Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Profesionalisme di Atas Bara Gengsi
Hari-hari berikutnya di kantor dijalani Rian dengan sisa-sisa energi yang berada di ambang batas hemat daya. Langkah kakinya yang biasanya terasa tegap dan penuh semangat saat menyusuri koridor lantai lima, kini terasa begitu berat, seolah ada beban tak kasatmata yang menggelayuti kedua pergelangan kakinya. Fokusnya sering kali buyar di tengah jalan. Tatapan matanya yang biasa berbinar jenaka kini berubah redup, menatap barisan angka kalkulasi anggaran iklan di layar monitor komputer dengan pandangan yang kosong dan menerawang.
Otak Rian benar-benar macet total, terkunci dalam sebuah labirin kebingungan yang tak berujung. Setiap malam, sambil menatap langit-langit kamar kostnya yang mulai berjamur, pertanyaan yang sama selalu berputar seperti kaset rusak di dalam kepalanya.
“Beneran gak sih gue suka sama Bu Arini? Atau jangan-jangan... gue cuma sekadar kagum?"
Rian mencoba merasionalisasi segalanya. Logikanya berkeras bahwa wajar saja jika dia menaruh perhatian lebih. Arini adalah sosok wanita yang luar biasa; dia mandiri, tegas, berwibawa saat memimpin divisi, dan memiliki pesona sebagai Kepala Staf yang berada di atas rata-rata wanita yang pernah Rian temui. Cowok mana yang tidak akan kagum pada sosok seperti itu? Ya, Rian meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaan menggebu-gebu belakangan ini hanyalah bentuk rasa kagum seorang bawahan kepada atasannya. Tidak lebih.
Namun, setiap kali Rian mencoba mengubur perasaan itu di bawah label "sekadar kagum", dadanya kembali terasa sesak, panas, dan seperti dihantam godam besi setiap kali ia melangkah melewati ruang kerja Arini. Di sana, di sudut meja kerja sang Kepala Staf, buket bunga lili putih dari Adrian masih berdiri dengan anggun, seolah-olah menjadi monumen yang terus-menerus mengejek ketidakberdayaan Rian. Jika perasaan ini memang murni hanya sebatas kekaguman profesional, lalu mengapa hatinya harus terasa seberantakan ini? Mengapa ada rasa cemburu yang begitu membakar jiwanya, padahal dia tahu betul dirinya sama sekali tidak memiliki hak untuk merasa cemburu?
Akibat perang batin yang menguras emosi itu, sikap Rian di kantor berubah 180 derajat. Ia menarik diri sepenuhnya dari segala interaksi yang tidak penting, mengunci rapat-rapat perasaannya di dalam cangkang profesionalisme yang kaku. Tidak ada lagi senyum tipis yang sengaja ia sunggingkan saat menyapa Arini di pagi hari. Tidak ada lagi kalimat santai yang keluar dari mulutnya di luar jam kerja.
Sekarang, setiap kali mereka tidak sengaja berpapasan di lorong kantor, di depan ruang rapat, atau di dekat dispenser koridor, Rian akan buru-buru menundukkan kepalanya sangat dalam. Ia hanya akan berdehem dengan nada suara yang dibuat sesopan mungkin, memberikan salam formal yang dingin, lalu berjalan cepat-cepat melewati Arini seolah-olah wanita itu adalah sumber wabah penyakit yang harus dihindari. Dinamika di antara mereka berdua mendadak kembali kaku, canggung, dan dipenuhi oleh aura sedingin es kutub utara.
Sementara itu, di balik pintu ruang kerjanya yang kokoh dan tertutup rapat, Arini sebenarnya sedang membakar seluruh energinya hanya untuk menahan kepulan emosi yang siap meledak kapan saja. Gengsi tingginya sebagai wanita milenial yang matang benar-benar meradang dan terluka parah. Dari balik dinding kaca transparan ruangannya, jemari Arini yang memegang pulpen kerap kali berhenti bergerak. Matanya melirik tajam ke arah luar, mengawasi kubikel Rian dengan perasaan dongkol yang sudah mencapai ubun-ubun.
