Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETELAH INI AKU HARUS PULANG KE MANA?
Seminggu kemudian,aku mendapat kabar Ibu Asih masuk IGD.Pembuluh darahnya pecah,Aku pamit ke Mas Dharma pulang ke Solo.
Dua hari disana. Kondisi Ibu membaik. Ia memintaku menyuapi satu sendok kopi dingin dan sepotong jeruk segar. Setelah itu ia tertidur,masih ada harapan.
Ku pesan tiket ke Jakarta pukul tiga sore. Namun siang itu,kulihat Tidurnya terlalu tenang. Saturasinya rendah,Matanya tak bergerak.
“Adrian, panggil suster!” seruku panik.
Ketakutanku menjadi nyata.Suster datang dan berkata lirih.
,“Bantu bacakan doa untuk Ibu ya"
Aku mendekat ke telinga Ibuku, menahan air mata yang hampir runtuh.
“Bu kalau ini yang terbaik, Tika ikhlas. Semoga Allah mengampuni dosa Ibu dan memudahkan perjalanan Ibu. Kita berdoa sama-sama ya. Tika tuntun.”
Dengan tangan yang gemetar, kugenggam jemari Ibu lebih erat. Tubuhnya sudah sangat lemah,
Suasana mendadak bergejolak. Adik-adik mengelilingi tempat tidur. Tangis pecah di mana-mana. Ibu menghembuskan napas terakhirnya. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya.
“Kak… lihat kak… Ibu nangis,” ujar dela dengan suara gemetar.
aku terus memanjatkan doa,Di Sela tangis yang kutahan, aku mencoba tersenyum. Bukan karena tidak sedih, melainkan karena aku ingin Ibu pergi dengan tenang, tanpa memikirkan kesedihan yang kami tinggalkan.
Kening Ibu kucium perlahan Untuk terakhir kali ❤️
waktu berlalu begitu cepat, kami bekerja sama dengan begitu kompak.Tanpa banyak arahan, semua bergerak. Ambulans, kain kafan, batu nisan, tenda di depan rumah,semuanya berjalan lancar. Tetangga berdatangan membantu dengan tulus.
Aku sempat mampir ke minimarket membeli beberapa dus air minum. Dompetku menipis, tetapi masih tersisa selembar uang. Aku memberikannya pada seorang tunawisma di depan toko.
“Bu,hari ini Ibu saya meninggal. Tolong doakan Ibu saya ya. Namanya Asih Karunia,” ucapku pelan.
Ia mengangguk, dan aku pun pergi.
Di rumah, proses pemakaman berjalan cepat. Saat perpisahan terakhir sebelum Ibu dibawa ke liang lahat, aku menatap tubuhnya yang terbujur kaku. Air mataku tumpah. Aku tak sanggup lagi berpura-pura tegar.
“Kenapa cuma tiga tahun saja Bu?” tangisku pecah. “Kalau waktu bisa kembali, ambillah apa pun yang kumiliki, asal Ibuk bahagia.
Dela menarikku ke pelukannya.
“Kapelukannya, kak sudah, jangan nangis kak, itu akan memberatkan
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Tiket pesawatku hangus. Aku menggantinya dengan tiket kereta dini hari. Rumah masih ramai. Kami saling menguatkan, berpura-pura tegar di tengah kehilangan yang menganga.
Di stasiun, aku duduk menatap kosong,seolah kulihat sosok Papa dan Ibu Asih menatapku dengan senyum sedih.
Lanjutkan hidupmu. Jaga dirimu baik-baik.
Aku menangis. “Pa…Ibu… setelah ini aku harus pulang ke mana?”
Kereta terus melaju membelah malam,Di balik kaca jendela yang memantulkan wajahku sendiri, aku melihat seorang perempuan yang sudah sangat berbeda dari gadis kecil yang dulu hanya ingin diterima.
Aku tersenyum pahit,Ternyata hidup memang tidak selalu memberikan apa yang paling kita inginkan,Dulu aku berpikir, jika suatu hari menemukan keluarga kandungku, semua luka masa kecil akan sembuh dengan sendirinya. Aku membayangkan pelukan hangat, tawa bersama, dan perasaan pulang yang selama ini kucari.
