Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Sang Adik dan Rencana di Atas Roda
Laju taksi online sore itu akhirnya berhenti tepat di depan gerbang besi raksasa yang menjulang tinggi di kawasan perumahan elite Blok Utara. Setelah melakukan transaksi pembayaran, Zenix Dirgantara turun dari mobil dengan menyandang tas ransel hitamnya di sebelah pundak. Langkah kakinya yang panjang dan tegas membawa pemuda itu melewati halaman depan mansion keluarga Dirgantara yang luas, di mana hamparan rumput jepang dan deretan tanaman hias dirawat dengan sangat rapi oleh beberapa tukang kebun.
Namun, belum sempat Zenix menyentuh gagang pintu jati besar masuk utama, pintu tersebut sudah berayun terbuka lebih dulu dari dalam. Sebuah pekikan melengking khas remaja perempuan seketika memecah kesunyian teras mansion.
"Abang!!! Oh my God, Kangen banget!!!"
Sesosok gadis remaja berambut panjang bergelombang dengan pakaian kasual kaus oversized dan celana jins pendek melompat keluar, langsung menghambur ke pelukan Zenix. Gadis itu adalah Silvia Ayu Dirgantara, adik kandung perempuan satu-satunya yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air setelah hampir satu tahun lamanya dikirim untuk menempuh pendidikan sekolah menengah atas (SMA) di salah satu sekolah berasrama elite di London, Inggris.
Zenix yang biasanya berwajah sedingin es dan ketus pada setiap wanita di kampus, seketika melunakkan seluruh pertahanannya. Semburat senyuman hangat dan tulus terbit di wajah tampannya. Pemuda itu membalas pelukan erat sang adik, bahkan sedikit mengangkat tubuh mungil gadis itu dari lantai. Silvi memang terkenal di dalam keluarga sebagai anak yang paling manja, keras kepala, dan cengeng, tetapi dialah satu-satunya "permata" yang paling dilindungi oleh Zenix setelah sang mama.
"Silvi? Kapan kamu sampai di Jakarta? Kenapa enggak ngabari Abang, biar sekalian dijemput ke bandara tadi?" tanya Zenix dengan suara beratnya yang kini terdengar penuh kasih sayang, sembari mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas.
Silvi melepaskan pelukannya, lalu mengerucutkan bibirnya dengan manja, menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena saking rindunya. "Baru tadi siang sampai, Bang! Aku sengaja enggak mau ngasih tahu Abang buat kejutan. Lagian, aku tuh udah benar-benar enggak betah di luar negeri! Di sana makanannya enggak cocok, temannya dingin-dingin, pokoknya membosankan!" ceracau Silvi mengadu dengan gaya bicaranya yang cepat.
Gadis remaja itu menarik tangan Zenix, menuntun abangnya untuk duduk di atas sofa kulit raksasa di ruang tengah yang megah. "Makanya kemarin aku nangis-nangis di telepon, maksa Papa sama Mama biar aku diizinin pindah sekolah ke Indonesia aja. Pokoknya aku mau lanjut SMA di Jakarta! Titik, enggak ada penolakan!"
Zenix hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah adiknya yang sama sekali tidak berubah meski sudah mencicipi kehidupan di benua Eropa. "Dasar cengeng. Baru setahun di sana udah menyerah," ledek Zenix, yang langsung dibalas dengan cubitan kecil di lengannya oleh Silvi.
Saat kakak beradik itu sedang asyik saling melempar cerita dan tawa, terdengar suara langkah kaki yang serasi menuruni anak tangga melingkar dari arah lantai dua mansion.
Zenix dan Silvi serentak menoleh. Di sana, tampak sepasang paruh baya pemilik mansion berjalan berdampingan. Sang mama, Mama Sofia, terlihat sangat cantik dan segar bugar dalam balutan daster sutra premium berwarna krem, dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah terlilit handuk kecil. Di sampingnya, berjalan sang papa, Papa Raymond Dirgantara, seorang pengusaha properti sukses yang penampilannya sore itu terlihat sangat bugar, hanya mengenakan kaus polo putih santai dan celana pendek, dengan aroma sabun mandi maskulin yang menguar segar di sekeliling mereka.