“Bocah itu... bener-bener gak punya perasaan ya!” umpat Arini di dalam hati dengan napas yang memburu kesal. “Kemarin pas apartemen kebakaran, paniknya kayak dunia mau kiamat besok pagi. Dateng jauh-jauh dari tempat entah mana, melotot nanyain keadaan gue, bahkan megang tangan gue erat banget sampai gak mau lepas di depan umum! Tapi sekarang? Lihat tuh mukanya! Datar kayak papan gilesan! Cueknya minta ampun! Dianggap patung pajangan apa gue di kantor ini?!”
Arini merasa harga diri dan gengsinya diinjak-injak oleh sikap acuh tak acuh yang ditunjukkan Rian. Dia merasa sudah menurunkan sedikit benteng pertahanannya dengan bersikap lebih lunak malam itu, tetapi respons yang ia dapatkan dari Rian justru perubahan sikap yang berubah drastis menjadi sedingin robot.
Merasa tidak terima, ego Arini pun bangkit bergejolak. Jika Rian memilih untuk memasang tembok pembatas yang tebal dan bersikap formal, maka Arini bersumpah akan membalasnya dengan sikap yang jauh lebih ketus dan tak tersentuh. Ia akan menunjukkan pada Rian bagaimana rasanya berhadapan dengan mode Kepala Staf yang paling kejam, dingin, dan profesional. Akibatnya, atmosfer di lantai lima divisi pemasaran berubah menjadi medan perang dingin yang kekanak-kanakan, yang dibungkus rapi di balik topeng kedewasaan.
Namun, di tengah-tengah carut-marutnya urusan hati dan gengsi yang sedang membara itu, satu hal yang patut diacungi jempol dari keduanya: baik Arini maupun Rian adalah pekerja yang sangat kompeten dan berdedikasi tinggi. Mereka berdua sama-sama memiliki harga diri profesional yang terlalu besar untuk membiarkan masalah pribadi merusak reputasi kerja mereka di depan jajaran direksi. Apalagi, minggu ini divisi pemasaran sedang memegang tanggung jawab atas proyek mahapenting perusahaan launching kampanye iklan untuk produk baru yang akan segera diluncurkan secara nasional dalam waktu dekat.
Siang itu, jam dinding baru saja melewati angka satu ketika Rian mengetuk pintu ruangan Arini dengan ketukan yang teratur dan kaku. Setelah mendengar suara sahutan dari dalam, Rian melangkah masuk dengan dokumen tebal di tangannya, mengambil posisi berdiri yang sempurna di depan meja kerja Arini. Sikap tubuhnya begitu formal, tegak, dan wajahnya dipasang se-datar mungkin, tanpa ada sedikit pun riak emosi personal yang terlihat.
"Selamat siang, Bu Arini. Ini berkas berisi papan cerita (storyboard) dan detail rencana anggaran untuk iklan digital produk baru yang sudah saya revisi bersama tim kreatif pagi tadi," ujar Rian dengan nada suara yang bariton, datar, dan profesional.
Arini mendongak sekilas, menatap wajah Rian selama dua detik dengan tatapan matanya yang tajam dan mengintimidasi, sebelum akhirnya beralih menyambar map dokumen tersebut dari tangan Rian. Gerakannya terkesan anggun namun memiliki penekanan yang tegas. Arini membuka lembaran demi lembaran kertas di dalamnya, membaca baris demi baris konsep iklan serta rincian kalkulasi biaya dengan tingkat ketelitian seorang auditor.
"Konsep talenta yang kamu pilih dan palet warna untuk visualisasinya sudah cukup bagus, sudah sesuai dengan identitas produk kita," komentar Arini setelah keheningan yang cukup lama menyelimuti ruangan. Suaranya terdengar jernih namun dingin. "Tapi, saya kurang sreg dengan penempatan tagline di bagian akhir video. Kalimatnya terlalu klise dan kurang menggigit jika target pasar utama kita adalah anak muda generasi Z dan milenial akhir. Ini bisa membuat pesan produknya tenggelam."
