NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Aroma kopi robusta yang pekat berpadu sempurna dengan wangi ruangan ber-AC di lantai lima kantor pusat Baskara Group. Pagi ini adalah hari pertama Hani Adisa Putri melangkah masuk bukan lagi sebagai staf biasa yang harus menundukkan kepala di koridor, melainkan sebagai Head of Administrative Division.

Papan nama akrilik baru berukir namanya dengan tinta emas sudah terpasang dengan gagah di samping pintu kubikel kaca yang luas ruang kerja barunya.

Hani berdiri di balik dinding kaca kerjanya, menatap keluar ke arah barisan meja staf yang dulu menjadi dunianya. Ada rasa haru yang mendalam yang menyusup ke relung hatinya.

Setiap kali ia memandangi ruangan itu, ia seolah melihat bayangan almarhum ayahnya yang tersenyam bangga dari kejauhan. Kehormatan keluarga yang sempat runtuh selama delapan tahun kini telah berdiri tegak kembali, bersih tanpa noda fitnah sedikit pun.

Tok...Tok...

Pintu kaca diketuk dengan sopan. Siska, salah satu mantan rekan sejawat Hani yang kini menjadi sekretaris pribadinya, melangkah masuk dengan senyuman lebar.

"Selamat pagi, Bu Hani," sapa Siska, masih agak canggung dengan panggilan baru tersebut. "Ini ada berkas laporan evaluasi anggaran kuartal kedua yang harus segera ditinjau. Dan... hm, ada kiriman di meja depan."

Hani tersenyum simpul, menerima map berkas dari tangan Siska. "Kiriman apa, Sis? Dari Pak Narendra?"

Siska terkekeh sambil menggelengkan kepala, matanya berkedip jenaka. "Bukan, Bu. Dari lantai paling atas. Seperti biasa, pengirimnya tidak mau disebut namanya, tapi semua orang di kantor juga tahu siapa yang punya selera memesan bunga mawar putih segar sebanyak ini setiap pagi."

Setelah Siska pamit keluar, Hani melangkah menuju meja kerjanya. Di sudut meja, sebuah vas kaca berisi buket mawar putih berembun tampak begitu kontras dengan tumpukan dokumen formal di sekelilingnya.

Sebuah kartu kecil berwarna hitam terselip di antara kelopak bunga. Hani mengambilnya dan membaca tulisan tangan yang tegas namun rapi di atasnya.

"Selamat bekerja, Ibu Kepala Divisi. Ingat janji Anda untuk mengawasi jam makan siang saya. Jangan sampai saya harus turun ke lantai lima hanya untuk menjemput sekretaris administrasi saya yang keras kepala ini."

Hani tidak bisa menahan senyumannya yang merekah. Reza Baskara benar-benar tidak berubah. Pria itu baru saja resmi keluar dari rumah sakit tiga hari yang lalu, dan meskipun Pak Narendra masih melarangnya untuk mengambil alih pekerjaan berat, Reza tetap saja bersikeras masuk kantor dengan alasan 'bosan berbaring seperti manekin'.

Sambil menyimpan kartu tersebut di dalam laci mejanya, Hani membuka laptop dan mulai tenggelam dalam tumpukan tugas barunya. Menjadi seorang kepala divisi di usia muda bukanlah perkara mudah, ia harus membuktikan bahwa posisinya saat ini didapatkan karena kapabilitas dan dedikasinya, bukan sekadar hadiah belas kasihan atas skandal keluarga Baskara.

Waktu berputar dengan cepat hingga jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang tepat. Hani baru saja menyelesaikan pemeriksaan anggaran ketika ponselnya di atas meja bergetar nyaring. Nama 'Reza Baskara' berkedip di layar.

Baru saja Hani hendak menggeser tombol hijau untuk menjawab, pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.

