NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.

Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Flashback Bik Asih dan Dendamnya Selama 25 Tahun**

*Flashback. Pondok Al-Hidayah, 25 Tahun Lalu. Asih Umur 19 Tahun*

Angin malam di pondok Al-Hidayah dinginnya nusuk tulang. Lampu teplok di serambi redup, cuma cukup buat nerangin kitab kuning yang digelar di pangkuan santri.

Asih duduk paling pojok. Sarungnya ditekuk rapi. Kerudung putihnya udah kusut karena seharian ngangkat air dari sumur. Tangannya masih bau sabun colek. Tapi matanya nggak di kitab. Matanya ngikutin satu orang.

Agil.

Agil bin Sulaiman. Umur 18 tahun. Badannya tinggi, bahunya bidang kayak tembok pesantren. Kalo jalan, langkahnya tenang. Kalo ngaji, suaranya merdu. Bismillahirrahmanirrahim, gitu. Satu pondok diem. Kyai aja senyum dengernya.

Tahun itu Agil juara 1 tahfidz se-Kabupaten. Pialanya digantung di aula. Foto dia dipajang. Santri baru yang dateng, pertama kali nanya, "Itu siapa? Ganteng banget."

Asih salah satunya yang nanya dalam hati.

Dia bukan santri pinter. Ngajinya pas-pasan. Setoran surat pendek aja masih gagap. Mukanya pas-pasan juga. Kulit sawo matang, hidung pesek, alis tebel. Ngomongnya ceplas ceplos. Kalo marah, suaranya kedengeran sampe dapur.

Tapi hatinya, hatinya nurut banget tiap Agil lewat.

"Duh, gimana caranya biar diliat Agil ya Allah," bisik Asih tiap abis shalat hajat. Sajadahnya dia peluk. Air matanya netes ke sajadah yang udah luntur.

Temen sekamarnya, Sarah, sering ngejek. "Sih, kamu tuh ngapain sih tiap Agil lewat langsung salting? Pipimu merah kayak cabe rebus."

Asih nyubit lengan Sarah. "Ih, diem kamu. Aku tuh khusyuk, bukan salting."

Sarah ketawa. "Hik hik..." kecil. Suaranya lembut. Kulitnya putih. Rambutnya panjang sampe pinggang. Kalo senyum, lesung pipinya nongol. Ngajinya lancar. Masakannya enak. Semua ustadzah sayang sama Sarah.

Asih tau. Dia tau dia kalah jauh. Tapi cinta kan nggak bisa disuruh milih.

Setiap abis subuh, Agil suka nyapu halaman pondok. Sapunya gede. Debu beterbangan. Asih pura-pura lewat bawa ember. "Assalamualaikum Mas Agil," sapanya, suaranya dibuat paling manis.

Agil cuma senyum. "Waalaikumsalam Mbak Asih. Hati-hati jalannya Mbak, licin."

Itu doang. Nggak ada "Mbak cantik" atau "Mbak mau bantuin nyapu nggak". Cuma "hati-hati jalannya".

Asih pulang ke kamar sambil gigit bibir. "Kenapa sih dia nggak nengok aku Ya Allah. Kenapa sih matanya lurus aja Ya Allah."

Tiga tahun di pondok, Asih nyoba deketin Agil pake cara halal. Rajin khidmah. Kalo ada acara, dia yang paling depan bantuin. Kalo Agil batuk, dia bikinin air jahe. Taruh di meja tanpa nama.

Pernah suatu malam, lampu pondok mati. Gelap gulita. Asih sengaja jalan pelan di lorong. "Aduh," dia pura-pura kesandung. Embernya jatuh. "Brak!"

Langkah kaki dateng. Suara Agil. "Mbak Asih? Nggak apa-apa Mbak?"

Asih pura-pura meringis. "Iya Mas, sakit Mas. Kakiku keseleo kayaknya."

Agil jongkok. Tangannya megang pergelangan kaki Asih. Dingin. Kasar. Tapi hati Asih "dug dug" kenceng. "Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya disentuh."

"Udah Mbak, besok ke Ustadzah aja ya. Kasih minyak kayu putih. Saya anterin ke kamar ya Mbak."

Asih seneng. Digendong? Eh, dituntun. Agil jalan di depan, Asih di belakang. Jarak mereka cuma sejengkal. Asih bisa ngerasain wangi kitab + wangi keringat Agil.

Sampe depan kamar, Agil lepas pegangan. "Udah Mbak, istirahat ya. Besok jangan jalan malem-malem Mbak."

Pintu ditutup. "Klak."

Asih di dalem kamar langsung nangis. Bukan karena sakit kaki. Tapi karena kecewa. "Dia nggak pegang tanganku lebih lama Ya Allah. Dia nggak bilang 'Mbak, aku suka Mbak'. Dia cuma bilang hati-hati."

Sarah yang denger dari dalem langsung peluk Asih. "Udah Sih, ikhlas Sih. Agil tuh emang kayak gitu. Ke semua orang baik. Bukan cuma ke kamu."

