Dewasa
Follow My Instagram @Mae_jer
Dami tidak menyangka dia akan menghadapi Jeremy yang menggila padahal statusnya sudah menjadi istri dokter Bima. Walau status itu hanya sebatas pernikahan kontrak, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Namun, siapa yang akan menyangka Dami akan terlibat dengan permainan panas Jeremy, serta Bima yang ikut-ikutan menggila, yang membuatnya berada di situasi yang membingungkan.
Terjebak di antara dua pria yang sama-sama menginginkannya, situasi semakin rumit saat Dami hamil. Karena ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Jeremy atau Bima? Lebih gilanya lagi, baik Bima maupun Jeremy, sama-sama tidak mau melepaskannya.
Ketiganya harus merahasiakan hubungan gila mereka sampai akhirnya salah satu dari kedua pria itu mengalah, dan merelakan Dami dengan laki-laki yang dia cintai.
Apakah masih Jeremy cinta pertamanya yang menjadi pemenang? Atau Bima, dokter tampan yang juga mencintai Dami dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas tinggi
Mobil berhenti tepat di depan halaman rumah besar yang tampak sunyi. Meski mesin mobil sudah dimatikan dan suara hujan yang mengguyur sepanjang perjalanan mulai mereda menjadi gerimis, Dami tetap duduk diam di kursi penumpang.
Tubuhnya terkulai lemas, kepalanya menunduk dalam, dan matanya terpejam rapat seolah seluruh tenaganya habis tersedot oleh emosi yang meledak dan dinginnya air hujan yang membasahi setiap helai pakaiannya. Ia tidak bergerak sedikit pun.
"Kau akan tetap seperti itu?" tanya Bima, suaranya yang tadinya penuh ketegasan kini melembut tanpa sadar. Ia menoleh ke samping, menatap wanita di sebelahnya yang terlihat sangat berbeda dari biasanya tegar dan penuh semangat.
Tak ada jawaban. Hanya terdengar suara napas Dami yang pendek dan tidak teratur, disertai getaran halus yang mengguncang tubuhnya. Bima mengerutkan kening, merasa ada yang tidak beres. Ia segera mengulurkan tangan, jari-jarinya menyentuh dahi Dami secara perlahan. Begitu kulitnya bersentuhan dengan kulit wanita itu, ia langsung menarik napas panjang karena terkejut.
Panas sekali.
Dahi Dami terasa terbakar, jauh melebihi suhu tubuh normal manusia. Tubuhnya menggigil hebat meski suhu di dalam mobil cukup hangat, dan kelopak matanya terlihat berat, hanya terbuka sedikit dengan pandangan yang kosong dan tidak fokus.
Ia sudah setengah sadar, kesadarannya melayang-layang di antara kenyataan dan mimpi karena demam tinggi yang menyerang secara tiba-tiba, dipicu oleh kelelahan, tekanan batin, dan guyuran hujan dingin yang cukup lama.
Segala rasa kesal dan amarah yang masih tersisa di hati Bima seketika lenyap, digantikan oleh kekhawatiran. Ia tidak menyangka pertengkaran mereka akan berujung seperti ini. Tanpa membuang waktu lagi, Bima segera turun dari mobil dan berjalan cepat memutar ke sisi lain.
Ia membuka pintu lebar-lebar, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh Dami yang lemas itu ke dalam gendongannya. Gaun wanita itu masih basah kuyup dan meneteskan air membasahi lantai, namun Bima tidak memedulikannya. Ia memeluk tubuh istrinya erat agar tidak kedinginan, lalu melangkah cepat menuju pintu utama rumah.
Begitu masuk, ia langsung menaiki tangga menuju kamar yang selama ini menjadi tempat tidurnya, karena ketegangan yang terjadi antara dia dan Dami. Ruangan itu cukup luas dan hangat, diterangi cahaya lampu tidur yang redup.
Bima meletakkan tubuh Dami dengan sangat lembut di atas kasur empuk, lalu menyandarkan kepalanya sedikit dengan bantuan bantal. Wanita itu hanya mengerang pelan, bibirnya bergetar seolah ingin berkata sesuatu namun tidak mampu mengeluarkan suara.
Bima segera bergegas menuju lemari, mengambil handuk tebal dan kaos miliknya yang berbahan lembut. Kemudian kembali ke sisi tempat tidur, lalu dengan gerakan yang penuh kehati-hatian, ia mulai mengeringkan tubuh Dami yang masih basah. Ia mengusap lembut dari ujung rambut hingga ke seluruh tubuhnya, berusaha mengurangi rasa dingin yang merasuk. Menyadari kondisi Dami yang sudah tidak sadarkan diri sepenuhnya, Bima melakukannya dengan profesionalisme seorang dokter.