Sosok pria jangkung dengan kemeja slim-fit berwarna biru navy yang lengannya digulung hingga sebatas siku sudah berdiri di ambang pintu. Penampilannya tampak sangat segar, meskipun jika diperhatikan dengan saksama, langkah kakinya masih sedikit berhati-hati untuk menjaga keseimbangan punggungnya.

"Anda melanggar aturan lagi, Pak Reza," ucap Hani sambil meletakkan ponselnya kembali, mencoba memasang wajah sedatar mungkin walau hatinya berdesir hangat. "Ini area kerja divisi administrasi. Dan Anda baru saja mengabaikan sekretaris saya di depan."

Reza melangkah masuk dengan santai, menutup pintu kaca di belakangnya, lalu menduduki ujung meja kerja Hani dengan gaya angkuh yang khas. "Sekretaris pilihanmu itu sangat pengertian, Hani. Dia bahkan langsung membuatkan saya jalan begitu melihat saya keluar dari lift."

Reza menunduk, menatap wajah Hani yang kini berada tepat di bawah pandangannya. "Dua belas lewat lima menit. Kamu terlambat lima menit dari kesepakatan kita di rumah sakit, Ibu Kepala Divisi. Saya hampir saja memesan seluruh menu kantin untuk diantar ke ruangan ini jika kamu tidak kunjung naik ke atas."

"Saya baru saja menyelesaikan laporan ini, Pak," bela Hani sambil menunjuk layar laptopnya. "Sebagai kepala divisi baru, saya tidak bisa bersantai seperti Anda yang memiliki saham mayoritas."

Reza terkekeh, suara rendahnya terdengar begitu dekat di telinga Hani. Ia mengulurkan tangannya, menutup layar laptop Hani dengan perlahan namun pasti. "Pekerjaan tidak akan pernah ada habisnya, Hani. Tapi kesehatan bosmu ini adalah prioritas utama perusahaan saat ini, bukan begitu?"

Mau tidak mau, Hani akhirnya menyerah. Ia merapikan tas kerjanya dan berdiri dari kursi. Namun, sebelum ia sempat melangkah menuju pintu, Reza menahan pergelangan tangannya dengan lembut. Sentuhan hangat itu seketika menghentikan gerakan Hani.

Reza menatap lekat-lekat ke dalam mata Hani, guratan jenaka di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh kesungguhan yang mendalam. "Bagaimana hari pertamamu? Apakah ada orang di divisi ini yang membuatmu merasa tidak nyaman?"

Hani menggeleng pelan, tersenyum tulus untuk menenangkan kekhawatiran pria di hadapannya. "Semua orang sangat menyambut saya dengan baik, Pak. Pak Narendra juga menempatkan beberapa staf senior untuk membantu saya beradaptasi. Semuanya berjalan dengan sangat sempurna."

"Baguslah," Reza mengembus napas lega, ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan Hani yang berada dalam genggamannya.

"Karena jika ada satu orang saja yang berani merendahkanmu lagi di perusahaan ini, aku sendiri yang akan memastikan mereka mengemas barang-barangnya sebelum matahari terbenam."

"Anda terlalu berlebihan, Pak Reza," bisik Hani, rona merah kembali menghiasi kedua pipinya yang putih bersih.

"Mari kita pergi sekarang. Jika kita terus berduaan di ruangan ini, saya yakin desas-desus baru akan kembali menyebar di kalangan staf."

"Biarkan saja mereka bicara," ujar Reza acuh tak acuh, namun ia tetap melepaskan genggaman tangannya dan membukakan pintu untuk Hani dengan sikap yang sangat ksatria.

Makan siang hari itu berlangsung di sebuah restoran bernuansa taman privat yang terletak tidak jauh dari kantor pusat. Narendra Baskara ternyata sudah menunggu mereka di salah satu meja saung yang dikelilingi oleh kolam ikan koi yang tenang.

Suasana makan siang terasa sangat berbeda dari pertemuan-pertemuan formal sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan pembatasan kasta atau kecurigaan yang menghantui.