Asih geleng. "Enggak Ra. Aku ngerasain kok. Dia beda kalo sama kamu. Kalo ngomong sama kamu, matanya berbinar. Kalo sama aku, datar aja."

Sarah diem. Nggak bisa bantah. Karena emang iya.

Lulus SMA pondok, Agil langsung daftar kuliah ke Mesir. Beasiswa tahfidz. Berangkatnya rame-rame. Kyai doain. Santri banyak yang nangis bahagia.

Asih ikut nangis. Tapi nangisnya beda. Nangis karena takut. Takut Agil lupa sama dia. Takut ada perempuan Mesir yang lebih putih, lebih pinter, lebih sholehah.

Sebelum Agil naik bis, Asih berani. Nyelipin surat di tas Agil. Tulisannya belepotan. Pake pulpen warna ungu.

"Mas Agil, Asih suka sama Mas dari kelas 1 pondok. Mas mau nggak khidmah bareng Asih? Mas mau nggak jadi imam Asih? Asih janji jadi makmum yang nurut Mas."

Dia nggak ngarep jawaban. Cuma pengen ngeluarin isi hati. Biar nggak meledak.

Dua minggu kemudian, pas libur, surat itu balik. Diselipin di mushaf Asih sama santri yang dari Mesir. Ada tulisan Agil di bawahnya. Tinta hitam. Tegas. Laki banget.

"Mbak Asih, terima kasih sudah mendoakan saya. Maaf, hati saya sudah Allah titipkan untuk Sarah. Kita saudara sepondok ya Mbak. Jaga silaturahmi. Wassalam, Agil."

Saudara sepondok.

Dua kata itu kayak palu godam. "Duk!" ngena ke dada Asih.

Malam itu Asih nggak tidur. Dia ke kamar mandi. Buka keran kenceng. "Srooos..." biar suara tangisnya ketutup.

"Ya Allah, kenapa bukan aku Ya Allah. Kenapa Sarah Ya Allah. Sarah tuh adik kelas aku Ya Allah. Aku yang duluan suka Ya Allah. Aku yang duluan khidmah Ya Allah."

Dia gedor tembok. "Buk buk..." sampe tangannya merah.

Sejak itu Asih berubah. Nggak seceria dulu. Kalo ada acara, dia diem di pojokan. Kalo Sarah cerita soal surat dari Agil, Asih pura-pura sibuk nyuci.

Tapi di dalam, dendamnya numpuk. Pelan. Kayak karat di panci.

Setahun kemudian, Agil pulang dari Mesir. Wisuda. Pake jubah. Pake sorban. Tambah ganteng. Tambah wibawa.

Lamaran ke Sarah digelar sebulan setelahnya. Sederhana. Tahlilan. Siraman. Asih dateng. Pake kebaya ijo mint. Senyum paling lebar. Sungkeman ke Agil sama Sarah.

"Mas Agil, Mbak Sarah, semoga langgeng ya. Sakinah mawadah warahmah."

Di dalem hati dia teriak. "Kenapa kamu bahagia Mas? Kenapa bukan sama aku Mas? Aku yang nungguin Mas 3 tahun Mas. Aku yang nyuci baju Mas. Aku yang bikinin jahe Mas. Kenapa Mbak Sarah yang dipeluk Mas?"

Agil jawab. "Aamiin, terima kasih Mbak Asih. Doain kami ya Mbak."

Doain. Iya. Asih doain. Tapi doanya campur aduk. Ada "ya Allah bahagiakan mereka" tapi ada juga "ya Allah kasih aku seujung kuku bahagianya mereka aja Ya Allah."

Nikah Sarah-Agil rame. Satu desa dateng. Asih jadi panitia konsumsi. Tangannya lecet ngiris bawang. Matanya bengkak nahan air mata.

Malam pertama mereka, Asih nggak tidur. Denger suara gamelan dari rumah Agil. Denger suara orang takbiran. "Allahumma barik lahuma..."

Asih peluk bantal. "Enak ya Ra. Dipeluk Mas Agil. Disuapin Mas Agil. Tidur dipelukan Mas Agil."

Bantalnya basah.

Satu tahun kemudian, Kyai pondok mutusin Asih harus nikah. Umur 20. Biar ada yang jagain.

Calonnya, Syarif. Adiknya Agil. Yang paling bungsu. Umurnya 21 Pendiem. Sholeh. Rajin. Tapi diemnya kebangetan. Kalo ditanya jawabnya "iya" atau "nggak".

Asih nolak. "Kyai, Asih belum siap Kyai."

Kyai senyum. "Nak Asih, jodoh itu rahasia Allah. Syarif itu anak baik. Adiknya Mas Agil. InsyaAllah bisa bimbing kamu Nak."

Asih mau bilang, "Tapi aku cintanya Mas Agil Kyai, bukan adiknya." Tapi lidahnya kelu.