Sering kali aku bertanya pada diriku sendiri,Apa aku salah datang?
Apa aku salah berharap?
Apa aku salah karena terlalu mencintai mereka?
Kereta terus bergerak,Aku memejamkan mata.
Di antara suara roda yang bergesekan dengan rel, aku seolah mendengar suara Ibu.
"Tika harus kuat ya."Aku menarik napas panjang.
"Iya Ibu. Tika akan kuat."
Sesampainya di Jakarta,hidup kembali berjalan seperti biasa,Orang-orang tetap bekerja,Matahari tetap terbit setiap pagi,Dunia ternyata tidak berhenti hanya karena seseorang yang kita cintai pergi,itulah bagian paling menyakitkan dari kehilangan.
Kita dipaksa melanjutkan hidup ketika hati belum benar-benar siap.
_________________________________________________
Siang iu dirumah,aku sedang focus menjaga mama yang sedang terbaring sakit,beliau yang tak pernah mengurangi kasih sayangnya padaku,Namun entah mengapa, kehadiran ku setiap kali ada di rumah,kedua kakakku seolah melihatku sebagai ancaman
aku teringat usulan Mas Dharma.
"Kalau kamu mau, kita bisa membeli rumah Mama,Biarkan mama tetap tinggal di sana bersama kita,Toh kamu sudah dikenal baik oleh para tetangga sejak kecil,Nanti uang hasil penjualan rumah bisa kita berikan kepada Kak Antoni dan Kak Rico sesuai kesepakatan mereka. Tapi ingat, kita harus bicara baik-baik dan meminta izin terlebih dahulu."
Mendengar itu, aku memberanikan diri menyampaikan niat tersebut kepada Kak Rico,Namun responsnya jauh dari yang kuharapkan.
"Buat apa kamu beli rumah itu? Toh itu rumahmu juga! Nanti kalau sudah kamu beli, ujung-ujungnya dijual bagaimana?" ujarnya dengan nada tinggi.
Aku menarik napas panjang.
"Kak, kalau memang aku ingin menjualnya, untuk apa aku repot-repot membelinya? Dengan uang yang ada, aku bisa membeli rumah di tempat lain. Aku ingin membeli rumah itu karena di sana banyak kenangan kita tersimpan."
"Mama juga pernah bilang, kalau aku punya uang lebih, beliau ingin aku membeli rumah itu dan mengajaknya tinggal bersamaku. Tapi buat apa, Kak? Rumah itu tetap rumah kalian."
tatapmu serius..
"Aku ini sadar diri. Aku bukan bagian dari keluarga ini sepenuhnya,Setiap kali aku pulang ke sana,aku merasa seperti pencuri di rumah sendiri. Sedikit saja ada yang berpindah tempat, aku yang dicurigai.
Lemari terbuka, aku yang ditanya. Surat rumah tidak ditemukan, aku yang diinterogasi dengan nada mengintimidasi. Aku harus bagaimana lagi, Kak?"
Namun wajah Kak Rico tetap datar dan angkuh.
"sebenarnya Kakak kasihan sama kamu. Mau sampai kapan kamu jadi simpanan? Harusnya kamu bertobat."
Aku tersenyum pahit.
"Kakak baru bilang itu sekarang?
"Kalau memang Kakak peduli, ke mana saja waktu Mama kehabisan beras?
Ke mana Kakak saat Papa jarang pulang dan Mama ditagih utang warung lima puluh ribu rupiah di depan tetangga? Padahal ada orang lain yang berutang ratusan ribu dan tidak ditagih."
Suaraku mulai bergetar.
"Ke mana Kakak saat Mama dan Papa sakit? Siapa yang bolak-balik mengantar mereka?
Siapa yang menghibur Mama ketika beliau menangis karena minta uang lima puluh ribu ke kakak tapi justru dimarahi?"
Aku menunjuk diriku sendiri.
"Aku, Kak. Aku yang ada di sana."
"Aku kumpulin semua uang yang kumiliki untuk Mama. Tapi uang itu dipinjam Kak Adrian dan tidak pernah kembali.
Kalung, perhiasan, dan barang-barang yang aku berikan ke Mama juga hilang satu per satu,kk gak pernah tanya dari mana semuanya berasal, kakak cuma tahu minta!