Narendra memperlakukan Hani layaknya bagian dari keluarga sendiri, mendengarkan dengan saksama setiap ide dan pandangan Hani mengenai pengembangan sistem administrasi digital perusahaan yang baru.

"Hani," ujar Narendra di sela-sela obrolan mereka, meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan.

"Minggu depan, perusahaan akan mengadakan malam penganugerahan tahunan sekaligus peringatan pulihnya nama baik mendiang ayahmu. Saya ingin kamu berdiri di atas panggung bersama saya untuk menerima penghargaan penghormatan tertinggi yang seharusnya ayahmu terima delapan tahun lalu."

Hani tertegun, tenggorokannya mendadak terasa tercekat oleh rasa haru yang membuncah. Ia menoleh ke arah Reza, dan pria itu hanya memberikan anggukan mantap penuh dukungan.

"Itu... sebuah kehormatan yang luar biasa besar bagi saya, Pak Narendra," ucap Hani dengan suara yang sedikit bergetar. "Terima kasih karena telah mengembalikan segalanya yang pernah hilang dari hidup kami."

Narendra tersenyum hangat, matanya menyiratkan ketulusan yang murni. "Kamulah yang mengembalikannya, Hani. Keberanianmu adalah hal yang menyelamatkan perusahaan ini dari kehancuran batin."

Namun, di balik kebahagiaan dan kedamaian yang baru saja mereka rengkuh, takdir tampaknya selalu menyisakan celah kecil bagi misteri yang belum sepenuhnya tuntas terurai.

Selesai makan siang, saat Narendra dan Reza sedang berjalan terlebih dahulu menuju mobil di area parkir, Hani tertinggal beberapa langkah di belakang karena harus menerima telepon darurat dari Siska mengenai dokumen yang tertinggal.

Begitu menutup panggilan teleponnya, Hani melangkah terburu-buru melewati lorong samping restoran yang agak sepi.

Sret...

Sebuah bayangan hitam mendadak melintas cepat di tikungan koridor luar, tepat di depan langkah Hani.

Seseorang berpakaian kasual dengan topi rajut yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajahnya tampak menjatuhkan sebuah amplop cokelat kecil tepat di atas lantai batu, sebelum akhirnya bergegas pergi dan menghilang di balik pintu keluar darurat.

Hani menghentikan langkahnya, jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Suasana sepi di lorong itu mendadak terasa mencekam secara instan, membangkitkan kembali memori trauma malam penyerangan yang lalu.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Hani berlutut dan memungut amplop cokelat tanpa nama tersebut. Tidak ada perangko, tidak ada alamat pengirim. Hanya ada tulisan tangan yang sangat kecil dan berantakan di bagian depannya bertuliskan "Untuk Hani Adisa Putri."

Hani membuka segel lem amplop itu dengan perlahan. Di dalamnya, terdapat sebuah lembaran foto cetak tua yang sudah agak menguning di bagian ujungnya, bersama dengan secarik kertas memo kecil.

Ketika Hani membalikkan foto tersebut, matanya seketika melebar sempurna dalam horor yang dingin. Foto itu menampilkan sosok almarhum ayahnya delapan tahun lalu, sedang berdiri berjabat tangan dengan Hendra Baskara.

Namun, yang membuat darah Hani mendadak terasa membeku adalah sosok pria ketiga yang berdiri di latar belakang foto tersebut, sosok pria yang wajahnya sengaja dilingkari dengan tinta merah darah.

Hani dengan cepat membuka lipatan kertas memo kecil yang menyertainya. Hanya ada satu kalimat pendek yang tertulis di sana, namun dampaknya laksana petir yang menyambar di siang bolong, meruntuhkan seluruh rasa aman yang baru saja ia rasakan.

"Hendra Baskara hanyalah bidak catur yang dikorbankan. Tangan yang mengayunkan pisau yang sesungguhnya... masih ada di dekatmu."

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!