NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Malam itu, keheningan di dalam apartemen Berlin terasa jauh lebih pekat dan berat dari biasanya. Tidak ada suara ceria Maizy yang menyambut di dekat pintu, tidak ada obrolan riang tentang menu makan malam, dan tidak ada tawa kecil saat gadis itu melakukan kecerobohan di dapur.

Maizy hanya duduk diam di meja makan, menunduk menatap mangkuk supnya yang perlahan mendingin. Jari-jarinya hanya memainkan sendok tanpa benar-benar menyuapkan makanan ke mulutnya. Pikirannya masih tertinggal di lorong sepi sekolah, pada kata-kata tajam Paul dan dorongan kasar dari gengnya. Sifatnya yang "tidak enakan" membuatnya mengunci rapat semua rasa sakit itu di dalam dada.

Di seberang meja, Michael Siegfried Falkenhayn duduk dengan postur tegap yang sempurna, visualnya yang dingin dan berwibawa. Rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan membingkai wajahnya yang luar biasa tampan namun sedatar patung es. Matanya yang tajam dan lelah setelah seharian memimpin jalannya kereta api, perlahan bergulir menatap keponakannya.

Sebagai orang yang sangat disiplin dan jeli, Michael jelas sadar ada yang tidak beres. Dia memperhatikan detail-detail kecil: bagaimana Maizy yang biasanya ekspresif kini mendadak bisu, bagaimana mata gadis itu tampak sedikit sembap di balik lensa kacamatanya, dan bagaimana bahunya tampak merosot turun seolah memikul beban berat.

Namun, karena karakter Michael yang dasarnya sangat dingin dan kaku, dia memilih untuk diam saja. Dia bukan tipe orang yang akan mendesak atau bertanya dengan kalimat-kalimat manis penuh empati. Baginya, jika Maizy tidak mengatakan apa-apa atau tidak meminta bantuannya secara langsung, maka dia tidak akan mencampuri urusan keponakannya itu.

Ting.

Suara sendok Michael yang beradu pelan dengan pinggiran piring memecah keheningan. Pria itu menyeka bibirnya dengan tisu, lalu meminum air putihnya dengan tenang.

"Kau tidak menyentuh makananmu, Maizy," ucap Michael datar, suaranya berat dan dingin, memecah lamunan Maizy.

"Ah...?" Maizy tersentak, cepat-cepat membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak melorot, mencoba menyembunyikan kepanikannya. "Maaf, Paman. Aku... aku cuma agak lelah karena tugas sekolah hari ini cukup menumpuk."

Michael menatap lurus ke dalam manik mata Maizy selama beberapa detik melalui tatapan dinginnya yang menusuk. Dia tahu Maizy sedang berbohong, tapi sekali lagi, pria itu memilih untuk tidak mendebatnya.

"Kalau lelah, habiskan makananmu lalu segera tidur. Jangan membuat dirimu sakit dan merepotkan jadwal keretaku besok pagi," sahut Michael acuh tak acuh, terdengar sangat tidak peduli dan ketus.

"Iya, Paman. Aku mengerti," bisik Maizy pelan, memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak sangat rapuh.

Michael berdiri dari kursinya, membawa piring kotornya ke wastafel dengan gerakan yang sangat rapi dan tanpa suara, lalu berjalan meninggalkan dapur menuju kamarnya. Sifat dingin Michael malam ini entah bagaimana membuat Maizy merasa semakin terisolasi di dalam dunianya sendiri. Dia sendirian menghadapi intimidasi Paul, dan rumah yang seharusnya menjadi tempat bersandar pun terasa sedingin es.

Malam merambat semakin larut di kota Berlin, namun ketenangan yang diharapkan Maizy tak kunjung datang. Setelah membersihkan meja makan, dia segera masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur. Suasana luar jendela sangat sepi, hanya terdengar deru angin malam yang sesekali menerpa kaca.

Maizy mencoba memejamkan mata, berusaha melupakan kejadian melelahkan bersama Paul dan gengnya hari ini. Namun, baru saja dia mulai melayang menuju alam mimpi—

Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...

Ponselnya di atas nakas bergetar hebat. Maizy mengernyit, meraih benda persegi itu dengan malas sambil membetulkan letaknya di tempat tidur. Begitu layar menyala, sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan bertubi-tubi di aplikasi *chat*.

Unknown:Hoi, Si Kacamata Lambat.

Unknown:Mejamu tadi bagus, kan? Itu baru pemanasan.

Unknown:Besok-besok kalau jalan pakai mata, atau mau kami bantu pecahin kacamata jelekmu itu sekalian?

Jantung Maizy mendadak berdegup kencang. Tangannya gemetaran saat membaca pesan-pesan tersebut. Belum sempat dia mencerna semuanya, ponselnya kembali bergetar. Kali ini sebuah foto dikirimkan.

Itu adalah foto candid Maizy saat berjalan sendirian menuju stasiun U-Bahn sore tadi, diambil dari arah belakang secara diam-diam. Di bawah foto itu, ada pesan baru lagi.

Unknown:Kami tahu jam berapa kau pulang dan lewat mana saja. Jadi, jangan coba-cops sok jagoan lagi di depan Paul kalau masih mau sekolah dengan tenang di Winterhall.

"Astaga..." Maizy membekap mulutnya sendiri, napasnya mulai memburu panik.

