Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|17| Perhatian Kecil
Ditempat lain, Devara melihat Aruna yang ditampar oleh Alana, Ia zoom pipi aruna, merah bekas tangan Alana, pria itu langsung menutup laptopnya dengan kasar. Map-map dimejanya masih tertumpuk tinggi dan belum Ia sentuh.
"Andre, siapkan mobil" titah Devara dengan suara datar, tak marah, namun raut wajahnya mampu dibaca oleh Andre.
......................
Alana tak mau diam, tangannya terus menarik rambut Aruna yang sudah terduduk dan menangis meminta ampun, seperti telah dirasuki oleh iblis, Alana semakin brutal melampiaskan emosinya.
"Lo gak bakal dibela sama dia, gimanapun lo bakal berakhir tragis babu" Bisik Alana sambil tertawa ditelinga Aruna.
Ting.. Suara lift terbuka. Suara langkah kaki yang mulai mendekat, suara itu sedikit membuat Aruna merasa tenang, namun tetap waspada. Rasa pedih di tangannya masih terasa, Ia hanya bisa mendengar suara sol sepatu yang menghantam marmer, perlahan Aruna melihat seseorang yang bahkan terlihat buram akibat terhalang oleh air mata.
"Siapa menyuruh mu menyentuh dia" suaranya tegas, matanya melihat Aruna yang tersungkur lemas. Dengan luka cakaran di pergelangan tangan Aruna, rambut berantakan dan tubuh lemas.
Devara memejamkan mata 1 detik. "KELUAR!" Betak kepada Alana. Pertama kalinya Devara terlihat sangat marah, tontonan pertama Aruna, Devara membentak kekasihnya didepan dia. Aneh, tapi nyata itulah Devara.
"Dev, kamu gak liat bajuku, dia numpahin jus ke baju aku sayang" Alana mencoba membela dirinya, memegang pergelangan tangan Devara, namun pria itu langsung melepaskan tangan Alana dengan kasar.
Andre yang ada dibelakang Devara langsung bereaksi dan menyeret Alana keluar dengan paksaan, walaupun perempuan itu terus berteriak dan memberontak. Aruna bangkit, perlahan tanpa bantuan Devara, Ia bisa berdiri namun dengan perlahan, lemah dan tak bertenaga.
Devara langsung mendekat saat Aruna hendak terjatuh, pertama kalinya Devara menggendong Aruna menuju kamarnya. Dalam dekapan Devara, Aruna merasakan kehangatan yang tak pernah Ia rasakan, namun segera Ia tepis perasaan itu, Ia memejamkan mata enggan untuk menatap wajah pria itu.
Rahang Devara mengeras, nafasnya terasa tercabut beberapa detik, Matanya tak menatap Aruna sedikitpun, lalu membuang tubuh Aruna keatas ranjang.
"Aduh.. "Rintih Aruna.
Devara melihat wajah merah Aruna, luka di badannya yang semakin bertambah banyak, belum luka yang di dermaga kemarin. Devara beralih mengambil kotak di meja dekat lemari. Dan membanting kotak itu tepat di sebelah Aruna.
"Saya bukan peduli, tapi barang saya tidak boleh disentuh orang lain, hanya saya yang boleh menyentuhnya" Ucap Devara, sambil membuka kotak p3k itu dengan kasar.
Aruna hanya diam, tak bisa menanggapi apapun. 'Apa dia Devara yang aku kenal, kenapa tiba-tiba dia bersikap aneh seperti ini' -batin Aruna.
Plester terakhir Devara tempelkan di punggung tangan Aruna. Lelaki itu menatap nakas, bubur yang Ia suruh Meri masak untuk Aruna masih utuh beserta obat yang belum Aruna minum.
Devara mengusap wajahnya kasar, Ia kembali berjongkok menyamakan posisinya dengan Aruna. "Kalau sampai kamu m*ti sekarang, aku yakin ayahmu akan menyusulmu secepat mungkin" ucap Devara lirih sambil mendorongkan nampan berisi bubur kearah Aruna.
"Tangan kamu kenapa..?" Aruna meraih punggung tangan Devara, masih memar dan bekas darah yang sudah mengering.
Devara langsung menyingkirkan tangannya dari genggaman Aruna. Ia tak mau menjawab, namun tangannya sudah direbut kembali oleh Aruna, gadis itu membuka kotak p3k dan mengoles luka Devara menggunakan salep luka, meniupnya perlahan. Devara tak bisa menolak, hanya diam dengan tidak sadar dirinya telah terhanyut dalam permainannya sendiri.