Melihat penampilan kedua orang tuanya yang tampak begitu segar, semringah, dan seolah memancarkan aura penuh energi setelah keluar dari kamar utama mereka, Zenix yang sudah dewasa langsung bisa menangkap sinyal apa yang baru saja terjadi. Kedua orang tuanya itu jelas baru saja menyelesaikan aktivitas olahraga ranjang kegiatan suami istri lalu mandi bersama.
Zenix menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap langit-langit ruang tengah dengan pandangan yang tidak habis pikir. "Papa, Mama... kalian ini padahal sudah memasuki usia kepala empat, tapi kelakuannya kalau di rumah masih aja kayak pengantin baru yang lagi bulan madu. Enggak malu apa dilihat sama anak-anaknya?" seloroh Zenix dengan nada menyindir namun bercanda.
Papa Raymond langsung tertawa berwibawa, merangkul pinggang Mama Sofia dengan mesra sebelum duduk di sofa seberang Zenix. "Halah, kamu ini sirik saja, Zen. Justru karena Papa selalu menjaga keharmonisan sama Mamamu, bisnis Papa jadi selalu lancar dan muka Papa tetap awet muda begini," balas Papa Raymond dengan kedipan mata jenaka.
Mama Sofia hanya bisa mencubit pelan pinggang suaminya dengan wajah yang sedikit merona merah. "Sudah, sudah, jangan dengerin Papamu, Zen. Oh iya, gimana hasil ujian akhir semestermu di kampus kemarin? Sasti sama Susan bilang ke Mama lewat pesan kalau nilaimu sangat bagus?"
Zenix menegakkan posisi duduknya, berdeham pelan untuk mengubah suasana menjadi lebih serius. "Alhamdulillah, Ma. Nilai Zenix keluar hari ini, dan Zenix dapat IPK sempurna, menempati peringkat terbaik di kampus."
Mendengar pengumuman tersebut, Papa Raymond dan Mama Sofia seketika membelalak bangga. Bahkan Silvi langsung bersorak heboh. "Wah, keren banget Abangku sekarang! Jadi makin sayang!" seru Silvi.
"Luar biasa, Zen. Papa benar-benar bangga sama perubahan kamu beberapa bulan ini," puji Papa Raymond tulus, menatap putra sulungnya dengan pandangan penuh respek. "Papa lihat kamu sekarang sudah jauh lebih dewasa, sopan, dan bertanggung jawab. Sebagai hadiah atas prestasi sejarah kampusmu itu, kamu mau minta apa dari Papa?"
Inilah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh Zenix Dirgantara. Pertanyaan dari sang papa seolah membuka jalan tol bagi rencana besar yang sudah ia susun di dalam otaknya sejak dalam perjalanan di taksi tadi.
Zenix menarik napas dalam-dalam, menatap mata Papa Raymond dengan pandangan yang sangat serius dan tegas. "Sebenarnya, Pa... Zenix kebetulan mau membeli mobil baru. Selama beberapa bulan ini, uang tabungan Zenix dari sisa saku dan hasil investasi kecil-kecilan bersama Deandra sudah terkumpul cukup banyak. Tapi sepertinya masih agak kurang untuk menebus unit yang Zenix mau. Jadi, Zenix berharap bisa meminjam sisa uangnya dari Papa. Nanti Zenix janji akan cicil kembalikan dari uang saku bulanan Zenix."
Papa Raymond mengernyitkan dahinya sedikit, tampak tertarik dengan permintaan putranya. "Mobil baru? Bukannya mobil sport hitammu yang ada di garasi sekarang masih sangat bagus dan servisnya rutin, Zen? Kenapa tiba-tiba mau beli mobil lagi?"
