganza bukan lagi pria yang memikirkan desain interior; ia adalah tangan kanan sang penguasa yang akan memastikan siapa pun yang berani menyentuh apa yang menjadi milik Frederick, akan menyesali hari mereka dilahirkan.
Lala yang ceroboh dan desain interiornya? Untuk sementara, itu hanyalah debu di tengah badai yang akan segera datang.
Ben tidak membuang waktu. Dalam perjalanan menuju lokasi yang terlacak oleh tim intelijen—sebuah gudang logistik tua di pinggiran kota yang jarang terjamah—ia sudah membagi pasukannya menjadi tiga unit.
"Tuan Baron akan masuk dari depan sebagai pengalih perhatian," perintah Ben melalui alat komunikasi di telinganya, suaranya sedingin es. "Saya akan masuk lewat ventilasi udara di sisi timur. Sniper, pastikan tidak ada pengawal Mano yang memegang senjata di area terbuka."
Saat mereka sampai, suasana gudang terasa sangat sunyi, terlalu sunyi untuk tempat yang menampung sandera kelas atas.
Ben bergerak seperti bayangan. Dengan pisau taktis di tangan, ia melumpuhkan dua penjaga di pos belakang sebelum mereka sempat menyentuh radio. Ia tidak membunuh mereka, hanya membuat mereka tidak sadarkan diri dalam hitungan detik. Efisiensi, pikirnya.
Di dalam, ia bisa mendengar suara tawa melengking Mano Fransiska.
"Kau tahu, Gita, putraku itu selalu punya kelemahan. Istrinya. Dan sekarang, kelemahan itu ada di tanganku."
Ben sampai di balkon lantai dua, mengintip ke bawah. Gita terikat di sebuah kursi kayu di tengah ruangan, wajahnya pucat namun tatapannya tetap tajam melawan wanita tua yang berdiri angkuh di depannya.
Ben memberikan kode tangan kepada timnya.
DOOR!
Ledakan kecil menghancurkan pintu utama gudang. Baron Frederick menyerbu masuk dengan aura predator yang nyata, sementara suara tembakan suppressor dari tim sniper Ben membuat para pengawal Mano tumbang satu per satu.
Mano Fransiska panik, tangannya meraba pistol di balik pinggangnya, mencoba mendekati Gita. Namun, sebelum jemarinya mencapai logam dingin itu, sebuah bayangan melompat dari atas—Ben mendarat tepat di antara Mano dan Gita dengan gerakan yang begitu cepat hingga tampak seperti glitch di mata lawannya.
"Satu langkah lagi, Nyonya, dan saya akan memastikan Anda tidak perlu lagi melihat matahari besok," suara Ben rendah, tepat di samping telinga Mano.
Mano terpaku, pistolnya ditendang jatuh oleh Ben sebelum ia sempat menarik pelatuk. Dengan satu gerakan kunci (lock), Ben memborgol tangan Mano ke tiang besi bangunan.
"Ben!" teriak Baron yang segera berlari ke arah istrinya, memutus ikatan Gita dengan gerakan emosional namun presisi.
"Tuan, area sudah aman. Sniper sudah mengunci sisa pengawal di luar," lapor Ben, berdiri tegak kembali seolah ia tidak baru saja terlibat dalam pertarungan hidup mati. Ia merapikan kerah jasnya yang sedikit miring.
Gita, yang masih gemetar, memeluk Baron erat. Baron menatap Ben dengan tatapan penuh terima kasih—sebuah komunikasi tanpa kata yang hanya dipahami oleh dua pria yang telah melewati ribuan medan perang bersama.
"Bawa dia ke ruang interogasi bawah tanah," perintah Baron sambil memeluk Gita. "Dan pastikan dia tidak melihat cahaya matahari sampai aku sendiri yang menemuinya."
"Siap, Tuan."
Ben berbalik pergi, namun langkahnya terhenti. Ia melihat sesuatu di lantai, dekat tempat Gita disekap. Itu adalah ponsel milik salah satu pengawal yang terjatuh. Layarnya menyala, menunjukkan notifikasi pesan yang masuk secara real-time.
[Notifikasi dari: LALA - Desainer]
"Tuan Ben, saya sudah di lobi kantor. Saya tidak sengaja menabrak pot bunga di lantai 5. Apakah saya boleh naik? Deadline saya tinggal beberapa jam lagi!"
Ben menatap layar ponsel itu selama dua detik.
Di tengah desingan peluru, aroma mesiu, dan ancaman maut, pesan tentang "pot bunga" dan "deadline" terasa sangat absurd. Ben menghela napas panjang, menutup matanya sejenak untuk menetralkan detak jantungnya yang tadi memacu karena adrenalin perang.
"Bocah itu benar-benar tidak bisa diam," gumam Ben.
Ia mematikan ponsel pengawal itu, memasukkannya ke dalam saku sebagai barang bukti, dan kembali ke mode Tangan Kanan. Baginya, menyelamatkan nyawa Gita adalah tugas, tapi berurusan dengan Lala? Itu adalah komplikasi yang—entah mengapa—mulai terasa lebih rumit daripada menghadapi Mano Fransiska.
***
Like Like Like 😁
jadi nikmati aja alurnya