Aku menggeleng pelan.
"Kakak tahu aku tahu semua itu dari mana? Dari Mama sendiri. Mama yang cerita sambil menangis."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
"Sering aku dengar dari istrimu bahwa aku hidup dari uang haram,aku dijelek jelekin di saudara lain, Bahwa kalau tidak menjual diri, aku tidak akan bisa makan. Sehina itukah aku di mata kalian?"
Aku menatapnya lurus.
"Kalau memang begitu cerita nya,lalu di mana peran kakak waktu itu? Bukankah seharusnya Kakak melindungi adiknya? Bukankah dulu Kakak selalu bilang sangat menyayangiku?"
Namun wajahnya masih terlihat angkuh.
"Masih banyak, Kak.Banyak sekali yang selama ini aku tahan."
Aku menghela napas panjang.
"Aku sabar. Aku diam. Bahkan aku pernah mengajak Kak Antoni dan Kak Rico datang ke kantorku supaya kk tahu aku benar-benar kerja, Apa itu belum cukup menjadi bukti?
Aku kerja siang malam Tapi kalian tetap memilih memandangku dengan tuduhan kalian yang lebih jahat!
_Aku kembali teringat satu per satu kejadian yang selama ini kusimpan.
"Kalian melarang aku menjadi istri kedua.Tapi Kakak lupa, waktu Kakak membutuhkan uang untuk biaya proses pemindahan tugas,uang siapa yang Kakak pinjam?"aku kan? dan aku tidak mengharap balik uang itu.
Aku menatapnya dalam.
"Alasannya supaya dekat dengan Mama. Nyatanya, Kakak jarang pulang. Pagi hanya mengantar makanan lalu pergi lagi. Bahkan Kakak tidak tahu kalau makanan itu kadang sudah basi."
Suaraku meninggi untuk pertama kalinya.
"Mama itu manusia, Kak. Bukan hewan peliharaan yang bisa ditinggalkan makanan lalu ditengok beberapa hari kemudian."
Aku menghapus air mata.
"Sampai di sini Kakak mengerti? Sebenarnya Kakak tahu,atau pura-pura tidak tahu?"
Tetapi sekali lagi, tidak ada jawaban.
Aku tersenyum getir,aku teringat lagi sebuah kalimat yang begitu membekas di hatiku.
"waktu Papa masih hidup, Kakak pernah bilang mungkin Papa belum sembuh-sembuh karena namaku masih ada di kartu keluarga."
Aku tertawa kecil,
"Kakak sudah lupa pernah bilang itu. Tapi aku tidak. Sampai hari ini aku masih mengingatnya."
Aku menarik napas panjang.
"aku ikhlas kak, lakukanlah apa pun yang menurut Kakak baik,Kita tutup pembicaraan soal rumah,"Aku janji tidak akan membahasnya lagi.
dulu aku ingat juga,Kak Antoni meneleponku dengan nada marah. Ia memintaku mengeluarkan semua barang yang pernah kubelikan untuk rumah itu.
Aku hanya bisa menangis,Aku tidak melawan,Aku tidak membantah,Aku memilih pergi,Namun hidup memiliki caranya sendiri untuk menguji manusia.
sampai satu ketika,rumah Kak Antoni mengalami longsor. Ia harus memulai semuanya dari nol dan tinggal di rumah dinas.
Tidak lama setelah itu, anak pertamanya meninggal karena kecelakaan.Saat kabar itu sampai kepadaku, aku ikut menangis,Karena bagaimanapun juga, mereka tetap keluargaku.
Siapa yang membelikan tiket pesawat untuk seluruh keluarga agar bisa berkumpul saat musibah itu terjadi?
Aku.!!
tapi sekali lagi, tidak ada yang bertanya dari mana uang itu berasal.
Setiap kali Kak Antoni datang ke Jakarta, aku yang menyiapkan hotel, kendaraan, makan, dan berbagai kebutuhan lainnya,Aku tidak pernah minta balasan,tetapi mereka tidak pernah bertanya bagaimana aku mendapatkannya.
Mereka hanya melihat hasilnya,Tidak pernah melihat perjuangannya.
