Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALAN-JALAN
"Lihat itu. Selama bertahun-tahun, aku hanya melihat semua ini sebagai wilayah kekuasaan yang membosankan, tapi hari ini, entah kenapa warnanya terlihat lebih cerah," gumam Aron pelan, menunjuk ke arah cakrawala di mana matahari mulai naik, menyinari hamparan padang rumput di sisi jalan.
Rania tertegun sejenak, dia melirik wajah Aron dari samping.
Sinar matahari pagi menerpa garis rahang tegas pria itu, menghilangkan sejenak kesan haus darah yang biasanya melekat padanya. Untuk sesaat, dia bukan Kaisar yang ditakuti, melainkan hanya seorang pria yang sedang menikmati pagi.
"Itu karena kamu sedang tidak berencana membunuh orang hari ini," ucap Rania, mencoba merusak suasana canggung itu karena dia merasa pipinya mulai terasa panas lagi.
Aron terkekeh pelan, kemudian menumpukan dagunya di bahu Rania, membiarkan napasnya menyapu pipi gadis itu.
"Mungkin. Atau mungkin karena ada seseorang yang jauh lebih menarik untuk dilihat daripada peta perang," ucap Aron lembut.
Cup
Aron menarik tangan Rania yang dia genggam, lalu mengecup punggung tangan itu dengan sangat lembut, bertolak belakang dengan reputasi nya yang dijuluki sebagai Kaisar Iblis.
"Aron..." suara Rania mengecil, kehilangan kata-kata ketusnya.
"Jangan menoleh, atau aku akan mencium mu di atas kuda ini," ancam Aron dengan nada bercanda yang penuh godaan.
Rania segera memalingkan wajahnya ke depan, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang nyaris terbentuk di bibirnya.
Tanpa sadar, Rania menyandarkan kepalanya sedikit ke dada bidang Aron, membiarkan pria itu membawanya menuju keramaian pasar.
Ding
"Indikator Kiamat 10%."
"Pertahankan detak jantung ini, Letnan. Anda baru saja menurunkan risiko kehancuran dunia hanya dengan bersandar. Kerja bagus."
"Diam lah, Sistem," batin Rania, tapi kali ini tanpa amarah seperti biasanya.
Di atas kuda itu, di bawah dekapan pria yang seluruh dunia takuti, Rania untuk pertama kalinya merasa bahwa dunia ini mungkin layak untuk diselamatkan.
Aron merasakan tubuh Rania yang perlahan mulai rileks dalam dekapannya, seringai tipis muncul di wajah tampannya, dia sangat menikmati kemenangan kecil ini.
Tidak ada yang lebih memuaskan bagi seorang Aron Gild selain menaklukkan seekor kucing liar yang selalu berhasil membuat nya hampir gila dengan segala sifat galak nya.
"Kenapa diam? Apa kamu sedang terpesona dengan ketampananku dari dekat?" goda Aron, sengaja mengeratkan pelukannya hingga Rania bisa merasakan hawa panas dari tubuh tegap pria itu.
"Aku hanya sedang berpikir, bagaimana caranya menjatuhkan mu dari kuda ini tanpa membuat diriku ikut terjatuh," jawab Rania ketus.
"Hahahaha..."
Aron tertawa, suara baritonnya bergema rendah, tiba-tiba, dia menarik tali kangkang kuda nya, membuat kuda hitam itu berhenti sejenak di bawah naungan pohon besar yang rindang sebelum memasuki gerbang pasar.
"Rania," panggil Aron, lembut.
Rania refleks menoleh sedikit, dan itu adalah kesalahan, wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter, mata Aron yang biasanya berkilat haus darah, kini tampak seperti permata delima yang tenang dan jernih.
"Dunia ini sangat kotor, penuh dengan sampah seperti Diana dan Viola," ucap Aron pelan, jemarinya yang kasar karena sering memegang pedang kini mengusap lembut pipi Rania yang kemerahan.
"Aku menghabiskan hidupku untuk menghancurkan sampah-sampah itu, tapi bersamamu, aku merasa ingin membangun sesuatu, bukan menghancurkannya," lanjut Aron, menatap dalam mata Rania.