Di dalam lubuk pikiran dan hatinya yang paling dalam, Zenix memiliki alasan yang sangat krusial dan mendesak. Mobil sport ceper miliknya saat ini hanya cocok untuk melaju di atas aspal mulus jalanan kota Jakarta. Mobil itu tidak akan pernah bisa bertahan jika dipaksa melintasi jalanan berbatu makadam yang rusak, apalagi menerobos jalanan tanah berlumpur di pinggiran jalur Hutan Sangker.
Zenix sedang merencanakan sebuah pergerakan besar. Jika ia memiliki mobil baru jenis SUV bertipe All Wheel Drive yang tangguh dengan ground clearance tinggi, maka ia bisa pergi melakukan perjalanan jauh menerobos perbatasan kota menuju Desa Beringin Sakti kapan saja ia mau. Ia tidak perlu lagi selalu bergantung pada jadwal kedatangan mobil bak terbuka milik Kang Maman hanya untuk sekadar bertukar kabar atau memastikan keselamatan Anisa. Dengan kendaraan yang tepat, jarak ribuan kilometer di antara kota dan tepi hutan akan terasa sangat dekat.
"Zenix butuh mobil dengan tipe yang lebih tangguh dan berukuran besar, Pa. Yang bisa dipakai untuk perjalanan medan berat atau luar kota jika sewaktu-waktu ada keperluan mendadak. Mobil ceper yang sekarang kurang efisien," jawab Zenix, memberikan alasan logis yang aman tanpa perlu membawa-bawa nama Anisa atau Hutan Sangker di depan keluarganya untuk saat ini.
Papa Raymond menatap mata Zenix selama beberapa detik, mencari tahu apakah ada niat buruk di balik permintaan itu. Namun yang ia temukan hanyalah binar ketegasan, tanggung jawab, dan tekad yang kuat dari sepasang mata putranya.
Papa Raymond tersenyum lebar, lalu menepuk lututnya sendiri dengan mantap. "Oke. Papa hargai niat kamu yang mau pakai uang tabungan sendiri terlebih dahulu alih-alih langsung menadah meminta hadiah gratis. Itu baru namanya laki-laki keluarga Dirgantara. Papa tidak akan meminjamkan uangnya kepadamu, Zen..."
Kalimat Papa Raymond sempat membuat Zenix tertegun, namun sang papa segera melanjutkan dengan nada bangga. "...tapi Papa akan menutup seluruh kekurangan uangnya sebagai hadiah murni atas prestasi IPK sempurnamu! Besok pagi, kamu boleh langsung pergi ke diler mobil terbesar, pilih model SUV tangguh mana pun yang kamu inginkan, dan kirimkan tagihannya langsung ke sekretaris Papa."
Mendengar keputusan sang papa, mata Zenix seketika berbinar cerah. Rasa lega dan bahagia yang luar biasa membuncah di dalam dadanya. "Terima kasih banyak, Pa. Terima kasih, Ma," ucap Zenix dengan nada suara yang bergetar penuh rasa syukur yang mendalam.
"Ih, asyik! Nanti kalau mobil barunya sudah datang, Abang harus ajak Silvi jalan-jalan keliling Jakarta ya! Keliling mall!" potong Silvi penuh semangat sambil memeluk lengan Zenix lagi dari samping.
"Iya, nanti Abang ajak keliling," jawab Zenix, mengusap kepala adiknya dengan senyuman misterius yang kembali terukir di sudut bibirnya.
Di dalam pikirannya, Zenix sudah bisa membayangkan visual dari kendaraan baru yang akan ia tebus besok pagi. Sebuah mobil SUV tangguh yang siap ia kemudikan sendiri membelah kegelapan malam, melintasi jalur mistis, demi menemui sang pemilik tasbih kayu yang selalu setianya menantinya di sebuah gubuk bambu di tepi Hutan Sangker. Persiapan untuk menjemput takdir sucinya kini telah selangkah lebih dekat menuju kenyataan.