Aku lelah. Aku sudah berusaha. Aku hanya ingin punya tempat pulang. Ironisnya, ketika mereka kesusahan, akulah yang selalu berada di barisan terdepan membantu. Tapi perlakuan itu tak pernah benar-benar berubah,sebentar hangat, lalu kembali menjauh.
hingga terjawab sudah semua,saat aku berada dirumah,Tetangga bercerita, sebelum aku pulang, rumah ini sering sepi.Mama kerap dikunci dari luar, mama memang tak seaktif dulu,lebih banyak di atas tempat tidur.
seorang tetangga di samping rumah mengajakku berbicara dengan wajah serius. Ia menyampaikan maksudnya menagih iuran warga,perihal sampah dan kebutuhan lingkungan lainnya.
Katanya, Kak Reno dan Kak Antoni sudah lama sulit dihubungi. Tanpa banyak bicara, aku menutup seluruh tunggakan itu sekaligus, bahkan hingga tiga bulan ke depan.
Namun yang benar-benar membuatku terpukul adalah kalimat berikutnya,Tetangga mengatakan bahwa warga sekitar sudah tahu aku bukan anak kandung keluarga ini. Lebih dari itu,mereka juga tahu aku adalah istri simpanan Mas Dharma.
Dunia seakan runtuh seketika,Selama ini aku menutup rapat-rapat aib yang menurutku tak perlu dibawa pulang ke lingkungan keluarga. Aku ingin menjaga nama baik mereka, menjaga perasaan mama. Namun justru dua kakakku sendiri yang menghancurkan benteng itu.
kini aku paham,ini yang mereka inginkan sejak awal. Mereka tidak pernah menghendakiku sebagai adik,mereka tidak pernah benar-benar menerimaku.
esoknya, aku memutuskan pergi,entah apakah aku masih bisa bertemu mama lagi🥺,mungkin nanti,aku hanya bisa meluapkan rindu ku melalui Doa ma, Sebelum berangkat, aku berlutut di hadapan beliau, Kucium kedua kakinya perlahan. Aku tak sanggup mengucapkan kata perpisahan,aku tak ingin melihat mama sedih.tapi Dalam hati aku berdoa,
“Semoga Allah selalu menjaga mama.” Maafkan Tika, Ma.
Aku melangkah pergi, kembali ke apartemen, membawa luka yang tak sempat kujelaskan pada siapa pun.
kini aku benar benar focus hanya aku dan mas Dharma saja,beliau menyiapkan rumah di Makassar agar kami bisa bersatu,ia tau bahwa sekarang aku sebatang kara,karena itulah ia sedang berusaha memperjuangkan aku hingga selesai.
Mas Dharma, sekali lagi, menjadi contoh yang baik dalam hidupku,Di tengah hidup yang penuh retakan, ia hadir sebagai pengingat bahwa masih ada ketenangan yang bisa kupegang,meski hanya dengan kedua tanganku yang gemetar. Sekali lagi terimakasih untuk mas Dharma .
Biar bagaimanapun,ada begitu banyak cinta yang pernah kuterima.
Dari Papa,Dari Mama, Dari Ibu Asih,
Dari orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku,Termasuk Mas Dharma.
Jika hidupku adalah sebuah perjalanan panjang, maka Mas Dharma hadir di saat aku hampir menyerah,Perlahan aku belajar memaafkan,Bukan hanya memaafkan orang lain,Tetapi juga memaafkan diriku sendiri.
Jika suatu hari kisah hidupku dibaca orang lain, aku tidak berharap mereka mengingat semua luka yang pernah kualami.
Aku hanya berharap mereka melihat satu hal.
Bahwa seberat apa pun hidup yang datang, selalu ada pilihan untuk tetap menjadi baik,Karena kebencian hanya melahirkan kebencian,Sedangkan kebaikan, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya sendiri.
sekarang aku tidak lagi mencari tempat pulang,Rumah bukan tentang bangunan,Rumah adalah tempat di mana cinta tetap tinggal,bahkan saat orang-orang yang kita cintai telah tiada,selama aku masih menyimpan cinta itu di dalam hati, aku tidak akan pernah benar-benar sendirian.
End_
_________________________________________________