Ini bukan lagi sekadar ejekan di sekolah. Ini sudah masuk ke ranah teror psikologis. Siapa lagi kalau bukan kerjaan Hartonkind, Cade, atau Reze atas perintah—atau setidaknya sepengetahuan—Paul Graxiel Laxsman. Sifat "tidak enakan" Maizy mendadak berubah menjadi rasa takut yang mencekam. Dia merasa privasi dan keamanannya telah direnggut.

Ingin rasanya Maizy keluar kamar, mengetuk pintu kamar Paman Michael yang berada di ujung lorong, dan menceritakan semuanya. Dia butuh perlindungan. Namun, bayangan wajah dingin Michael yang berkarakter tegas langsung melintas di benaknya.

“Jangan membuat dirimu sakit dan merepotkan jadwal keretaku besok pagi.” Kata-kata dingin pamannya tadi malam kembali terngiang.

Maizy menggigit bibir bawahnya, mengurungkan niat untuk bangkit dari kasur. Dia tahu pamannya adalah masinis yang super sibuk dan butuh istirahat total demi keselamatan ratusan penumpang kereta. Maizy merasa sangat tidak enak jika harus membebani Michael dengan masalah remaja di sekolah internasionalnya.

Akhirnya, dengan air mata yang mulai menetes membasahi bantal, Maizy hanya bisa memeluk lututnya erat-erat di atas kasur. Dia mematikan daya ponselnya agar getaran teror itu berhenti, mendekap dirinya sendiri di dalam kegelapan kamar, mencoba bertahan dari rasa takut yang terus menghantunya sepanjang malam.

Keesokan paginya, Berlin disambut oleh langit kelabu yang suram. Maizy terbangun dengan lingkar hitam di bawah matanya. Semalaman dia hampir tidak bisa tidur karena bayangan teror pesan singkat itu terus berputar di kepalanya.

Saat sarapan, atmosfer di dapur apartemen terasa jauh lebih beku dari biasanya. Maizy hanya diam memotong sosisnya dengan gerakan mekanis, sementara Paman Michael duduk di seberangnya, tampak rapi dengan kemeja masinisnya yang kaku. Michael sempat melirik sekilas ke arah keponakannya yang tampak pucat dan berantakan, namun pria sedingin es itu tetap tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia menghabiskan kopinya, meraih topi pet masinisnya, lalu berangkat kerja lebih awal tanpa pamit panjang lebar.

Begitu sampai di Winterhall International School, ketakutan Maizy benar-benar menjadi kenyataan.

Sepanjang koridor, setiap kali Maizy lewat, Hartonkind, Cade, dan Reze sengaja berdiri berbaris, menatapnya sambil melempar senyum sinis yang penuh kemenangan. Mereka bahkan sengaja mengetuk-ngetuk layar ponsel mereka di depan dada, seolah mengingatkan Maizy tentang teror foto semalam. Maizy hanya bisa menunduk dalam-dalam, mempercepat langkah kakinya dengan cemas hingga hampir menabrak beberapa murid lain.

"Maizy! Kamu oke?" Rachel Rossete langsung menghampirinya begitu Maizy duduk di kelas. "Mukamu pucat banget, Mon Dieu!"

"Aku... aku tidak apa-apa, Rachel," bisik Maizy lirih. Sifatnya yang tidak enakan membuat dia lagi-lagi memilih untuk menyembunyikan ancaman itu dari sahabatnya. Dia tidak ingin Rachel ikut terseret dalam masalah berbahaya ini.

Saat jam istirahat, Maizy memutuskan untuk pergi ke toilet demi membasuh wajahnya yang tegang. Namun, saat dia baru saja keluar dari bilik kamar mandi yang sepi, sosok tinggi Paul Graxiel Laxsman sudah berdiri di dekat wastafel, seolah sengaja menunggunya.

Maizy tersentak, langkahnya otomatis terhenti.

Paul membalikkan badan perlahan, menatap Maizy datar dari balik seragam Paskibra-nya yang sempurna. Dia melangkah mendekat, mengurung Maizy di sudut wastafel dengan aura intimidasinya yang mutlak tak mau kalah.

"Bagaimana tidurmu semalam, Maizy?" tanya Paul dengan nada rendah, dingin, dan penuh selidik. "Kudengar kau tidak seberani kemarin."

Maizy mencengkeram ujung sweaternya, mengumpulkan sisa-sisa keberanian di balik rasa takutnya. "Jadi... jadi kau yang menyuruh gengmu mengirim pesan-pesan mengerikan itu padaku?!"

Paul mendengus pelan, seulas senyum miring yang meremehkan muncul di wajah gantengnya. "Aku tidak perlu mengotori tanganku untuk urusan sepele seperti itu, Nona Kacamata. Tapi, kalau itu bisa membuatmu sadar posisi dan berhenti bertingkah sok pahlawan di depanku, aku tidak keberatan."

Paul maju satu langkah lagi, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Maizy. "Ini Winterhall. Di sini, kau tidak punya kekuatan apa pun untuk melawanku. Jadi, pilihannya cuma dua: tunduk, atau buat dirimu semakin menderita setiap kali melangkah keluar dari apartemenmu."

Maizy menatap manik mata Paul yang tajam tanpa belas kasihan. Dadanya bergemuruh hebat antara rasa takut yang mencekam dan amarah yang mulai mencapai titik didih di balik sifat diamnya selama ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!