karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Asap beraroma lemon dan pinus masih memenuhi perpustakaan, namun suasana berubah menjadi horor saat suara Seina menggema melalui frekuensi radio yang diretas.
"Maudi! Lihat ke layar ponselmu!" teriak Seina penuh kegilaan.
Maudi menyambar ponselnya. Di layar, terlihat Eliza sedang berada di dalam mobil khusus bersama dengan Seina dengan pakaian petugas kebersihan yang kotor, menempelkan pisau ke leher Eliza yang menangis histeris.
"15 menit, Maudi! Serahkan dirimu pada Hans atau aku akan menyayat leher putri emas ini!"
Mendengar ancaman itu, tatapan mata Maudi berubah. Kesedihan dan kepolosan santriwati itu menguap, digantikan oleh tatapan sedingin es milik agen Sektor 7.
Eliza menggeleng pelan "Jangan Maudi, kau tidak perlu kesini, biarkan aku mati, tolong maafkan aku, jaga papa, kakek dan kak Saka" ucap Eliza dengan suara isak tangis yang tertahan karena merasa takut. Ia tidak menyangka, mama Seina yang ia kira bidadari tak bersayap bisa melakukan hal gila seperti ini, walaupun niat mamanya itu hanya untuk memancing kedatangan Maudi.
bip....
Tiba-tiba layar ponsel Maudi mati, Maudi langsung menoleh ke arah Rasya.
"Tuan Rasya, jaga area ini! Aku harus pergi!" ucap Maudi tegas.
"Kau mau ke mana? Lantai ini penuh kuman dan penjahat!" Rasya mencoba meraih tangan Maudi, namun Maudi melakukan gerakan taktis yang sangat cepat hingga Rasya hanya menangkap angin.
Lima anak buah Hans menerjang Maudi secara bersamaan dengan pisau komando. Maudi, yang tidak memegang senjata apa pun, menggunakan jilbabnya yang ia lepas. meninggalkan inner ninja yang tertutup sebagai senjata. Tak lupa ia mengencangkan cadar nya agar tidak terlepas dan memperlihatkan wajah cantiknya karena ia tidak memakai krim buruk rupa.
Dengan teknik soft-weapon, ia melilit leher lawan pertama, menggunakan momentum tubuh pria itu untuk menangkis tendangan lawan kedua.
Bugh! Brak!
Hanya dalam sepuluh detik, tiga pria bertubuh raksasa tumbang dengan tulang sendi yang bergeser. Maudi melakukan gerakan bela diri tingkat tinggi di atas meja perpustakaan, melompat dari rak ke rak dengan kelincahan yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Rasya berdiri terpaku di tengah ruangan. Helm astronotnya hampir terlepas saat melihat Maudi melakukan backflip sambil menendang dagu Cito hingga pria itu pingsan seketika.
"Dia... dia bukan hanya agen, dia adalah ninja!" gumam Rasya. "Kevin! Jangan hanya berdiri di sana menyemprot debu! Bantu dia! Tapi jangan sampai kau menyentuh pakaiannya, tanganmu belum disterilisasi ulang!"
"Tuan, fokuslah! Eliza diculik!" seru Kevin sambil menembakkan gas air mata ke arah sisa anak buah Hans yang masih berdatangan,.
Rasya mendengus. "Aku tahu! Tapi Maudi lebih penting!" Namun, melihat raut wajah Maudi yang dipenuhi kekhawatiran pada adiknya, Rasya akhirnya sadar. "Baiklah! Kevin, aktifkan pelacak suhu tubuh di seluruh gedung. Temukan wanita gila bernama Seina itu!"
Suasana di ruang perpustakaan yang kedap suara itu begitu kacau....para mahasiswa berkumpul di luar ruangan karena sulit untuk membuka pintu ruangan.
Kevin menggunakan pengeras suara,agar para mahasiswa segera meninggalkan area di depan perpustakaan karena ada insiden kebakaran dan sedang di tangani.
___
setelah melihat anak buahan terkapar tak berdaya...Maudi berbalik, auranya kini meledak. Tidak ada lagi ketenangan santriwati, yang berdiri di sana adalah seorang predator. Ia berjalan menghampiri Cito yang mencoba bangkit, mencengkeram leher pria itu dan menghantamkannya ke rak buku hingga kayu jati itu retak.
"Di mana Hans membawa Eliza?!" suara Maudi rendah, parau, dan sangat mematikan.
"Dermaga... Gudang 09... Pelabuhan Utara," Cito terbatuk darah, ketakutan melihat mata Maudi yang seolah siap mencabut nyawanya tanpa kedip.