Tak lama, beberapa detik tatapannya berubah, tangannya langsung Ia tarik kembali. Aruna terkejut, namun tak berani protes, Senyum kecil mengambang dibibir Aruna, senyum keberhasilan dirinya yang membuat Devara sedikit lebih jinak daripada biasanya.
Setelah itu, Devara pergi meninggalkan kamar Aruna dengan perasaan campur aduk, mengunci kamar gadis itu. Ia sempat berdiri didepan pintu kamar Aruna, tangannya masih memegang ganggang pintu dan diam sesaat. Lalu mengusap kasar rambutnya, seolah menyesali apa yang telah Ia lakukan tadi.
Aruna diam, menatap bubur yang ada di tangannya, bubur yang sudah dingin dan membentuk kulit diatasnya. Melirik obat yang masih utuh belum tersentuh sedikitpun.
Gadis itu duduk dilantai, bersender ranjang, matanya menatap plester yang terpasang miring di punggung tangannya. Miring karena Devara memasangnya dengan kasar. Tapi plester itu menempel dengan kuat.
Aruna mendengar suara ketukan pintu, lalu terbuka sebelum Aruna beranjak dari duduknya. Meri muncul dengan nampan dan bubur yang mengebul.
"Bubur hangat, siapa yang suruh angetin" Gumam Aruna, Ia menatap cctv sekilas.
"Disuruh Tuan Devara, harus di habisin ya nyonya nanti saya kena marah sama Tuan" ujar Meri sembari mengambil bubur Aruna yang sudah dingin. Lalu pergi meninggalkan kamar Aruna, gadis itu masih menatap bubur tersebut.
Sambil menghembuskan nafas kasar, Aruna menutup pintu kamarnya dan kembali duduk di bawah, bersender di ranjang. Ia menyuap satu sendok bubur kedalam mulutnya, lalu menaruh bubur itu di nakas.
Klik.. Kamar Aruna kembali dibuka, Andre masuk. Menatap Aruna sebenatar, lalu mendekat. "Habisin bu, nanti saya kena marah Pak Devara" katanya dengan lirih.
Aruna menaikkan alisnya, bingung. 'Kenapa Devara mengancam semua orang gara-gara semangkuk bubur yang gak habis, emang gila banget Devara' -Batin Aruna.
Aruna mengambil mangkuk bubur itu, lalu menyuapnya kembali, satu sendok.. Dua sendok, bahkan hampir muntah karena dipaksa untuk menghabiskan.
"Nanti malam, kita bakalan ke acara penting, ibu wajib ikut dampingi Pak Devara, oiya pakai dress merah yang ada di lemari ya bu" Ujar Andre yang masih berdiri didepan Aruna.
"Acara apa..?" Tanya Aruna.
"Eum... Untuk lebih jelasnya, bisa ibu liat aja nanti. Yasudah saya mau kembali ke kantor" ujar Andre lalu menutup pintu kamar Aruna.
Suasana menjadi hening kembali, Aruna menyenderkan tubuhnya di ranjang, memejamkan matanya. 'Kapan aku bisa bebas dari sini, aku kangen papah' -batin Aruna.
............
Sore harinya, suara hujan yang mengguyur kota Skyline membuat semua orang berlarian berteduh, Di gedung tinggi Mahesa Group, Devara memandangi keluar jendela, matanya berhenti di satu titik hujan deras itu, diam, mematung seperti sedang merenung.
Klik.. Pintu ruangannya dibuka tanpa ketukan, Devara tak menghiraukan, tak melihat kebelakang, pandangannya masih lurus kedepan.
"Sayang, maafin aku" Alana datang langsung memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
Devara memutar bola matanya dengan malas, melepas pelukan Alana. Lalu berjalan kearah sofa dan duduk dengan kaki menyilang, memandangi Alana sekilas, tak tersenyum, tak menunjukkan emosinya. Devara menyalakan rokoknya lalu menepuk sofa, mengisyaratkan Alana untuk duduk disampingnya.
"Datang ke acara nanti malam, gunakan dress yang pernah aku belikan waktu itu" Ujar Devara dengan datar sambil menyesap rokoknya.
Alana menatap Devara, bingung. Tiba-tiba pria itu mengajaknya pergi ke acara. Padahal pagi tadi dia sangat marah kepada Alana. "Acara..Serius?" Tanya Alana kembali sambil tangannya meremas gaunnya.
Devara mematikan rokoknya, Ia beralih dari duduknya. "Jam 8" ujarnya kemudian lalu pergi menuju jendela kaca.