Setelah tubuhnya cukup kering, Bima perlahan mengganti pakaian basah itu dengan kaos miliknya. Sesekali ia memaki dalam hati melihat tubuh telanjang Dami yang begitu menggoda. Wanita itu hanya bergerak sedikit, sesekali mengerang pelan saat posisinya diubah, namun matanya tetap terpejam rapat dan tidak menunjukkan tanda-tanda sadar. Ia sepenuhnya tidak menyadari apa yang sedang dilakukan oleh suaminya saat itu.
Setelah selesai, Bima menyelimuti seluruh tubuh Dami dengan dua lapis selimut tebal hingga menutupi bagian dada. Ia kembali menyentuh dahi wanita itu, namun suhunya masih terasa sangat tinggi. Tanpa menunda, ia berjalan cepat keluar kamar untuk mengambil obat penurun panas, air minum, serta baskom berisi air hangat dan kain bersih.
Kembali ke kamar, Bima duduk di tepi tempat tidur. Ia menopang tubuh Dami agar sedikit duduk, lalu membantunya meminum obat dan air putih dengan sangat hati-hati. Dami menelannya secara refleks, tanpa menyadari apa yang masuk ke mulutnya. Setelah itu, Bima membasahi kain dengan air hangat, memerasnya hingga lembap, lalu menempelkannya di dahi, ketiak, dan lipatan paha Dami, cara yang aman untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara alami. Ia mengulangi proses ini setiap sepuluh menit, tanpa menunjukkan tanda-tanda lelah.
Selama berjam-jam, Bima tidak beranjak dari sisi tempat tidur. Ia terus memantau kondisi Dami, memastikan napasnya tetap teratur dan suhu tubuhnya perlahan mulai menurun. Sesekali ia mengusap lembut rambut Dami yang sedikit basah karena keringat, matanya menatap wajah wanita itu yang tampak pucat dan lelah. Di dalam hatinya, semua kata-kata kasar yang sempat terucap, semua tuduhan, dan rasa sakit akibat masa lalu seolah memudar sejenak. Ia baru menyadari betapa takutnya ia jika sesuatu yang buruk benar-benar menimpa Dami.
Tangan kanannya yang terluka akibat meninju setir tadi sempat terasa perih dan mulai membengkak, namun ia sama sekali tidak mempedulikannya. Yang ada di pikirannya hanyalah keselamatan dan kesehatan wanita di hadapannya.
Hingga larut malam, Bima tetap terjaga. Perlahan namun pasti, suhu tubuh Dami mulai kembali normal. Raut wajahnya yang tadinya menegang karena rasa sakit kini menjadi lebih rileks, dan napasnya menjadi lebih tenang dan teratur.
Melihat perubahan itu, Bima akhirnya bisa menghela napas panjang dan merasa sedikit lega. Namun ia tetap bertekad untuk tidak meninggalkan Dami sendirian malam itu. Ia menarik kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur, lalu duduk di sana, membiarkan kelelahan perlahan menyelimuti dirinya namun tetap siap siaga jika Dami membutuhkannya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ketegangan yang terjadi di antara mereka, Bima tidak memandangi Dami dengan wajah dingin dan datarnya. Atau memandangi wanita itu dengan cara yang menjijikkan.
"Apa yang harus kulakukan denganmu, katakan, aku harus bagaimana?" gumamnya pelan tanpa memalingkan wajahnya sedetikpun dari perempuan yang tertidur itu.
Tidurnya tidak pulas, karena Bima dapat melihat jelas keningnya yang berkerut sesekali, seolah bahkan dalam tidurnya pun pikirannya masih gelisah, terbebani oleh pertengkaran dan kata-kata tajam yang terucap sebelumnya. Ia terus memantau setiap perubahan kecil pada wajah Dami, memastikan tidak ada tanda-tanda demamnya naik kembali.
Sesekali Bima mengusap pelan dahi Dami dengan kain yang sudah dibasahi air hangat lagi, gerakannya lembut, sangat berbeda dari sikap dinginnya selama ini.
"Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menghadapimu." gumamnya lagi. Perasaannya berat sekali.
Di satu sisi, dia tidak ingin hubungan mereka terus seperti ini. Di sisi lain, ia juga tidak bisa melupakan begitu saja apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri hari itu. Rasanya kepalanya mau pecah setiap mengingat itu. Bima menghembuskan nafas panjang.
klo pake logika sih,laki2 yg sudah melihat istrinya di sentuh laki lain,pasti akan meninggalkanyaa.
tapi othor menciptakan karakter lali2 yg tidak biasa.
kereen thor, biasanya laki2 kayak gini kebanyakan di jumpai di negara western atau America.
jika ada laki2 kayak gini di Indonesia, super keren sih
jeremy merelakan dan mengikhlaskan dami bahagia bersama bima...
seandainya dami jatuh cinta bima, mungkin jeremy bisa rela dan ikhlas bersama bima, tuk sekarang ini jeremy tahunya dami masih mencintai jeremy...
untuk mengganggu...
kasian kamu jer jer
kok jdi khawatir jeremy ngikutin dami sampai ke puncak..jgn smpai bima salah paham lagi