Rian tidak menunjukkan tanda-tanda tersinggung atau gugup sedikit pun. Ia langsung merespons dengan taktis, melangkah maju setengah langkah tanpa melanggar batas jarak aman mereka.
"Baik, Bu Kepala Staf. Masukan Anda sudah saya antisipasi sebelumnya," sahut Rian dengan tenang. Dengan gerakan tangan yang efisien, ia membantu membalikkan halaman dokumen tersebut ke bagian paling belakang. "Oleh karena itu, saya sudah menyiapkan dua opsi kalimat cadangan di halaman lampiran ini. Opsi pertama lebih menekankan pada efisiensi penggunaan produk dalam kehidupan sehari-hari, sementara opsi kedua menggunakan pendekatan bahasa yang lebih kasual dan populer di media sosial saat ini."
Dian, yang kebetulan sejak tadi sedang duduk di sofa sudut ruangan Arini untuk memantau perkembangan proyek, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pemandangan di depannya. Sebagai sahabat sekaligus rekan kerja, Dian bisa merasakan atmosfer di dalam ruangan itu terasa sangat aneh dan mencekam. Di satu sisi, kerja sama antara Rian dan Arini berjalan dengan sangat luar biasa; mereka sangat sinkron, saling mengisi kekurangan argumen masing-masing, taktis, dan profesional tanpa ada celah kesalahan sedikit pun. Dokumen yang rumit itu bisa mereka bedah dengan cepat.
Namun di sisi lain, Dian juga bisa melihat dengan jelas adanya jarak tak kasatmata yang mereka bentang dengan sengit di antara mereka berdua. Tembok pembatas itu begitu tebal dan kokoh, hingga tidak ada satu pun dari mereka yang berani mempertahankan kontak mata secara langsung selama lebih dari dua detik. Setiap kali mata mereka tidak sengaja beradu, salah satu dari mereka akan langsung membuang muka dengan kikuk ke arah dokumen.
"Oke. Setelah saya timbang kembali, saya memutuskan untuk setuju menggunakan opsi cadangan yang pertama," kata Arini akhirnya, menutup map dokumen tebal itu dengan satu ketukan tangan yang tegas ke atas meja kayu. "Kalimatnya terasa lebih berbobot namun tetap segar. Segera lakukan koordinasi lanjutan dengan tim produksi iklan sore ini juga. Saya ingin kamu memastikan pihak vendor menyetujui jadwal penayangan utama untuk minggu depan. Saya tidak mau mendengar ada alasan penundaan apa pun karena direksi terus memantau linimasa proyek ini."
"Baik, Bu Arini. Instruksi Anda dipahami dengan sangat jelas. Seluruh poin revisi akan segera saya eksekusi bersama tim sore ini juga. Kalau sudah tidak ada tambahan lagi, saya permisi kembali ke kubikel saya," jawab Rian dengan nada formal yang menutup pembicaraan. Ia memberikan anggukan hormat sekilas, lalu berbalik dengan cepat dan melangkah keluar dari ruangan tanpa sekali pun menoleh ke belakang lagi.
Begitu pintu ruangan kayu itu tertutup rapat dan menyisakan bunyi klik yang sunyi, Arini langsung menjatuhkan seluruh berat tubuhnya, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja dengan lemas. Ia mengembuskan helaan napas panjang yang terasa sangat berat dari rongga dadanya, sementara matanya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan dengan perasaan yang campur aduk.
Di luar ruangan, hal yang tidak jauh berbeda terjadi. Rian menghentikan langkah kakinya sejenak di dekat mesin fotokopi, memejamkan matanya rapat-rapat sambil memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri akibat tekanan batin yang ia tahan sejak tadi. Mereka berdua memang telah berhasil menjaga profesionalisme pekerjaan dengan sangat sempurna hari ini, namun jauh di dalam lubuk hati masing-masing, mereka tahu ada sebuah bom waktu bernama "perasaan" yang sedang berdetak kencang, tinggal menunggu satu momentum kecil untuk meledak dan menghancurkan semua benteng gengsi yang mereka bangun.