"Kamu tuba-tiba datang, memadamkan monster dalam diri ku, dengan cara yang paling unik dan tidak pernah ku sangka, tapi karena hal itu aku memiliki alasan untuk tidak menghancurkan dunia ini," ucap Aron, dengan tatapan mata yang tidak lepas dari wajah teduh Rania.
Deg
Rania tertegun, jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia takut Aron bisa mendengarnya, itu sangat memalukan.
"Kamu bicara apa? Kamu itu Kaisar Iblis, ingat?" ucap Rania, ketus, mengalihkan pembicaraan.
"Aku bisa menjadi iblis untuk musuhmu, tapi aku akan menjadi tempat berteduh untukmu," bisik Aron, dengan suara berat nya.
Aron memajukan wajahnya, mencium kening Rania dengan sangat lama dan penuh perasaan, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya pada gadis itu.
Cup
Rania memejamkan mata, merasakan ketulusan yang aneh dari pria yang seharusnya dia waspadai.
Untuk pertama kalinya sejak dia terbangun di tubuh Rania Belmont, dia merasa tidak perlu memegang belati untuk melindungi dirinya sendiri.
Ding
"Indikator Kiamat 8%."
"Kaisar Aron merasa sangat dicintai meskipun Anda belum mengatakan apa-apa."
"Sistem, bisakah kamu berhenti muncul di saat-saat seperti ini?" batin Rania gusar, wajahnya kini benar-benar memerah seperti tomat.
Aron melepaskan ciumannya, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan nakal saat melihat ekspresi Rania yang salah tingkah.
"Ayo, Nona Melati, kita buat seluruh rakyatku iri karena Kaisar mereka telah menemukan ratunya," ucap Aron dengan semangat, memacu kudanya masuk ke dalam keramaian pasar dengan gaya yang sangat sombong namun elegan.
Pasar rakyat ibu kota Gild sedang sangat ramai, bau roti panggang, rempah-rempah, dan suara tawar-menawar memenuhi udara. Aron turun dari kuda, lalu dengan sangat alami ia mengulurkan tangan untuk membantu Rania turun.
"Jangan jauh-jauh dariku, atau aku akan membakar toko yang berani menyentuhmu," bisik Aron dengan senyum yang terlihat sangat tampan tapi isinya ancaman semua.
"Berhenti bersikap berlebihan. Lihat, semua orang melihat ke arah kita, untung saja kamu membawa penutup kepala, sehingga tidak ada yang tahu kalau kamu Kaisar mereka," ucap Rania mendengus, tapi dia tetap berjalan di samping Aron.
Memang benar, meskipun Aron memakai penutup kepala dan jubah hitam polos untuk menutupi pakaian kebesarannya, aura intimidasi dan wajahnya yang terlalu tampan tetap saja mencuri perhatian.
Sedangkan Rania, dengan lencana bulan sabit di dahinya, terlihat seperti dewi yang tersesat di pasar.
"Wah, lihat pasangan itu! Serasi sekali ya!" bisik seorang pedagang kain.
"Pria itu, dari aura nya saja sudah terlihat, kalau dia tampan sekali, tapi tatapannya galak ya?" bisik yang lain.
Aron yang mendengar pujian serasi langsung tersenyum bangga, dengan senyum yang terus merekah diwajahnya, membuat Rania kesal.
"Berhenti tersenyum bodoh seperti itu, Aron," bisik Rania, geram.
"Memang nya kenapa," jawab Aron, terkekeh pelan.
Aron tiba-tiba berhenti di depan sebuah kedai jajanan pinggir jalan yang menjual permen buah tusuk.
"Berikan aku dua tusuk yang paling manis untuk gadisku," perintah Aron sambil melemparkan satu koin emas.
"T-tuan... ini koin emas? Harganya hanya tiga koin tembaga..." ucap Si pedagang gemetar.
"Simpan kembaliannya, anggap saja itu biaya karena kamu sudah membuat gadisku tersenyum," ucap Aron asal bunyi, padahal Rania sedang memasang wajah datar.
"Siapa yang tersenyum? Aku sedang kesal!" protes Rania, namun dia tetap menerima tusukan buah stroberi berlapis gula itu.
"Enak..." gumamnya tanpa sadar.
Aron memperhatikan Rania yang makan dengan lahap.
suwun thor crazy upnya, matrehat thor