Rasya, yang baru saja selesai melumpuhkan dua anak buah Hans lainnya, mendekati Maudi dengan langkah ragu. Ia bisa merasakan perubahan drastis pada energi gadis itu.
"Maudi... kau berdarah," ucap Rasya, menunjuk luka gores di lengan Maudi. Ia ingin mendekat untuk mengobati, namun ia terpaku melihat Maudi yang justru merobek kain gamis bagian bawahnya agar bisa bergerak lebih leluasa, memperlihatkan celana kulot hitam yang ia pakai di balik Gamisnya.
"Tuan Rasya, pinjamkan aku helikoptermu atau aku akan membajaknya!" perintah Maudi tanpa menoleh.
Rasya terdiam sesaat, lalu ia melepas helm astronotnya, memperlihatkan wajahnya yang tegas. "Aku tidak meminjamkan hartaku pada orang asing. Tapi aku akan mengantarmu. Kevin! Siapkan protokol pembersihan area pelabuhan! Kita akan melakukan sterilisasi besar-besaran di Gudang 09!"
Meskipun ia jijik dengan pelabuhan yang penuh tikus dan karat, Rasya tidak bisa membiarkan Maudi pergi sendirian menghadapi monster seperti Hans.
___
Di Gudang 09 Pelabuhan Utara, Eliza diikat di sebuah kursi di tengah ruangan yang gelap. Di sampingnya, Seina berdiri dengan wajah penuh kemenangan, meskipun napasnya tersengal karena ketakutan pada Hans.
"Lihat, Eliza. Saudara kesayanganmu akan datang ke sini untuk mati," bisik Seina sambil mengelus pipi Eliza dengan pisau. "Setelah dia mati, kita akan kembali ke mansion. Kita akan singkirkan Kakek Harison, dan semuanya akan kembali seperti dulu."
"Mama... kau gila! Maudi itu saudara ku!" tangis Eliza pecah. "Lepaskan aku ma... biarkan kami hidup bahagia!"
Plakkkk...
Seina menampar wajah putrinya, ia harus terlihat kuat di depan Hans agar Hans percaya kalau ia bisa di andalkan tanpa memikirkan nasib orang lain meski itu putri nya sendiri.
air mata Eliza semakin deras " Mama jahat, lebih baik El mati daripada memiliki seorang Mama yang begitu jahat dan kejam".
"DIAM kamu Eliza, menurut lah pada mamamu, hidupmu hanya menumpang di sana... mereka tidak benar-benar menyayangimu, karena sebenarnya yang sangat menyayangimu adalah ibumu sendiri, aku yang rela mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkanmu ke dunia ini" ucap Seina dengan berapi-api.
Eliza tersenyum getir " kalau tahu aku dilahirkan oleh wanita licik sepertimu... lebih baik aku tidak ada di dunia ini" balas Eliza menohok.
Plakkkk...
Lagi-lagi Seina menampar wajah putrinya,putri yang sangat ia sayangi namun begitu tega mengatakan seperti itu pada dirinya.
Hans melangkah keluar dari bayang-bayang, memegang sebuah pistol"Dia bukan Saudara mu , Nak. Dia adalah Midi dari Sektor 7 yang sudah menghancurkan hidup banyak orang. Dan malam ini, Midi itu akan layu di tanganku."
Hans menoleh ke arah Seina. "Siapkan dirimu. Jika suaminya yang higienis itu ikut campur, aku akan memastikan mereka berdua membusuk bersama di dasar laut yang kotor ini."
___
Tiba-tiba, suara baling-baling helikopter memecah kesunyian malam di pelabuhan. Lampu sorot raksasa dari langit menerangi Gudang 09, membuat anak buah Hans di luar panik.
"Hans! Keluar kau, pria penuh kuman!" suara Rasya bergema melalui loudspeaker helikopter. "Kau telah menculik anggota keluarga dari wanita Soleha yang sangat aku hargai! Serahkan Eliza, atau aku akan menyemprot seluruh gudang ini dengan asam sulfat encer sampai tatonya luntur!"
Di dalam helikopter, Maudi sedang memeriksa senjatanya, sebuah pisau kecil yang sangat runcing ujungnya. Ia menatap Rasya yang sedang sibuk memakai masker oksigen karena mencium bau amis pelabuhan dari ketinggian.
"Tuan Rasya, terima kasih," ucap Maudi pelan.
Rasya menatapnya dari balik kaca helmnya. "Jangan berterima kasih sekarang. Berterima kasihlah nanti setelah kau memasakkan aku sesuatu yang tidak disentuh oleh lalat pelabuhan ini."
Maudi tersenyum tipis, lalu ia melompat dari pintu helikopter yang masih terbang tinggi, terjun bebas menuju atap gudang dengan keberanian yang membuat napas Rasya tertahan.
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.