[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Bertamu
Bella tampak kecewa karena respon Luis tetap dingin seperti es, tapi ia tidak beranjak. Saat Luis hendak berbalik masuk, suara Lidya terdengar dari arah ruang tengah. Ibu Luis penasaran kenapa anaknya berdiri di depan pintu begitu lama.
"Lho, ada tamu? Siapa gadis cantik ini, Luis?" Lidya berjalan mendekat, menatap Bella dengan senyum hangat.
"Bukan si—"
"Aku pacarnya, Tante! Pekan kemarin kami resmi," potong Bella cepat, dengan nada yang penuh percaya diri.
Lidya membelalakkan mata. Ia tahu anaknya adalah tipe penyendiri yang bahkan jarang berbicara dengan perempuan. "Benarkah? Wah, kalau begitu ayo masuk, masuk!"
Luis ingin protes, tapi Lidya sudah menarik tangan Bella dengan ramah. Bella tampak sangat senang, apalagi saat bertemu Hendri di ruang tamu. Ayahnya pun menyambut dengan hangat, mungkin karena ia senang anaknya akhirnya memiliki kehidupan sosial.
Yang lebih mengejutkan, Hendri dan Lidya malah mengambil kunci kendaraan.
"Lah, katanya Ayah mau diam di rumah?" tanya Luis bingung.
"Oh, iya. Ayah dan Ibu berubah pikiran. Mau ke taman, menikmati suasana sore yang cerah," jawab Hendri sambil mengedipkan mata ke arah Luis.
Saat mereka berjalan keluar pintu, mereka menoleh ke belakang. "Jangan melakukan hal aneh-aneh ya, Luis!"
"Memangnya kalian berpikir aku akan melakukan apa kepada gadis ini? Jangan berpikiran aneh-aneh," gerutu Luis.
"Ya kan tidak ada yang tahu. Ayah juga pernah muda, tahu. Sesama lelaki pasti tahu apa yang dipikirkan," tawa Hendri sebelum menutup pintu rumah.
Kini, hanya tersisa mereka berdua. Keheningan menyelimuti ruang tamu.
"Kau tidak mau pulang?" tanya Luis memecah sunyi.
"Nanti saja. Aku ingin bersamamu lebih lama. Ngomong-ngomong... orang tuamu baik sekali ya..." Bella tersenyum, menatap ke arah pintu yang sudah tertutup.
Luis menghela napas. "Anggap saja rumah sendiri," ucapnya malas, lalu berjalan menuju kamarnya.
Bella mengikuti di belakangnya tanpa diminta. Begitu sampai di dalam kamar, Luis duduk di tepi kasur. Bella malah ikut duduk di sebelahnya.
"Ayo, buka kadonya sekarang!" desak Bella.
Luis membuka bungkusan itu. Isinya adalah sebuah buku jurnal buatan tangan. Di dalamnya ada foto-foto Luis yang diambil secara diam-diam di sekolah, lengkap dengan coretan-coretan kecil berisi kutipan motivasi dan harapan-harapan Bella. Luis tertegun. Ini bukan kado main-main. Ini kado seseorang yang benar-benar obsesif, atau... seseorang yang sangat kesepian.
Saat Luis membalik halaman, tangan Bella tidak sengaja terangkat. Luis melihat sesuatu yang membuat matanya menyipit.
Di pergelangan tangan Bella, di balik gelang kain yang ia kenakan, terlihat bekas luka parut yang aneh—garis-garis putih yang tidak beraturan, bekas sayatan lama yang sudah memudar namun masih terlihat jelas.
"Percobaan bunuh diri?" Luis membatin.
"Apa ini?" tanya Luis pelan, menunjuk pergelangan tangan Bella.
Wajah Bella yang tadinya ceria langsung pucat pasi. Ia segera menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik tubuh. "Itu... cuma bekas luka jatuh waktu kecil."
"Jangan berbohong. Aku tahu bedanya bekas luka jatuh dan bekas pisau," kata Luis, suaranya kini tidak lagi dingin, melainkan datar dan tajam.
Bella terdiam. Bahunya mulai berguncang. Ketegaran yang ia bangun selama ini runtuh dalam hitungan detik. Ia menunduk, lalu mulai terisak. Isak tangis itu berubah menjadi tangisan keras yang memilukan.