Akhirnya dia angguk. Bukan karena cinta. Karena capek. Capek nunggu Agil yang nggak akan nengok. Capek jadi bahan gosip, "Kasihan Asih, ditolak Agil."

Nikahnya sederhana juga. Aqil jadi saksi. Senyum ke Asih. "Selamat ya Mbak Asih. Syarif itu adik saya paling sholeh Mbak. Titip ya Mbak."

Asih jawab "InsyaAllah Mas." Tapi pas ijab kabul, pas Syarif bilang "saya terima nikahnya Asih binti... dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai", mata Asih merem. Yang kebayang wajah Agil waktu nikahin Sarah.

Malam pertama sama Syarif, hening. Syarif shalat hajat dulu. Lama. Abis itu tidur. Nggak ngobrol. Nggak pegang tangan.

Asih merem. Bisik ke gelap. "Mas Agil... ini adik Mas. Asih nikah sama adik Mas. Sakit Mas. Sakit banget Mas."

Syarif baik. Rajin ngaji. Rajin shalat malam. Tapi Asih nggak pernah cinta. Tiap lampu mati, dia merem. Kebayang Agil ngimamin Sarah. Kebayang Agil nyuapin Sarah.

Tahun berjalan. Sarah hamil. Asih yang nyuapin. Asih yang mijitin kaki Sarah yang bengkak. Senyum. "Mbak Sarah, anaknya pasti ganteng kayak Mas Agil ya Mbak."

Di dalem, dia nyesek. "Kenapa Mbak yang hamil dari Mas Agil. Kenapa bukan aku."

Lahirlah Kirana. Bayi merah. Nangisnya kenceng. Matanya sipit kayak Agil. Bibirnya tipis kayak Sarah.

Waktu Asih gendong, Syarif bilang, "Mbak Asih, ini ponakan kita Mbak. Anak Mas Agil."

Tangan Asih gemetar. Bayi itu wangi. Tapi di kuping Asih ada suara iblis. "Ini anak pelakor. Ini anak yang ngerebut Agil darimu Asih. Ini bukti kalo Agil milih Sarah, bukan kamu."

Asih cium jidat Kirana. "MasyaAllah... cantik kayak ibunya..." Bibir senyum. Mata perih.

8 tahun kemudian, kabar duka dateng. Agil sama Sarah kecelakaan. Mobil masuk jurang. Sarah yang nyetir, katanya hilang kendali karena Kirana nangis di rumah. Dua-duanya meninggal di tempat. Kirana umur 8 tahun, jadi yatim piatu.

Asih yang pertama kali nyampe RS. Liat jenazah Agil dikafani. Wajahnya masih tenang. Kayak lagi tidur.

Asih nggak nangis di depan orang. Dia sujud di mushola RS. "Ya Allah, kenapa Engkau ambil dia Ya Allah. Kenapa Engkau kasih dia bahagia sama Sarah dulu baru diambil Ya Allah. Kenapa Engkau nggak kasih aku kesempatan Ya Allah."

Sejak itu, dendam Asih ke Kirana makin jadi. Bukan ke Kirana-nya. Tapi ke bayang-bayang Agil dan Sarah yang ada di muka Kirana.

Tiap Kirana manggil "Bibik", Asih jawab "iya ". Tapi di hati dia bisik, "Kamu anaknya Aqil. Kamu bukti kalo Aqil lebih milih ibumu. Sekarang giliran kamu yang ngerasain sakitnya dijodohin Nak. Giliran kamu yang nikah tanpa cinta Nak. Biar kamu tau rasanya jadi Asih 20 tahun."

Rencana udah dia susun. Ustadz Yusuf ank Kiai. Kaya. donatur pondok. Usia 50 tahun sudah punya 3 istri. Kalo Kirana nikah sama dia, pondok naik derajat. Dana lancar. Tapi yang paling penting, Kirana bakal ngerasain nikah karena keterpaksaan. Kayak Asih dulu.

"Kirana sial," bisik Asih tiap malem ke bantal. "Sial kayak ibumu. Ngerebut laki-laki orang. Sekarang giliran kamu yang dipaksa nikah Nak. Adil Nak. Dunia ini adil Nak."

Dia ketawa kecil di gelap. Ketawa orang yang lukanya udah 25 tahun nggak sembuh.

...****************...

1
Miss Danica
@Sarah inilah uniknya. baca terus ya.. novel ini menarik banyak pesan moral dan pertentang etika.
Sarah
Masa iya sih... di pondok itu gak ada seorang pun yang rada bener. Sekelas pondok pesantren, lho ini. Masa sih masih pada percaya sama yang namanya “Orang yang jadi pembawa sial”. Itu kan mendekati musyrik juga. Percaya sesuatu semacam itu. Pondoknya yang di kampung banget kah? Sampai gak ada satu pun yang kuat iman gitu? Atau pondoknya... pondok-pondok sesat kayak di berita-berita? 😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!